NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beli Baju

“Saya mau ke kantor dulu, Adira,” ucap Areksa sembari merapikan dasinya di depan cermin.

“Iya, Tuan.”

Di sisi lain kamar, Adira sedang memakaikan baju untuk Aretha yang baru saja selesai mandi. Bayi itu sesekali menggerakkan kedua kakinya, membuat Adira harus menahannya agar tidak banyak bergerak.

Dari ekor matanya, Adira melihat Areksa masih sibuk dengan dasinya.

Ia memperhatikan beberapa detik. Sepertinya laki-laki itu memang tidak terlalu pandai mengurus dasinya sendiri.

Adira akhirnya menghampiri. “Biar saya bantu, Tuan.”

Areksa langsung menyerahkan ujung dasinya. “Ah, iya.”

Adira berdiri di hadapannya, kemudian mulai merapikan simpul dasi tersebut. Jemarinya bergerak cekatan, sementara wajahnya tampak begitu serius memperhatikan simpul yang sedang dibuatnya.

Areksa justru tidak memperhatikan dasinya.

Tatapannya tertuju pada Adira.

Perempuan itu tampak begitu dekat dengannya pagi itu. Rambutnya sedikit berantakan setelah mengurus Aretha, tetapi justru membuatnya terlihat sederhana dan hangat.

Entah sejak kapan, keberadaan Adira di dekatnya mulai terasa seperti sesuatu yang biasa.

Dan entah mengapa, pagi itu dadanya terasa berdebar lebih cepat.

“Sudah selesai, Tuan.” Suara Adira membuat Areksa tersadar.

Ia segera mengalihkan pandangan ke cermin. Dasi sudah terpasang rapi.

“Terima kasih, Adira.”

“Sama-sama.”

Adira hendak kembali kepada Aretha, tetapi Areksa tiba-tiba mengulurkan tangannya.

Adira mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Salim.”

“Hah?”

Areksa masih mengulurkan tangannya. “Kenapa? Apa kamu tidak pernah salim dengan mantan suami kamu dulu saat dia hendak berangkat kerja?”

“Ya... pernah.”

“Ya sudah. Sama saya juga.”

Adira menatap tangannya, kemudian menatap wajah Areksa.

“Sekarang saya suami kamu.”

Adira mengerucutkan bibir. Selalu seenaknya.

Namun akhirnya ia tetap menyambut uluran tangan itu.

Tangannya menyentuh tangan Areksa, lalu ia menundukkan kepala dan menyalaminya.

Areksa tersenyum kecil. Namun setelah itu, ia sedikit menundukkan wajah, hendak mengecup kening Adira.

Adira spontan menghindar dan mundur setengah langkah. “Kasihan Non Aretha. Dia belum selesai.”

Areksa menghentikan gerakannya.

Ia menoleh ke arah bayi mereka yang masih berada di atas tempat tidur.

“Alasan kamu selalu Aretha.”

Adira mengangkat alis. “Memangnya salah?”

Areksa menggeleng sambil tersenyum tipis. “Enggak.”

Ia mengambil jasnya. “Ya sudah. Saya berangkat.”

***

Setelah beberapa bulan lebih banyak mengerjakan pekerjaannya dari rumah, akhirnya Areksa kembali ke kantor.

Selama ini ia memang masih sesekali datang ke kantor, terutama jika ada klien penting yang harus ditemuinya secara langsung. Namun, sebagian besar pekerjaannya ia selesaikan dari rumah agar tetap bisa mengawasi kondisi Aretha.

Pagi itu, begitu memasuki lobi perusahaan, beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyapa.

“Selamat pagi, Pak Areksa.”

“Pagi.”

Areksa berjalan menuju ruangannya dengan langkah tenang. Begitu pintu terbuka, suasana ruang kerja yang selama beberapa bulan terakhir lebih sering kosong itu kembali terasa akrab.

Chandra sudah menunggunya dengan beberapa berkas di tangan. “Selamat pagi, Pak.”

“Pagi, Chandra.”

Chandra mengikuti Areksa masuk ke ruangan.

“Bagaimana semuanya selama saya tidak terlalu sering ke kantor?”

“Sejauh ini aman, Pak. Beberapa laporan sudah saya rangkum.” Chandra menyerahkan sejumlah dokumen kepadanya. “Ada beberapa kontrak yang perlu Bapak tanda tangani. Kemudian proyek yang kemarin juga sudah masuk tahap berikutnya.”

Areksa membuka salah satu berkas dan membacanya sekilas. “Yang ini sudah dicek bagian legal?”

“Sudah, Pak.”

“Bagus.”

Chandra kemudian membuka tablet yang dibawanya. “Untuk agenda hari ini, setelah makan siang ada meeting dengan klien.”

“Jam berapa?”

“Pukul satu siang.”

“Di kantor?”

“Bukan, Pak. Di restoran.”

Areksa mengangguk. “Siapa saja yang datang?”

Chandra menyebutkan beberapa nama dari pihak klien beserta agenda yang akan dibahas.

Areksa mendengarkan sambil sesekali memberikan tanggapan singkat.

“Pastikan semua dokumen kontraknya sudah siap sebelum kita berangkat.”

“Siap, Pak.”

Chandra hendak keluar, tetapi Areksa kembali memanggilnya.

“Chandra.”

“Iya, Pak?”

“Untuk meeting nanti, jangan terlalu banyak orang yang ikut. Cukup saya, kamu, dan tim yang memang diperlukan.”

“Baik, Pak.”

Chandra mengangguk, lalu berjalan keluar. Namun baru beberapa langkah, ia kembali menoleh.

“Pak.”

“Hm?”

“Senang lihat Bapak kembali ke kantor.”

Areksa menatapnya sekilas. “Memangnya kenapa?”

“Rasanya kantor ini lebih hidup kalau Bapak ada.”

Areksa hanya menggeleng kecil. “Kerjaan kamu saja yang banyak.”

Chandra tertawa pelan. “Siap, Pak.”

Setelah pintu tertutup, Areksa kembali duduk di kursinya.

Beberapa bulan terakhir ia memang lebih sering berada di rumah.

Dan kini, setelah kembali menjalani rutinitas sebagai seorang CEO, ada satu hal yang terasa berbeda.

Dulu, meninggalkan rumah untuk bekerja adalah hal biasa.

Sekarang, entah mengapa, pikirannya justru sempat tertuju pada seseorang yang masih berada di rumah bersama Aretha.

Adira sudah sarapan belum?

Areksa menghela napas kecil, lalu memaksa dirinya kembali fokus pada dokumen di atas meja.

“Fokus, Reksa.”

Hari pertamanya kembali ke kantor baru saja dimulai.

***

Mbok Iyem menghampiri Adira yang sedang menggendong Aretha di taman belakang.

“Non...”

Adira menoleh. “Mbok, panggil Adira saja.”

Mbok Iyem tersenyum kecil. “Ah, iya. Maaf.”

Ia kemudian melirik Aretha yang sedang nyaman berada dalam pelukan Adira.

“Adira, Bik Tini sakit. Jadi untuk makan malam nanti sepertinya tidak ada yang masak.”

“Ya ampun. Bik Tini sakit apa?”

“Katanya kecapekan. Dari tadi istirahat di kamarnya.”

Adira mengangguk prihatin. “Memangnya enggak ada orang lain yang bisa masak di sini?”

“Semua bisa masak, sebenarnya. Tapi...” Mbok Iyem sedikit ragu. “Cuma masakan Bik Tini yang paling cocok dengan selera Tuan Reksa.”

“Oh, begitu.”

Adira berpikir sebentar. “Ya sudah. Nanti saya yang masak.”

“Tapi, Adira—”

“Enggak apa-apa, Mbok.”

Adira tersenyum. “Memangnya kesukaan Tuan Reksa apa?”

Mbok Iyem langsung menjawab, “Tuan Reksa suka ayam bakar madu, tumis jamur, sama jus buah. Tapi jusnya harus less sugar.”

Adira mengangguk sambil mengingatnya. “Semua bahannya ada kan, Mbok?”

“Ada.”

“Baiklah. Nanti saya yang masak.”

Mbok Iyem tampak sedikit khawatir. “Kalau Tuan tau bagaimana?”

“Ya jangan sampai tau.” Adira terkekeh kecil.

“Bilang saja kalian yang masak karena Bik Tini sakit.”

“Saya takut Tuan marah.”

“Tenang.”

Adira menepuk pelan punggung Aretha yang mulai bergerak-gerak dalam pelukannya.

“Saya cuma masak, bukan melakukan kejahatan.”

Mbok Iyem akhirnya ikut tertawa. “Baiklah.”

Di sisi lain, Areksa baru saja menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah restoran di dalam pusat perbelanjaan.

Begitu keluar dari restoran, ia merapikan jam tangannya. “Sore ini ada agenda apa lagi, Chandra?”

“Tidak ada, Pak. Tinggal mengecek perkembangan beberapa proyek sebelum jam pulang.”

Areksa mengangguk. “Oke.”

Mereka berjalan melewati deretan toko. Namun, ketika melewati sebuah butik pakaian wanita, langkah Areksa tiba-tiba melambat.

Ia berhenti. “Saya mau ke sini dulu sebentar.”

Chandra ikut berhenti. “Baik, Pak.”

Ia sudah cukup lama menjadi orang kepercayaan Areksa. Ia juga mengetahui bahwa atasannya kini telah menikah dengan Adira, perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai pengasuh Aretha.

Areksa masuk ke dalam butik. Matanya langsung berkeliling.

Beberapa menit kemudian, perhatiannya tertuju pada sebuah dress berwarna biru muda. Ia mengambilnya.

“Yang ini.”

Kemudian matanya berpindah ke dress lain berwarna merah marun dengan model berbeda.

“Yang itu juga.”

Chandra mulai memperhatikan tumpukan pakaian yang berada di tangan Areksa. “Pak...”

Areksa tidak menjawab.NIa justru kembali memilih.

Selama ini, yang ia lihat di rumah, pakaian Adira sangat sederhana. Rok panjang sebatas betis, kaus, dan beberapa kemeja sederhana. Tidak banyak pilihan pakaian yang dimiliki perempuan itu.

Entah kenapa, pagi tadi hal tersebut terlintas di pikirannya.

Maka sekarang, tanpa banyak pertimbangan, ia mulai memilih berbagai pakaian.

Beberapa dress. Piyama. Kaus. Kemeja kasual. Rok.

Bahkan beberapa pakaian dengan warna yang berbeda-beda.

Namun entah mengapa, sebagian besar yang dipilihnya tetap berupa dress.

Chandra yang melihat semakin banyak pakaian di tangan Areksa akhirnya berkomentar.

“Banyak sekali, Pak.”

Areksa menoleh. “Yang bayar saya atau kamu?”

Chandra langsung tersenyum kaku. “Ya... Bapak, tentunya.”

“Ya sudah. Jangan banyak komentar.”

“Baik, Pak.”

Areksa kembali memilih satu dress. Ia memperhatikan ukurannya beberapa detik, memastikan kira-kira akan pas untuk Adira.

Lalu ia menyerahkannya kepada pegawai butik. “Yang ini juga.”

Chandra hanya bisa menggeleng kecil. Katanya jangan banyak komentar.

Padahal dirinya sendiri yang memilih hampir setengah isi toko.

Sementara Areksa sama sekali tidak merasa ada yang aneh.

Baginya, ia hanya sedang membeli beberapa pakaian untuk istrinya.

Meski ia sendiri belum menyadari bahwa sejak menikah dengan Adira, perhatian kecil seperti itu mulai muncul begitu saja.

***

Biasanya, Areksa dikenal sebagai seorang workaholic.

Jika pekerjaannya belum selesai, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kantor tanpa merasa keberatan. Bahkan setelah semua orang pulang, ia masih bisa duduk di ruangannya, menyelesaikan satu demi satu pekerjaan yang menumpuk.

Namun hari ini berbeda.

Padahal ia baru kembali ke kantor setelah beberapa bulan lebih banyak bekerja dari rumah, tetapi entah mengapa pikirannya justru terus tertuju pada rumah.

Beberapa kali ia melirik jam tangannya. Kenapa lama sekali?

Setelah memastikan perkembangan proyek dan menyelesaikan beberapa dokumen penting, Areksa akhirnya menyerah pada keinginannya sendiri.

“Saya pulang dulu.”

Chandra yang masih berada di ruangannya menoleh. “Sekarang, Pak?”

“Iya.”

Chandra hanya mengangguk. “Baik, Pak.”

Tak lama kemudian, Areksa sudah berada di dalam mobil.

Namun bukan hanya dirinya yang pulang.

Di bagasi dan kursi belakang mobil terdapat begitu banyak paper bag dari butik yang tadi ia datangi.

Begitu sampai di rumah, Areksa langsung meminta Mbok Iyem membantunya membawa semua barang tersebut ke lantai atas.

“Mbok.”

“Iya, Tuan?”

“Tolong bawakan semua ini ke kamar saya.”

Mbok Iyem melihat tumpukan paper bag yang cukup banyak.

“Semua, Tuan?”

“Semua.”

“Baik.”

Mbok Iyem mulai mengambil beberapa paper bag, sementara Areksa membawa sisanya.

Sebelum menaiki tangga, Areksa kembali bertanya, “Adira di mana, Mbok?”

“Oh, Non Adira ada di kamar bawah, Tuan. Lagi menenangkan Aretha.”

“Kenapa?”

“Tadi Aretha menangis setelah dimandikan. Sepertinya masih mengantuk.”

Areksa langsung mengangguk. “Suruh Adira ke atas.”

Ia kemudian menambahkan, “Dan Mbok, tolong gendong Aretha dulu. Biar Adira bisa segera menyusul.”

“Iya, Tuan.”

Areksa melangkah menuju lantai atas.

Mbok Iyem mengikuti di belakang dengan tangan penuh paper bag.

Sesampainya di kamar, Mbok Iyem meletakkan semua barang tersebut sesuai permintaan Areksa.

Ia sempat melirik beberapa kantong yang belum sempat dibuka.

Ini Tuan Reksa beli apa sebanyak ini?

Namun ia tidak berani bertanya.

Setelah memastikan semuanya sudah diletakkan dengan rapi, Mbok Iyem segera turun kembali untuk memanggil Adira.

1
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!