Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan Kuno
Pagi itu, atmosfer di dalam rumah mewah keluarga Jia terasa begitu hampa, jauh berbeda dari hari-hari sebelum nya. Apa lagi Jia Ren dan istrinya tidak pulang sejak semalam--- dan itu memang sudah biasa terjadi.
Di sisi lain, Jia Li baru saja melangkah keluar melintasi gerbang utama, memacu langkahnya menuju ke suatu tempat untuk menyelesaikan tugasnya. Namun, kepergiannya tidak benar-benar luput dari perhatian.
Dari atas balkon kamar yang temaram, sepasang mata tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik Jia Li hingga punggungnya menghilang di tikungan jalan.
Sosok itu adalah Xiao Xi, yang memancarkan aura dingin dan tak tersentuh, sangat mirip dengan karakter Jia Li sendiri. Sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti, Xiao Xi membalikkan badan.
Bunyi ketukan sepatunya menggema pelan di atas lantai marmer saat ia melangkah menuju sebuah lemari di pojok ruangan.
Di balik deretan pakaian yang tergantung, tersimpan sebuah rahasia besar: sebuah buku kuno berdebu tanpa judul di sampulnya. Mengambil buku itu, ia berjalan ke sofa, lalu membukanya.
Kosong. Lembar-lembar di dalamnya hanyalah kertas putih polos tanpa coretan tinta sedikit pun.
Tanpa ragu, Xiao Xi menggigit ujung bibirnya sendiri hingga tetesan darah segar mengalir. Begitu darah itu menetes dan menyentuh permukaan kertas yang bersih, keajaiban terjadi.
Tinta emas magis perlahan menyebar, membentuk deretan aksara kuno yang berbunyi: "Bab pertama—misteri hilangnya peradaban kuno. Kekaisaran Awan Emas."
"Buku ini terlalu menarik," gumam Xiao Xi dengan suara rendah yang menggoda keheningan kamar. "Sampai-sampai aku tidak akan pernah bisa mengabaikannya sedikit pun."
Ia mulai menelusuri baris demi baris tulisan kuno tersebut.
Disana tertulis—pada masanya—sebuah Kekaisaran besar berdiri dengan megah dan kokoh—Dipimpin oleh Kaisar Yun Shang yang dikenal sebagai Kaisar tiran namun penuh kasih terhadap keluarga.
Namun di buku itu tertulis sebuah misteri yang tidak pernah bisa dipecahkan—tiba-tiba, seluruh keluarga Kekaisaran Awan Emas menghilang tanpa sebab—menjadi awal dari runtuhnya Kekaisaran Awan Emas. Sampai saat ini—hilangnya keluarga Kekaisaran itu menjadi sebuah misteri dan tanda tanya besar yang sulit di pecahkan.
Suara kertas bergesekan memutus keheningan. Xiao Xi menutup bukunya dengan gerakan perlahan. Matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu kamar, memantulkan rahasia kuno yang hanya ia sendiri yang tahu kebenarannya.
"Mereka tidak hilang," gumam Xiao Xi, suaranya nyaris menyerupai desau angin yang dingin.
Ia menjeda kalimatnya, menatap sampul buku berselimut debu itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mereka hanya memilih—pilihan yang tidak akan bisa dimengerti oleh orang lain."
DUK! DUK!
Hantaman keras pada daun pintu merusak atmosfer magis di dalam kamar.
"SAYANG! BUKA PINTUNYA!"
Xiao Xi menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Ekspresi wajahnya yang semula penuh teka-teki langsung berubah datar, sedingin es. Dengan ketenangan yang tidak wajar, ia berdiri dari duduknya, menyelipkan buku kuno itu dengan rapi di antara tumpukan pakaian di dalam lemari—menyembunyikannya dari dunia luar.
Ia melangkah mantap, membuka selot pintu, dan menariknya. Di ambang pintu, suaminya, Jia Meng, sudah berdiri dengan tatapan mata yang dingin dan menusuk.
"Kenapa lama sekali?" ucap Jia Meng datar, suaranya sarat akan ketidaksabaran yang menuntut.
"Aku habis dari kamar mandi," jawab Xiao Xi tenang, tanpa ada gugup sedikit pun di nadanya.
Jia Meng hanya mendengus kasar, tidak peduli apakah alasan itu nyata atau bualan belaka. "Kau harus melayaniku sekarang," katanya tanpa basa-basi.
Lalu, tanpa aba-aba, Jia Meng mendorong Xiao Xi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakang mereka hingga berdentum keras.
Xiao Xi tidak meronta. Ia hanya berdiri terpaku, menatap datar pria di depannya. Di dalam benaknya, tidak ada ruang untuk cinta. Yang tersisa di sana hanyalah kehampaan dan sesuatu yang membuatnya muak setengah mati.
Jia Meng mulai melangkah mendekat untuk mengintimidasi Xiao Xi secara fisik, menuntut kepatuhannya tanpa menyadari perubahan atmosfer yang mendadak di dalam kamar tersebut.
Di balik punggungnya, jemari Xiao Xi terkepal erat. Di antara sela-sela jarinya yang lentik, udara mendadak berderik. Sebuah kilatan petir kecil yang biru keputihan menyambar-nyambar dengan liar, membelah kegelapan kamar selama beberapa detik. Energi itu pekat, berbahaya, dan mematikan—sebuah elemen petir murni yang tersembunyi di balik wujud manusia modernnya.
Namun, Xiao Xi memejamkan mata dan mengembuskan napas perlahan. Bersamaan dengan itu, kilatan petir tersebut meredup dan lenyap, membuat tangannya kembali tampak normal seperti semula sebelum Jia Meng sempat menyadarinya.
Sementara itu, suasana tampak berbeda di rumah pribadi milik Liu Han. Di meja makan kayu mahoni yang dipenuhi oleh berbagai hidangan sarapan mewah bergaya modern, Liu Han tampak sedang sarapan pagi bersama dengan adik tercintanya, Liu Yue.
Meskipun tatapan mata Liu Han memancarkan kehangatan yang tulus setiap kali ia menatap adiknya, ia tetap tidak bisa mengabaikan kilatan kekhawatiran mendalam yang sejak semalam terus ia pendam di lubuk hatinya.
"Yue'er," suara berat Liu Han akhirnya memecah keheningan yang sempat merayap di antara denting sendok dan garpu mereka.
Ia meletakkan cangkir kopinya secara perlahan, lalu menatap adiknya lurus-lurus. "Aku sudah bicara langsung dengan pihak agensimu dan juga manajermu. Aku memutuskan bahwa selama beberapa hari ke depan, kau tidak perlu melakukan aktivitas pemotretan atau menghadiri jadwal apa pun lagi."
Mendengar keputusan sepihak itu, Liu Yue yang sedang mengunyah rotinya langsung tersedak. Ia terbatuk kecil sebelum akhirnya menatap kakaknya dengan tatapan horor penuh ketidakpercayaan.
"Kakak bilang apa?! Yang benar saja! Jadwal kerjaku minggu ini sangat padat, Kak. Ada kontrak eksklusif yang harus kupenuhi. Dan jika aku tiba-tiba membatalkannya tanpa alasan yang jelas, aku harus membayar denda penalti yang sangat besar kepada pihak agensi dan klien!" serunya dengan nada suara yang meninggi, jelas-jelas tidak terima dengan keputusan tersebut.
Namun, Liu Han tetap mempertahankan ekspresi tenangnya yang dingin, seolah penolakan adiknya sudah ia prediksi sejak awal.
"Soal uang, itu sama sekali bukan masalah besar bagi kita," jawabnya datar, namun terselip ketegasan di setiap kalimatnya.
Ia memajukan tubuhnya, menatap Liu Yue dengan sorot mata yang berubah menjadi sangat serius. "Apa kau sudah benar-benar lupa dengan kejadian yang menimpamu semalam? Kali ini lawan yang sedang kita hadapi di luar sana jauh lebih berbahaya dari yang kau bayangkan."
Mendengar peringatan kakaknya, Liu Yue seketika bungkam. Ia hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah seiring dengan dadanya yang mendadak terasa sesak.
Saat kilasan ingatan di otaknya kembali melayang pada memori tentang insiden pembantaian berdarah yang ia saksikan semalam, bulu kuduk di sekujur tubuhnya langsung merinding hebat, dan tangannya mulai bergetar samar.
Sebelum keheningan yang mencekam itu sempat berlarut-larut, suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun sopan dari seorang pelayan rumah memecah ketegangan di ruang makan tersebut.
"Permisi, Tuan," kata pelayan itu sambil membungkukkan badannya dengan hormat ke arah Liu Han. "Di gerbang depan... ada seseorang yang mengaku sebagai teman dekat dari Nona Liu Yue yang datang dan bersikeras ingin segera bertemu."
Mendengar laporan yang tak terduga itu, Liu Han dan Liu Yue seketika menoleh secara bersamaan ke arah pelayan tersebut dengan tatapan mata yang penuh tanya.