Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANG TERBUKA DI SANGKAR EMAS
Suhu udara di dalam kamar utama Dharmawangsa seketika merosot drastis hingga titik beku. Aura dominasi yang memancar dari sosok Letnan Jenderal Gibran Mahendra menguar begitu pekat, memenuhi setiap sudut ruangan. Pria tegap berseragam dinas lengkap itu melangkah masuk dengan tenang, namun setiap derap langkah sepatu pantofelnya yang beradu dengan lantai kayu koridor terdengar bagaikan ketukan eksekusi yang mematikan.
Gibran tidak membuang kata-kata. Sepasang manik mata hitamnya menancap lurus pada ponsel pintar baru yang masih tergenggam erat di jemari Ziva yang gemetar hebat, sebelum akhirnya bergulir dingin menatap Keyla yang nekat berdiri membusungkan dada di depan Ziva.
"Nyonya Keyla," suara Gibran mengudara, sangat rendah, datar, namun sarat akan ancaman terselubung yang sanggup meremukkan mental siapa pun. "Ternyata keberanian Anda melampaui batas kecerdasan Anda. Masuk tanpa izin ke dalam rumah dinas seorang perwira tinggi militer adalah pelanggaran hukum yang sangat serius."
Keyla mengepalkan kedua tangannya, mencoba menahan getaran di lututnya demi membela sahabat yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. "Saya tidak peduli dengan jabatan atau pangkat Anda, Jenderal! Anda telah menyekap Ziva di sini! Apa yang Anda lakukan adalah tindakan kriminal dan kejahatan terhadap hak asasi manusia!"
Sudut bibir Gibran terangkat sangat tipis sebuah senyuman minim yang teramat dingin dan mengintimidasi. Pria itu mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat pelan ke arah luar pintu.
Dua orang pengawal berbadan tegap berseragam batik langsung melangkah masuk, membungkuk penuh hormat di belakang Gibran.
"Kawal Nyonya Keyla keluar dari properti ini sekarang juga," perintah Gibran tanpa emosi. "Dan pastikan seluruh perangkat elektronik yang ia bawa disita untuk kepentingan pemeriksaan keamanan."
"Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!" teriak Keyla histeris saat kedua pengawal itu langsung memegang kedua lengannya secara profesional namun tegas, menarik tubuhnya menjauh dari Ziva. Keyla memberontak hebat, matanya menatap Ziva dengan raut penuh kecemasan. "Ziva! Jangan takut! Ayahmu pasti akan mengeluarkanmu dari tempat terkutuk ini! Gibran, kamu tidak akan pernah bisa memenangkan perang ini!"
"Keyla!" jerit Ziva histeris, mencoba melangkah maju untuk menolong sahabatnya.
Namun, dengan satu gerakan cepat dan tak terbendung, Gibran memotong jalur Ziva. Lengan kokohnya melingkar rapat di pinggang Ziva, mengunci tubuh mungil gadis itu dalam dekapannya dan menahannya di tempat, sementara pintu kamar ditutup rapat dari luar oleh pengawal yang menyeret Keyla pergi.
Suara teriakan Keyla yang makin menjauh di koridor lantai bawah perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan malam yang kembali mencekam di dalam kamar utama.
Ziva meronta-ronta bagai kesetanan di dalam cengkeraman lengan Gibran, memukul dada bidang berbalut kemeja dinas pria itu dengan kepalan tangannya yang tak lagi bertenaga. Air mata kemarahan dan frustrasi mengalir deras membasahi pipinya.
"Lepaskan aku! Om iblis! Om benar-benar iblis!" jerit Ziva parau, suaranya pecah oleh keputusasaan mendalam. "Kenapa Om harus melibatkan Keyla?! Dia tidak tahu apa-apa! Dia cuma peduli sama aku!"
Gibran mengabaikan rontaan dan pukulan itu seolah-olah hanya terpaan angin sepoi-sepoi. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Ziva yang memegang ponsel pemberian Keyla, lalu merebut perangkat itu dengan sangat mudah. Tanpa ragu sedikit pun, Gibran melemparkan ponsel itu ke dinding batu alam di sudut kamar hingga hancur berkeping-keping.
PRANG!
Pecahan kaca dan komponen elektronik bertebaran di atas lantai marmer. Ziva membeku seketika, tatapannya beralih dari pecahan ponsel ke wajah Gibran yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Pria itu bernapas berat, dada bidangnya naik-turun menahan emosi yang akhirnya mencetuskan kilatan amarah yang membakar di balik manik mata hitamnya.
"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu rencanakan, Ziva?" bisik Gibran rendah, suaranya sarat akan kemurkaan yang tertahan. "Kamu memanfaatkan perhatian saya yang terbagi demi penyelidikan Markas Besar hanya untuk bermain-main di belakang saya? Kamu mencoba menghubungi orang luar saat kamu sudah menjadi milik saya?!"
Gibran mendorong Ziva perlahan namun pasti ke arah tempat tidur berukuran king-size, lalu mengungkung tubuh gadis itu di bawah intimidasinya. Sepasang tangan kekar sang Jenderal menumpu kaku di kiri dan kanan kepala Ziva, memangkas seluruh jalan untuk melarikan diri.
"Om tidak pernah memiliki aku!" cetus Ziva dengan napas berburu, keberaniannya mencetus dari keputusasaan puncak. "Tubuhku mungkin bisa Om sekap di rumah ini, tapi jiwaku, hatiku, dan cintaku... tidak akan pernah menjadi milik Om! Sampai kapan pun, aku cuma mencintai Aris!"
Kata "Aris" yang kembali terucap dalam situasi kritis seperti ini menjadi pemicu ledakan dominasi Gibran. Rahang sang Jenderal mengeras kaku hingga urat-urat di lehernya menegang.
"Saya sudah memperingatkanmu berkali-kali, Ziva..." bisik Gibran tepat di depan bibir Ziva, suaranya berubah sangat serak dan berbahaya. "Jangan pernah menyebut nama keponakan saya di atas tempat tidur saya."
Tanpa memberi kesempatan untuk Ziva membalas, Gibran mendaratkan ciumannya secara brutal dan mendalam. Ciuman kali ini penuh dengan tuntutan hukuman, kemarahan yang meluap, dan penegasan kekuasaan mutlak yang tak terbantahkan. Jemari kekar Gibran merengkuh tengkuk Ziva, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat sementara bibirnya menyapu sisa-sisa perlawanan yang tersisa di dada Ziva.
Ziva sempat mencoba menggigit bibir tebal pria itu, namun Gibran justru membalasnya dengan cengkeraman yang makin posesif di pinggangnya, menarik tubuh Ziva hingga tak tersisa celah udara di antara mereka. Rontaan Ziva perlahan meredup, berganti menjadi isakan pasrah yang meluruh di dalam kepungan aroma maskulin dan kehangatan pria yang selalu berhasil melumpuhkan daya tahannya.
Ketika Gibran akhirnya melepas ciumannya secara perlahan, Ziva hanya bisa terengah-engah dengan dada naik-turun dan air mata yang terus mengalir membasahi bantal sutra abu-abu di bawah kepalanya.
Gibran mengusap lembut air mata di pipi Ziva menggunakan ibu jarinya sebuah gestur kontradiktif yang begitu mengintimidasi.
"Mulai esok hari, tidak akan ada lagi orang luar yang bisa menembus tempat ini," ujar Gibran dengan suara yang kembali tenang namun dingin bagai es. "Perang ini sudah dimulai, Ziva... dan kamu akan tetap berada di dalam pelukan saya sampai perang ini usai."