Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Pengenalan Kembali 2 Jiwa Lama
BAB 21: PENGENALAN KEMBALI DUA JIWA LAMA
Alunan musik orkestra klasik yang megah di balai dansa Gedung Gubernur Jenderal Batavia perlahan-lahan mereda, digantikan oleh riuh rendah suara tepuk tangan para tamu undangan dan derap langkah kaki para pelayan berjas rapi yang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal berisi minuman mahal. Namun, kebisingan kemewahan kolonial tahun 1928 itu terasa begitu jauh di telinga Clara van der Berg. Gadis itu masih berdiri terpaku di dekat pilar besar pualam putih, menatap ke arah kerumunan tamu bangsawan di mana sosok Julian van Houten baru saja menghilang ditelan bayang-bayang lorong penghubung aula utama.
Sensasi hangat dari kecupan singkat di punggung tangannya tadi masih membekas dengan sangat jelas di kulitnya. Lebih dari itu, gema suara Julian yang penuh keyakinan mutlak terus berdengung di dalam kepala Clara, memicu gelombang emosi yang bercampur aduk antara kebahagiaan yang teramat dalam dan ketakutan yang mencekam. Ia tahu persis siapa pria itu di balik setelan jas Eropa yang elegan dan marga besar Van Houten yang ditakuti. Pria itu adalah reinkarnasi dari pangeran Marcus, kekasih yang memeluk jasadnya di atas reruntuhan Roma ribuan tahun lalu, dan pria yang sama pula yang akan menyeret mereka berdua ke dalam pusaran badai permusuhan darah paling berbahaya di tanah Jawa.
"Nona Clara!"
Sebuah suara tegas bercampur nada cemas membuyarkan lamunan panjang Clara. Panglima lapangan sindikat keluarga Liem—seorang pria paruh baya bertubuh gempal bernama Bang Jafar, yang menyamar sebagai pengawal pribadi keluarga malam itu—berjalan cepat mendekatinya dengan langkah berat namun waspada. Wajah Bang Jafar tampak mengeras, garis-garis ketegangan jelas terlihat di sekitar rahangnya yang dipenuhi bekas luka masa lalu.
Clara segera menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan memasang topeng ketenangan seorang putri bangsawan sindikat yang tidak boleh terlihat lemah di hadapan siapapun. Ia menoleh ke arah pengawalnya dengan tatapan dingin yang dipelajarinya dari sang ayah.
"Ada apa, Jafar?" tanya Clara dengan suara tenang namun berwibawa.
"Tuan Besar memerintahkan saya untuk segera menjemput Anda," jawab Bang Jafar setengah berbisik, matanya terus mengawasi sekeliling ruangan dengan curiga. "Beliau melihat semuanya dari lantai mezanin atas. Tadi... Tuan Besar sangat murka saat melihat Anda berdansa begitu dekat dengan pewaris keluarga Van Houten. Hubungan kedua keluarga sedang berada di ujung tanduk, Nona. Jika musuh-musuh Tuan Besar tahu bahwa Anda memiliki kedekatan personal dengan Julian van Houten, keselamatan Anda akan berada di jurang maut."
Clara menghela napas berat, merasakan beban kenyataan menghantam pundaknya. Di dunia kolonial ini, cinta bukanlah urusan hati semata; cinta adalah komoditas berbahaya yang bisa memicu perang antarklan dalam sekejap. Ayahnya, Tuan Besar Ho, adalah penguasa sindikat bawah tanah yang memegang kendali atas seluruh jalur pelabuhan dan penyelundupan di pesisir utara Batavia. Sementara keluarga Van Houten adalah monster kolonial berdarah dingin yang didukung oleh modal besar dan pengaruh politik pemerintahan Hindia Belanda, yang berniat merampas seluruh kekuasaan sindikat keluarga Liem.
"Aku mengerti, Jafar," ucap Clara pelan. "Katakan pada Ayah bahwa aku akan segera turun ke lobi utama untuk kembali ke rumah Menteng. Aku hanya... butuh udara segar sejenak."
Bang Jafar mengangguk ragu, lalu memberi jalan sambil tetap berdiri siaga mengawal di sampingnya. Namun, sebelum Clara sempat membalikkan badan untuk meninggalkan aula dansa, sebuah bayangan tinggi besar mendadak muncul dari balik pilar di sisi kiri mereka.
Seorang pria berambut kelasi dengan setelan jas abu-abu tua dan topi laken miring melangkah mendekat. Di balik jasnya, tonjolan gagang senjata api terlihat samar-samar. Itu adalah salah satu orang kepercayaan tertua dari keluarga Van Houten—seorang algojo berdarah dingin yang dikenal dengan nama julukan 'Si Tangan Besi'. Pria itu tidak mendekati Clara dengan ancaman kekerasan, melainkan berhenti beberapa langkah darinya, lalu membungkuk hormat dengan gestur sarkastik khas kolonial.
"Selamat malam, Nona Liem Mei Yin," ucap pria itu dengan senyuman miring yang mengerikan. Suaranya serak dan berat. "Tuan Muda Julian menitipkan sebuah pesan kecil untuk Anda sebelum beliau meninggalkan gedung ini."
Clara mengerutkan keningnya, sementara Bang Jafar seketika meletakkan tangannya di balik jas, bersiap mencabut senjata jika pria itu berbuat nekat. Clara mengangkat dagunya, menunjukkan keberanian yang sama sekali tidak mencerminkan gadis seusianya.
"Katakan," desis Clara dingin.
Algojo keluarga Van Houten itu merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk gulungan kertas beludru merah yang diikat dengan sehelai benang emas tipis. Ia menyerahkannya kepada Clara dengan gerakan tangan yang sangat lambat, memastikan para pengawal keluarga Liem tidak salah paham.
"Tuan Muda bilang... rantai besi penjara bawah tanah Roma tidak akan pernah cukup kuat untuk memisahkan dua jiwa yang ditakdirkan bersama, apalagi sekadar tembok permusuhan darah keluarga di Batavia ini," bisik pria itu penuh teka-teki, sebelum akhirnya membalikkan badan dan menghilang di tengah kerumunan tamu undangan yang mulai membubarkan diri.
Clara tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang seolah mau copot dari rongga dadanya. Kalimat itu... kalimat itu adalah bukti yang tidak terbantahkan. Julian bukan hanya sekadar reinkarnasi biasa; pemuda itu membawa seluruh ingatan kehidupan masa lalu mereka. Pria itu ingat semuanya—tentang Roma, tentang penderitaan mereka, tentang janji setia di ujung tebing kerajaan, dan tentang kematian tragis di pelukan sang pangeran.
Malam itu, di dalam mobil sedan hitam besar yang membawa Clara kembali ke kediaman mewah mereka di Menteng, gadis itu menggenggam gulungan kertas beludru merah tersebut erat-erat di dalam dekapannya. Air mata haru yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya dalam kegelapan kabin mobil.
Di luar jendela, lampu-lampu jalanan kota Batavia berkedip suram di bawah rintik hujan gerimis yang mulai turun. Clara tahu, perang besar baru saja dimulai. Ayahnya tidak akan pernah merestui hubungan mereka, keluarga Van Houten akan memburu Julian jika mereka tahu sang pewaris jatuh cinta pada putri musuh bebuyutannya, dan takdir kejam sekali lagi mencoba menguji ketulusan cinta mereka. Namun, kali ini, Clara bersumpah di dalam hatinya—ia tidak akan membiarkan akhir cerita mereka berakhir di atas nisan yang berbeda seperti di era kolonial ini, atau berakhir tragis seperti di Roma ribuan tahun lalu.
Keesokan paginya, matahari pagi Batavia bersinar terik, memantulkan cahaya menyilaukan di atas permukaan air kanal-kanal kota yang sibuk oleh aktivitas perdagangan kolonial. Di sebuah gudang pelabuhan tua di kawasan Sunda Kelapa—yang menjadi salah satu pusat operasi rahasia sindikat keluarga Liem—suasana tampak tegang dan dipenuhi aroma amis air laut serta bau karung-karung kopi dan tembakau impor.
Tuan Besar Ho berdiri di atas lantai kayu dermaga sambil memegang cerutu yang menyala di antara jari-jarinya. Asap kelabu mengepul tipis ditiup angin laut. Di sekelilingnya, puluhan anak buah bersenjata lengkap berjaga-jaga dengan wajah garang, mengawasi setiap pergerakan kapal kargo asing yang bersandar di kejauhan.
"Bagaimana laporan dari pelabuhan timur, Jafar?" suara Tuan Besar Ho bergemuruh rendah, memecah kesunyian di antara deru ombak kecil yang menghantam tiang pancang dermaga.
Bang Jafar, yang berdiri tepat di belakang sang bos besar, membungkuk hormat sebelum menjawab, "Semua pengiriman barang ilegal kita minggu ini aman, Tuan. Anak buah kita berhasil menghindari patroli bea cukai pemerintah kolonial. Tapi... ada satu hal penting yang harus saya laporkan mengenai situasi semalam di Gedung Gubernur."
Mendengar kata-kata itu, Tuan Besar Ho menghentikan isapan cerutunya. Pria paruh baya itu perlahan membalikkan badan, menatap tajam ke arah pengawalnya dengan sorot mata setajam pisau belati. Alis tebalnya bertaut rapat.
"Katakan. Apa yang terjadi dengan putriku di pesta semalam?" tanya Tuan Besar Ho dengan nada suara yang mulai meninggi dan penuh ancaman.
"Tuan Muda Julian van Houten mendekati Nona Clara di tengah balai dansa, Tuan," lapor Bang Jafar dengan nada hati-hati. "Mereka... berdansa bersama di hadapan para petinggi kolonial. Dan dari informasi yang saya kumpulkan dari jaringan intelijen kita di faksi sebelah, Julian van Houten tampak sangat terobsesi pada Nona Clara. Keluarga Van Houten tampaknya sedang merencanakan sesuatu."
Prang!
Tuan Besar Ho melemparkan puntung cerutunya ke lantai kayu dermaga dengan gerakan kasar, tatapannya menyala bagaikan bara api kemarahan. Giginya bergemeretak menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Selama ini, ia telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk melindungi Clara dari dunia hitam yang kejam, memastikan tidak ada satu pun musuh bebuyutannya yang bisa menyentuh permata hatinya. Dan sekarang, putra dari keluarga Van Houten—keluarga yang paling dibencinya di seluruh tanah Hindia Belanda—malah berani mendekati putrinya.
"Julian van Houten..." geram Tuan Besar Ho dengan suara tertahan penuh kebencian. "Bocah tengik itu rupanya ingin bermain api dengan keluarga Liem. Dia pikir karena ayahnya adalah tangan kanan gubernur kolonial, dia bisa merenggut apa pun yang dia inginkan?"
Tuan Besar Ho mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu bahwa persaingan bisnis antara sindikatnya dan keluarga Van Houten sudah mencapai titik didih. Jika hubungan antara Clara dan Julian sampai tercium oleh para tetua kedua belah pihak, hal itu tidak hanya akan memicu perang darah di jalanan Batavia, tetapi juga membahayakan nyawa putri tunggalnya.
"Dengar, Jafar," perintah Tuan Besar Ho dengan suara mutlak yang tidak bisa dibantah. "Perketat pengamanan di sekitar rumah Menteng. Jangan biarkan Clara keluar rumah sendirian tanpa pengawalan ketat dari pasukan khusus kita. Dan jika pemuda dari keluarga Van Houten itu berani mendekati putriku lagi... singkirkan dia sebelum dia membawa malapetaka bagi keluarga kita."
"Baik, Tuan!" jawab Bang Jafar tegas, langsung membungkuk dan bergegas pergi untuk melaksanakan perintah sang bos besar.
Tanpa disadari oleh Tuan Besar Ho maupun Bang Jafar, di balik tumpukan karung-karung goni besar di sudut dermaga yang agak gelap, Clara berdiri mematung mendengarkan seluruh percakapan tersebut. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk meredam isapan napasnya yang tercekat. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Perang antara cinta dan takdir darah telah resmi ditabuh. Ayahnya berniat membunuh Julian, sementara Julian berniat meruntuhkan seluruh tembok permusuhan demi dirinya. Terjebak di tengah pusaran maut tersebut, Clara tahu bahwa ia tidak boleh tinggal diam dan menunggu takdir menghancurkan hidup mereka untuk kesekian kalinya. Di bawah terik matahari pelabuhan Batavia tahun 1928, Clara mengepalkan kedua tangannya, bersumpah bahwa ia akan mencari cara untuk menghentikan pertumpahan darah ini, menyelamatkan pria yang dicintainya, dan menulis ulang takdir cinta mereka dengan tangannya sendiri.
*•*
*•*
*•*
*•*