Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bukankah Kamu Dulu yang Melepaskanku
Malam itu, setelah selesai membantu Emak Sarni Sari membereskan peralatan dapur dan memastikan semua gorengan untuk esok pagi sudah siap di dalam wadah, Dika Pratama merasa butuh sedikit udara segar. Badannya memang tidak terlalu lelah setelah seharian membuat konten mancing di kali, tetapi pikirannya masih melayang ke mana-mana.
Ia melangkah ke ruang tengah, tempat Bapak Joko Pratama sedang melinting tembakau rokok kreteknya di atas amben bambu, sementara Emak Sarni Sari sedang merapikan tumpukan koran bekas di sudut ruangan.
"Pak, Mak..." panggil Dika pelan sambil merapikan jaket hitam kumal yang melekat di tubuhnya, tak lupa melilitkan sarung tenun kesayangannya dengan rapi. "Dika mau keluar sebentar ya. Mau ngopi di warung alun-alun Sidoarjo cari angin malam."
Bapak Joko Pratama mendongak sejenak, mengepulkan asap kreteknya tipis-tipis sebelum menjawab. "Iya, sana pergi. Jangan malam-malam pulangnya, jangan cuma ngelamun terus kayak orang linglung."
"Iya, Nak. Jangan lupa pulangnya dibawain terang bulan kalau ada yang lewat," tambah Emak Sarni Sari sambil tersenyum lembut.
Dika mengangguk patuh. Setelah berpamitan menyalami tangan kedua orang tuanya, ia melangkah keluar rumah menyusuri jalanan malam Sidoarjo yang tenang.
Tak lama kemudian, ia sudah tiba di kawasan Alun-Alun Sidoarjo yang malam itu tampak cukup ramai oleh warga yang menikmati malam akhir pekan. Dika memilih salah satu sudut warung kopi sederhana beralaskan tikar plastik di pinggir lapangan. Ia memesan secangkir kopi hitam tubruk yang langsung disajikan panas-panas oleh pemilik warung.
Dika duduk seorang diri, menikmati sebatang kretek Gajah Baru yang terselip di bibirnya. Secangkir kopi hitam tersaji di hadapannya, mengepulkan uap tipis yang menemani lamunannya melayang jauh ke gedung-gedung beton pencakar langit di Surabaya. Pikirannya tanpa sadar kembali menerawang pada sosok perempuan berambut sebahu dengan tatapan setajam elang itu. Vanesha. Entah sudah berapa kali dalam dua hari ini bayangan wajah CEO cantik dan galak tersebut melintas di kepalanya. Meskipun perempuan itu memilih melepaskannya dan mengusirnya dengan dingin, hatinya ternyata masih menyisakan ruang perih yang sulit diajak kompromi.
"Dasar perempuan es batu... dibilang kangen salah, nggak dicari malah bikin penasaran," gumam Dika lirih pada dirinya sendiri sambil menyeruput kopi pahitnya.
Ia mengira bayangan Vanesha di kepalanya malam ini hanyalah bentuk dari halusinasi orang patah hati tingkat akut. Namun, di tengah lamunannya yang semakin larut, deru suara mesin mobil sedan mewah berplat nomor Surabaya tampak berhenti tepat di tepi jalan raya tak jauh dari area alun-alun. Lampu hazard mobil itu berkedip pelan, kontras dengan kesederhanaan warung kopi tempat Dika duduk.
Dika menoleh sekilas, mengira itu hanya mobil pejabat daerah atau pengusaha kaya yang sedang mampir mencari angin. Namun, saat pintu pengemudi terbuka dan sesosok wanita melangkah keluar dengan sepatu hak tinggi yang berketukan tegas di atas aspal, mata Dika langsung membelalak lebar. Jantungnya mendadak berhenti berdetak selama sedetik.
Wanita itu mengenakan blazer putih elegan berpotongan modern, dipadu celana kain hitam pas badan. Rambutnya tergerai indah tertiup angin malam Sidoarjo, dan wajah cantiknya tampak memancarkan aura dingin yang begitu khas — meski kali ini, ada gurat lelah dan napas yang sedikit memburu di wajahnya.
Vanesha? batin Dika, mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali. Ia yakin seratus persen dirinya sedang berhalusinasi tingkat tinggi karena terlalu sering memikirkan mantan atasannya itu.
"Pasti aku sudah terlalu banyak ngopi atau stres berat sampai lihat bayangan dia nyasar ke Alun-Alun Sidoarjo," gumam Dika sambil menggelengkan kepala, lalu kembali menunduk menatap cangkir kopi hitamnya.
"Kamu tidak sedang berhalusinasi, Dika Pratama," ucap suara itu.
Sebuah suara dingin namun bergetar halus tiba-tiba terdengar tepat di sebelah meja tikarnya. Dika terkesiap seketika. Ia mendongakkan kepalanya perlahan.
Di hadapannya, berdiri sosok Vanesha — bukan bayangan, bukan pula khayalan. Perempuan itu berdiri tegak dengan kedua tangan melipat di dada, menatap tajam ke arah Dika menggunakan sorot mata yang selama ini selalu membuat nyali para manajer kantornya ciut. Namun di balik sorot mata tajam itu, ada kilat emosi yang tak bisa disembunyikannya: rasa bersalah, rindu, dan kelegaan yang luar biasa karena akhirnya berhasil menemukan keberadaan pemuda bersarung itu.
"V-Vanesha...?" jawab Dika terbata-bata, nyaris tersedak asap kreteknya sendiri. "Kamu... ngapain malam-malam begini nyasar ke Sidoarjo? Salah alamat, Mbak. Kantor pusat Vanesha Group itu di Surabaya, bukan di pinggir tukang kopi keliling."
Vanesha menatap tajam ke sekeliling warung kopi sederhana itu, lalu kembali menatap Dika dengan dagu terangkat. Suaranya terdengar dingin, namun ada getaran halus yang lolos dari bibirnya.
"Kamu pikir aku tidak bisa melacak keberadaanmu, hah? Pegawai paling menyebalkan dan kepala batu yang pernah ada di perusahaan saya!" sahut Vanesha ketus, meski sesaat kemudian ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredakan debar di dadanya sendiri.
Suasana warung kopi sederhana di sudut Alun-Alun Sidoarjo itu mendadak terasa senyap, seolah mengabaikan hiruk-pikuk lalu lintas dan suara musik jalanan di sekitar mereka. Dika Pratama masih termangu dengan mulut setengah terbuka, menatap wanita berjas elegan yang berdiri tepat di hadapannya.
Vanesha menghela napas panjang. Aura galak dan dingin yang biasanya menjadi benteng pertahanannya di ruang rapat lantai sepuluh Vanesha Group mendadak runtuh begitu saja saat melihat Dika duduk santai mengenakan sarung dan jaket kumal. Tanpa diduga, CEO cantik itu melangkah maju, langsung menerjang jarak di antara mereka, dan memeluk Dika erat-erat.
Wangi parfum mahal beraroma lavender bercampur udara malam Sidoarjo langsung menyerbu indra penciuman Dika. Kepala Vanesha bersandar tepat di dadanya, dan Dika bisa merasakan debar jantung wanita itu yang bergemuruh hebat — sama persis dengan debar di dadanya sendiri.
Untuk beberapa detik, Dika membeku. Otaknya mendadak macet total. Sentuhan tubuh Vanesha yang begitu hangat dan nyata membuat pertahanan batinnya langsung jebol. Bayangan gengsi, sakit hati karena diusir, dan rasa kesal seketika menguap entah ke mana.
Namun, seiring dengan eratnya pelukan itu dan gesekan tubuh mereka yang begitu dekat di atas tikar plastik warung kopi, naluri alamiah Dika mendadak bereaksi di luar kendali. Sensasi keintiman yang mendadak itu membuat tubuhnya ikut merespons tanpa izin.
Mata Dika langsung melotot lebar saat menyadari apa yang terjadi. Panas dingin mendadak menjalar sekujur tubuhnya.
Waduh, gawat! Bisa bahaya kalau dia sampai sadar! Bisa dikira aku berbuat macam-macam! batin Dika panik setengah mati.
Dengan gerakan cepat dan agak salah tingkah, Dika langsung memegang kedua bahu Vanesha, lalu mendorong tubuh wanita itu pelan namun tegas untuk melepaskan pelukan tersebut.
"Eh — sebentar, Vanesha! Pelan-pelan dong kalau meluk!" sergah Dika dengan suara tertahan, wajahnya mendadak merah padam sambil merapikan letak sarungnya agar tidak terlalu mencolok.
Vanesha, yang tadinya terbuai dalam kehangatan pelukan rindu, sontak terdorong mundur dengan wajah kebingungan bercampur kesal. Alis indahnya langsung bertaut tajam, menatap Dika dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.
"Kamu ini kenapa, sih?! Baru juga dipeluk sebentar setelah sekian hari menghilang tanpa jejak, malah didorong!" protes Vanesha dengan nada ketusnya yang khas, meski pipinya kini ikut merona merah karena salah tingkah.
Dika mengalihkan pandangannya ke arah tukang kopi, batuk-batuk kecil untuk menetralisir suasana canggung yang mendadak tercipta di antara mereka. "Bukannya nggak mau dipeluk... tapi tahu tempat dong. Ini di tempat umum. Kalau saya ikut terhanyut dan kebablasan gimana? Bisa-bisa saya dikeroyok dikira macam-macam sama orang," jawab Dika setengah berbisik, berusaha menutupi kegugupannya.
Vanesha mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka ke arah lapangan. Meskipun bibirnya cemberut kesal, sudut bibirnya sempat tertarik membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
"Alasan saja kamu, Dika Pratama," cibir Vanesha, meski sorot matanya kini jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Surabaya sepi tanpamu... dan kantorku berantakan karena tidak ada lagi pegawai menyebalkan yang bisa kuomeli setiap pagi.
Suasana di sudut warung kopi sederhana itu mendadak hening setelah Vanesha melontarkan pengakuan jujurnya. Angin malam Alun-Alun Sidoarjo berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut sebahu sang CEO cantik yang kini berdiri mematung di hadapan Dika Pratama.
Dika yang tadinya masih sibuk menata perasaannya, perlahan mengubah ekspresinya. Ia menegakkan duduknya, menatap lurus ke dalam mata Vanesha yang tampak menyiratkan kelelahan sekaligus kerinduan yang mendalam. Secangkir kopi hitam di hadapannya yang mengepulkan uap tipis seolah menjadi saksi bisu ketegangan di antara mereka berdua.
"Kantorku berantakan karena tidak ada lagi pegawai menyebalkan yang bisa kuomeli setiap pagi," ulang Dika menirukan kalimat itu, lalu tersenyum tipis — senyum yang menyiratkan getir sekaligus keheranan. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Bentar dulu, Vanesha..." ucap Dika dengan nada suara yang tenang namun menusuk tepat di sasaran. "Bukannya beberapa hari yang lalu di lantai sepuluh gedung megah itu, kamu sendiri yang menyuruh saya pergi? Kamu sendiri yang bilang kalau saya tidak pantas di sana, lalu memilih untuk melepaskan saya begitu saja tanpa memberi kesempatan membela diri?"
Vanesha tertegun. Kalimat itu meluncur tajam, telak menghantam nuraninya. Wanita berjas elegan itu langsung mengerjap-ngerjapkan matanya, kehilangan kata-kata untuk sedetik. Bibirnya yang biasa terbiasa mengeluarkan titah tegas dan omelan pedas mendadak kelu. Ia membuka mulutnya, hendak menyanggah, namun tenggorokannya terasa tercekat.
"Saya ini cuma pegawai rendahan..." lanjut Dika dengan suara yang lebih lirih, namun penuh ketegasan harga diri yang diajarkan Bapak Joko Pratama. "Prajurit sengklek yang nggak punya apa-apa selain sarung, joran bambu, dan tekad buat hidup jujur. Kalau di sana saya cuma jadi beban dan bahan hinaan, ya buat apa dipertahankan? Kamu sendiri yang memilih jalan itu."
Vanesha menunduk sejenak. Pertahanan diri yang selama ini ia bangun di balik jabatan tinggi dan kekayaannya runtuh berkeping-keping di hadapan seorang pemuda bersarung di warung pinggir jalan Sidoarjo. Ego besar yang selalu ia junjung tinggi di dunia korporat mendadak tak ada artinya saat ia menyadari bahwa tindakannya beberapa hari lalu hampir membuatnya kehilangan satu-satunya orang yang tulus melihatnya bukan sebagai seorang CEO, melainkan sebagai perempuan biasa.
"Aku... aku tahu aku salah, Dika," ucap Vanesha akhirnya, terdengar jauh lebih rapuh dari biasanya. Ia melangkah mendekat pelan, menatap Dika dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Waktu itu emosiku tersulut... aku takut terseret dalam tekanan keluarga, dan aku melampiaskannya padamu. Tapi... begitu kamu benar-benar pergi meninggalkan gedung itu tanpa jejak, aku baru sadar... kantorku memang luas, tapi rasanya kosong."
Dika terdiam. Menatap sorot mata Vanesha yang biasanya tajam kini berubah memohon, amarah yang sempat bersarang di dadanya perlahan-lahan luluh. Ia tahu persis betapa berat beban yang dipikul seorang Vanesha di balik topeng dinginnya sebagai pemimpin perusahaan besar.
"Kenapa harus nyusul jauh-jauh ke Sidoarjo malam-malam begini?" tanya Dika pelan, suaranya kini melembut. "Capek di jalan, cuma buat nyari pegawai yang sudah diusir?"
Vanesha mengangkat dagunya sedikit, berusaha mempertahankan sisa-sisa gengsinya meski pipinya kini basah oleh air mata yang tak lagi bisa ia bendung.
"Karena aku tidak mau kesombonganku merusak satu-satunya hal tulus yang kumiliki," jawab Vanesha mantap, menatap lurus mata Dika tanpa ragu. "Aku ke sini bukan sebagai CEO Vanesha Group... aku ke sini sebagai Vanesha. Perempuan yang mau minta maaf, dan... memintamu pulang ke Surabaya bersamaku."