NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Perang Cemburu

Isakan tangis Clarissa bergema di dalam penthouse yang serba mewah itu. Air matanya mengalir deras membasahi pipi mulus yang dipoles riasan tipis, menetes ke atas gaun backless merah marun yang membungkus ketat tubuh rampingnya.

Namun, belum sempat Rendy merespons pertanyaan emosional mantan istrinya, suara dentingan halus dari lift pribadi kembali memecah keheningan. Pintu mahoni gelap bergeser terbuka secara otomatis.

Siska melangkah kembali masuk ke dalam penthouse. Kali ini, di tangannya ada sebuah map kecil tambahan yang tertinggal di dalam mobil pengawal. Namun, begitu matanya menangkap sosok Clarissa yang berdiri di tengah ruangan dengan air mata bercucuran, Siska menghentikan langkahnya seraya mengulas senyum tipis berhias kemenangan yang amat dingin.

"Ternyata Anda masih di sini, Mba Clarissa?" ujar Siska dengan nada suara yang begitu halus, namun sarat akan intonasi merendahkan. Ia berjalan mendekat dengan anggun, gaun malam peraknya melambai indah memamerkan belahan paha mulusnya. "Saya pikir mantan istri yang bijak tahu kapan harus tahu diri dan melangkah pergi dari kehidupan pimpinan tertinggi Pradipta Group."

Clarissa menyapu air matanya kasar, dadanya naik turun dihantam gelombang cemburu dan harga diri yang terkoyak. Ia melangkah satu pijakan maju, menantang tatapan Siska dengan mata beningnya yang memerah.

"Jangan berani mengajariku soal tahu diri!" tegas Clarissa, suaranya bergetar namun tajam menembus udara. "Kamu cuma seorang sekretaris yang memanfaatkan jabatan untuk mendekati mantan suamiku! Kamu pikir aku tidak tahu trik sengajamu melepaskan anting di depan pintu kamar mandi?!"

Siska tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah namun meremehkan. Jemari lentiknya merapikan rambut panjangnya yang berkilau, memamerkan keanggungan seorang wanita karier kelas atas.

"Mantan suami?" sahut Siska seraya melirik Rendy yang masih berdiri membisu di dekat meja utama. "Mba Clarissa sepertinya lupa bahwa surat cerai itu sudah sah secara hukum. Pria tegap yang ada di hadapan kita ini bukan lagi pria melarat yang biasa Mba suruh-suruh di rumah kontrakan kusam. Tuan Presdir Rendy Pradipta adalah penguasa bernilai triliunan rupiah. Wanita yang pantas berada di sisinya adalah wanita yang bisa mendukung kejayaannya, bukan wanita dari keluarga yang hampir bangkrut dan gemar memeras!"

"Kamu...!" pekik Clarissa, jemarinya terkepal kuat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa hina dan cemburu yang membakar ulu hatinya membuat napasnya makin terengah-engah panik.

Ia memutar tubuhnya, menatap Rendy yang berdiri membisu dengan postur tubuh yang begitu tegap dan berwibawa.

"Mas Rendy!" panggil Clarissa dengan keputusasaan yang menyiksa jiwanya. "Kenapa kamu diam saja?! Kenapa kamu biarkan wanita ini menghina istri yang pernah mendampingimu selama tiga tahun?! Katakan padanya, Mas... katakan kalau kamu tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar bawahan!"

Rendy tidak bergerak sedikit pun. Wajah tegapnya yang tampan tetap membeku bak patung es di bawah pendar lampu keemasan. Manik matanya yang pekat dan pekat menyapu wajah Clarissa dan Siska secara bergantian—dingin, tidak tersentuh, dan sama sekali tidak membela siapa pun.

"Cukup, Siska," suara Rendy mengudara—berat, rendah, dan penuh daya tekan mutlak yang menghentikan perdebatan itu seketika. "Letakkan berkas itu di meja dan tinggalkan tempat ini."

Siska menyunggingkan senyum patuh yang amat memikat. "Baik, Tuan Presdir. Saya permisi."

Sebelum membalikkan badan, Siska sempat memberikan kerlingan mata penuh kemenangan ke arah Clarissa, lalu melangkah anggun keluar meninggalkan penthouse yang kini kembali diliputi aura keheningan yang amat membahayakan.

Sepeninggal Siska, ruangan luas di lantai lima puluh lima itu terasa makin mencekik.

Clarissa berdiri membisu, dadanya yang membusung halus di balik gaun merah marun naik turun beratur cepat. Keheningan dan kepasifan Rendy yang tak membela dirinya menjadi pukulan paling telak yang meremukkan sisa hati Clarissa.

"Kenapa, Mas...?" bisik Clarissa dengan suara patah-patah, melangkah perlahan mendekati Rendy. "Kenapa kamu diam saja saat wanita itu menginjak-injak harga diriku? Apakah kamu benar-benar sudah tidak memiliki sedikit pun rasa sayang padaku...?"

Rendy melangkah maju dua pijakan. Hawa panas dari tubuh tegapnya seketika mengepung Clarissa.

"Harga diri?" sahut Rendy dingin, jemarinya yang tegap terulur dan mencengkeram lembut rahang Clarissa, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya yang gelap. "Di mana harga dirimu saat ibumu mencaci almarhum ibuku? Di mana pembelaanmu saat Dion menyuruhku membersihkan sepatunya? Kamu diam, Clarissa. Kamu membiarkan mereka melukaiku setiap hari. Lalu sekarang kamu menuntutku untuk membelamu dari sekretarisku?"

"Aku tidak bisa memilih keluargaku, Mas!" jerit Clarissa histeris, air matanya meledak kembali membasahi jemari tegap Rendy yang mencengkeram rahangnya. "Tapi aku memilihmu! Aku selalu mencintaimu!"

"Bonghong!" bentak Rendy rendah.

Amarah yang terpendam selama tiga tahun, dipadu dengan gairah dan kerinduan yang membakar di dalam dada Rendy, mendadak meledak tak terkendali.

Dengan satu gerakan yang amat cepat, tegas, dan penuh dominasi mutlak, Rendy menarik pinggang mulus Clarissa rapat-rapat ke dalam dekapan dada bidangnya yang keras. Sebelum Clarissa sempat terkesiap, Rendy menundukkan wajah tegapnya dan menangkup tengkuk terbuka mantan istrinya.

CUP!

Rendy mendaratkan bibirnya secara agresif di atas bibir lembut Clarissa, mengunci dan menyesapnya dalam sebuah ciuman yang amat dalam, kasar, dan sarat akan gairah terendam yang membara.

Sentuhan itu bukan lagi ciuman hangat penuh kelembutan, melainkan sebuah pelampiasan atas rasa sakit, luka, dan kerinduan yang amat dahsyat. Bibir Rendy menekan dan menuntut kepatuhan penuh, sementara jemari tegapnya yang mencengkeram tengkuk dan pinggang Clarissa memberikan kehangatan panas yang meremukkan seluruh pertahanan batin wanita itu.

Clarissa terhenyak, matanya membelalak kaget sebelum akhirnya terpejam rapat.

Gesekan keras dan intens dari bibir Rendy menyebarkan sengatan gairah liar yang menjalar cepat ke seluruh aliran darahnya. Persendian lutut Clarissa melentur sepenuhnya, dadanya yang membusung terikat rapat pada dada kemeja putih Rendy yang hangat. Desah napas mereka menyatu berpacu liar di dalam ruangan redup tersebut. Kehangatan tubuh Rendy, aroma parfum maskulinnya, serta dominasi mutlak dari ciuman agresif itu membakar perut bawah Clarissa, membawanya melayang dalam pusaran gairah dan penyesalan yang membanggakan sekaligus menyiksa.

Jemari lentik Clarissa meremas kuat kain kemeja di punggung tegap Rendy, menerima ciuman yang menuntut itu dengan kepasrahan penuh, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa manis bercampur pahitnya cinta yang telah ternoda oleh dendam.

Ciuman yang membakar itu berlangsung selama beberapa detik yang amat menyiksa dan memabukkan, hingga napas keduanya memburu terengah-engah.

Namun, di tengah buaian gairah yang hampir membuat Clarissa kehilangan seluruh kesadarannya, sebuah kesadaran pahit mendadak menembus benaknya. Ciuman Rendy ini tidak dilandasi oleh kelembutan cinta masa lalu, melainkan oleh rasa ingin menguasai dan menghukumnya.

Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya dan air mata yang kian deras membasahi pipinya, Clarissa mengangkat kedua tangannya, memukulkan telapak tangannya ke dada bidang Rendy dan mendorong tubuh tegap pria itu menjauh.

SRET!

Tautan bibir mereka terlepas kasar. Clarissa melangkah mundur dua pijakan dengan napas memburu dan bibir yang memerah basah akibat resapan agresif Rendy.

"Cukup, Mas! Cukup!" tangis Clarissa pecah melengking, menatap Rendy dengan mata yang dipenuhi luka dan keputusasaan yang teramat mendalam. "Kamu tidak sedang mencintaiku... Kamu cuma memanfaatkanku untuk memuaskan rasa dendammu!"

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!