Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Vampir murni, Katalin Loya
Para personel segera mengganti senjata. Beberapa detik kemudian, rentetan panah melesat ke udara.
Tuk! Tuk! Tuk!
Anak panah menancap di tubuh para vampir. Satu demi satu mereka kehilangan tenaga dan roboh.
Namun, tindakan itu justru memicu naluri buas vampir lainnya. Geraman terdengar dari segala arah, lalu mereka menerjang balik.
Pertarungan kemudian pecah.
Tim Pemburu menghadapi gelombang serangan vampir tanpa mundur. Mereka adalah prajurit elit yang telah menjalani latihan bertahun-tahun untuk menghadapi makhluk seperti vampir. Bahkan tanpa senjata api, kemampuan bela diri mereka cukup untuk meremukkan tulang lawan.
Namun, jumlah vampir yang keluar dari Bar SK tidak kunjung berkurang. Justru semakin banyak.
Chongyue menyipitkan matanya.
Ada sesuatu yang salah. Kenapa jumlah mereka sebanyak ini?
Informasi intelijen menyebutkan jumlah vampir di dalam Bar SK jauh lebih sedikit. Ini sudah melenceng terlalu jauh.
Apakah... Seseorang telah membocorkan misi ini?
“Semuanya, segera mundur!” perintah Chongyue melalui earpiece-nya. “Kita dijebak! Hubungi Komandan!”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kemudian, suara seorang anggota tim terdengar panik.
“Kapten, sinyal Komandan terputus! Kami tidak bisa menghubunginya!”
Chongyue menarik napas kasar.
“Apakah kita harus mundur sekarang?” tanya anggota tim tersebut.
“Sialan!” umpatnya dengan marah.
Tatapannya menyapu medan pertempuran. Para anggota timnya mulai terdesak. Sebagian besar dari mereka memiliki kisah yang hampir sama dengannya—orang-orang yang selamat dari tragedi, kehilangan keluarga, lalu bergabung dengan Tim Pemburu demi membalas dendam.
Mereka tidak boleh mati di sini.
“Kapten?” panggil seseorang melalui earpiece-nya lagi.
“Mundur sekarang!” teriak Chongyue tegas.
Para anggota tim tertegun. Mereka saling bertukar pandang dalam kebingungan yang sama.
“Tapi, Kapten—”
Lengah. Sebuah bayangan melesat ke arah salah satu prajurit.
Namun dalam sekejap, Chongyue bergerak secepat kilat, lalu sebuah tendangan memutar menghantam kepala vampir itu.
BUK
Tubuh vampir itu terpental beberapa meter.
“Pergi!” perintah Chongyue tanpa menoleh.
Jarinya kembali menekan pelatuk pistolnya.
DOR! DOR! DOR!
Melanjutkan pertarungan ini sama saja dengan bunuh diri. Jumlah musuh terlalu banyak. Ketua Guild tidak mungkin membiarkan Tim Pemburu yang telah dibentuk dan dilatih selama bertahun-tahun hancur dalam semalam.
Namun, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Siapa yang membocorkan informasi operasi ini?
Sebuah dugaan yang bahkan tidak ingin dia percayai muncul di benaknya.
Komandan?
“Kapten!” teriak salah satu anggota tim yang berhasil mundur dari kejauhan. “Cepat mundur!”
Chongyue tidak menjawab. Sebaliknya, dia mengangkat pistolnya kembali.
DOR! DOR!
Klik. Klik.
Pelurunya ternyata habis.
Tanpa ragu, dia melempar pistol kesayangannya begitu saja. Tangannya bergerak cepat, lalu empat pisau lempar berlapis perak muncul di sela-sela jemarinya.
Srett~
Keempat pisau itu melesat membelah udara. Satu demi satu menancap tepat di dada para vampir tingkat rendah sebelum mereka sempat bereaksi.
Chongyue berbalik hendak menyusul anak buahnya. Namun—
“Mau lari ke mana?” tanya sebuah suara berat dan dingin dari belakang.
Langkah Chongyue terhenti. Tubuhnya menegang.
Suara itu...
Ingatan tiga belas tahun lalu tiba-tiba menyeruak kembali dalam benaknya.
Bunuh dia...
Suara terkutuk yang pernah meneror masa kecilnya. Suara yang terus menghantui setiap mimpi buruknya. Suara yang terukir begitu dalam di ingatannya hingga tidak mungkin dilupakan.
Itu dia.
Chongyue berbalik perlahan.
Di tengah kobaran api, seorang pria berdiri dengan tenang. Jas hitam membungkus tubuhnya, sementara wajahnya tertutup topeng.
Namun, Chongyue tidak membutuhkan wajah itu untuk mengenalinya.
“Katalin Loya!” raungnya dengan penuh kebencian.
Sesaat kemudian, dia tertawa datar. “Karena kau sudah menampakkan diri, untuk apa aku lari?
“Kapten!” teriak anggota timnya dari kejauhan. Mereka masih menunggunya untuk mundur bersama.
Salah satu vampir tiba-tiba melesat mengejar mereka.
Chongyue bergerak lebih cepat. Tangannya menyambar leher vampir itu.
KRAK
Dia memutar tubuh lawannya hingga terdengar bunyi tulang patah, lalu melemparkannya ke dalam kobaran api.
Api langsung melahap tubuhnya.
Tatapan Chongyue kemudian menyapu kawanan vampir yang mulai gelisah. “Siapa pun yang berani menyentuh mereka, akan berakhir menjadi abu seperti dia."
Dia lalu melirik anggota timnya, “Pergi.”
“Kapten!”
Mereka tetap berdiri di tempat. Tidak ada satu pun yang bergerak. Mereka tidak sanggup meninggalkan pemimpin mereka sendirian di tengah kepungan.
Chongyue mengeraskan suaranya. “Ini perintah!”
Tidak ada yang menjawab.
“Atau kalian sudah tidak menganggapku sebagai kapten hanya karena aku belum mati?”
“Bukan begitu!” bantah mereka serempak.
“Kalau bukan, patuhi perintahku.”
Tatapan Chongyue menajam. “Pergilah. Sekarang.”
Tidak ada lagi yang berani membantah. Para anggota tim akhirnya mundur, meski beberapa kali menoleh ke belakang.
Chongyue tidak lagi memperdulikan mereka. Tatapannya kini terkunci pada satu sosok. Pria bertopeng yang berdiri tenang di tengah kobaran api.
Pria yang telah menghancurkan hidupnya tiga belas tahun lalu. Malam ini, akhirnya mereka berdiri berhadapan lagi.
Katalin Loya bukanlah vampir biasa.
Dia adalah Vampir Primitif—keturunan berdarah murni yang memiliki kekuatan jauh melampaui generasi vampir mana pun di era modern.
Bahkan di antara kaum vampir sendiri, keberadaannya menempati puncak hierarki, membuat semua vampir yang bertemu dengannya harus tunduk pada kehendaknya.
Bisa dikatakan, Katalin Loya adalah raja yang berdiri di atas seluruh vampir, sosok yang tidak hanya memiliki kekuatan mutlak, tetapi juga mampu membuat para vampir lain gemetar hanya dengan satu tatapannya.
Namun sampai saat ini, Chongyue tidak pernah benar-benar memahami satu hal yang terus menghantui pikirannya.
Mengapa vampir sekuat Katalin Loya menyerang keluarganya?
Tempat tinggal keluarganya hanyalah wilayah terpencil yang jauh dari peradaban modern, sebuah daerah sunyi yang bahkan jarang didatangi orang asing. Kedua orang tuanya bahkan hanya manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan, pengaruh, ataupun hubungan dengan kaum vampir.
Tidak ada sesuatu di sana yang seharusnya menarik perhatian makhluk sekuat Katalin Loya.
Lantas, apa sebenarnya yang dia cari di tempat itu?
Mendengar kemarahan dalam perintah sang Kapten, para anggota Tim Pemburu mulai mundur secara teratur, meskipun wajah mereka menunjukkan ketegangan yang sulit disembunyikan.
Mereka bergerak menuju perimeter luar sambil tetap menjaga formasi, memastikan tidak ada yang terpisah dari kelompok.
Tidak ada yang berani menoleh terlalu lama ke belakang, sebab mereka tahu bahwa satu kesalahan kecil saja dapat membuat mereka menjadi sasaran para vampir.
Ketika melihat Chongyue sendirian, seekor vampir bergerak dengan kecepatan luar biasa untuk menerkamnya.
Cepat. Terlalu cepat bagi manusia biasa untuk melihatnya.
Namun sebelum vampir itu mencapai sasarannya, sebuah bayangan hitam lebih dahulu menerjang dari samping dengan kecepatan yang bahkan lebih mengerikan.
Tangan Katalin Loya mencengkeram leher vampir itu dengan mudah, seolah-olah tubuh lawannya tidak lebih berat daripada sehelai kain.
KRAK
Dalam satu gerakan sederhana, leher vampir itu diputar hingga patah. Suara tulang yang remuk terdengar jelas di tengah medan pertempuran yang masih dipenuhi kobaran api dan jeritan.
Katalin Loya bahkan tidak menunjukkan perubahan ekspresi, seakan-akan tindakan kaumnya sendiri tidak layak mendapatkan perhatiannya.
Dia melempar tubuh vampir itu ke samping tanpa belas kasihan, kemudian mengangkat kepala yang telah terlepas dari tubuhnya dan melemparkannya ke dalam kobaran api yang menyala di dekatnya.
Tatapan merah darahnya kemudian menyapu seluruh vampir yang masih berada di sekitar mereka, satu per satu, tanpa meninggalkan sedikit pun ruang bagi mereka untuk menyembunyikan ketakutan.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Memang tidak diperlukan.
Aura mengerikan yang memancar dari tubuhnya sudah cukup untuk membungkam seluruh medan pertempuran, membuat udara di sekeliling mereka terasa berat dan menyesakkan.
Para vampir yang juga hendak menyerang Chongyue tiba-tiba berhenti, seolah-olah tubuh mereka kehilangan kendali di bawah tekanan Katalin Loya.
Tubuh mereka bergetar hebat.
Naluri terdalam mereka berteriak agar segera melarikan diri dari tempat itu, sejauh mungkin dari sosok yang berdiri di hadapan mereka.
Satu per satu mereka mundur dengan langkah ragu, tidak berani menatap Katalin Loya terlalu lama.
Kemudian, para vampir itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan medan pertempuran yang perlahan kembali dikuasai kesunyian.
Dalam hitungan detik, area yang tadinya penuh dengan raungan dan suara pertempuran tiba-tiba hening, meninggalkan kesunyian mencekam di antara dua sosok yang tersisa.