NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Kata orang, waktu adalah penyembuh luka paling mujarab. Namun, pepatah itu lupa menambahkan satu pengecualian mutlak: kerinduan tak akan pernah tuntas diamputasi oleh waktu, melainkan hanya bisa disembuhkan oleh sebuah pertemuan.

Tiga tahun telah berlalu sejak perpisahan di bawah langit Jakarta malam itu. Waktu berputar tanpa belas kasihan, menyeret lima remaja yang dahulu terikat dalam satu garis takdir yang sama, kini terpencar di bawah langit yang berbeda-beda. Mereka tak lagi berseragam putih abu-abu. Kedewasaan telah menjemput, memaksa mereka menata hidup, memeluk kesibukan, dan mengubur rindu dalam-dalam.

Di sudut sebuah kafe yang bising di kawasan Jakarta Selatan, aroma kopi panggang berbaur dengan kepulan asap vape dan deru kendaraan. Karin menopang dagunya dengan lesu, menatap kosong pada layar laptop yang menampilkan draf makalah Manajemen Pemasaran. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk tepi meja kayu dengan ritme bosan.

Sebuah gelas plastik berisi iced caramel macchiato mendadak mendarat di depan wajahnya, menyebarkan embun dingin ke kulit pipinya.

"Ngelamun aja, Bu Bos. Mikirin utang negara atau mikirin gue yang makin ganteng?"

Suara jenaka itu membuat Karin mendongak. Andrew menarik kursi di seberangnya, menjatuhkan tubuh ke kursi itu dengan gaya santai andalannya. Kemeja flanelnya tak dikancingkan, memperlihatkan kaus putih polos di baliknya. Meski mereka kini berada di satu fakultas dan universitas yang sama, sifat petakilan Andrew sama sekali belum luntur.

Karin mendengus sebal, menyingkirkan tangan Andrew yang iseng mencubit pipinya. "Singkirin tingkat kepedean lo yang selangit itu, Ndre. Gue lagi kangen banget sama Nadiva, tahu nggak? Biasanya kalau tugas numpuk gini, dia yang ngomelin gue biar cepat kelar. Sekarang... rasanya sepi banget."

Mendengar nama itu disebut, senyum jahil di bibir Andrew perlahan mengendur. Ia mengaduk es kopinya perlahan, menatap keluar jendela kafe yang menampilkan hiruk-pikuk ibu kota. "Iya juga, ya. Udah tiga tahun kita pisah jalur. Si cewek barbar itu pasti lagi sibuk ngerangkai kata-kata puitis di sana. Lo tenang aja, Rin, suatu saat nanti kita pasti kumpul lagi. Formasi lengkap."

Karin menghela napas panjang, merapatkan jaketnya. Formasi lengkap. Entah kapan kalimat itu bisa terwujud, mengingat setiap dari mereka kini memiliki jalan yang seolah tak berujung untuk disatukan kembali.

Jauh dari kebisingan ibu kota, di sebuah pondok pesantren ternama yang dinaungi sejuknya udara pegunungan, keheningan justru terasa begitu menghidupkan.

Suara gemerisik daun bambu yang bergesekan ditiup angin sore berpadu merdu dengan sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur'an dari asrama putra. Di serambi masjid berlantai kayu jati itu, Mex duduk bersila. Balutan baju koko putih lengan panjang dan sarung tenun berwarna gelap membuatnya terlihat luar biasa berwibawa. Di pangkuannya, sebuah kitab Kuning beraksara Arab gundul terbuka lebar.

Tangan kanannya yang memegang pulpen sesekali bergerak lincah, memberikan harakat dan catatan kecil di sela-sela kalimat.

Keputusannya untuk masuk ke jurusan agama sekaligus mendalami ilmu di pesantren sempat membuat keluarganya terguncang. Namun, Mex telah menemukan jangkarnya. Ia tidak melakukan ini untuk Nadiva. Gadis itu memang menjadi perantara turunnya hidayah, namun keyakinan yang kini mengalir deras di pembuluhnya murni karena ia menemukan kedamaian mutlak yang selama belasan tahun ia cari dalam kehampaan.

Mex menutup kitabnya, mengangkat wajah menatap semburat jingga di ufuk barat. Sebuah senyum tipis, setenang air telaga, terukir di bibirnya.

Semoga Allah senantiasa menjagamu di sana, Div, batin Mex lirih. Tidak ada lagi obsesi untuk memiliki. Di usianya yang kian matang, cintanya pada Nadiva telah bermetamorfosis menjadi sebuah doa tulus yang ia layangkan diam-diam ke langit. Ia telah mengikhlaskan, membiarkan Sang Pemilik Hati yang mengatur sisa takdir mereka.

Sementara itu, di belahan bumi yang lain, suhu udara menyentuh angka minus dua derajat celsius.

Di balik jendela kaca penthouse lantai empat puluh di Manhattan, New York, Dereen Hilton berdiri mematung. Pemandangan gemerlap gedung-gedung pencakar langit yang berselimut salju putih sama sekali tak mampu menarik minatnya.

Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku, dengan dasi yang sudah dilonggarkan secara asal. Segelas kopi hitam yang pekat dan tanpa gula berada di genggamannya. Dereen yang sekarang bukanlah pemuda pemberontak yang hobi memacu mobil di arena balap liar. Ia telah ditempa oleh kejamnya dunia bisnis Amerika, disiapkan ibunya untuk mengambil alih tampuk kekuasaan Hilton Company. Ia tumbuh menjadi pria yang jauh lebih dingin, penuh perhitungan, dan tak tersentuh.

Namun, di balik setelan mahalnya dan tatapan matanya yang setajam elang, ada kekosongan yang tak pernah bisa diisi oleh miliaran dolar.

Dereen menyesap kopinya. Rasanya pahit, mengingatkannya pada secangkir Americano Double Shot No Mercy yang pernah disajikan seorang gadis mungil berjilbab putih beberapa tahun silam.

Urat di rahang Dereen menegang. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan senyum ceria, omelan barbar, dan mata cokelat terang milik Nadiva kembali menginvasi kepalanya. Waktu tak menyembuhkan apa pun baginya. Tiga tahun berlalu, dan rasa cintanya pada gadis beda keyakinan itu justru semakin mengakar, menggerogoti kewarasannya di setiap malam yang sunyi. Ia merindukan Nadiva hingga rasanya napasnya nyaris putus.

Gue bakal sukses, Div. Gue bakal rebut semua kuasa yang keluarga gue punya, sampai nggak ada satu orang pun yang berani ngerendahin lo lagi di depan gue, ikrar Dereen dalam hati. Kegelapan di matanya menyiratkan sebuah ambisi yang belum padam.

Di benua yang berbeda, ribuan kilometer melintasi Samudra Atlantik, sinar matahari sore jatuh dengan hangat menyinari balkon sebuah kafe bergaya Moor di Casablanca, Maroko.

Angin yang membawa aroma rempah, laut, dan teh mint berembus pelan, menerbangkan ujung pashmina nude yang membalut kepala Nadiva. Gadis itu duduk dengan punggung tegak, matanya tak lepas dari layar laptop yang menampilkan deretan paragraf. Jari-jemarinya menari lincah di atas keyboard, mengetikkan kata demi kata yang mengalir dari kedalaman jiwanya.

Nadiva telah banyak berubah. Pipi chubby-nya kini sedikit menirus, memberikan kesan dewasa yang anggun. Sisi barbar-nya telah bermetamorfosis menjadi ketegasan dan kecerdasan intelektual. Di negeri seribu benteng ini, mimpinya bukan lagi sekadar angan-angan kosong. Draf novel pertamanya telah dipinang oleh penerbit besar, dan ia sedang dalam proses menyelesaikan naskah keduanya. Ia perlahan merangkai mimpinya menjadi seorang penulis yang hebat, persis seperti yang selalu ia teriakkan di Kelas 12A dulu.

Setelah mengetikkan tanda titik pada paragraf terakhirnya hari itu, Nadiva menghela napas panjang. Ia meraih cangkir porselen berisi Maghrebi mint tea, menyesapnya pelan sembari menikmati pemandangan kota tua yang diselimuti warna keemasan matahari terbenam.

Hidupnya di sini terasa begitu tenang. Ia bebas merangkai kata, beribadah dengan damai, dan hidup mandiri tanpa bayang-bayang intimidasi siapa pun. Ia bersyukur. Amat sangat bersyukur.

Namun, saat matanya menatap siluet menara masjid di kejauhan, setetes rindu yang tak pernah benar-benar mengering kembali menetes di dasar hatinya.

Nadiva meletakkan cangkirnya. Tangannya tanpa sadar mengusap sampul buku catatan tuanya yang selalu ia bawa ke mana-mana—buku yang dulu pernah ditarik paksa oleh seorang cowok bertubuh jangkung di perpustakaan sekolah.

Senyum tipis dan sendu terukir di bibirnya. Perasaan itu masih ada, terkunci rapat di sebuah ruangan khusus di hatinya yang tak ia izinkan untuk disentuh siapa pun. Namun ia tak lagi menangis. Nadiva telah belajar berserah diri. Ia percaya, jika memang semesta tak merestui mereka di dunia ini, ia tak akan memaksa. Biarlah kerinduan ini menjadi rahasia yang ia simpan rapi dalam bait-bait novel fiksi yang ia ciptakan.

Semoga takdir memperlakukanmu dengan lembut di mana pun kamu berada, Kak Dereen, batin Nadiva, sebelum akhirnya menutup laptopnya dan bersiap melangkah menyambut lembaran malam di benua Afrika. Menanti waktu di mana takdir, entah dengan cara apa, akan mempertemukan kepingan-kepingan cerita mereka kembali.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!