Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sinar matahari pagi yang menembus lautan awan Sekte Pedang Azure memantulkan kilau keemasan di atap Aula Utama. Di dalam, Patriark Jian Wuji duduk di atas singgasananya, memijat pelipisnya perlahan setelah mendengar laporan dari Penatua Lu Zifeng.
"Meteorit Bintang Jatuh... Baja Darah Naga... dan Pasir Perak Ilusi," gumam Jian Wuji, menghela napas panjang. "Bocah itu benar-benar tahu cara menguras harta karun paling berharga di perbendaharaan sekte kita. Bahan-bahan itu disimpan untuk menempa senjata tingkat surga bagi penatua agung masa depan."
"Patriark, jika Anda merasa permintaannya terlalu berlebihan, saya bisa mencoba bernegosiasi dengannya..." Lu Zifeng menawarkan diri, meski ia sendiri tidak yakin bisa mengubah pikiran pemuda keras kepala itu.
"Tidak perlu," Jian Wuji mengangkat tangannya. Mata sang Patriark memancarkan ketegasan seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya. "Berikan apa yang dia minta. Di Jurang Kematian Naga, setiap inci kekuatan tambahan akan menentukan hidup dan mati. Jika dia mati, kita kehilangan bahan-bahan itu. Tapi jika dia hidup dan membawa kembali Teratai Hati Bumi... nilai dari material itu tidak akan ada artinya dibandingkan dominasi sekte kita di Benua Bawah. Bawa bahan-bahan itu kepadanya di Paviliun Api Bumi."
Paviliun Penempaan Api Bumi terletak di sebuah lembah vulkanik di belakang Puncak Utama. Tempat ini terus-menerus memuntahkan asap hitam dan hawa panas yang mendidihkan udara. Di tengah lembah, sebuah bangunan berbentuk tungku raksasa terbuat dari batu merah berdiri kokoh.
Saat Ye Xuan melangkah masuk ke pelataran paviliun, gelombang panas menyapu wajahnya, namun fisik Tulang Besi Kulit Perunggu-nya bahkan tidak mengeluarkan setetes keringat pun.
Di dalam ruangan utama yang sangat luas dan dipenuhi suara dentingan palu godam, tiga sosok berjubah putih dengan lambang pedang emas di dada mereka sedang berdiri mengelilingi sebuah meja pajangan. Mereka memancarkan aura yang jauh melampaui murid Pelataran Dalam biasa.
Pemuda di tengah memegang sebuah tombak perak dengan raut wajah bangga. Ia adalah Chu Feng, murid jenius peringkat pertama yang kultivasinya berada di Pembentukan Fondasi Bintang Dua puncak. Di sebelah kirinya berdiri Lei Luo, pemuda berbadan besar layaknya beruang, dan di kanannya adalah Mu Qing, seorang gadis berwajah dingin dengan pedang kembar di pinggangnya.
Ketiganya adalah anggota tim yang ditunjuk Patriark untuk menemani Ye Xuan.
Saat pintu terbuka dan Ye Xuan masuk, ketiga jenius itu serempak menoleh. Tatapan Chu Feng langsung menajam, memindai Ye Xuan dari atas ke bawah.
"Jadi, kau yang bernama Ye Xuan," Chu Feng mendengus pelan, suaranya mengandung provokasi yang tak ditutupi. "Kudengar Patriark menunjuk seorang murid baru yang sombong untuk menjadi kapten kami. Aku kira kau memiliki tiga kepala atau enam lengan, tapi kultivasimu bahkan baru menginjak Pembentukan Fondasi Bintang Satu."
Lei Luo tertawa meremehkan, memukul dadanya sendiri yang berotot. "Membunuh penatua tua yang menggunakan pil penukar nyawa tidak membuatmu layak memerintah kami, Tuan Muda Ye. Di Jurang Kematian Naga, gelar Pengecualian Sekte-mu tidak akan melindungimu dari terkaman monster."
Ye Xuan menghentikan langkahnya. Matanya yang gelap dan tenang menatap ketiga jenius itu sekilas, seolah sedang melihat rumput liar di pinggir jalan.
"Kalian bertiga adalah lalat yang akan membebaniku di jurang nanti?" suara Ye Xuan terdengar sangat datar. "Mendengar dari gonggongan kalian, sepertinya kalian terlalu banyak diberi makan kebanggaan fana. Ingat ini baik-baik: di jurang nanti, jika kalian berani membantah perintahku satu kali saja, aku akan mematahkan kaki kalian dan meninggalkan kalian sebagai umpan monster. Sekarang, menyingkir dari jalanku."
Wajah ketiga jenius itu seketika memerah karena amarah. Sebagai murid teratas, mereka selalu dipuja dan dihormati!
"Kau mencari mati!" Chu Feng meraung, mencengkeram tombak peraknya. Aura Pembentukan Fondasi Bintang Dua puncak meledak dari tubuhnya, berniat memberi pelajaran pada kapten barunya.
Namun, sebelum bentrokan terjadi, sebuah suara serak dan tua menggelegar dari ruang bawah tanah paviliun.
"Siapa yang berani membuat keributan di paviliunku?!"
Seorang lelaki tua bertubuh pendek namun sangat berotot melangkah naik dari tangga batu. Wajahnya dipenuhi jelaga, dan ia memegang sebuah palu tempa besar. Ia adalah Tetua Huo, Kepala Penempa Sekte Pedang Azure, seorang ahli Inti Emas yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk besi dan api.
Di belakang Tetua Huo, Penatua Lu Zifeng mengikuti dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah kotak giok hitam.
Melihat Tetua Huo muncul, Chu Feng dan yang lainnya segera menarik aura mereka dan menunduk hormat. Tetua penempa ini terkenal dengan temperamennya yang meledak-ledak; bahkan Patriark pun menghormatinya.
Lu Zifeng segera menghampiri Ye Xuan dan menyerahkan kotak giok hitam itu. "Tuan Muda Ye, ini bahan yang Anda minta."
Tetua Huo melebarkan matanya. Ia menunjuk kotak itu dengan palunya. "Bocah! Patriark mengatakan bahan-bahan surgawi itu untukmu?! Untuk apa? Jangan bilang kau ingin aku menempa pedang untukmu menggunakan ketiga benda itu sekaligus? Itu butuh waktu sebulan untuk mencairkan Baja Darah Naga!"
Ye Xuan mengambil kotak giok itu dan membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah meteorit hitam seukuran kepalan tangan yang sangat padat, sepotong baja berwarna merah darah yang memancarkan raungan samar, dan sekantung pasir perak yang berkilauan layaknya bintang.
"Siapa yang bilang aku butuh bantuanmu untuk menempanya?" Ye Xuan tersenyum tipis, lalu menatap Tetua Huo. "Aku hanya meminjam ruanganmu. Siapkan kawah api bumi terpusat di lantai bawah. Dan jangan ada yang berani menggangguku."
"K-kau ingin menempanya sendiri?!" Tetua Huo tertawa keras seolah mendengar lelucon paling lucu di dunia. "Bocah, api bumi tingkat menengah di paviliun ini memiliki suhu yang bisa melelehkan tulang Inti Emas! Kau baru berada di Pembentukan Fondasi. Mendekati kawah utama saja akan membuat meridianmu terbakar!"
Ye Xuan tidak menjawab. Ia melepas jubah luar hitamnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang ramping namun dipenuhi otot-otot perunggu yang memancarkan kilau perak samar. Ia memanggul Pedang Besi Bintang di satu tangan, memegang kotak giok di tangan lain, dan melangkah lurus menuju tangga ruang bawah tanah, mengabaikan semua orang di ruangan itu.
"B-bocah gila! Jika bahan-bahan itu rusak, kau harus menggantinya dengan nyawamu!" jerit Tetua Huo, bergegas mengikuti Ye Xuan ke bawah. Chu Feng, Lu Zifeng, dan yang lainnya pun ikut turun karena didorong oleh rasa penasaran yang mematikan.
Di lantai dasar tanah, terdapat sebuah kawah magma yang mendidih. Panasnya langsung membuat kulit Chu Feng dan rekan-rekannya melepuh hingga mereka harus menggunakan perisai Qi.
Namun, Ye Xuan melangkah santai hingga berdiri tepat di tepi kawah. Magma yang meletup-letup di bawah kakinya seolah tidak berpengaruh pada kulit Tulang Besi Kulit Perunggu-nya.
Ye Xuan menancapkan Pedang Besi Bintang ke tanah. Ia menatap kawah magma itu sejenak, lalu mendengus. "Api bumi fana. Suhunnya bahkan tidak cukup untuk menghangatkan tehku."
"Lancang! Itu adalah Api Inti Bumi berumur seribu tahun!" protes Tetua Huo dari belakang.
Ye Xuan mengabaikannya. Ia menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Buka matamu lebar-lebar, lelaki tua. Aku akan mengajarimu apa itu api yang sesungguhnya."
WUSH!
Tiba-tiba, dari telapak tangan Ye Xuan, sebuah bunga teratai yang terbuat dari api berwarna merah darah mekar dengan megahnya. Api Roh Teratai Merah!
Begitu api roh itu muncul, magma di kawah yang mendidih tiba-tiba menjadi tenang. Bukannya memanas, suhu ruangan justru terasa mendingin bagi para penonton, karena seluruh elemen api di ruangan itu secara paksa ditarik dan diserap oleh ketundukan absolut terhadap Api Roh di tangan Ye Xuan.
Mata Tetua Huo nyaris meloncat keluar dari rongganya. "A-Api Roh Surgawi?! Bagaimana mungkin tubuh fana bisa menampung api yang memiliki kesadaran?!"
Tanpa membuang waktu, Ye Xuan melemparkan Pedang Besi Bintang ke udara. Dengan jentikan jarinya, Api Roh Teratai Merah melesat dan membungkus lempengan besi raksasa itu.
Dalam hitungan belasan napas, Pedang Besi Bintang yang selama ini menemani Ye Xuan berubah merah membara dan mulai mencair, membuang kotoran-kotoran sisa dari besi fana. Yang tersisa hanyalah inti pedang berupa lempengan besi bintang yang padat.
"Hancur dan bentuk ulang!" teriak Ye Xuan.
Ia melemparkan Meteorit Bintang Jatuh dan Baja Darah Naga ke dalam jaring api tersebut. Api Teratai Merah meraung ganas, memaksakan suhu ekstrem yang tak masuk akal. Baja Darah Naga yang terkenal tak bisa dilelehkan oleh ahli Inti Emas, kini perlahan mencair di bawah hegemoni api roh dan Qi Naga Primordial milik Ye Xuan.
Ye Xuan tidak menggunakan palu. Sebagai gantinya, ia mengepalkan tinjunya dan mulai meninju ruang kosong ke arah pedang yang sedang mencair di udara.
DENTANG! DENTANG! DENTANG!
Setiap kali Ye Xuan meninju udara, gelombang kejut spasial yang ditenagai oleh cairan spiritual Pembentukan Fondasi menghantam cairan logam di udara layaknya palu dewa yang tak terlihat. Suara benturannya begitu keras hingga Chu Feng dan yang lainnya harus menutup telinga mereka yang mulai berdarah.
Seni Penempaan Palu Semesta! Teknik purba yang menggunakan Qi murni sebagai palu pembentuk dunia.
Bahan-bahan itu mulai menyatu. Cairan merah dari Baja Darah Naga meresap ke dalam inti meteorit hitam, membentuk bilah pedang raksasa yang lebih ramping dari sebelumnya, namun memancarkan aura ketajaman dan berat yang ribuan kali lipat lebih mengerikan.
Terakhir, Ye Xuan menaburkan Pasir Perak Ilusi ke atas bilah pedang yang masih membara. Pasir itu meleleh dan membentuk pola urat-urat rumit berwarna perak yang menyerupai sisik naga di sepanjang pedang.
"Minum darahku, dan bangkitlah!"
Ye Xuan menggigit ujung jarinya. Setetes darah perunggu keemasan miliknya melesat dan jatuh tepat di tengah bilah pedang.
BZZZZT—ROAAAAARRR!
Sebuah raungan naga yang memekakkan telinga meledak dari pedang tersebut. Gelombang energi brutal menyapu ruang bawah tanah, mementalkan Chu Feng, Lei Luo, dan Mu Qing hingga menabrak dinding batu. Bahkan Tetua Huo harus memanggil perisai Inti Emas-nya untuk bertahan.
Api merah ditarik kembali ke dalam tubuh Ye Xuan.
Di udara, melayang sebuah pedang besar berukuran setinggi manusia. Bilahnya berwarna hitam kelam, dipenuhi ukiran sisik naga perak yang memancarkan kilau, dengan garis merah darah membelah bagian tengahnya layaknya urat nadi yang hidup.
Ye Xuan mengulurkan tangannya. Pedang itu meluncur dengan patuh dan jatuh ke genggamannya.
BOOM!
Begitu pedang itu diturunkan sedikit saja, lantai batu vulkanik di bawah kaki Ye Xuan retak dan amblas sedalam setengah meter. Berat pedang ini bukan lagi seribu kati, melainkan mencapai sepuluh ribu kati! Jika ahli Pembentukan Fondasi biasa mencoba mengangkatnya, tulang lengan mereka akan patah seketika.
"B-benda apa itu..." Tetua Huo gemetar, jatuh terduduk melihat mahakarya yang menentang surga itu tercipta hanya dalam waktu kurang dari satu jam. "Itu... itu telah melampaui tingkat bumi puncak! Itu menyentuh tingkat surga kelas bawah!"
Ye Xuan mengelus permukaan pedangnya yang dingin namun terasa hidup. Urat merah di pedang itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya, merespons aliran Qi Naga Primordial miliknya dengan konduktivitas sempurna berkat Pasir Perak Ilusi.
"Mulai hari ini, namamu adalah Naga Bintang Pemakan Darah," gumam Ye Xuan puas.
Ia memanggul pedang raksasa barunya ke bahu, tak mempedulikan beratnya yang luar biasa, lalu menoleh menatap Chu Feng dan dua rekannya yang kini menatapnya dengan raut wajah pucat pasi dipenuhi teror murni.
"Senjataku sudah siap," ucap Ye Xuan dengan senyum sinis yang membuat bulu kuduk ketiga jenius itu berdiri tegak. "Jika kalian sudah selesai gemetar... siapkan diri kalian.