Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. UNDANGAN ACARA
Pagi pertama di vila Kaliurang terasa sangat menyejukkan. Udara dingin perbukitan merayap masuk dari celah jendela kaca, sementara aroma kopi hitam berpadu dengan wangi tumisan bawang hangat yang dibuat Nadira membasahi dapur bersih.
Abiyasa melangkah keluar dari kamar utama mengenakan kaos polos abu-abu santai. Rambutnya masih sedikit basah, namun tatapannya langsung terkunci pada Nadira yang sibuk membolak-balik telur dadar di depan kompor.
"Mas Abi sudah bangun?" panggil Nadira riang seraya memutar badan.
Abiyasa tidak membalas dengan kata-kata. Pria itu melangkah mendekat, menyusupkan kedua lengannya melingkari pinggang mungil Nadira dari belakang, lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Aroma sarapannya harum," bisik Abiyasa dengan suara baritonnya yang serak khas bangun tidur.
"Tapi aroma istri saya jauh lebih harum."
"Mas Abi ih! Jangan ganggu, nanti telurnya gosong!" pekik Nadira tertawa geli seraya memukul pelan lengan tegap suaminya. "Duduk di meja makan sana, sebentar lagi matang."
Abiyasa mengecup singkat leher mulus Nadira sebelum melepaskan dekapannya dengan enggan. "Baik, Nyonya Mahendra."
Namun, keheningan pagi romantis mereka di Jogja tak bertahan lama. Baru saja Abiyasa mendudukkan diri dan menyesap kopi hitamnya, suara klakson mobil menyaring nyaring di depan gerbang kayu jati rumah mereka.
TIN! TIN! TIN!
Nadira mematikan kompor, menatap pintu depan dengan alis bertaut. "Siapa pagi-pagi begini yang datang, Mas? Pak Maman kan baru ke pasar?"
Abiyasa mengerutkan kening. Pria itu berdiri, melangkah menuju pintu utama disusul oleh Nadira.
Begitu pintu berukir itu terdorong terbuka, tampak seorang pria muda seusia Abiyasa baru saja melompat turun dari sebuah mobil jip Jeep Wrangler terbuka berwarna oranye mencolok.
Pria itu mengenakan kemeja batik modern lengan pendek berpotongan santai, celana chino, dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Wajahnya tampan, namun raut mukanya memancarkan kesan jahil, santai, dan penuh percaya diri.
"Halo, CEO Mahendra Group yang terhormat!" seru pria itu dengan suara nyaring dan tawa lepas seraya merentangkan kedua tangannya.
"Selamat datang di wilayah kekuasaanku!"
Abiyasa menghela napas panjang—sebuah helaan napas pasrah yang sangat jarang terlihat dari sang CEO. "Baskara... kenapa kamu sudah ada di sini?"
Pria bernama Baskara Wiraatmaja itu terkekeh renyah, melangkah santai melintasi teras tanpa rasa canggung sedikit pun. Baskara adalah sahabat karib Abiyasa sejak masa kuliah di luar negeri, sekaligus putra dari keluarga Wiraatmaja yang menguasai jaringan hotel dan resor mewah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Berbeda dengan Abiyasa yang kaku dan dingin, Baskara adalah sosok yang sangat ekstrovert, humoris, dan berjiwa bebas.
"Ya ampun, Abi! Responmu dingin banget!" omel Baskara seraya menepuk bahu Abiyasa kencang.
"Begitu Hendra memberi tahu kalau kamu beli vila di disini dan mau memboyong istri mudamu, aku langsung meluncur dari Semarang pagi-pagi!"
Mata Baskara bergulir melewati bahu Abiyasa, menangkap sosok Nadira yang berdiri bingung dengan celemek memasak masih terpasang di badannya.
Baskara membelalakkan mata, menunjuk Nadira dengan raut takjub yang dibuat-buat. "Astaga... Abi! Ini beneran istrimu?! Kamu nggak culik anak SMA kan?!"
"Jaga bicaramu, Baskara," tegur Abiyasa dengan nada dingin penuh peringatan, refleks menggeser posisinya untuk menutupi Nadira secara protektif.
"Bercanda, Bro! Bercanda!" tawa Baskara pecah. Ia memajukan tubuhnya dan membungkuk sopan dengan senyum ramah yang sangat menawan pada Nadira. "Halo, Nyonya Mahendra! Kenalkan, aku Baskara. Sahabat paling tampan dan paling menderita dari suamimu yang kaku ini."
Nadira tak mampu menahan tawa kecilnya melihat kehebohan pria di hadapannya. Ia membungkuk balik dengan ramah. "Halo, Mas Baskara. Saya Nadira."
"Wah, ramah banget! Beda seratus delapan puluh derajat sama suaminya yang kayak kulkas dua pintu!" goda Baskara seraya melirik Abiyasa yang matanya sudah memancarkan kilatan mengintimidasi.
"Ada keperluan apa kamu ke sini pagi-pagi?" potong Abiyasa tanpa basa-basi.
"Ck, tidak sabaran sekali," cibir Baskara seraya merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop undangan elegan berwarna emas-hitam. "Aku ke sini bawa undangan resmiku. Akhir pekan ini, Wiraatmaja Group mengadakan pesta pembukaan resor baru di kawasan Borobudur. Seluruh pengusaha dan pejabat Jogja-Jateng bakal datang. Kamu dan Nadira wajib hadir!"
Abiyasa menerima amplop tersebut, menatapnya datar. "Saya sibuk mengurus kepindahan Nadira ke UG*."
"Halah! Jangan bikin alasan!" sembur Baskara seraya memutar matanya. "Acara ini cuma malam Minggu! Lagipula, ini kesempatan bagus buat mengenalkan Nadira ke relasi kalangan atas di Jogja biar tidak ada yang berani mengganggunya pas kuliah nanti."
Nadira menarik pelan ujung kaos Abiyasa, mendongak menatap istrinya. "Mas Abi... ikutan aja yuk? Aku juga mau lihat acara di Borobudur."
Begitu mendengar bisikan lembut dari Nadira, pendar dingin di mata Abiyasa seketika luluh. Pria itu menghela napas pasrah seraya menatap Baskara.
"Baik. Kami akan datang," putus Abiyasa.
Baskara menepuk tangannya gembira. "Luar biasa! Ternyata pawang manusia es ini beneran ampuh!" Baskara melirik Nadira seraya mengacungkan dua jempol. "Nadira, kamu hebat banget! Selama delapan tahun kenal Abi, belum pernah ada yang bisa bikin dia nurut cuma dalam satu detik!"
"Baskara, keluar dari rumah saya sekarang sebelum saya menyuruh pengawal melemparmu," ancam Abiyasa dengan suara rendah yang berbahaya.
"Iya, iya! Aku pulang sekarang, Bos Besar!" kelakar Baskara seraya berjalan mundur menuju jip mewahnya. "Sampai ketemu Sabtu malam, Nadira! Dan ingat Abi, pakai baju yang senada sama istrimu biar tidak disangka bapak dan anak!"
"BASKARA!" bentak Abiyasa tegas.
Baskara hanya melambaikan tangan seraya tertawa terbahak-bahak, lalu meluncur pergi dengan jip oranyenya, meninggalkan ketenangan vila Kaliurang yang mendadak kembali hening.
Nadira terkekeh geli seraya merapatkan tubuhnya di samping Abiyasa, menggamit lengan tegap suaminya. "Teman Mas Abi lucu banget ya."
Abiyasa menoleh, menatap Nadira dengan alis terangkat dan raut muka sedikit cemberut—sebuah ekspresi yang sangat langka. "Dia tidak lucu, dia menyebalkan. Dan kamu tidak boleh terlalu akrab dengannya."
Nadira tertawa renyah melihat cemburu yang tiba-tiba muncul hanya karena candaan sahabatnya sendiri. Gadis itu berjinjit, mendaratkan kecupan manis di pipi rahang Abiyasa.
"Iya, Pak Bos Posesif. Di mata aku, cuma Mas Abiyasa Mahendra yang paling ganteng dan paling hebat kok!" tutur Nadira manis seraya memamerkan senyum paling berkilau.
Pendar dingin di mata Abiyasa sepenuhnya mencair. Pria itu merangkul pinggang mungil Nadira, menariknya rapat ke dalam dekapan hangat seraya menyapu bibir manis istrinya dalam kecupan hangat di bawah sinar matahari pagi Jogja.