Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Lobby utama Ar-Rasyid Tower pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Bisikan-bisikan tertahan dari para karyawan yang berlalu-lalang seolah memenuhi udara, menciptakan desas-desus liar yang sudah menyebar sejak berita kebocoran desain Azalea Label pecah di portal berita daring beberapa jam lalu. Namun, saat pintu lift VIP terbuka di lantai dasar, suasana mendadak senyap.
Alexander Ar-Rasyid melangkah keluar dengan langkah lebar yang penuh wibawa, auranya yang dingin dan tajam seolah membekukan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama. Dan tepat di sampingnya, dengan langkah yang tidak kalah mantap dan kepala yang terangkat tinggi, Keisha Azalea Pramesti berjalan anggun. Ia mengenakan setelan blazer berwarna oatmeal dengan potongan yang sangat tajam, dipadukan dengan inner sutra putih yang bersih. Wajahnya tidak memancarkan ketakutan, melainkan ketenangan seorang desainer yang tahu bahwa karyanya tidak mungkin dicuri semudah membalikkan telapak tangan.
"Tatap matamu ke depan, jangan hiraukan mereka," bisik Alex tanpa menoleh, suaranya rendah namun cukup untuk didengar oleh Keisha.
"Aku tidak butuh instruksimu untuk menjaga martabatku, Alexander," balas Keisha dingin. "Tapi terima kasih atas pengawalannya."
Mereka menembus kerumunan karyawan dan beberapa wartawan yang mencoba mendekat ke arah meja resepsionis. Petugas keamanan korporat dengan sigap membentuk barikade manusia, memastikan tidak ada yang bisa mengganggu jalan sang CEO dan istrinya menuju lift khusus eksekutif. Keisha bisa merasakan mata-mata yang mengintip dari balik balik pilar-pilar marmer, mata-mata yang mungkin sedang menunggu kehancurannya. Namun, ia justru merasa semakin tertantang. Ia tahu, di dalam tas kerjanya, ia membawa bukti fisik berupa pola asli dan lembar kerja manual yang tidak mungkin dimiliki oleh siapa pun, bahkan oleh sang pencuri data itu sendiri.
Setibanya di lantai eksekutif, Alex langsung mengarahkan Keisha menuju ruang kerja pribadinya yang sangat luas. Begitu pintu kayu mahoni itu tertutup rapat, suasana menjadi hening. Alex melepaskan jasnya, melonggarkan sedikit dasinya, dan menatap Keisha dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kau bisa bekerja di sofa sudut sana," ujar Alex sambil menunjuk ke arah sofa kulit panjang yang menghadap jendela besar. "Aku akan membiarkan departemen humas mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ada investigasi internal yang sedang berjalan. Jangan membuka situs berita apa pun agar emosimu tidak terganggu."
Keisha berjalan menuju sofa, meletakkan tas kerjanya, dan mengeluarkan buku sketsanya. Ia menatap Alex yang kini sudah duduk kembali di balik meja besarnya, sibuk memberikan serangkaian instruksi tegas melalui telepon kepada tim keamanan siber dan kuasa hukum perusahaan.
Dia benar-benar melakukan ini untukku, batin Keisha, merasakan denyut aneh di dadanya. Bukan hanya untuk reputasi perusahaan, tapi dia secara pribadi melindungiku.
Di sisi lain, di sebuah kantor agensi humas yang terletak di kawasan SCBD, Jessica Pranata sedang menyesap kopi dengan senyum kemenangan. Ia baru saja melihat grafik jumlah pembaca berita tentang skandal plagiarisme Keisha yang meroket tajam. Di layar komputernya, ia melihat komentar-komentar pedas dari netizen yang menghujat Azalea Label.
"Nikmati kehancuranmu, gadis desa," gumam Jessica pelan. "Sekali reputasimu hancur, tidak akan ada investor yang mau menyentuh butikmu lagi, dan Alexander akan malu untuk terus berdiri di sampingmu."
Jessica tidak tahu bahwa langkahnya sedang dilacak detik demi detik. Ia tidak sadar bahwa setiap klik yang ia lakukan di server yang ia curi sedang direkam oleh sistem enkripsi tingkat lanjut milik Ar-Rasyid Group yang saat ini sedang dipantau langsung oleh Alex.
Pukul dua siang, sebuah kejutan terjadi. Alex tiba-tiba berdiri, mengenakan kembali jasnya, dan menatap Keisha. "Ikut aku. Dewan direksi sudah berkumpul di ruang rapat utama. Kita akan mengakhiri ini sekarang."
Keisha bangkit dengan jantung berdebar. Ia tahu saat ini adalah momen penentuan. Mereka berjalan menuju ruang rapat utama yang penuh dengan jajaran direktur senior dan pemegang saham yang tampak gelisah. Begitu mereka masuk, bisik-bisik yang sedari tadi terdengar langsung terhenti.
Di antara jajaran direksi itu, tampak seorang perwakilan dari agensi humas yang disewa Jessica—seorang pria berkacamata yang duduk dengan angkuh, mencoba memberikan argumen bahwa Azalea Label telah melanggar etika profesional.
"Tuan Alexander, bukti-bukti digital menunjukkan bahwa kebocoran data berasal dari alamat IP butik Nyonya Keisha," ujar pria itu dengan suara sok berwibawa.
Alex tidak langsung membalas. Ia memberikan isyarat kepada sekretarisnya untuk menyambungkan proyektor ke layar besar di depan ruangan. "Benarkah demikian? Lalu, bagaimana Anda menjelaskan ini?"
Layar proyektor mendadak menampilkan serangkaian log transmisi yang sangat detail. Tidak hanya alamat IP, tapi juga rekaman video dari server agensi humas tersebut yang menunjukkan saat-saat di mana data curian itu diunggah ke publik, lengkap dengan ID pengguna yang secara tidak langsung merujuk pada akses personal milik Jessica Pranata.
Seluruh ruangan rapat tersentak. Keheningan yang sangat mencekam menyelimuti para direktur yang tadinya memojokkan Keisha.
"Dan sebagai tambahan," Alex melangkah maju, sorot matanya bagaikan pedang yang menghunus tepat ke arah perwakilan agensi tersebut, "istri saya tidak pernah menggunakan sistem server yang mereka klaim. Desain aslinya masih berada dalam bentuk fisik dan lembar kerja manual yang sudah saya daftarkan hak ciptanya atas nama Ar-Rasyid Group pagi tadi. Anda baru saja menjebak diri Anda sendiri dalam tuntutan pidana atas pencurian data dan pencemaran nama baik."
Pria perwakilan agensi itu mendadak pucat pasi. Ia mencoba mengelak, namun Alex telah memberikan isyarat kepada tim hukumnya untuk segera masuk dan menyita semua perangkat komunikasi pria tersebut.
Keisha menatap Alex dengan rasa takjub yang luar biasa. Pria itu tidak hanya melindunginya, ia telah merancang sebuah jebakan yang sangat rapi, elegan, dan mematikan. Alex tidak membiarkan satu pun musuhnya lolos tanpa konsekuensi.
"Rapat selesai," ucap Alex tegas. "Siapa pun yang terlibat dalam konspirasi ini di dalam perusahaan ini, surat pemecatan akan segera menyusul dalam satu jam ke depan."
Begitu mereka keluar dari ruang rapat, Keisha menatap Alex dengan mata berkaca-kaca karena lega. "Terima kasih, Alexander. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas ini."
Alex berhenti berjalan, ia menoleh dan menatap Keisha dengan sorot mata yang perlahan melembut, sebuah kontras yang jarang sekali terlihat. "Tidak perlu membalas, Keisha. Kau adalah istriku. Melindungi milikku adalah bagian dari tugasku."
Mendengar kata "milikku", Keisha merasa dunia di sekitarnya seolah berputar. Ia menyadari bahwa di balik kontrak dingin yang mereka tanda tangani, sesuatu yang jauh lebih dalam dan berbahaya kini mulai tumbuh di antara mereka—sebuah perasaan yang mungkin lebih menakutkan daripada semua intrik bisnis yang mereka hadapi hari ini.
Badai telah berlalu untuk sementara, namun di kedalaman sorot mata Alexander, Keisha tahu bahwa petualangan mereka baru saja memasuki babak yang paling mendebarkan. Mereka berjalan kembali menuju lift, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi oleh orang-orang yang mulai ketakutan akan kekuatan sang CEO dingin, sementara tangan mereka tanpa sadar saling bertautan erat dalam sebuah genggaman yang terasa begitu nyata, dan begitu sulit untuk dilepaskan.