NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sean dan Sena tak terima dengan perlakuan daddy mereka yang lebih membela orang yang tak mau diakuinya mereka sebagai ibu tiri. Mereka mencecar Zuraida mengenai handphone baru Zuraida dengan mengatakan ingin melihatnya.

Yang baru diketahui Zuraida handphonenya entah raib di mana. Perempuan itu kelimpungan mencarinya sampai semua tempat di rumah itu dicarinya. Meski ia tak yakin seceroboh itu menaruh sembarangan handphone baru dari suaminya.

"Kamu nggak menghargai pemberian daddy!," tuduh Sean.

"Saya...seingat saya, saya menaruhnya di kamar." Bukan bermaksud membeli diri tetapi hanya jujur. Ia pun tak pernah diajarkan untuk berbohong.

"Mana buktinya? Kalau di kamar pasti ada." Tanya Sena menyudutkan.

Zuraida terdiam. Sebab buktinya memang tak ada. Handphone itu tak ada di kamar.

"Daddy harus menghukumnya!," perintah Sean.

"Iya benar, daddy harus menghukumnya sama waktu aku menghilangkan mainan pemberian daddy." Sena mengingatkan sebuah hukuman yang diterimanya dari daddynya kala itu.

Tidur di gudang yang gelap, seharusnya. Tetapi ada Sean yang membantunya, menemaninya menjalani hukuman itu pun dengan lampu yang menyala.

Arfan sendiri melakukannya supaya Sean dan Sena bisa menghargai apa yang dimilikinya dan menjaga barang-barang pemberian. Bukan sesuka hatinya menghilangkannya atau merusaknya seperti yang sering dilakukan kedua anaknya.

Arfan tak langsung merespon anak-anaknya, ia mengeluarkan handphone dari saku jasnya. Mengecek cctv rumah melalui handphonenya.

"Oke," Arfan kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku jas.

"Daddy akan menghukum. Tapi bukan menghukum ibu kalian tapi kalian."

"Apa, Dad?. Zuraida yang menghilangkan handphonenya bukan aku atau Sean." Teriak Sena tak terima.

"Iya, Dad, bukan kami. Tapi Zuraida..." Sean tak bicara lagi saat Arfan menginterupsi.

"Hukuman untuk kalian berdua adalah Kalian harus membersihkan ruangan bermain dan ruangan baca." Tegas daddy mereka.

"Tapi, Dad..." Sean ingin menyanggah tapi Arfan sudah lebih dulu bicara lagi.

"Kalian yang menyembunyikan handphone ibu kalian." Pernyataan yang tak bisa dibantah baik oleh Sean atau pun Sena. Sebab itu yang sebenarnya.

Zuraida menatap tak percaya pada kedua anak itu. Ada saja gebrakan kejahilannya.

"Cepat lakukan perintah daddy." Arfan kembali menegaskan.

"Baik, Dad." Sahut keduanya lemas. Mereka berjalan menuju ruangan bermain, tempat itu yang pertama akan mereka bersihkan.

Sedangkan Zuraida mengikuti Arfan ke kamar setelah mengambil handphone yang disembunyikan kedua anaknya.

"Kedua ruangan itu cukup luas, Mas." Seolah merasa kasihan pada anak-anak tirinya.

"Tahu, paling nanti mereka minta bantuan pada pelayan."

"Iya juga sih, mereka tak pernah kehabisan akal."

"Ya, betul." Arfan tertawa.

"Mas nggak ke kantor?," tanya Zuraida. Suaminya malah duduk santai di sofa besar.

"Aku bekerja dari sini aja."

"Mau saya buatkan teh atau kopi?." Zuraida menawarkan.

"Susu saja, boleh?," wajah tampan itu menatap serius Zuraida namun sesaat kemudian tersenyum lembut sebab reaksi Zuraida yang polos. Perempuan itu hanya diam sambil menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku hanya bercanda," kemudian menaruh laptopnya di pangkuannya. "Kopi, boleh?."

"Baik, akan saya buatkan." Sambil tersenyum lalu berlalu dari hadapan Arfan. Memegangi dadanya yang berirama lebih cepat.

Zuraida sudah kembali dengan secangkir kopi. Menaruhnya di meja di depan Arfan.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Karena tak ingin mengganggu suaminya yang kerja Zuraida hendak keluar. Mengerjakan apa pun di dapur atau membantu si kembar. Namun suara Arfan menahan langkahnya.

"Kamu bisa temani aku di sini?," menatap istrinya yang membalik tubuhnya.

"Mas nggak terganggu?." Tanyanya.

"Nggak, justru aku seneng ada yang menemani. Duduk sini," menepuk sofa yang ada di sebelahnya.

Zuraida patuh, duduk di sebelah suaminya. Zuraida hanya diam, menunggu suaminya yang sibuk. Hingga akhirnya Arfan menaruh laptop di meja. Menyeruput kopi yang masih hangat di tenggorokan.

"Kamu kenapa bisa tinggal di gubuk?," tanyanya kemudian sambil menaruh cangkir kopinya lagi.

"Ibu mengusir saya karena semua kambing ayah mati setelah saya beri makan."

"Kenapa bisa begitu?." Arfan merasa heran.

"Saya juga nggak tahu. Padahal itu rumput yang sama yang setiap hari di makan kambing-kambing itu. Tapi entah kenapa hari itu mati semua."

"Ayah tak membelamu?."

"Membela, tapi keputusan ibu yang berlaku di rumah semenjak ayah sakit-sakitan."

Mata mereka bertemu, menatap satu sama lain karena posisi duduk mereka yang sama-sama miring.

"Mas juga kenapa berdarah-darah?," hal yang belum sempat ditanyakan dan itu sangat menganggu pikiran Zuraida.

"Aku nggak tahu pasti, masih dalam proses penyelidikan. Yang jelas ada orang yang nggak suka."

"Tapi kenapa bisa ke gubuk?."

"Mungkin itu yang dinamakan jodoh. Di sana aku bertemu kamu dan kita menikah."

"Bisa saja mas menolaknya, kita memang tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka."

"Aku nggak mau aja kalau kamu sampai ditelanjangi di depan banyak orang." Seriusnya. "Tapi kalau telanjang hanya di depan aku, aku tak masalah." Detik berikutnya bercanda.

Zuraida tersenyum kikuk.

"Mas, saya boleh tanya?."

"Apa?."

"Kalau sama mommynya si kembar udah selesai lalu sama Guru privatnya si kembar bagaimana?."

"Jangan dengar apa pun yang keluar dari mulutnya tentang aku. Kalau bukan karena Wilona aku tak mau mempekerjakannya."

"Tapi kemarin mas berbalas senyum dengannya."

"Mana ada?," elak Arfan. "Itu aku lagi senyum aja melihat anak-anak dan di sebelah aku ada istriku. Aku tak sedang memiliki hubungan dengan perempuan mana pun selain kamu yang jadi istriku." Jujurnya.

Zuraida tersenyum tipis.

Kring Kring

Arfan menoleh handphone Zuraida yang berdering nyaring. Ia hafal deretan angka yang tertera di layar memanggil Zuraida.

" Angkat," perintahnya.

Zuraida menjawab panggilannya setelah Arfan menggunakan pengeras suara.

"Halo," kata Zuraida.

"Dasar ibu tiri kejam! Karena kamu anak-anak dihukum daddynya!." Wilona yang bicara di seberang sana.

"Maaf, bukan karena saya. Tapi karena anak-anak sendiri." Zuraida membela diri.

"Kamu itu orang asing yang merusak hubungan anak-anak dengan daddy mereka. Seharusnya kamu menjadi penengah bukannya semena-mena memberi hukuman pada mereka."

Lalu Arfan mendekat wajahnya pada handphone Zuraida sehingga jarak mereka sangat dekat.

"Aku yang memberi anak-anak hukuman. Istriku tak tahu apa-apa."

"Kamu jangan begitu dong, Mas, itu anak-anak kamu. Mereka tidak suka dengan istri barumu. Masa mau paksaan mereka buat terima, yang ada mereka berontak terus sama kamu."

"Itu urusanku, cepat atau lambat aku tahu anak-anak bisa menerima Zuraida."

"Apa istimewanya dia, Mas?. Orang kampung gitu."

"Zuraida memang dari kampung tapi nggak kampungan. Bagiku Zuraida sangat istimewa." Kemudian Arfan memutus sepihak sambungan telepon itu. Zuraida memegangi handphone erat.

Arfan menatap istrinya yang diam. Menaruh tangannya di atas tangan dingin Zuraida.

"Kamu itu baik, tulus, perhatian. Aku bisa merasakannya saat kamu merawatku. Padahal bisa saja kamu membiarkanku mati."

Tatapan mata mereka semakin intens dan dalam.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!