Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku datang menjemputmu
Suasana tenang hamparan salju.
Aku turun dari kuda...
Awan mulai gelap.
Kami bergerak ke arah pondok.
Aku mendongak keatas,ada sesuatu yang akan jatuh, tubuhku di dorong jatuh terlempar.
seperti meluncur dari perosotan aku terhempas ke tanah salju. Terlempar di bawah atap pondok. Tubuhku terantuk bangunan rumah.
Suara pedang menjadi ramai.
Hujan stalaktit es...
pengawal mulai berlari ke arah pondok tiba-tiba dari bawah muncul akar kuat menahan kaki untuk melangkah.
Raja Yuko dengan pedangnya menebas akar-akar sambil menebas ribuan stalaktit es yang siap menancap tubuh.
Puluhan pengawal tewas.
Darah merah membeku diatas salju.
Kuamati akar akan mengendur dan melepas jika orang itu diam tidak bergerak dan mati.
"Hentikan jangan banyak menggerakan kaki tetap di tempat" teriakku dari arah pondok.
Raja Yuko melihat kearahku.
Teriakanku di ikuti.
mereka berhenti berlari hanya menggerakan tangan mengayun melindungi diri dari stalaktit es.
Panglima yang tangannya terluka tertancap es tidak jauh dari tempatku berdiri.
Hari semakin malam.
stalaktit tidak berhenti turun.
Panglima bergerak melompat berhasil sampai ke pondok.
Yang lain mengikuti gerakan Panglima sambil melompat.
Dayang menangis. Masih di pinggir kereta.
Raja Yuko masih bertarung, kelelahan mulai menghampiri.
Dahinya tergores pecahan stalaktit es.
Tidak ada salahnya aku mencoba.
Aku meletakan telapak tangan menepuk sebentar es, energiku menyatu dengan es yang ada di tanah.
Tanah bergetar, angin muncul ribuan stalaktit yang masih di udara terlempar tertiup pusaran angin dari atas. Akar saling mengikat.
Terdengar raungan dari kejauhan.
Raja Yuko berlari menebas akar yang saling mengikat menjadi satu menebas menjadi abu.
Mereka berkumpul masuk ke dalam pondok.
Aku diam saja.
Raja Yuko melihatku.
mereka saling bertanya kekuatan apa yang muncul membantu mereka.
**
Aku tidur di dekat perapian, dayang menemaniku berbaring setelah makan malam kami dengan rebusan daging yang dibawa dalam perbekalan.
Aku masih waspada dengan keadaan diluar, aku duduk sejenak.
"Nona.. Ada apa? " dayang terbangun.
Kudengar angin kencang di luar pondok.
Suara serigala mengaum.
Ada yang mematikan lilin.
Gelangku bercahaya.
Aku melihat cahaya gelang yang sama dibalik kain.
Mereka waspada.
"Kreeeekkkk... Krekkkk" kudengar sesuatu yang merayap di bawah pondok.
Tubuh dayang gemetaran di sebelahku.
"Nona... " dia menangis.
"Stttst.... " ucapku.
**
"Baginda.... !!!" Panglima berteriak.
Pintu terbuka angin salju masuk ke dalam pondok kayu darah terciprat banyak ke kain pembatas tempat tidur.
Aku gemetaran.
"Tetap tenang disini, kita akan aman"
Kudengar suara raungan serigala diluar pondok, suara tangis mayat hidup.
Suara pedang yang menebas tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Swanzi... Kembalilah.. " teriakan Raja Yuko.
Suara erangan...
kulihat kilatan cahaya biru.
Cahaya Biru Karambit senjata cahaya yang dimiliki Swanzi... kilatan itu segera menebas atap pondok.
Dayang menunduk gemetaran.
"Mayanza keluar!!! " suara Swanzi terdengar lantang.
Aku tersenyum.
"Tetap disini, kamu aman" kataku
Kuambil jubah bulu ku, ku selimuti dayang yang meringkuk di pondok yang sudah tidak beratap.
Berdiri disana Raja Yuko, angin salju memberikan butir-butir di rambut panjangnya yang berubah seputih salju.
Aku mengerti dia mengeluarkan kekuatan penuh mengendalikan Swanzi tapi dia sudah tidak bisa mengendalikannya.
Mereka ingin mengorbankan nyawaku.
Swanzi melesat kedepan, melayang ke arahku. Aku yang mengenakan pakaian jubah putih tanpa kain tebal tertiup angin dingin salju.
"Aku datang menjemputmu" kalimat itu terakhir kuingat saat bayangan kabut hitam mengelilingiku, aku sudah berada di tempat yang lain.
Tempat yang gelap, tanah yang kering, Swanzi berjalan di depanku seolah menuntunku, akar-akar merayap mengikuti langkahku tanganku di ikat erat akar berwarna hitam.
Aku berhenti bergerak, Swanzi berdiri di samping singgasana, singgasana dari akar kayu berwarna hitam, terlihat bergerak-gerak sendiri.
Aku tersenyum melihat yang duduk disana.
Raja Yuko VII, ayah dari Raja Yuko VIII yang menawanku.
"Selamat datang yang terpilih, aku sudah lama menantikanmu" kata Raja Yuko VII yang pernah kulihat di dalam lukisan di Istana Nebula, aku melihat di belakang singgasana, seperti portal berarus berwarna hitam membentuk pusaran.
Swanzi dengan tatapan tajam melihatku.
"Sayang sekali, kekuatanmu hilang hanya sekali panah" kata Swanzi tertawa puas.
"Aku lupa, apa kau mengenal pria ini" tanya Swanzi menoleh ke arah pria tua.
Seorang pria tua yang duduk sibuk menulis namun matanya putih, wajahnya berkerut.
Dia menatapku...
Maju selangkah demi selangkah dengan pena bulunya terkekeh.
"Mayanza... akhirnya kau datang juga" Pria tua ini memelukku baunya busuk, membuat aku menahan muntah.
"Siapa kamu" tanyaku
Bapak Tua itu terkekeh, bau mulutnya sangat busuk.
"Bagaimana kabar Andrew dan Aura?" Pria ini menanyakan Paman dan Ibuku.
Aku terdiam tidak menjawab, siapa dia apa dia Tabib Zhi? Ataukah dia tamu kakek yang lain.
"Mayanza, serahkan buku itu" kata Swanzi mendekat.
"Buku yang mana?" tanyaku berpura-pura tidak tau maksud menanyakan buku yang mana.
Pria tua membelakangiku kembali ke me𝙟a tulisnya, terkekeh tertawa.
"Mayanza memang sangat berbakat seperti dirimu" kata Swanzi menatap ke arah Pria Tua.
Pria tua tertawa terbatuk-batuk mengeluarkan darah ke meja kerjanya.
"Serahkan bukunya!" desak Swanzi menempelkan jari ke leherku ingin meusuk dengan kukunya yang tajam.
Aku gemetaran, "Kamu takut..kemana nyalimu yang selalu sombong' ucapnya
"Aku tidak mengerti buku yang mana..."
"Pembohong, Pencuri!" kata Swanzi mulai menusuk leherku terasa nyeri, darahku mengucur di jarinya.
Tangan kirinya mulai mencekikku kuat.
Tubuhku seperti tersedot dari belakang cahaya yang kuat berwarna putih, aku terjatuh, tubuhku terhempas di tanah dan sakit rasanya, ada tulang yang patah. Tapi kembali menyatu lagi mengeluarkan bunyi "krakkk"
"Hentikan!" Raja Yuko berteriak
Aku mendongak, Apa tidak ada cara yang lebih halus menarikku ke arahnya. Tidak menyambutku sampai terhempas ke tanah keras.
Tubuhku terasa sakit semua.
Swanzi marah berbalik, ke arah Raja Yuko VII.
"Arhgggh.. Jariku... " Teriaknya, jari yang menusuk leherku meleleh, kulitnya melepuh.
Raja Yuko VII dari singgasana menggerakan kedua tangannya mengeluarkan hembusan angin hitam menghantam kami, Raja Yuko VIII menangkisnya dengan kilatan pedangnya.
Gema tertawa di ruangan itu menjadi menakutkan,aku masih di lantai berusaha bangkit berdiri, kakiku tersangkut pakaian jubahku, jatuh lagi.
"Sungguh pakaian tidak efisien", dalam hati aku mengutuk.
Jari ku dapat bergerak, kuambil cutter dari tangan jubahku pelan-pelan, ku potong akar yang melilit tanganku, terlepas.
Aku mulai menopang tubuh dengan kedua telapak tanganku.
Dari tadi aku menonton pertarungan sengit mereka, Swanzi berteriak seluruh tangannya melepuh.
"Ada apa dengan darahmu Swanzi!?" teriaknya marah.
Darahku masih menetes dari bekas tusukan, aku menyekanya dengan jubah putihku.
Aku tersenyum.
Sangat puas, aku merilekskan bahu dan kepalaku ku gerakan ke kiri kanan,
refleks kuarahkan satu telapak tanganku ke depan, cahaya terang keemasan melempar Raja Yuko VII, Swanzi dan Pria Tua tersedot ke gerbang dibelakang singgasana.
Teriakan dan raungan bergema.
Ku genggam jubah biru Raja Yuko VII yang hampir tersedot ikut ke dalam pusaran kabut hitam.
Mereka lenyap, tersisa hanya aku dan Raja Yuko.
Raja Yuko memandangku tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Aku berpura-pura menjatuhkan diri di salju, Raja Yuko meraihku.
Kami kembali menunggangi kuda,
berkumpul bersama yang lain.
**
"Nona.. Nona baik-baik saja" kata dayang berlari memelukku, ketika aku turun dari kuda.
Aku menoleh melirik sebentar.
"sakit semua", kataku.
kupukul-pukul lengan dan kakiku.
Sementara tentara membangun tenda darurat, aku dan dayang masuk ke salah satu tenda.
"Nona apa yang terjadi" kata Dayang
"Aku juga tidak mengerti yang jelas aku sudah kembali" kataku
"Baginda Raja sangat khawatir, dia segera pergi menyusul Nona tadi" kata Dayang.
aku tersenyum, mana mungkin khawatir bukannya aku dari awal menjadi jebakan.
"Nona terluka" kata dayang melihat darah di lengan bajuku.
"Hanya luka kecil" kataku meraba leherku yang sudah tidak ada bekas lukanya lagi.
Apakah aku telah menyerahkan sepenuhnya nyawaku kepada teratai emas?
**
𝙴𝚙𝚒𝚕𝚘𝚐
𝙰𝚔𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚔𝚞𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚔𝚎 𝚒𝚜𝚝𝚊𝚗𝚊 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚔𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚊𝚛𝚒𝚔𝚞, 𝚊𝚠𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚐𝚎𝚖𝚞𝚛𝚞𝚑 𝚍𝚊𝚗 𝚙𝚎𝚝𝚒𝚛 𝚜𝚞𝚊𝚛𝚊 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚙𝚎𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒𝚊𝚝𝚊𝚜 𝚜𝚊𝚗𝚊, 𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚖𝚞𝚕𝚊𝚒 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚙 𝚐𝚞𝚕𝚒𝚝𝚊.
𝙰𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚔𝚎𝚗𝚌𝚊𝚗𝚐.
𝙺𝚞𝚙𝚊𝚌𝚞 𝚔𝚞𝚍𝚊𝚔𝚞 𝚜𝚎𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝 𝚖𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚗 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚑𝚞𝚓𝚊𝚗.
𝚝𝚊𝚜 𝚋𝚎𝚕𝚊𝚗𝚓𝚊𝚔𝚞 𝚔𝚞𝚐𝚊𝚗𝚝𝚞𝚗𝚐 𝚍𝚒 𝚋𝚊𝚑𝚞 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚍𝚞𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚕𝚒𝚕𝚒𝚝𝚊𝚗 𝚊𝚐𝚊𝚛 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚓𝚊𝚝𝚞𝚑.
𝙰𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚞𝚗𝚢𝚊𝚑 𝚋𝚞𝚗𝚐𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚊𝚝𝚊𝚒 𝚎𝚖𝚊𝚜 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚙𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚕𝚊𝚕𝚊𝚙 𝚋𝚞𝚗𝚐𝚊.
𝙱𝚎𝚛𝚔𝚊𝚕𝚒-𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚔𝚊 𝚖𝚞𝚕𝚞𝚝𝚔𝚞, 𝚊𝚒𝚛 𝚖𝚊𝚝𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚝𝚎𝚜 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚙𝚒𝚙𝚒.
𝙰𝚔𝚞 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚜𝚎𝚗𝚎𝚔𝚊𝚍 𝚒𝚗𝚒 𝚔𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚛𝚊𝚑 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚊𝚍𝚊𝚊𝚗.
𝙳𝚊𝚛𝚊𝚑𝚔𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚎𝚜𝚒𝚛...
𝙻𝚞𝚔𝚊 𝚍𝚒 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚙𝚎𝚛𝚞𝚝𝚔𝚞 𝚝𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝, 𝚜𝚎𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚊𝚛 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚎𝚖𝚊𝚜 𝚓𝚊𝚛𝚒 𝚝𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚞𝚙𝚕𝚎𝚜𝚝𝚎𝚛 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚊𝚝𝚞 𝚜𝚊𝚕𝚒𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚕𝚞𝚔𝚊 𝚝𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚎𝚔𝚊𝚜.
𝙺𝚞𝚕𝚒𝚑𝚊𝚝 𝚙𝚎𝚛𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚝𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗𝚔𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚞𝚔𝚊 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚋𝚎𝚔𝚊𝚜 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚝𝚎𝚝𝚊𝚙 𝚔𝚞𝚙𝚊𝚜𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚋𝚊𝚗.
𝙳𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚖𝚙𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚊𝚛𝚒𝚔 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚊𝚊𝚝 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚕𝚒𝚗𝚐𝚔𝚊𝚛 𝚍𝚒 𝚝𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗𝚔𝚞.
𝙺𝚞𝚋𝚒𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚐𝚒𝚘𝚔 𝚒𝚗𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚙𝚎𝚕.
𝙺𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚐𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚒𝚗𝚒 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚒𝚔𝚊𝚝 𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚗 𝚁𝚊𝚓𝚊 𝚈𝚞𝚔𝚘.
𝙳𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊𝚙𝚞𝚗 𝚊𝚔𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚍𝚊 𝚍𝚒𝚊 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚎𝚖𝚞𝚔𝚊𝚗𝚔𝚞.
**
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...