NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14.

Elvian akhirnya memutuskan untuk mendatangi perusahaan abangnya secara langsung. Ia ingin membahas masalah perusakan kafe milik Tian yang didalangi oleh saudari kembarnya.

Setibanya di lobi gedung yang megah itu, Elvian berjalan menuju meja resepsionis dan menyapa seorang wanita penjaga meja tersebut dengan sopan.

"Permisi, Mbak," ucap Elvian.

Resepsionis itu mendongak dan langsung tersenyum ramah. "Iya, Dek. Ada yang bisa saya bantu?"

"Bang Kavian ada di dalam gak?" tanya Elvian polos.

"Maksud Adek... Pak Kavian?"

Elvian mengangguk cepat.

Resepsionis bernama Mira itu sempat terdiam. Ia memperhatikan penampilan Elvian dari bawah ke atas dengan tatapan menilai.

Merasa diperhatikan secara intens, Elvian mengerutkan kening. "Kenapa Mbak lihatin saya seperti itu? Ada yang salah sama penampilan saya?"

"Oh, gak kok, Dek. Maaf. Kalau boleh tahu, Anda siapanya Pak Kavian, ya? Adek pacarnya?" tanya Mira penasaran, sebab bosnya itu sangat tertutup dan jarang dikunjungi pemuda semanis ini.

"Bukan, Mbak. Saya adiknya," jawab Elvian jujur.

Seketika, netra Mira membelalak terkejut. "Oh! Maaf ya, Dek. Kirain adek pacarnya Pak Kavian," ucap resepsionis itu merasa tidak enak hati karena sudah salah tebak.

"Tidak apa-apa. Jadi, Bang Kavian ada di dalam, kan?" tanya Elvian sekali lagi.

"Pak Kavian kebetulan sedang meeting, Dek. Sebentar saya tanyakan dulu ke sekretaris beliau, apakah rapatnya sudah selesai atau belum," ucap Mira ramah.

"Iya, Mbak." Elvian kemudian memilih duduk di sofa lobi untuk menunggu.

Mira segera meraih gagang telepon kantor dan menghubungi lantai atas. "Halo, Pak Reynal. Apa meeting-nya sudah selesai?"

Di seberang telepon, sang sekretaris menjawab, "Belum. Kenapa memangnya, Mira?"

"Ini, Pak Rey. Ada pemuda manis datang mencari Pak Kavian dan ingin bertemu langsung dengan beliau."

"Siapa nama pemuda itu?" tanya Reynal.

"Tunggu sebentar, Pak, saya tanya namanya dulu." Mira menjauhkan telepon sejenak lalu memanggil Elvian. "Adek, nama Adek siapa?"

"Elvian, Mbak."

Mira kembali berbicara ke telepon. "Namanya Elvian, Pak Rey."

"Hmm, baik. Saya akan sampaikan ke Pak Kavian kalau ada yang mencari beliau," ucap Reynal menutup panggilan.

Mira meletakkan kembali telepon itu ke tempatnya. "Adek, tunggu sebentar, ya. Pak Kavian masih meeting, tapi sebentar lagi selesai kok."

"Iya, Mbak, saya tunggu," ucap Elvian pasrah.

Sementara itu, di dalam ruang rapat yang tegang, pintu terbuka sedikit. Reynal melangkah masuk dan mendekati Kavian yang sedang memimpin jalannya presentasi di hadapan beberapa klien penting.

"Pak, ada seorang pemuda yang mencari Anda di bawah," bisik Reynal sangat pelan di dekat telinga Kavian.

Kavian tidak mengalihkan pandangannya dari berkas, namun bibirnya bergerak. "Siapa?"

"Namanya Elvian, Pak," ucap Reynal.

Mendengar nama sang adik, Kavian langsung menutup berkasnya dengan tegas. Ia menatap para kliennya dengan senyuman formal. "Hmm, baiklah. Rapat kali ini cukup sampai di sini dahulu. Bulan depan kita akan meeting kembali untuk membahas kelanjutannya."

Tanpa membuang waktu, Kavian langsung beranjak dan melangkah lebar keluar dari ruang rapat, diikuti oleh Reynal.

Di area ruang tunggu pegawai yang menyediakan pantri, Elvian mulai merasa jenuh. "Haaaa, bosannya ... kapan sih Abang selesai meeting?" gumamnya seraya menopang dagu.

Mira yang melihat itu merasa iba sekaligus gemas. "Adek kalau bosan, masuk ke dalam pantri aja, Dek. Di dalam ada banyak makanan sama minuman. Adek tinggal ambil aja."

"Serius, Mbak? Tapi gak bayar, kan? Soalnya saya gak bawa uang, hehehe," cengir Elvian polos.

"Huuu, gemes banget sih, Dek! Pengen aku karungin deh rasanya," kelakar Mira saking gemasnya melihat tingkah adik bosnya itu.

Elvian buru-buru melangkah masuk ke dalam pantri pegawai. Matanya langsung berbinar saat melihat barisan camilan yang tertata rapi. "Wih, keren! Ada makanan dan minuman lengkap kayak di supermarket!" gumamnya senang.

Tanpa ragu, Elvian mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan minuman kaleng, lalu mulai mengunyahnya dengan lahap di sudut ruangan.

Tidak lama kemudian, Kavian tiba di lantai tersebut dengan langkah tergesa-gesa. "Mira, di mana pemuda yang mencari saya tadi?"

"Ada di dalam pantri, Pak," tunjuk Mira.

Kavian segera melangkah masuk ke ruangan itu, dibuntuti oleh Reynal.

Ceklek.

"Dek..." Perkataan Kavian langsung terhenti di ambang pintu. Ia menatap tak percaya ke arah Elvian yang sedang makan dengan kedua pipi menggembung penuh, persis seperti seekor tupai yang sedang menimbun makanan.

"Abwang... elw twunggu..." Elvian berusaha berbicara, namun suaranya tidak jelas karena mulutnya masih dipenuhi kunyahan camilan.

Kavian menghela napas panjang melihat kelakuan adiknya. "Telan dulu, Dek." Ia mengambil selembar tisu, mendekat, lalu dengan telaten mengelap sisa remahan jajan yang menempel di sudut bibir dan pipi Elvian.

Setelah berhasil menelan makanannya, raut wajah Elvian langsung berubah serius. "Tadi ada preman yang merusak kafe Kak Tian, Bang."

Deg. Jantung Kavian seakan berhenti berdetak sesaat. "Tian tidak apa-apa, kan?!" tanya Kavian dengan guratan rasa khawatir yang amat jelas di wajahnya.

"Kak Tian baik-baik saja. Tapi barang-barang kafenya hancur berantakan, Bang. Untuk beberapa hari ke depan, Kak Tian terpaksa gak buka kafe dulu karena harus melakukan perbaikan," jelas Elvian.

Kavian mengembuskan napas lega yang amat berat. "Syukurlah kalau Tian baik-baik saja. Lalu, para preman itu apa sudah ditangkap polisi?"

"Mereka keburu kabur, Bang. Duh, El benar-benar kesal tahu sama si Elvia!" sungut Elvian dengan bibir mengerucut.

Kavian mengernyit bingung. "Kenapa El kesal sama Elvia? Apa dia melakukan hal buruk lagi ke kamu?"

Abang tahu gak? Yang menyuruh para preman itu datang merusak kafe ternyata Elvia!"

Kavian tentu saja terkejut setengah mati mendengar penuturan adiknya. "El tidak sedang berbohong, kan?"

"El tidak bohong, Bang! Kepala preman itu sendiri yang bilang sebelum kabur, kalau mereka disuruh oleh wanita bernama Elvia untuk merusak kafe milik Kak Tian," tegas Elvian berapi-api.

Kavian seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sama sekali tidak menyangka adik perempuannya bisa seberani dan sebejat itu sampai menyuruh preman untuk mengusik kehidupan Tian.

"Masih belum kapok juga tuh anak. Sudah diusir oleh Daddy, bukannya berubah, malah bertambah jadi jahat," ucap Kavian dengan nada dingin yang kentara.

Elvian mengerutkan keningnya heran. "Elvia diusir Daddy?"

"Bukan hanya Elvia, tapi juga Mommy. Daddy dan Mommy sudah resmi berpisah. Daddy yang mengajukan surat cerai ke Mommy," ungkap Kavian tanpa menutupi apa pun lagi.

Elvian terkesiap. Ia tidak menyangka pilar rumah tangga kedua orang tuanya bisa hancur begitu saja. "Kenapa bisa pisah? Emang nenek tua itu melakukan kesalahan apa sampai Daddy menceraikannya?" tanya Elvian sinis, merujuk pada panggilan sayangnya untuk sang ibu yang membencinya.

Kavian menghela napas berat, mengingat kebusukan yang telah terbongkar. "Gara-gara Mommy, Bastian dan Kak Luna terpaksa menikah."

Kavian pun akhirnya menceritakan seluruh kejahatan sang ibu secara mendetail; bagaimana Maria menyuruh orang untuk menjebak Bastian dan Luna di dalam Hotel XXX hingga mereka tertangkap basah. Sampai akhirnya, pernikahan terpaksa digelar karena kebodohan Maria yang keliru mengira kalau pria bernama Bastian yang dicintai Luna adalah Bastian yang merupakan mantan pacar Elvian. Padahal, pria itu adalah Bastian yang lain—teman kampus Luna yang kebetulan memiliki nama yang sama persis.

Mendengar cerita panjang lebar itu, ekspresi Elvian justru tampak datar. "Kalau soal Kak Luna dan Bastian yang dijebak, El sebenarnya sudah tahu dari lama, Bang."

Sontak Kavian menoleh cepat, menatap adiknya dengan pandangan tidak percaya. "Kenapa El tidak bilang ke Abang kalau El tahu hal busuk yang dilakukan Mommy?" tanya Kavian dengan nada sedikit kesal karena merasa rahasia ini disimpan terlalu rapat.

Elvian hanya menyengir tanpa dosa sambil menggaruk kepalanya. "El lupa, Bang. Hehehe."

Kavian mendengus pasrah. "Kebiasaan kamu, El. Masih muda tapi sifat pelupanya sudah parah."

"Tapi beneran, El pernah mau bilang ke Abang. Waktu itu El telat pulang karena ban motor El bocor, jadi El terpaksa ke bengkel yang lokasinya dekat dengan Hotel XXX. Nah, di sana El gak sengaja melihat Nenek Lampir itu keluar dari hotel bareng beberapa pria kekar," Elvian mulai menjabarkan ingatannya.

"Awalnya El masa bodoh. Tapi El gak sengaja melihat dua pria kekar lainnya membopong dua orang yang kepalanya ditutupi kain hitam. Ternyata itu Kak Luna sama Bastian. El sangat marah sebenarnya, tapi bukan ke Kak Luna atau Bastian, melainkan ke Nenek Lampir itu karena tega menjebak anaknya sendiri. Tapi karena emosi El waktu itu tidak terkontrol dan telanjur sakit hati, El akhirnya malah melampiaskan kemarahan ke Kak Luna dan Bastian," aku Elvian pelan, menyuarakan penyesalan masa lalunya

Kavian menatap adiknya dalam-dalam. "Jadi... El sebenarnya tidak marah lagi ke Kak Luna dan Bastian?"

"Marah tentu saja masih, Bang. Tapi bukan marah yang ingin bunuh orang atau dendam kesumat, cuma sebatas kesal aja. Bayangin aja, Bastian yang pacaran sama El selama bertahun-tahun, tiba-tiba malah nikah sama Kakak gue sendiri. Tapi ya sudahlah, El juga sudah melupakan hal itu. Lagian Kak Luna dan Bastian tidak salah, mereka cuma korban yang dijebak untuk menikah sama Nenek Lampir itu," ucap Elvian dengan nada yang jauh lebih dewasa dan ikhlas.

Kavian tersenyum tipis, merasa bangga dengan kedewasaan adiknya. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya.

"Jika seandainya Daddy, Kak Luna, dan Bastian mau datang meminta maaf secara langsung ke El... apa El mau memaafkan mereka?" tanya Kavian hati-hati.

Elvian terdiam sesaat, matanya menatap lantai pantri dengan pandangan kosong. "El belum bisa jawab, Bang. Bang Kavian tahu sendiri, kan, gimana kejamnya perlakuan Daddy ke El dulu?" ucap Elvian lirih, luka lama itu kembali berdenyut.

Kavian mendekat lalu membawa tubuh ringkih adiknya ke dalam dekapan hangat. "Abang tahu... Abang tahu gimana hancurnya perlakuan Daddy ke El dulu. Tapi, El... Daddy melakukan semua hal kejam itu sebenarnya ada alasannya."

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!