Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023 - Nilai yang Mengguncang
Rabu pagi, hujan yang sejak dua hari menggantung di langit belum turun, tetapi aula SMAN 7 sudah terasa lembap oleh napas orang-orang yang menunggu.
Hasil Try Out Akbar tidak dikirim satu per satu.
Pak Bambang memilih menayangkannya di aula.
Alasannya resmi, transparansi akademik. Alasan yang dibisikkan guru-guru lebih sederhana. Tahun ini SMAN 7 punya beberapa nama yang diperkirakan masuk daftar atas, dan sekolah ingin mengambil sorotan sebelum sekolah lain lebih dulu pamer.
Laras duduk di baris kedua bersama Bu Sri. Ya, Bu Sri datang. Ia memakai blouse hijau muda dan membawa tas tangan terbaiknya. Di pangkuannya, ponsel sudah siap merekam. Kotak kue biru muda menunggu di mobil.
"Duduk yang tegak," bisik Bu Sri. "Nanti kalau nama kamu dipanggil, senyum. Jangan terlalu heboh. Anak pintar harus elegan."
Laras mengangguk. Telapak tangannya dingin.
Di baris agak belakang, Keira duduk di sebelah Bayu. Pak Prasetyo memilih berdiri dekat pintu samping, seperti biasa mencari tempat yang tidak mengganggu siapa pun. Namun matanya berkali-kali menuju Keira.
Bayu tidak berhenti menggoyangkan kaki.
"Mbak, kalau nilaiku jelek..."
"Belum keluar."
"Iya, tapi kalau..."
"Bayu."
Ia menoleh.
Keira menatap panggung. "Apa pun nilainya, itu data. Bukan vonis hidup."
Bayu diam. Lalu pelan-pelan mengangguk.
Di depan, layar proyektor menyala. Logo panitia Try Out Akbar muncul, diikuti daftar sekolah peserta. Suara aula menurun. Beberapa siswa mengangkat ponsel. Rika bahkan sudah membuka kamera.
Pak Bambang naik ke podium. Senyumnya lebar, tetapi ada keringat halus di pelipisnya.
"Anak-anak, Bapak bangga karena SMAN 7 Megawan berpartisipasi dalam Try Out Akbar yang diselenggarakan bersama tim akademik UI dan beberapa mitra pendidikan. Hasil ini bukan akhir, melainkan cermin untuk persiapan kalian."
Kalimat itu terdengar aman.
Terlalu aman.
Prof. Dharma berdiri di sisi panggung, tidak memegang mikrofon. Kehadirannya membuat beberapa guru duduk lebih rapi. Ia tampak tenang, tetapi matanya tidak pernah jauh dari layar.
Slide pertama menampilkan statistik umum. Rata-rata kota. Rata-rata sekolah. Distribusi skor.
Beberapa siswa bersiul saat melihat skor tertinggi antarsekolah.
728.
"Gila."
"Itu dari sekolah mana?"
"Bukan SMAN 7."
Bu Sri mencondongkan tubuh. "Tenang. Kita lihat ranking internal."
Slide berganti.
Ranking SMAN 7 Megawan, Top 20.
Nama di urutan dua puluh sampai sepuluh muncul lebih dulu. Beberapa siswa bersorak kecil ketika nama mereka terlihat. Bayu menahan napas saat urutan kesembilan muncul.
Bayu Prasetyo.
Skor 602.
Seluruh tubuh Bayu kaku.
"Mbak..."
Keira melirik angka itu. "Naik jauh."
"Aku... aku masuk sembilan?"
"Iya."
Suara Bayu pecah sedikit. Ia cepat-cepat menunduk, tetapi telinganya merah. Pak Prasetyo di dekat pintu mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya pagi itu, wajahnya terbuka seperti jendela yang terkena matahari.
Bu Sri menoleh sekilas, lalu kembali ke layar. "Lumayan," gumamnya. "Tapi jangan ganggu fokus Laras."
Ranking delapan sampai lima muncul.
Nama Laras belum ada.
Bu Sri tersenyum makin lebar. "Berarti top tiga."
Laras menggenggam ponsel. Dalam kepalanya, soal nomor dua belas kembali berkelebat. Jawaban C. Atau B. Atau mungkin D. Ia tidak ingat lagi.
Urutan keempat muncul.
Bukan Laras.
Suara di aula mulai berubah. Orang-orang saling pandang.
Urutan ketiga.
Nadira Sutanto, sekolah mitra, skor 641.
Nadira yang duduk bersama rombongan tamu langsung menegakkan dagu, lalu melirik ke arah Keira seolah ingin memastikan sindirannya kemarin masih berlaku.
Urutan kedua.
Laras Prasetyo, skor 648.
Aula memberi tepuk tangan. Tidak kecil, tetapi tidak sebesar yang Bu Sri bayangkan.
Bu Sri sudah berdiri setengah badan. "Laras! Nak, lihat!"
Laras menatap angka 648.
Bagus.
Seharusnya bagus.
Tetapi jika ia peringkat kedua, siapa yang pertama?
Rika bertepuk tangan cepat. "Laras, hebat!"
Laras tersenyum kaku. "Makasih."
Bu Sri sudah merekam. "Lihat, Mama bilang apa. Kamu memang..."
Slide berganti sebelum kalimatnya selesai.
Peringkat 1 SMAN 7 Megawan.
Keira Wulandari.
Skor 690.
Estimasi Peringkat Provinsi: 1.
Selama tiga detik, aula tidak bersuara.
Tiga detik itu cukup untuk membuat wajah Bu Sri kehilangan warna.
Laras menatap layar seperti seseorang baru saja menamparnya di depan orang banyak, tanpa menyentuh kulitnya. Angka 690 berdiri besar, dingin, dan tidak bisa diajak bernegosiasi.
Bayu lupa bernapas.
"Mbak," bisiknya, nyaris tidak terdengar. "Itu nama Mbak."
"Aku bisa baca."
Nada Keira datar. Justru karena itu, Bayu hampir tertawa dan menangis bersamaan.
Di baris depan, Rika membuka mulut. "Keira? Tapi esainya kosong."
Bisikan itu menyambar cepat.
"Esainya kosong, kan?"
"Kok bisa?"
"Jangan-jangan ada kesalahan."
Nadira menurunkan ponselnya. Wajahnya tidak lagi santai.
Pak Bambang batuk kecil di podium. "Mohon tenang. Hasil ini..."
"Pak Kepsek." Prof. Dharma akhirnya mengambil mikrofon.
Satu panggilan halus, tetapi Pak Bambang langsung mundur setengah langkah.
Prof. Dharma berdiri di tengah panggung. Layar di belakangnya masih menampilkan nama Keira.
"Saya mendengar ada banyak pertanyaan tentang esai opsional." Suaranya tenang, tidak keras, tetapi aula langsung diam. "Saya jelaskan di sini. Bagian esai pada paket kemarin memang opsional. Nilai utama berasal dari TPS dan TKA sesuai bobot yang sudah tertulis di instruksi. Peserta yang tidak mengerjakan esai tidak kehilangan nilai."
Rika menunduk.
Laras mencengkeram ujung cardigan.
Prof. Dharma melanjutkan, "Lembar jawaban dipindai oleh sistem independen. Dua puluh besar diverifikasi ulang secara manual oleh tim berbeda. Nama, nomor peserta, dan tanda tangan pengawas cocok. Tidak ada pertukaran lembar."
Kalimat terakhir itu membuat beberapa guru saling melirik.
Bu Sri berdiri. "Maaf, Prof. Saya ibunya Laras. Kalau boleh tahu, apakah mungkin ada nilai tambahan dari faktor tertentu? Maksud saya, Laras mengerjakan esai lengkap. Dia juga siswa yang selama ini konsisten."
Satu aula menoleh.
Keira menatap punggung Bu Sri. Tidak ada rasa sakit baru di sana. Hanya rasa lelah lama yang sudah kehilangan gigi.
Prof. Dharma memandang Bu Sri. "Ibu, konsistensi belajar adalah hal baik. Tetapi soal matematika tidak memberi nilai pada reputasi."
Beberapa siswa menahan napas.
Bu Sri tersenyum kaku. "Tentu. Saya hanya memastikan, karena anak saya..."
"Skor Laras Prasetyo 648. Itu skor baik." Prof. Dharma tidak menaikkan suara. "Tetapi skor Keira Wulandari 690. Itu skor yang lebih tinggi."
Sederhana.
Mematikan.
Laras menunduk. Matanya panas, tetapi ia tidak berani menangis. Bukan karena kuat. Ia tahu kamera masih menyala.
Nadira mematikan story yang belum sempat ia unggah. Tangannya bergerak cepat menghapus draft kalimat sindiran.
Pak Bambang mengambil alih mikrofon dengan wajah lebih pucat. "Baik, kita beri tepuk tangan untuk seluruh peserta, terutama Keira Wulandari sebagai peringkat pertama SMAN 7 dan estimasi peringkat pertama provinsi."
Tepuk tangan pertama datang dari Bayu.
Tepukannya terlalu cepat, terlalu keras, dan terlalu jujur. Beberapa siswa menoleh padanya. Bayu tidak peduli. Pak Prasetyo ikut bertepuk tangan dari dekat pintu, perlahan, lalu lebih mantap.
Bu Ratna berdiri di sisi guru dan ikut bertepuk tangan. Setelah itu, tepuk tangan menyebar.
Tidak semua tulus.
Tetapi semua terdengar.
Keira tidak berdiri. Ia hanya mengangguk kecil ketika Bu Ratna menatapnya. Namun di panggung, Prof. Dharma melihat sesuatu yang membuat matanya lebih serius.
Gadis itu tidak tampak terkejut.
Anak dengan skor 690 biasanya akan bersinar, gugup, atau setidaknya tersenyum. Keira justru seperti orang yang sudah melewati ujian yang jauh lebih besar dan hanya kebetulan mampir ke ruangan ini.
Acara belum selesai ketika Bu Sri keluar dari aula dengan alasan menerima telepon. Di koridor, ia benar-benar menelepon Pak Bambang lewat nomor pribadi, walau pria itu masih berada di panggung.
Begitu Pak Bambang keluar beberapa menit kemudian, Bu Sri langsung mendekat.
"Pak, saya tidak menuduh. Tapi nama sekolah juga harus dijaga. Anak itu selama ini tidak pernah terlihat menonjol. Mendadak 690, peringkat provinsi. Orang tua murid pasti bertanya."
Pak Bambang mengusap dahi. "Bu Sri, Prof. Dharma sendiri yang mengawasi verifikasi."
"Tapi Bapak kepala sekolah. Bapak bisa meminta peninjauan."
"Peninjauan sudah dilakukan."
"Peninjauan ulang."
Pak Bambang menatapnya. Kali ini, senyumnya hilang. "Bu, kalau saya memaksa peninjauan tanpa dasar setelah Prof. Dharma menjelaskan di aula, yang terlihat bukan Keira bermasalah. Yang terlihat sekolah mencoba mengganggu hasil resmi."
Bu Sri terdiam.
"Dan perlu Ibu tahu," lanjut Pak Bambang lebih pelan, "panitia kota sudah mengirim undangan makan malam apresiasi untuk beberapa peserta, donatur, dan tamu kehormatan. Keluarga Tan juga disebut hadir. Nama Keira ada di daftar utama."
Wajah Bu Sri berubah lagi.
"Keluarga Tan?"
"Grand Megawan Hotel, Jumat malam."
Di dalam aula, Keira baru saja keluar bersama Bayu. Bayu masih memegang tangannya sendiri, seperti takut kegembiraan itu tumpah.
"Mbak, 690 itu... itu tinggi banget."
"Lumayan."
"Mbak, itu bukan lumayan."
Keira menatapnya. Bayu langsung menutup mulut, tetapi senyumnya tidak bisa ditarik kembali.
Pak Prasetyo mendekat. Ia berdiri di depan Keira beberapa detik tanpa tahu harus berkata apa.
"Keira," akhirnya ia bicara, "Bapak... selamat."
Hanya itu.
Tetapi kedua tangannya saling meremas, dan matanya tidak berani lama menatap Keira. Seperti ucapan selamat itu terlambat bertahun-tahun dan ia tahu sendiri.
Keira mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Pak Prasetyo mengeluarkan kertas undangan yang baru diterimanya dari staf. "Kita diminta datang Jumat malam. Grand Megawan. Katanya semua keluarga peserta top akan diundang."
Bayu membelalak. "Hotel besar itu?"
Keira mengambil undangan. Logo emas Grand Megawan tercetak di bagian atas. Di bawah daftar tamu kehormatan, ada nama Tan Hansel.
Ponsel Keira bergetar.
Pesan dari Tan Hansel:
Aku dengar aula SMAN 7 cukup ramai pagi ini.
Keira menatap layar, lalu mengetik:
Telingamu terlalu panjang.
Balasannya datang singkat:
Untukmu, cukup.
Keira memasukkan ponsel kembali sebelum Bayu sempat mengintip. Di luar aula, akhirnya hujan pertama jatuh, menghantam kanopi sekolah dengan suara rapat.
Bu Sri berdiri di koridor, memandang undangan di tangan Pak Prasetyo, nama Keira di layar aula, dan hujan yang membuat halaman sekolah kabur.
Sepertinya hujan yang ditunggu langit Megawan akhirnya akan jatuh.