Up? tergantung situasi dan kondisi
Prolog ada di deskripsi, jadi baca yang disini dulu sebelum masuk ke dalam cerita
Di chapter-chapter awal masih belajar menulis, jadi mohon di maklumi. Alur lambat, santai, dengan sedikit bumbu action. Cerita lebih mengarah ke prinsip hidup sang MC dengan lawakannya yang khas
~
Prolog
Manusia adalah mahluk yang sangat menakutkan...
Orang-orang bilang, jika kau bekerja keras, kau pasti akan dapat mengubah takdir. Jika kau bekerja keras, orang yang tak berbakat pun dapat mengalahkan yang berbakat. Jika kau terus bekerja keras, semua keinginanmu pasti akan terwujud.
Tapi semua itu omong kosong.
Memang benar kerja keras tidak akan mengkhiati hasil, tapi kerja keras dapat mengkhiatimu.
Q. Semisalnya, andai saja. Kau dapat kembali ke masa lalu, apa menurutmu kehidupanmu yang sekarang akan berubah?
A. Tidak.
Q. Kalau begitu, kenapa jawabannya tidak?
A. Karena itu hanya "semisalnya".
Kenyataan itu lebih kejam dari apa yang bisa kau bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon One-di Chainel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurang Kematian
Disini Fuma, saat ini aku berada tepat di pinggir lubang besar, gelap, tak berdasar yang bernama Jurang Kematian. Di sebabkan oleh banyak hal yang terjadi, aku memutuskan untuk datang ke sini, tapi sebenarnya alasannya cuman 1, itu karena cerita seorsng kakek tak mau hilang dari kepalaku."
"Jadi, aku memutuskan untuk mengecek kebenaran dari cerita kakek sialan itu. Saat berjalan menuju ke tempat ini, aku sempat bertemu dengan beberapa hewan lucu yang dina makan (bukan typo) monster. Mereka semua terlihat ingin memakanku, tapi sebenarnya, mereka hanya ingin mengakhiri penderitaan yang kurasakan, positif thinking itu penting."
"Singkatnya, aku bertarung dengan mereka kemudian menang dan akhirnya sampai ke sini. Jika seseorang menemukan rekaman ini, mohon segera di hancurkan karena aku sama sekali tak memiliki seseorang yang berharga - dan juga, hal ini sangat memalukan."
Mengubur kristal sihir yang berisi rekaman suaraku, aku menatap ke dalam Jurang Kematian setelahnya.
Aku memang berniat turun ke bawah sana, tapi… bagaimana?
Aku menggaruk kepalaku, melihat sekitar, berharap dapat menemukan sebuah cara untuk menuruni jurang ini.
Tapi semua tindakanku sia-sia, aku tak menemukan apapun yang dapat membuatku turun dengan selamat.
Huargg, atau apapun bunyinya.
Menusuk langsung perut serigala di belakangku dengan 1 akar bayangan, aku menghela.
Kalau ingin menyerangku dari belakang, setidaknya pelankan sedikit suaramu."
Melemparkan tubuh sang serigala, aku menghilangkan bayanganku, menatap ke dalam Jurang Kematian sekali lagi hanya untuk merasakan hal yang sama.
Entah kenapa aku merasa seperti orang bodoh.
Seandainya Element sihirku adalah tanah, kurasa aku dapat membuat sebuah tangga untuk turun.
Belum lama setelah aku memikirkan hal barusan, terjadi sebuah getaran yang cukup kuat, dari tepi jurang, satu persatu tanah memanjang hingga membentuk sebuah tangga kecil yang menuju ke bawah.
Sekali lagi memperhatikan sekitar, aku tak melihat sang tersangka pembuat tangga.
Aku di undang turun huh? Firasatku merasakan hal yang buruk akan terjadi sebentar lagi, tapi apa boleh buat.
Melangkah turun, aku menginjak anak tangga pertama, kedua, dan seterusnya.
Setelah cukup lama menuruni tangga, cahaya semakin berkurang, membuat jarak pandanganku semakin terbatas.
Sekarang aku menyesal tak membawa sumber cahaya, tapi merepotkan juga untuk naik kembali.
Semakin turun ke bawah, pandanganku semakin terbatas.
"Hmm?"
Secuil cahaya biru redup terlihat, membuatku mempercepat langkahku, bergegas turun lebih dalam ke jurang ini. Perlahan namun pasti, cahaya yang kecil tadi semakin banyak dan terang, sampai akhirnya, aku tiba di dasar jurang.
Dasar jurang ini di penuhi dengan sebuah kristal yang memancarkan cahaya biru terang, menancap kokoh di mana-mana dengan acak.
Berkat cahaya dari kristal-kristal ini, aku dapat melihat apa saja, termasuk serigala besar yang menatapku dengan sengit saat ini.
Ya, aku sudah menduga hal ini. Aku benci kau, firasatku.
Berbeda dengan serigala pada umumnya, monster ini memiliki badan yang cukup besar, punggung berduri, ekor yang panjang dengan ujung runcing menyerupai kalajengking.
Untuk waktu yang cukup lama, aku dan sang serigala menatap tajam satu sama lain, tak ada satupun dari kami berdua membuat gerakan yang mencolok.
Aku mengedipkan mata, serigala besar tadi sudah tak ada di tempatnya tadi, melihat sekitar, aku menemukan sang serigala sudah berada di atasku, dengan cepat menerjang hingga membuatku terjatuh dengan sang serigala di atasku.
Dengan kedua tangan, aku berusaha menahan mulut serigala yang terlihat sangat kelaparan.
Om serigala, air liurmu, jangan teteskan di bajuku.
Ekor runcing sang serigala meliuk-liuk sebelum akhirnya menuju ke arah kepalaku.
Merespon hal itu, aku segera menggeser kepalanku sedikit ke arah kanan, membuat ekor dari sang serigala mendarat di samping wajahku.
Menatap langsung ke wajah sang serigala, dengan cepat aku mengeluarkan 4 bayangan runcing di sekitar tubuhku yang terbaring,
seketika mengarahkannya ke perut sang serigala.
Namun sang serigala berhasil memghindarinya dengan melompat jauh ke belakang.
Telah berdiri kembali, aku menatap sengit sang serigala yang tengah berlari menuju ke tempatku.
Mengeluarkan 4 bayangan runcing yang keluar dari sekitar kaki, aku menyerang.
Melompat ke kiri, kanan, dan juga atas, seranganku berhasil di hindari sang serigala dengan mudah.
Mendekat ke arahku, sang serigala membuka mulutnya, untungnya, sesaat sebelum mencapaiku, aku berhasil menangkap mulut sang serigala, dengan cepat melemparnya menjauh dariku.
Tunggu dulu, aku hanya ingin menyingkirkannya, kenapa malah terlempar?Sejak kapan aku jadi sekuat ini?
Aku menatap kedua tanganku dengan bingung, masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Setelah itu, aku melihat ke arah serigala yang kulempar tadi, dia telah berhasil berdiri .
Ok, pertama bayangkan proses terbentuknya, lalu model, dan buat semakin jelas.
Apa berhasil?
Aku membuka mataku dengan pelan, puluhan bayangan tajam beterbangan di sekitarku.
Ternyata mengunakan sihir di dunia ini cukup simpel.
Masih berdiri cukup jauh dariku, aku meluncurkan satu persatu bayangan runcing ini ke arah sang serigala.
Melompat ke kiri dan kanan sambil tetap berlari ke tempatku, sang serigala menghindar. Menyadari hal tersebut, aku memperluas jarak serang dengan melancarkan semua bayangan di sekitarku membuat serigala itu tidak bisa menghindar, atau setidaknya itulah yang kupikirkan.
Sang serigala meraung, membuat semua bayangan runcing yang melesat ke arahnya seketika menghilang.
Oi, serius?
Sang serigala memutuskan untuk melompat ke atas, membuatku mengeluarkan 4 akar bayangan di sekitar kakiku, dengan cepat memanjang, menyerang serigala yang masih di udara.
Mengeluarkan sebuah semburan api yang keluar dari dalam mulutnya, sang serigala membuat bayanganku seketika menghilang.
Terhenti di udara, sang serigala mendarat ke tanah, seketika menembakan 3 bola api setelahnya. Aku melompat dan berhasil menghindari bola api pertama, menunduk, kemudian menciptakan tembok bayangan di depanku.
Hampir saja.
Menghilangkan tembok bayangan, cakar beserta kaki sang serigala terayun di sampingku. Entah kenapa aku berhasil menahan serangannya dengan sebuah bayangan yang muncul dari lengan kiriku.
Memanjangkan banyangan tersebut, kaki depan serigala yang menyerangku terlilit, membuatnya tak bisa berbuat lebih jauh lagi.
Belum menyerah, ekor sang serigala meliuk-liuk, sebelum akhirnya melesat ke kepalaku. Merespon hal tersebut, aku dengan cepat mengeluarkan bayangan dari tangan kananku, seketika melilit ekor sang serigala, membuat serangannya terhenti sekali lagi.
Kurasa sudah aman sekarang.
Tepat di hadapanku, sang serigala tiba-tiba membuka mulutnya, perlahan dalam mulut sang serigala, sebuah cahaya berwarna merah keluar.
Jangan-jangan, bola api jarak dekat? Gawat!
Seketika tertutup, mulut sang serigala berhenti bercahaya.
Untunglah aku bisa mengeluarkan bayanganku dengan cepat. Kaki depan, ekor, dan juga mulut, semuanya sudah terikat. Apa aku sudah boleh mengatakan aman sekarang?
Untuk berjaga-jaga, aku juga menciptakan 4 akar bayangan. Tapi mumpung jarakku dengan Om serigala cukup dekat, dan dia juga sedang terikat. Apa salahnya menusuk lehernya?
Geraman dari sang serigala terdengar saat aku melakukannya. Menunggu cukup lama, mungkin sekitar 2 menit. Aku melepaskan seluruh bayangan yang mengikat dan menusuk leher om serigala, seketika membuatnya terjatuh lemas ke tanah.
Aku menang.
ngotak
terus semangat
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
salam sayang
Pahit Manis Mencintaimu😘
salam sayang
Pahit Manis Mencintaimu😘