Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*34
Serangan berikutnya datang lagi setelah Irza melepas kemeja yang ia pakai. Kali ini, dia memaksa piyama Sha agar terlepas. Sungguh, permohonan Sha tidak berpengaruh pada Irza saat ini. Air mata Asha tidak mampu membuatnya berhenti.
Dia malah tetap melucuti piyama yang Sha pakai meski Sha mempertahankannya dengan sekuat tenaga. Sayangnya, kekuatan Sha tidaklah berarti apa-apa bagi Irza. Karena bagaimanapun, segemulai apapun Irza sebelumnya, tetap saja ia seorang laki-laki. Kekuatannya tentu jauh berbeda dari yang Sha miliki.
"Za tolong ... jangan lakukan itu, Za."
"Ku mohon, Za. Jangan."
"Kau milikku, Sha. Milikku."
"Za. Mm mm m .... "
Setiap kali Asha ingin bicara, Irza akan menjatuhkan ciuman ke bibir tersebut. Melu*matnya dengan penuh naf*su hingga bibir itu terasa bengkak oleh ulah Irza.
Tak hanya itu saja, Irza juga meninggalkan jejak kepemilikannya di leher jenjang yang indah milik Asha. Bahkan, tanda itu merembes ke mana-mana. Mulai dari leher, jatuh ke dada, bahkan ke daerah yang tersembunyi di tubuh Asha.
Sungguh, pria itu benar-benar melakukannya dengan sangat baik. Meninggalkan jejak, lalu mengambil haknya sebagai suami atas diri istri sahnya ini.
Iya, Irza benar-benar melakukannya. Dia benar-benar mengambil mahkota berharga milik Asha. Hal yang tidak pernah tersentuh sedikitpun sebelumnya. Barang yang tidak pernah terjamah sesaat pun, Irza benar-benar melakukannya. Dia benar-benar memasuki lorong sempit yang sama sekali belum pernah dimasuki oleh barang manapun selama ini.
Irza menikmatinya. Meneguk manisnya madu malam pertama yang sudah tertunda selama ini. Menjadikan Sha milik dia seutuhnya. Ia melakukannya tanpa keraguan. Jauh dari bayangan pria gemulai yang selama ini orang-orang pikirkan. Dia, mampu. Dia bahkan bisa di sebut per*ka*sa luar biasa. Jauh berbeda dari apa yang ia tampilkan selama ini.
Bahkan, durasi yang ia mainkan tergolong sangat lama. Sangat cukup untuk memuaskan istrinya. Hanya saja, Sha terluka sekarang. Luka hati, juga luka fisik. Irza terlalu brutal, sampai bisa melukai Asha walau dia tidak bermaksud untuk melakukannya.
Setelah ritual itu selesai, dengusan kepuasan terdengar. Tubuh lemas terbaring di atas ranjang. Irza pun melepaskan Asha dari cengkeramannya. Namun, saat rasa puas itu datang, rasa sesal pun ikut menyusup.
Apalagi saat melihat wajah Asha yang basah dengan air mata. Tubuh polosnya bahkan langsung meringkuk setelah di lepaskan. Irza benar-benar bisa merasakan penyesalan yang sangat besar sekarang.
Perlahan, dia mendekat, menarik selimut untuk menyelimuti Asha dengan sangat hati-hati.
"S-- Sha ... ma-- maaf. Aku .... "
Tubuh Asha bergetar karena sedang tergugu hebat. Sungguh, bukan sepenuhnya karena kesuciannya yang hilang yang ia sesali saat ini. Melainkan, karena Irza yang mengambilnya secara paksa.
"Sha .... "
Irza ingin merangkul Asha dari belakang. Gadis itu semakin terisak hebat, lalu mendorong Irza untuk menjauh. Setelahnya, Sha menarik selimut untuk ia bawa ke kamar mandi.
Asha berusaha berjalan cepat, tapi tubuh bagian bawahnya terasa sangat perih. Sepertinya, ada yang terluka di sana. Perihnya bahkan terasa cukup kuat sampai-sampai, rasa sakit di hati tidak mampu mengalahkannya. Entah sebesar apa barang yang menusuk lorong di tubuhnya, tapi yang jelas, barang itu sudah melukai lorong tersebut.
"Sha."
Asha tidak menoleh. Dia berusaha melawan rasa sakit agar bisa segera menghilang dari pandangan Irza. Sedangkan Irza, ia tahu Asha terluka, tapi rasa bersalahnya terlalu besar sampai ia tidak punya nyali lagi untuk mendekat sekarang.
Usaha Asha akhirnya berhasil. Kakinya sampai ke kamar mandi pada akhirnya. Setelah masuk, pintu kamar mandi ia banding dengan sangat keras. Sampai-sampai, Irza menutup matanya rapat-rapat karena bunyi benturan tersebut.
Perlahan, rasa sesal itu menjatuhkan buliran bening di mata Irza. "Astaga .... " ucapnya lirih. Sangat lirih. "Apa yang telah aku lakukan, Tuhan? Kenapa aku bisa jadi sebrutal ini? Kenapa aku bisa hilang kendali?"
"Ya Tuhan .... Sha ... maafkan aku. Aku harap kamu tidak benci aku," ucapnya lagi sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Butuh waktu beberapa menit untuk Irza tetap terdiam di atas ranjang. Setelahnya, barulah ia beranjak dari ranjang tersebut. Meraih handuk biru yang ada di sudut kamar, lalu memakaikannya.
Tak lupa, satu persatu pakaian mereka yang berserakan di atas lantai ia pungut. Dia letakkan ke tempat pakaian kotor. Tentu saja, dia melakukan hal itu dengan hati yang sangat berat, karena setiap pakaian Sha yang ia pungut, langsung membuat ia terbayang dengan apa yang sudah ia lakukan pada si istri.
Dia terlalu terbakar api cemburu tadinya, makanya sikap brutalnya bisa muncul.
"Maaf, Sha. Maafkan aku. Aku janji, gak akan lakukan lagi ke depannya. Maafkan aku," ucapnya benar-benar penuh dengan sesal.
Dia tatap baju itu sebelum akhirnya ia jatuhkan ke tempat pakaian kotor. Setelahnya, dia duduk di tepi ranjang sambil menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Pintu itu masih tidak terbuka, padahal orang yang masuk ke dalamnya sudah berada di sana sangat lama.
Irza beranjak mendekat. Tidak untuk mengganggu. Hanya mendekatkan kepala ke arah pintu, mendengarkan bunyi air yang jatuh beberapa saat, lalu membiarkan Asha sendirian di kamar mandi tersebut.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Irza meninggalkan kamar tersebut. Dia membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dapur mereka. Cukup lama untuk dirinya berbenah diri, setelahnya, barulah ia kembali ke kamar tidur mereka.
Sayangnya, saat ia kembali, Asha masih juga belum keluar dari kamar mandi tersebut. Irza mulai merasa cemas akan hal tersebut. Namun, nyalinya untuk menganggu Asha masih tidak bangun. Rasa bersalah masih menahan nyali itu dengan sangat baik.
Sekali lagi, setelah selesai merapikan diri, Irza mendekati pintu kamar mandi. "Sha .... " Bibirnya memanggil pelan. "Maaf."
Yang ada di dalam, tentu saja menjawab. Karena suara Irza tidak mampu mengalahkan suara gemericik air yang jatuh di kamar mandi tersebut.
"Sha .... " Sekali lagi Irza memanggil. Tapi kali ini, suaranya lebih keras. "Keluarlah. Jangan terlalu lama di kamar mandi, kamu bisa masuk angin. Jangan terlalu lama diguyur air, kamu bisa--
"Jangan bicara lagi, aku gak mau mendengarnya," potong Asha dari dalam sana.
Suara itu sedikit melegakan hati Irza. Karena dengan suara itu, ia bisa tahu kalau saat ini, Sha masih baik-baik saja. Dan, masih ingin bicara dengannya walau telah ia lukai hatinya.
"Sha ... maaf. Aku tahu aku salah. Ku mohon, maafkan aku."
Asha tidak menjawab lagi. Ia memilih untuk mengabaikan Irza. Sedangkan Irza, dia tahu kalau Asha butuh waktu. Kesalahan yang telah ia perbuat tidak akan bisa ia perbaiki dengan mudah. Sungguh, ia menyesal karena telah bertindak terlalu gegabah di bawah tekanan api kecemburuan dan rasa takut kehilangan wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣