NovelToon NovelToon
Tasbih Sangker

Tasbih Sangker

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Horor / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Divya bharti

Zenix adalah gambaran sempurna dari seorang pemuda metropolitan yang tersesat dalam gemerlap dunia tampan, kaya, arogan, dan menyandang julukan "Pangeran Es" yang semena-mena. Namun, liburan semester yang melintasi perbatasan kota mengubah segalanya. Setelah mobilnya dihadang bandit, Zenix dan empat sahabatnya terbangun di kedalaman Hutan Sangker sebuah wilayah inti mistis yang terkenal sebagai istana demit yang paling dikutuk dan mematikan.
Di ambang kematian, sesosok roh putih menuntun mereka ke sebuah pondok bambu milik Anisa, seorang gadis berhijab yang hidup sebatang kara di tepi hutan angker. Keteguhan iman Anisa dan kemerduan suara tadarus subuhnya semalam suntuk tidak hanya mengusir mahluk gaib yang mengamuk, tetapi juga meruntuhkan hati dingin Zenix yang tak pernah tersentuh cinta.
Kembali ke kota, Zenix berjanji memantaskan diri. Di bawah iringan doa subuh Anisa dari kejauhan,.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divya bharti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Hati dan Restu dari Masa Lalu

Ketukan waktu subuh membawa kedamaian yang sunyi di tepian Hutan Sangker. Sekitar pukul empat pagi, sayup-sayup suara azan yang bersahut-sahutan dari pengeras suara masjid di pusat desa terdengar merayap di antara celah pepohonan besar, menembus dinding bambu pondok. Anisa menjadi orang pertama yang terbangun, segera melaksanakan ibadah salat subuh dengan khusyuk di kamarnya.

Tak lama kemudian, kelima mahasiswa kota itu juga telah terbangun. Mengingat peringatan ketat dari Pak Kades dan Anisa mengenai hukum waktu di hutan terkutuk ini, mereka tidak ingin mengulur waktu sedikit pun. Tepat pukul setengah lima pagi, setelah menyelesaikan ritual cuci muka dengan air sumur yang sedingin es dan merapikan barang-barang darurat mereka, keenam orang itu sudah berkumpul di ruang tengah dengan pakaian yang siap untuk melakukan perjalanan jauh.

Sebelum melangkah keluar menembus jalur setapak hutan yang masih diselimuti kabut fajar tipis, Anisa menyuguhkan menu sarapan yang sangat bersahaja. Di atas meja kayu pendek, tersaji singkong bakar dan pisang rebus hasil kebun belakang, ditemani oleh sisa teh melati hangat semalam.

"Maaf ya, makanannya sangat sederhana. Hanya makanan simpel untuk sarapan pagi, hitung-hitung buat ganjal perut agar kalian punya tenaga untuk berjalan kaki dua kilometer ke balai desa," ucap Anisa sambil tersenyum tulus, membetulkan letak jilbab instan hitamnya yang hari ini dipadukan dengan gamis berwarna marun gelap.

"Ini sudah lebih dari cukup, Anisa. Di kota, kami bahkan jarang bisa menikmati kebersamaan sarapan yang sehangat ini," sahut Deandra dengan bijak sembari mengupas kulit pisang rebusnya. Ia duduk berdampingan dengan Susan, sementara Jovanka dan Sasti juga tampak makan dengan lahap, menikmati suapan demi suapan dengan perasaan lega karena hari ini adalah hari kepulangan mereka.

Zenix duduk di sudut tikar, mengunyah singkong bakarnya dalam diam. Jaket denim hitam kesayangannya sudah terpasang rapi, menyembunyikan robekan di lengannya. Anting hitam di telinga kirinya bergoyang pelan setiap kali ia menunduk. Cincin perak di jarinya sesekali ia putar, mencerminkan gejolak pikiran yang sejak semalam tidak biarkan ia tidur dengan tenang.

Setelah sesi sarapan singkat itu selesai, dinamika perpisahan mulai terasa. Deandra, Susan, Jovanka, dan Sasti segera melangkah ke halaman depan pondok lebih dulu untuk memakai sepatu kets mereka sekaligus menikmati udara pagi yang segar di balik pagar bunga kuning. Di ruang tengah, kini hanya tersisa Zenix dan Anisa yang sedang merapikan piring-piring dari tanah liat yang diberi alas daun pisang di atas meja pendek.

Zenix bergerak lambat, sengaja mengulur waktu agar bisa berduaan dengan gadis itu. Ketika Anisa hendak mengangkat tumpukan piring tanah liat tersebut, tangan kanan Zenix yang mengenakan cincin perak bergerak menahan ujung piring, membuat gerakan Anisa terhenti. Gadis berhijab itu mendongak, menatap sepasang mata tajam Zenix dengan pandangan bertanya-tanya.

Zenix berdeham pelan untuk mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang tenggorokannya. Suaranya yang berat terdengar sangat rendah di keheningan ruangan. "Anisa... setelah kami sampai di balai desa dan mobil angkutan itu datang, kami akan langsung pulang ke kota." Dylan menjeda kalimatnya, menatap lekat wajah bersih di depannya. "Bagaimana caranya agar aku bisa tetap berkomunikasi denganmu setelah kami pergi dari sini? Di sini tidak ada sinyal, dan kamu tidak punya ponsel."

Anisa terpaku sejenak, lalu tersenyum tipis dengan gurat kesedihan yang samar. "Tidak apa-apa, Mas Zenix. Jalur komunikasi di desa ini memang hanya lewat surat yang dititipkan pada sopir angkutan jika ada keperluan penting. Anggap saja pertemuan kita ini adalah takdir sesaat yang digariskan Yang Maha Kuasa. Jika suatu saat kalian liburan lagi, pintu pondok ini selalu terbuka."

Mendengar jawaban Anisa yang terkesan pasrah pada perpisahan, dada Zenix berombak pelan. Ego dan pertahanan dinginnya runtuh sepenuhnya pagi itu. Ia tahu, jika ia tidak mengatakannya sekarang, ia akan menyesal seumur hidup. Laki-laki yang ditakuti dan dikagumi seisi kampus karena sifat cueknya itu kini menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri untuk mengungkap perasaannya yang sesungguhnya.

"Aku tidak mau ini menjadi pertemuan sesaat, Anisa," ujar Zenix, suaranya bergetar namun tersirat ketegasan yang mutlak. "Jujur, di dalam hatiku yang paling dalam... aku mengagumimu. Selama di kota, aku tidak pernah tertarik pada gadis mana pun yang mencoba mendekatiku. Tapi kamu berbeda. Ketangguhanmu, kemandirianmu hidup sebatang kara di sini, dan caramu melantunkan ayat suci semalam... semuanya meluluhkan hatiku. Aku menyukaimu, Anisa. Sungguh."

Mendengar pengakuan cinta yang begitu tiba-tiba dan tulus dari seorang cowok kota yang tampan seperti Zenix, Anisa langsung terkejut setengah mati. Matanya yang bulat membelalak, dan piring tanah liat di tangannya hampir saja merosot jika Zenix tidak menahannya. Bibir Anisa terkunci, tidak menyangka bahwa ketegaran hatinya selama ini bisa memikat hati sang ketua geng.

Namun, tepat di saat suasana di antara mereka berdua sedang diliputi ketegangan emosional yang tinggi, tiba-tiba sebuah fenomena gaib berskala besar terjadi di dalam ruangan tersebut.

Wuuush...

Suhu di dalam ruang tengah pondok bambu mendadak turun drastis melampaui batas kewajaran hawa subuh. Udara instan berubah menjadi sedingin es yang menusuk hingga ke tulang belulang. Zenix tersentak. Tengkuknya mendadak terasa sangat dingin, meremang hebat, dan seluruh bulu kuduk di tubuhnya berdiri tegak. Cincin perak di jarinya bergetar samar, memancarkan energi dingin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa merinding yang luar biasa hebat mencengkeram kesadaran Zenix, membuatnya secara refleks mundur satu langkah ke belakang.

Namun, rasa merinding itu bukan berasal dari mahluk jahat Hutan Sangker. Pancaran energi dingin itu murni, bersih, dan dipenuhi oleh aroma wewangian kemenyan putih dan minyak misik yang sangat harum.

Dari kepulan uap dingin di sudut ruangan, di dekat rak buku-buku tua, dua buah bayangan cahaya putih yang sangat terang perlahan-lahan mewujud. Cahaya itu memudar, memperlihatkan wujud fisik dua orang roh laki-laki yang sangat nyata di hadapan mereka.

Yang pertama adalah seorang lelaki sepuh berjubah putih dengan janggut panjang berkilau keperakan, beliau adalah sang kakek. Di sebelahnya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan wajah yang sangat teduh dan tersenyum penuh kasih sayang beliau adalah almarhum ayah Anisa.

Baru kali ini, setelah bertahun-tahun lamanya hanya mengamati dari balik tirai gaib, kedua roh pelindung suci itu memilih untuk menampakkan wujud nyata mereka secara bersamaan di dalam pondok.

Anisa yang memiliki kemampuan melihat mahluk halus, seketika menjatuhkan piring tanah liat di tangannya hingga pecah berantakan di atas tikar pandan. Tubuh gadis berhijab itu gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena syok yang luar biasa. Air matanya langsung mengalir deras, membasahi pipinya yang bersih.

"Ka... Kakek? Ayah?" bisik Anisa dengan suara yang pecah oleh tangis penyesalan dan kerinduan yang teramat sangat.

Tanpa memedulikan keberadaan Zenix, Anisa langsung jatuh berlutut di atas tikar, mengulurkan kedua tangannya ke arah dua sosok roh tersebut. Rasa rindu yang ia pendam sendiri selama bertahun-tahun hidup sebatang kara menembus dadanya seperti mata pisau. "Kakek... Ayah... apakah ini benar-benar kalian? Anisa... Anisa rindu sekali..." tangis Anisa pecah sejadi-jadinya, tubuhnya tergugu hebat di atas lantai bambu.

Sementara itu, Zenix yang berdiri di samping Anisa langsung diliputi kebingungan yang luar biasa. Di mata Zenix yang merupakan manusia biasa, ia sama sekali tidak bisa melihat wujud roh kakek dan ayah Anisa yang sedang berdiri di sudut ruangan. Yang Zenix lihat hanyalah Anisa yang tiba-tiba menangis histeris setelah mendengar ungkapan cintanya, lalu menjatuhkan diri ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.

Zenix mengepalkan tangannya yang mengenakan cincin perak, hatinya mendadak terasa mencelos dan perih. Ia mengira bahwa tangisan histeris Anisa adalah bentuk penolakan halus atas perasaannya. Zenix mengira Anisa merasa tertekan atau ketakutan karena dicintai oleh cowok asing dari kota seperti dirinya.

"Anisa... maafkan aku," ujar Zenix dengan suara yang mendadak melemah dan getir, wajah dinginnya tampak diselimuti penyesalan yang dalam. "Jika ucapanku tadi menyinggung perasaanmu atau membuatmu tertekan hingga menangis seperti ini... tolong lupakan saja. Aku tidak bermaksud memaksamu."

Namun, di detik berikutnya, Zenix menyadari ada sesuatu yang sangat ganjil. Anisa sama sekali tidak menatap ke arahnya. Pandangan mata gadis yang sedang menangis itu terarah lurus ke sudut ruangan yang kosong di dekat rak buku.

"Ayah... Kakek... terima kasih karena selama ini selalu menjaga Anisa dari jauh," ucap Anisa terbata-bata di sela tangisnya, matanya menatap wajah teduh sang ayah yang mengangguk lembut padanya. "Anisa tidak tahu kalau kalian selalu ada di sini... di pondok ini..."

Zenix terpaku di tempatnya berdiri. Anting hitam di telinganya masih terasa dingin. Ia menyadari bahwa Anisa seolah-olah sedang berbicara sendirian dengan seseorang yang tidak kasat mata. Otak logis Zenix langsung menghubungkan kejadian ini dengan cerita Anisa semalam tentang kakeknya yang seorang penyembuh dan kemampuannya melihat hal-hal gaib.

Di sudut ruangan yang kosong bagi mata Zenix, roh sang kakek melangkah maju satu langkah. Beliau mendekati Anisa, lalu beralih menatap Zenix yang sedang berdiri dengan wajah bingung dan cemas. Roh sang kakek tersenyum sangat bijaksana, seolah memberikan restu gaib dan isyarat kepada cucunya bahwa pemuda berambut cokelat keperakan yang ada di depannya itu adalah seorang laki-laki yang tulus dan bertanggung jawab yang dikirim alam untuk menemani masa depan Anisa agar tidak lagi hidup sebatang kara.

Setelah memberikan senyuman perpisahan yang menenangkan, wujud kedua roh laki-laki itu perlahan-lahan kembali memudar menjadi partikel cahaya putih, menyatu dengan kehangatan fajar yang mulai masuk ke dalam pondok, menyisakan kesunyian yang magis di dalam ruangan tersebut.

1
Harto Ninis
namanya sering tertukar thor, semangat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!