Demi melunasi hutang sang ayah, Maureen terpaksa menggantikan kakak nya sebagai mempelai. la dinikahi oleh Alarick Carlson, pria yang digambarkan kejam dan buruk rupa, hingga keluarga nya enggan menyerahkan Maura putri kesayangan mereka.
Kini Maureen harus menghadapi pernikahan yang sarat misteri dan ketidakpastian dari suami nya. Mampukah ia menjalankan takdir yang dipaksakan kepada nya? Dan mampu kah Maureen bertahan dengan pernikahan yang dilandasi keterpaksaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ausilir Rahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Kedua bola mata Maureen berkaca-kaca, sungguh ini kali pertama ia di berikan perhiasan mewah dan langka. Padahal dari sejak kecil ibu nya sama sekali tidak pernah memberikan nya. Hanya sang kakak saja yang selalu di berikan perhiasan atau barang-barang mewah lain nya.
"Cantik sekali!" Pujian ibu nya pada Maureen membuat Hans dan Marisa, terkejut mereka saling menatap hampir tak percaya.
Jika Maureen bisa membuat Oma Eva bisa menerima nya. Padahal dulu saat Arik membawa beberapa wanita pada nya sangat sulit untuk memberi restu.
Arik hanya terdiam muram, sebagai seorang pria yang sudah di rugikan oleh kedua orang tua Maureen, membuat ia enggan untuk berpendapat. Hanya seutas kebencian terus tertanam dalam benak nya.
"Te-terima kasih Oma," Ungkap Maureen terlihat gugup yang sesekali melirik ke arah Arik.
Seketika Arik hanya memalingkan wajah nya ke samping, membuat hati Maureen semakin merasa tidak berhak atas hadiah mewah itu.
"Arik! Bagaimana menurut mu?" Tanya Oma Eva menatap penuh selidik.
"Sangat bagus, istri ku semakin cantik, " jawab nya singkat, sembari terpaksa melingkarkan tangan dan memeluk pinggang Maureen.
Oma Eva bernafas lega, tak lupa juga dia mewanti-wanti jika mereka harus segera memberikan seorang bayi yang bisa menghangatkan rumah mewah bak seperti istana itu.
Arik sengaja bersandiwara, dia memancarkan senyum penuh keterpaksaan dan mengiyakan apa yang di minta oleh nenek nya.
Tak sampai di situ saja, Maureen bahkan dijanjikan akan diberikan sepuluh persen saham Carlson Grup. Tidak ada yang tidak terkejut, terutama Brayan. Tak sungkan mengatakan protes nya.
"Oma! Untuk apa memberikan saham pada orang luar. Aku saja hanya diberi lima persen, sungguh tidak adil," Umpat Brayan tak terima sampai beranjak dan mengebrak meja, membuat semua orang tersinggung terutama Maureen.
Maureen menggelengkan kepala nya, dia berusaha mengingat kembali diri nya menolak saham yang dijanjikan, karena dia memang tidak pantas untuk diproses.
Namun keputusan mutlak, dan tidak bisa ada yang mengganggu gugatan.
"Tidak Maureen, kamu tidak boleh menolak. Dan kamu sebagai istri Arik memang pantas mendapatkan semua ini, jika ada yang disetujui maka boleh pergi dari sini!' ucap Oma Eva tegas.
Disaat suasana ruang makan di selimuti ketegangan, tiba-tiba saja salah satu pengawal datang dan memberanikan diri mengatakan kabar, jika di halaman rumah begitu banyak paparazi yang masih menantikan konfirmasi tentang isu pernikahan yang semakin menjadi bola liar.
Membuat Arik mendengus kesal, dan semakin terganggu. Hingga membuat ia memutuskan untuk menemui para pemburu berita. Kedua bola mata Maureen melebar, saat sang suami meminta nya untuk ikut bersama.
"Ada apa ini?" ucap Oma Eva terkejut.
Nyonya Marisa dan tuan Hans segera menenangkan ibu nya, agar tidak ikut bersama Arik dan Maureen.
"Tidak ada apa ma, Arik dan Maureen hanya akan menjawab beberapa pertanyaan para wartawan saja. Duduklah yang tenang," Bujuk Marisa.
Brayan dan Jeevan saling menatap, mereka merasa ada sesuatu hal yang tengah di sembunyikan oleh ayah dan ibu nya pada nenek mereka.
Sementara Maureen yang berjalan mengikuti langkah Arik, wanita cantik itu pun berusaha melepaskan genggaman tangan kasar sampai membuat guratan merah di tangan nya.
"Mas tolong lepaskan. Tangan ku sakit," Pinta Maureen menatap nanar seraya memasang wajah polos memelas. Arik memancarkan seulas senyum sinis, saat mendengar perkataan Maureen yang membuat nya emosi.
"Sakit? Lebih sakit nama baik dan karir ku yang sudah di coreng oleh ayah dan ibu mu. Ikut dan jangan berbicara sepatah kata pun!" Bentak Arik kembali melanjutkan langkah nya.
Sesampai nya di halaman rumah, Laura terkejut saat melihat begitu banyak orang membawa kamera. Sampai Kilauan cahaya nya terus mengarahkan pada mereka.
Tidak pernah terbayangkan jika menikah atas permintaan ayah dan ibu nya, membuat Maureen seolah semakin terjebak dalam keluarga yang sangat rumit dan penuh persaingan dalam segala hal.
"Tuan, anda sudah siap?" Tanya Harris memastikan.
Arik yang sudah muak dengan semua isu liar tentang pernikahan nya, dia menjawab dengan sebuah deheman.
Lengan besar nya terpaksa melingkar erat di pinggang Maureen. Membuat jantung Maureen seperti berhenti berdetak saat merasakan sentuhan hangat itu.
"Kau tidak perlu bicara, cukup diam dan berdiri di samping ku!" bisik Arik.
Maureen hanya mengangguk patuh atas perintah suami nya, mereka berdua di sambut teriakan antusias para wartawan yang sudah lama menanti dari tadi.
Mereka tanpa sungkan melontarkan beberapa pertanyaan pada Arik, tentang mempelai pengantin wanita yang sudah di ganti.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang berisik di telinga, membuat Arik sudah tidak ingin menjadi bulan-bulan paparazi itu lebih lama lagi.
Hingga dia memutuskan untuk menegaskan jika apa yang selama ini di beritakan tidaklah benar adanya. Dengan suara yang lantang dan tegas, jika Arik mengatakan wanita yang sangat dia cintai adalah istri nya saat ini.
Bahkan dia mengatakan jika foto mempelai wanita saat foto prewedding adalah murni kesalahan pencetakan seorang fotografer saja.
Tentu saja para wartawan saling menatap, rasa nya mereka masih sangat janggal. Dan sungguh tidak masuk akal untuk hal itu.
Baru saja salah satu wartawan akan bertanya lagi, Arik lebih dulu memberikan statement jika ada wartawan perwakilan dari mana pun berani mengekspos berita negatif tentang nya, maka dia tidak akan segan untuk memblack list perusahaan media yang menaungi mereka.
Teguran Arik dalam sekejap, mampu membungkam para pemburu berita yang begitu penasaran tentang masalah pribadi dan bisnis nya.
***
Sementara di kediaman Herman, Susan yang sedang menonton televisi sangat terkejut saat putri dan menantu nya tengah mengisi jumpa pers.
"Papa! Lihat," Panggil Susan berteriak.
Tuan Herman yang sedang serius memeriksa beberapa data keuangan di layar laptop nya tiba-tiba berhenti sejenak, saat mendengar suara sang istri yang menusuk telinga nya.
Membuat nya segera beranjak dan mendekat. "Ada apa Ma? Kenapa Mama berteriak-teriak, Papa sedang memeriksa keuangan perusahaan." ucap Herman lalu duduk di samping.
"Lihat Pa, Tuan Arik akhir nya mau bicara. Berarti dia sudah menerima Maureen. Ini sangat bagus, Mama akan bertemu dengan Maureen, agar dia bisa membuat Arik jatuh cinta pada nya, agar semua hutang kita dihapus oleh Tuan Hans." Tunjuk Susan terlihat begitu antusias, dan bernapas lega karena akhir nya Arik mau menerima Maureen. Tanpa harus mencemaskan Maura lagi.
Herman hanya duduk sambil memijit kening nya, membuat kening Susan berkerut rapat dan sedikit kesal saat melihat suami nya seperti tidak senang.
"Papa kenapa hanya diam?" tanya Susan.
Pria paruh baya itu pun perlahan mengangkat wajah yang tertunduk lesu. Lalu mengatakan jika Arik tidak akan mungkin berubah dalam waktu beberapa hari.
"Papa belum yakin jika Maureen di terima oleh nya," Ungkap Herman.
Susan memutar kedua mata nya, saat melihat keraguan dalam diri suami nya. Karena bagi nya mau di terima atau tidak nya, setidak nya satu masalah tentang berita beredar di luar sana bisa mereda.
Ketika mereka tengah berbicara serius, tiba-tiba saja terdengar ada seseorang yang menekan bel pintu rumah.
"Astaga! Siapa malam-malam seperti ini bertamu tidak tahu etika," Susan berdecak kesal lalu segera membukakan pintu.
Terlihat beberapa pria berjas hitam dengan jumlah yang cukup banyak, membuat Susan kaget.
"Kalian, malam begini untuk apa ke sini?" Tanya Susan ketus.
Tuan Herman penasaran, dia beranjak dan menghampiri saat mendengar suara sang istri bersama beberapa orang.
"Ma ada apa?" tanya Herman.
"Mama juga tidak tahu Pa, kenapa mereka ke sini lagi."
Para pria utusan Tuan Hans pun mulai menjelaskan, jika mereka ingin membawa lagi beberapa hadiah yang akan di berikan langsung pada Maureen. Kedua bola mata Susan membulat, dada nya sesak tak terima, lalu dengan tegas ia menolak nya.
\*
Bersambung..................