yovada, seorang anak remaja yang memilik obsesi pada pengetahuan. ia tidak peduli dengan apapun, selama itu menambah pengetahuannya maka akan ia lakukan. ia di kenal debagai seseorang yang gila dengan ilmu dan tidak mau menjalin sebuah hubungan karena ia tahu bahwa hubungan tanpa memahami pasangan adalah sebuah penyiksaan. ia yakin bahwa tiada yang memahami perasaannya hingha ia bertemu seseorang yang membuatnya merasa nyaman dan aman. sebuah rasa yang membuatnya bingung dengan jalannya. sebuah lembaran baru yang ia buka demi cerita baru dalam hidupnya. apa yang terjadi selanjutnya dan apa semua akan berakhi karena ego atau malah luluh karena sebuah rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najmun_huda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CP: 14 Bubur dan Wortel
“kakek, kakak itu adalah kakak yang pernah jatuh dari motor. Kakak itu orang yang pernah aku temui kek. Pasti ia jahat.” Ucap anak itu kepada kakeknya dan kemudian bersembunyi di balik kakeknya.
Kakek itu hanya tertawa kemudian ia tersenyum ke arah anaknya sambil berbicara dengan lembut kepadanya. “anak, kakak itu tidak jahat oke. Ia baik sekali dan ia tidak akan menyakitimu. Cobalah mendekat dan jabat tangannya.” Ucap kakeknya kepada anak itu dengan pelan dan juga penuh kasih sayang. Ia ingin cucuknya itu dapat mengenal seseorang tanpa ketakutan dengan orang lain. Kakek itu mendorong pelan dengan tangannya secara pelan dan juga lembut.
Anak itu masih ketakutan, ia merasa akan terjadi hal buruk kepadanya namun ia tetap menahan perintah kakeknya. Ia berjalan mundur dengan perlahan namun ada rasa penasaran yang mendorongnya ke depan untuk melakukannya walau itu akan berbahaya ke padannya. Ia mencoba melangkah dengan kaki kecilnya ke depan dan juga penuh keraguan. Langkah demi langkah ia lakukan dengan kaki yang gemetar dan tangan yang gelisah. Ia terus berjalan hingga ia berada di depan Yovada dengan penuh ketakutan dan juga keraguan. Ketika ia berhenti di depan Yovada, ia mengulurkan tagannya dengan pelan sambil menyebutkan namanya. Yovada yang melihat itu langsung merasa tersentuh dan kemudian menggapai tangan anak itu dan kemudian memperkenalkan namanya. Anak itu langsung berlari dan kembali lagi ke kakeknya . kakeknya yang melihat itu langsung tertawa karena melihat tingkah anaknya yang begitu lucu.
Yovada yang melihat itu langsung tersenyum dengan lembut dan juga ramah kepada anak itu. Anak itu yang melihat sikap Yovada begitu ramah dan juga menyenangkan langsung keluar dari persembunyiannya yang ada di belakang kakeknya dan kemudian berjalan pelan hingga di sebelah Yovada. Mimi melihat Yovada yang tersenyum ramah kepadanya langsung terdiam dengan tatapan penuh penasaran dan juga sikapnya yang begitu polos. Yovada langsung melambai ke arahnya dan kemudian mengulurkan tangannya dengan pelan dan juga penuh kehati-hatian kepada anak itu. Namun sebelum ia memberikan tangannya, anak itu langsung mendorong kursi dan kemudian naik ke atas ranjang Yovada dan kemudian melihatnya lebih dekat.
Yovada yang melihat itu langsung tersenyum dengan ramah dan memusut kepala anak itu dengan ramah dan juga penuh perhatian. Anak itu mendekat dan kemudian memegang kepalanya yang memusut kepalanya dengan lembut dan juga penuh kasih sayang. Ia terdiam dan kemudian berkata dengan suara yang lembut dan manis Kepada Yovada. “kakak... kakak Yovada...” Ucapnya dengan tenang dan juga penuh penasaran. Ia menatap Yovada dan kemudian mengatakan dengan lembut dan penuh perhatian. “kakak... kakak baik.... kakak menyenangkan.” Ucap anak itu dengan lembut kepada Yovada dengan tenang dan juga penuh senyum di wajahnya. Yovada yang melihat itu hanya tersenyum senang dengan anak itu karena benaran bertemu dengannya.
Pak tua itu merasa bangga dengan apa yang ia lakukan. Ia melihat merek dengan tatapan penuh kepercayaan. Seketika air mata keluar dari mata pak tua. Bukan karena sedih atau karena Mimi kini lebih memilih Yovada dari pada kakeknya namun karena ia merasa ada seseorang yang bisa membuat Mimi senang. Sang kakek ingat ketika ia berkunjung ke rumah anaknya dan kemudian melihat Mimi berdiri di jendela sambil menatap ke luar dan melihat anak-anak sebayanya bermain bersama namun ia sendiri terkurung di dalam sebuah rumah dan tidak dapat keluar dan hanya bisa bermain dengan mainannya atau degan pak tua. Sesekali pak tua mengajaknya bermain keluar namun ia takut kepada orang tuannya yang tidak mengizinkan dirinya bermain di luar dan akan di marahi setelah bermain di luar itu. Pak tua yang bisanya hanya ingin menikmati masa tuanya, kini mengajak Mimi untuk bermain bersamanya. Mimi banyak belajar dari pak tua entah itu kata-kata bijak dan juga sebagainya. Namun Mimi tetap saja murung dan sering curhat kepada kakeknya karena dirinya di ledek ketika di sekolah dengan anak tetangga karena dirinya sendiri jarang keluar rumah dan kira anak manja dan tidak berani untuk bersosialisasi. Dengan melihat Mimi memiliki teman yaitu Yovada, dirinya bisa lebih tenang dari pada biasanya karena kini ia bisa mempercayakan Yovada untuk menemaninya jika suatu saat ia keluar dan bertemu dengannya.
Di luar, Kesya datang dengan sebuah kotak bekal dengan isi bubur dengan potongan wortel dan juga sedikit sayuran dan juga potongan telur rebus. Ia berjalan melewati banyak koridor hingga akhirnya ia sampai di koridor Yovada dan ia membuak sedikit pintu masuknya. Ia terdiam, tangannya berhenti bergerak dan matanya melebar. Ia melihat seorang Yovada sedang bermain dengan anak kecil di atas kasurnya. Ia sangat berbeda dengan apa yang ia kenal di sekolah karena yang ia lihat hanyalah sisi dinginnya dan juga penuh misteri seakan dirinya tidak memiliki hati. Ia bermain dengan anak kecil itu, memusut kepalanya dan anak kecil itu mengambil tangan Yovada yang satunya dan memainkannya seperti penasaran dengan tangan Yovada yang besarnya setara dengan wajahnya. Ia terdiam dan berusaha untuk bersikap tenang di hadapannya. Ia membuka pintu itu dengan pelan dan membiarkan aroma parfum manisnya masuk ke dalam ruangannya dan mengharumi seisis ruangannya. Ia berjalan dengan pelan dan juga anggun menemui Yovada dan kemudian duduk di sebelahnya sambil membawa makanan. Ia melihat buah pir yang sudah berkurang dan juga keranjang roti yang mulai habis. Ia tersenyum dan senang melihat hal itu. Ia menatap Yovada seperti seseorang yang berbeda kali ini, ada tatapan senang dan juga tatapan yang kasih sayang yang dalam.
anak kecil itu menatap Kesya yang duduk dekat dengan Yovada. Dirinya diam lalu ketika melihat tangannya ingin menyentuh tangan Yovada, anak kecil itu langsung marah dan memukul tangan Kesya dengan tangan kecilnya. Kesya yang melihat itu langsung terdiam dan kemudian ia menatap anak kecil itu dengan tatapan sinis seakan marah kepadanya. Namun anak kecil itu malah membalas tatapannya seperti marah dan juga seperti ada rasa tidak suka kepada Kesya yang mau menyentuh Yovada. Kesya yang melihat itu sedikit kesal namun kemudian ia melihat ke arah Yovada yang mulai tertawa kecil karena melihat mereka berdua yang terlihat seperti berkelahi. Namun karena hal itu, amarah Kesya langsung reda, ia membuka wadah makannya dan kemudian ia mengambil sendok dan kemudian membersihkan dengan tisu. Anak itu melihat dengan penasaran kepada Kesya dengan tatapan penasaran namun wajah Kesya masih terlihat kesal jika melirik ke arah anak itu. Anak itu yang merasa Kesya marah dengannya hanya menatapnya dengan tatapan santai.
Yovada yang melihat itu langsung menanyakan Kesya dengan penasaran. “kamu benaran bikin bubur untukku? Aku tidak akan mengira kamu akan serius untuk hal ini sebenarnya.” Ucap Yovada dengan mata yang senang, senyumnya melebar dan wajahnya terlihat lebih ceria dari pada biasanya. Aroma buburnya tercium hingga satu ruangan, Yovada yang melihat itu langsung terdiam karena ia kali ini merasa tidak enak dengan sekelilingnya. Ia menyuruh Kesya menutup kembali wadahnya dan akan makan di tempat lain bersamanya nanti.
Kesya yang mendengar itu, tidak memiliki pilihan lai selain mematuhi apa yang di katakan Yovada kepadanya. Wajahnya terlihat sedikit kecewa namun itu bukan masalah karena ia tahu bahwa tidak nyaman juga membuat seseorang kelaparan dengan aroma bubur yang ia buat. Ia menyimpan kembali buburnya dan menaruhnya di atas meja. Kesya melihat keadaan Yovada dan melihat bahwa ia akan keluar dengan waktu yang cepat.
Kesya yang melihat Yovada sudah membaik langsung berkata. “wah, sepertinya kamu tidak akan lama berada di rumah sakit. Kamu mau sesuatu? Sepertinya kamu sudah bisa jalan dari kasurmu. Mau pergi kelilingi Rumah sakit? Mungkin kita bisa temui sebuah tempat yang lebih nyaman untuk melakukan sesuatu dan tidak ada yang mengganggu.” Ucapnya dengan suara yang seperti tidak senang dengan anak kecil itu.
Anak kecil itu langsung menarik tangan Yovada dan memeluknya. “kakak Yovada masih sakit. Kamu tidak boleh memaksanya. Kakak jangan paksa orang sakit, tidak baik tahu” Ucapnya dengan nada yang seperti mengancam. Namun suaranya tidak bisa membentak seperti orang dewasa pada umumnya. Ia menatap Kesya dengan tatapan marah dan juga seperti benci dengannya.
Kesya yang melihat itu langsung kesal dan berbicara dalam hatinya. “gila, dari mana Yovada mendapatkan anak ini sih? Menyebalkan sekali tingkahnya. Seandainya aku datang lebih awal dan menemuinya, kemungkinan aku tidak akan sekesal ini melihatnya. Ia ini siapa sih? Aku pikir Yovada tidak memiliki adik atau rupanya ini adik sepupunya? Astaga, yang penting bagaimana aku punya ruang dan waktu dengan Yovada dulu dan tidak di ganggu anak kecil ini” ucapnya dengan kesal kepada anak kecil itu dengan tatapan yang membencinya dan menganggapnya musuh yang harus di jauhkan.