NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang tersembunyi

Setelah selesai makan dan puas di kafe, kami pun berangkat ke tempat wisata yang tak terlalu jauh dari sana — sebuah air terjun indah yang letaknya di tengah pegunungan. Untuk mencapainya, kami harus menaiki tangga batu yang sudah disusun rapi, lebarnya cukup muat seolah bisa dilewati mobil, tapi memanjang menjulang tinggi sampai ke atas, ujungnya tak terlihat tertutup kabut dan pepohonan.

Begitu melihatnya saja, rasanya kaki terasa berat duluan. Sarah dan Liora bahkan belum mengangkat satu langkah pun, nyali kami rasanya sudah menyusut perlahan. Hanya Alina yang masih tampak bersemangat, dia menepuk bahu kami satu per satu sambil tersenyum lebar mencoba memberi semangat: “Memang agak tinggi dan jauh, tapi kita pasti sanggup kok! Ayo, semangat saja, nanti lelahnya terbayar lihat pemandangannya.”

Namun keraguan masih tergantung jelas di wajahku, Sarah, dan Liora. Kami saling bertatapan seolah berkata tanpa suara: “Ini benar-benar berat rasanya.”

…Saat aku menatap lebih lekat, ternyata sudah banyak orang yang tengah mendaki di sana. Melihat mereka saja sudah cukup membuat hatiku makin ciut. Ada yang langkahnya makin lambat, kakinya terlihat gemetar hebat sampai nyaris tak sanggup menahan beban tubuh sendiri, wajahnya pucat berkeringat deras. Bahkan beberapa orang terlihat roboh seketika, terkulai lemas sampai tak sadarkan diri habis kelelahan melawan ketinggian dan jarak yang tak berujung itu.

Segera petugas keamanan yang berjaga bergerak sigap, membantu mengangkat mereka perlahan lalu menurunkannya dengan hati-hati menggunakan tandu yang sudah disiapkan. Melihat pemandangan itu, jantungku berdegup makin kencang, tangan kecilku menggenggam ujung bajuku tanpa sadar — rasanya benar-benar meyakinkan hatiku: “Pilihan kita untuk menunda itu bukanlah rasa takut berlebihan, tapi lebih baik menjaga diri agar tak berakhir seperti mereka.”

Baru Alina hendak melangkah naik, tangannya ditarik pelan oleh Sarah. “Alina, lebih baik lain kali saja ya? Lihat saja, ujungnya pun tak terlihat, pasti butuh waktu berjam-jam mungkin lima jam atau lebih. Kita tak tahu apa yang akan terjadi di tengah jalan, sayang kalau sampai kecapekan parah atau ada hal tak diinginkan. Lebih baik tak usah ambil risiko dulu.”

Aku dan Liora langsung mengangguk setuju, merasakan hal yang sama. Wajah Alina langsung berubah, bibirnya mengerucut kecewa, lalu dia menghela napas panjang sambil menunduk sebentar: “Ya sudah… kalau begitu.”

Tapi perjalanan tetap tak berakhir mengecewakan. Sebagai gantinya, kami sepakat pergi ke taman nasional yang ada di tengah kota saja. Begitu tiba, rasanya semua lelah dan kecewa tadi langsung hilang berganti kagum. Taman itu sangat luas, penuh hamparan bunga tulip berwarna-warni — merah, kuning, putih, ungu menyebar sejauh mata memandang bagaikan lautan bunga yang hidup.

Banyak pengunjung sibuk berfoto mengabadikan momen, dan kami pun tak ketinggalan. Aku berjalan pelan di antara barisan bunga, jemariku menyentuh lembut kelopaknya yang halus, lalu mendekatkan wajah perlahan menghirup wanginya — lembut, segar, dan menenangkan hati. Rasanya sempurna, sederhana tapi membuat hati terasa ringan dan bahagia sepenuhnya.

Tak lama kemudian, saat aku berjalan santai melintas di antara hamparan bunga, tiba-tiba langkahku terhenti nyaris menabrak seseorang yang berdiri tegak di depanku. Baru saat aku mengangkat wajah dan menatap lekat, aku tersadar — itu Fernando.

“Aduh, maaf… eh, Fernando? Kau… apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku, mataku sedikit membelalak heran sambil telunjukku tanpa sadar mengarah pelan ke sekeliling.

Fernando terlihat sedikit kaget juga, lalu dengan cepat mengubahnya jadi senyum tipis. Dia menggaruk pelan bagian samping rambutnya dengan tangan kanan, sikapnya tampak santai seolah memang kebetulan saja: “Oh, ini… aku kadang-kadang memang datang ke sini saja, sekadar melewatkan waktu.”

Fernando berdiri tegak, terlihat rapi tapi tetap santai. Dia mengenakan jaket kulit suede berwarna coklat hangat yang lembut dipandang, dipadukan dengan kaos dalam hitam polos yang pas di badan, membuat bahunya terlihat lebih kokoh dan tegas. Celana panjang hitamnya lurus jatuh rapi, dikencangkan dengan ikat pinggang sederhana bergesper logam kecil, menambah kesan rapi tanpa berlebihan.

Di satu tangannya tergenggam ponsel, sementara jari tangan lainnya sesekali menyentuh resleting jaketnya pelan. Rambutnya tertata rapi namun terlihat alami, tidak dipaksakan, dan saat dia sedikit mengangkat sudut bibirnya, sorot matanya terlihat tenang tapi menyimpan niat tersembunyi yang tak mudah dibaca orang lain.

Setiap gerakannya terasa santai, seolah hanya lewat kebetulan saja — padahal penampilannya yang bersih, wangi, dan pas di tempat itu justru membuatnya terlihat menonjol, tak lepas dari pandangan sekalipun.

Padahal dia menyembunyikan rahasianya sendiri. Beberapa jam sebelumnya, dia sudah mengirim orang untuk memantau ke mana saja Sarah dan teman-temanku pergi. Begitu tahu rombongan kami berakhir di taman kota ini, dia segera bergegas datang, lalu berdiri menunggu sampai momen yang pas untuk berpura-pura bertemu secara tidak sengaja seolah tak ada rencana apa pun.

Kami pun berjalan berdua perlahan menyusuri jalan setapak, sesekali berhenti sebentar untuk melihat bunga yang sedang mekar, dan mengobrol ringan seadanya.

Dari kejauhan, Sarah dan Alina awalnya hendak melangkah mendekat, tapi begitu melihat Fernando ada di sampingku, mereka saling melirik dan mengurungkan niatnya. Mereka mengerti, dan justru ingin memberi ruang serta waktu berdua untuk kami berdua, lalu berjalan pergi menjelajahi sisi taman yang lain.

Hanya Liora yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Matanya menatap kami berdua, lalu perlahan wajahnya berubah redup, menyisakan rasa sedih yang tak bisa ia sembunyikan. Dia menggigit pelan ujung bibir bawahnya, memejamkan mata seolah mencoba menelan rasa kecewa itu, lalu bergumam sangat pelan hanya untuk didengar hatinya sendiri: “Sepertinya… memang sudah tak ada harapan lagi untukku.” Setelah itu dia membalikkan badan dan berjalan mengikuti langkah Sarah dan Alina dengan langkah yang terasa lebih berat.

Tepat jam tujuh malam saat aku sampai di depan pintu rumah. Langsung aku hembuskan napas panjang yang terasa tertahan seharian, lalu berjalan tergesa-gesa menaiki tangga — kakiku terasa berat seperti ditarik ke bawah, seluruh tubuh basah oleh keringat yang menempel lengket di kulit. Begitu masuk kamar, tak buang waktu lagi, aku melepas pakaian satu per satu dengan gerakan cepat, meletakkannya sembarangan ke kursi. Segera masuk ke kamar mandi, turun perlahan duduk ke dalam bak berisi air hangat yang sudah terisi, merendam seluruh tubuh sampai leher. Mataku terpejam puas, napas terasa lega seketika, lalu bergumam pelan sendiri: “Ahhh… segarnya…”

Air hangat itu meresap perlahan ke setiap urat, menghapus rasa pegal dan lelah yang menumpuk seharian penuh, membuat otot-otot yang kaku perlahan kembali rileks.

Setelah rapi dan mengenakan pakaian santai, aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tak lama kemudian beberapa hidangan sudah terhidang, aku menyantapnya dengan tenang sampai kenyang. Saat berjalan keluar meninggalkan dapur, mataku menangkap sosok Fara yang baru melangkah masuk, hendak menaiki tangga sambil memeluk erat beberapa kantong belanjaan berisi baju yang dia ambil dari mall. Wajahnya bersinar, senyum bahagia tak bisa disembunyikan dari sudut bibirnya.

Segera aku menghampiri, mataku melirik penasaran ke arah tas-tas itu: “Kak Fara baru pulang ya? Wah, belanja apa saja kok banyak sekali?”

Fara buru-buru memutar badannya sedikit, menyembunyikan bagian tas yang terlihat seolah tak ingin aku melihat isinya, lalu berkata sambil terengah pelan: “Ah… bukan apa-apa kok, cuma barang biasa saja. Sudah ya, aku mau mandi dulu, capek sekali berjalan seharian.”

Aku hanya mengangguk mengerti, lalu memandang punggungnya sampai menghilang di balik pintu kamar. Baru kemudian aku bergumam pelan pada diri sendiri sambil mengerutkan dahi sedikit bingung: “Kak Fara ini… senyumnya cerah sekali, terlihat sangat bahagia. Aneh juga, jarang dia begini…”

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!