NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Ruang rontgen RSUD Merauke siang itu terasa sedikit lebih dingin dan menegangkan dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, melainkan karena keberadaan sesosok pria tegap berseragam loreng yang berdiri menyilangkan tangan di depan dada, menatap tajam ke arah light box penampil foto X-ray.

Dokter Samuel, dokter spesialis ortopedi paruh baya yang bertugas hari itu, berdeham pelan untuk mengusir kecanggungannya. Ia menunjuk ke arah struktur tulang belakang di layar.

"Seperti yang bisa kita lihat, Mayor. Tidak ada fisura atau keretakan pada tulang scapula (tulang belikat) maupun tulang belakang bagian thoracic dr. Cia. Semuanya utuh," jelas dr. Samuel dengan nada sangat berhati-hati, seolah sedang memberikan laporan intelijen kepada atasan. "Hanya ada memar jaringan lunak yang cukup luas, atau kontusio muskulorum. Ini akan menyebabkan rasa nyeri saat bergerak atau bernapas dalam."

Ren tak langsung menjawab. Mata elangnya memindai foto hitam putih itu dengan saksama, memastikan sendiri bahwa tidak ada satu pun serpihan putih yang keluar dari garis anatomi tulang istrinya.

"Estimasi waktu pemulihan?" tanya Ren datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari foto rontgen.

"Dengan istirahat penuh dan kompres dingin lalu hangat secara berkala, nyerinya akan berkurang signifikan dalam tiga sampai lima hari. Memarnya mungkin butuh dua minggu untuk memudar sempurna," jawab dr. Samuel. Ia lalu tersenyum maklum. "Istri Anda akan baik-baik saja, Mayor. Punggungnya cukup kuat menahan benturan."

Mendengar itu, barulah bahu Ren yang sedari tadi menegang kaku sedikit mengendur. Ia mengangguk hormat pada dokter spesialis tersebut. "Terima kasih, Dokter."

Cia, yang duduk di tepi ranjang periksa sambil merapikan kembali kemejanya, tersenyum kikuk pada dr. Samuel. "Maaf ya, Dok, suami saya memang kalau mode khawatir default-nya jadi mirip interogator lapangan."

Dr. Samuel tertawa pelan. "Tidak apa-apa, dr. Cia. Saya justru merasa aman rumah sakit ini dijaga oleh komandan yang sangat teliti. Silakan beristirahat."

Keluar dari ruang periksa, Ren mengambil alih ransel kecil Cia dan menuntun istrinya berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Langkah Cia masih sedikit kaku karena rasa ngilu di punggung kirinya setiap kali ototnya berkontraksi.

"Kita mau ke mes puskesmas, Mas?" tanya Cia saat mereka berjalan menuju tempat parkir di mana mobil rantis sudah menunggu.

"Tidak," jawab Ren mutlak. "Saya sudah menugaskan Prada Sigit yang ikut dalam penerbangan tadi pagi untuk mengambil sisa pakaianmu di mes. Kita tidak akan tinggal di sana."

Cia menghentikan langkahnya, menatap Ren dengan kening berkerut. "Lho, terus kita tinggal di mana? Jangan bilang kamu mau sewa kamar hotel? Di sini hotel yang bagus jaraknya jauh dari RSUD, Mas."

"Saya sudah berkoordinasi dengan Komandan Korem setempat," Ren membuka pintu penumpang mobil rantis, menahan tubuh Cia dengan lengannya agar gadis itu bisa naik tanpa perlu banyak menekuk punggung. "Ada satu unit rumah transit perwira yang kosong di kompleks militer tak jauh dari pangkalan udara dan RSUD. Kita akan tinggal di sana selama saya berada di Merauke."

Cia melongo saat Ren menutup pintu mobil dan berjalan memutar ke kursi pengemudi. Pria ini... benar-benar memindahkan benteng pertahanannya ke Papua.

Rumah transit perwira itu ternyata tidak sebesar rumah dinas mereka di Jawa, namun jauh lebih layak dan bersih dibandingkan mes puskesmas yang sering bocor saat hujan. Bangunannya terbuat dari beton dengan cat hijau yang mulai memudar, memiliki ruang tamu kecil, satu kamar tidur, dan dapur sederhana.

Aroma kamper dan debu tipis menyambut mereka saat Ren membuka pintu. Namun, Prada Sigit tampaknya sudah datang lebih dulu untuk menyapu dan membuka jendela agar sirkulasi udara membaik. Koper Cia juga sudah tergeletak rapi di sudut kamar.

"Duduk," perintah Ren, menunjuk sofa panjang berbahan vinyl di ruang tamu.

Cia menurut, duduk dengan sangat pelan. Ia memperhatikan suaminya yang langsung bergerak efisien. Ren melepas sepatu larasnya, meletakkan rompi taktisnya di atas meja, lalu berjalan ke arah dapur untuk menyeduh teh hangat menggunakan termos air yang sudah disiapkan oleh petugas piket.

Pemandangan ini terasa sangat surealis bagi Cia. Di luar sana, Papua sedang dilanda sisa badai, jalanan hancur oleh lumpur, dan operasi militer berskala besar sedang berlangsung. Namun di dalam rumah kecil bersahaja ini, suaminya—seorang perwira menengah yang membawahi ratusan prajurit—sedang sibuk membuatkannya teh manis.

Ren kembali ke ruang tamu, meletakkan cangkir teh di atas meja kecil, lalu duduk di sebelah Cia.

"Minum dulu, setelah itu ganti bajumu dengan yang lebih nyaman. Saya harus mengoleskan salep analgesik dari rumah sakit sebelum ototmu kram," ucap Ren.

Cia menyesap teh hangat itu. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuh, mengusir sisa-sisa udara dingin dari posko pengungsian tadi pagi.

Setelah tehnya habis, Cia melangkah ke kamar, mengganti celana jeans kotornya dengan celana training longgar, dan memakai kaus putih tipis yang sangat bersahabat dengan cuaca terik Papua di siang hari (jika tidak sedang hujan).

Cia kembali ke ruang tamu dengan membawa tube salep pereda nyeri. Ia menyodorkannya pada Ren dengan canggung. "Nih."

Ren menerima tube itu. "Berbaliklah. Duduk membelakangi saya dan singkap kausmu ke atas bahu."

Pipi Cia memerah. Meski mereka sudah menikah berbulan-bulan, intensitas kedekatan fisik mereka selalu berhasil membuat Cia merasa seperti remaja yang baru pertama kali pacaran. Apalagi sejak pengakuan Ren sebelum berangkat, hubungan mereka dipenuhi oleh letupan romansa yang sering kali membuat Cia kewalahan.

Namun, rasa nyeri di punggungnya mendesaknya untuk menurut. Cia duduk menyamping di sofa, membelakangi Ren, lalu menarik bagian belakang kaus putihnya hingga sebatas leher, mengekspos punggung kirinya.

Di belakangnya, Ren terdiam. Gerakan tangannya yang sedang membuka tutup salep terhenti di udara.

Rahang sang Mayor mengeras seketika. Mata elangnya menggelap, menatap kanvas kulit punggung istrinya yang putih bersih, kini ternoda oleh memar raksasa berukuran sekepalan tangan orang dewasa. Warnanya ungu kebiruan, dengan sedikit gradasi merah di tengahnya akibat benturan benda tumpul yang sangat keras.

Bagi Ren yang sudah terbiasa melihat luka tembak dan sayatan pisau daging, luka memar ini seharusnya bukanlah apa-apa. Namun, karena luka ini berada di tubuh Almeera Cia, rasanya seribu kali lipat lebih menyiksa matanya.

"Ini sangat buruk," suara Ren terdengar berat dan serak, dipenuhi oleh emosi yang tertahan.

"Nggak separah kelihatannya kok, Mas," Cia mencoba mencairkan suasana, meski ia merinding mendengar nada suara Ren. "Kelihatan seram karena kulitku gampang memar aja. Besok juga warnanya udah pudar."

Ren memencet tube salep, mengeluarkan gel bening ke ujung jari tengah dan telunjuknya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya menyentuhkan ujung jarinya ke area punggung Cia.

Sentuhan pertama itu begitu ringan, seringan bulu, seolah Ren sedang menyentuh porselen antik yang paling rapuh di dunia. Suhu jari Ren yang hangat bercampur dengan sensasi dingin dari gel analgesik membuat otot punggung Cia sedikit berkedut.

"Mas, ini salep pereda nyeri, bukan pelumas senjata laras panjang. Nggak usah tegang banget gitu ngolesinnya," canda Cia pelan, merasakan otot lengan Ren yang menegang di dekat punggungnya. "Kamu bisa nekan sedikit biar ototnya rileks."

"Saya sedang menghitung mundur keinginan saya untuk meratakan tenda bambu itu dengan tanah, Almeera," balas Ren dengan nada datar yang teramat serius, membuat Cia terkekeh geli, yang sayangnya langsung terhenti karena ringisan ngilu.

"Tuh kan, jangan tertawa dulu," tegur Ren cepat. Jarinya kini mulai mengusap salep itu dengan gerakan melingkar yang pelan, memberikan tekanan yang sangat presisi agar obatnya meresap tanpa memicu rasa sakit tambahan.

Sentuhan lembut di kulit punggungnya, dipadukan dengan wangi mint dari salep dan aroma musk alami tubuh Ren, menciptakan atmosfer intim yang membuat napas Cia sedikit tertahan. Ruang tamu itu menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan lembut kulit mereka.

Saat salep itu sudah rata, Ren tidak langsung menarik tangannya.

Pria itu membiarkan telapak tangannya yang besar bertumpu ringan di area bahu Cia yang tidak memar. Perlahan, Ren menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lembut dan lama tepat di bawah tulang belikat Cia, beberapa sentimeter dari area yang memar.

Sentuhan bibir hangat suaminya di kulit punggungnya yang terbuka membuat seluruh bulu roma Cia berdiri. Sengatan listrik statis menjalar langsung dari tulang belakang menuju pusat sarafnya.

"M-Mas..." panggil Cia gugup, suaranya nyaris seperti cicitan tikus. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia buru-buru menarik kausnya kembali ke bawah, menutupi punggungnya.

Ren menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang kini semerah kepiting rebus dengan tatapan penuh kepuasan. Ujung bibir sang Mayor melengkung samar.

"Salepnya butuh waktu lima menit untuk bekerja. Berbaringlah. Saya akan memasak sesuatu untuk makan siang," ucap Ren santai, seolah ia tidak baru saja menjatuhkan bom kardiovaskular pada istrinya. Pria itu berdiri dan melangkah menuju dapur kecil dengan tenang.

Cia menatap punggung suaminya dengan mulut setengah terbuka. Sejak kapan Kanebo Kering ini berubah fungsi jadi Casanova berkedok Mayor?! batinnya menjerit panik sambil memegangi dadanya.

Siang itu, menu makan siang mereka sangat sederhana. Sup telur dan kornet sapi kalengan yang dimasak dengan bawang putih—bumbu instan yang tersedia di logistik dapur transit.

Meski sederhana, Cia memakannya dengan sangat lahap. Mungkin karena racikan bumbu Ren yang pas, atau mungkin karena fakta bahwa makanan itu dibuat oleh suaminya di ujung timur Indonesia, ribuan kilometer jauhnya dari rumah mereka.

Selesai makan, Ren tidak membiarkan Cia menyentuh piring kotor. Pria itu membereskannya sendiri, mencucinya, lalu kembali ke ruang tamu.

Cia sedang duduk menyandar dengan bantal tambahan di punggungnya, membaca laporan kasus medis dari tabletnya. Melihat Ren datang, ia meletakkan tabletnya.

"Mas Ren, kamu kan komandan satgas. Terus kok kamu malah santai-santai di sini? Pasukanmu di luar gimana pengamanannya?" tanya Cia heran. Seingatnya, saat operasi militer, komandan selalu berada di posko utama nyaris 24 jam.

Ren duduk di sebelah Cia, membuka dokumen rekap logistik dari map hijaunya. "Fase tanggap darurat utama sudah di-handle oleh Letnan Kolonel dari Korem setempat. Satgas saya hanya bertugas sebagai perbantuan pengamanan jalur logistik darat dan pemulihan infrastruktur. Saya sudah membagi tugas pada para komandan peleton."

Pria itu menoleh menatap Cia. "Dan saya sudah melaporkan pada Jenderal Arman bahwa saya menempatkan posko komando cadangan saya di rumah transit ini, demi menjaga dokter internsip yang ceroboh."

Cia memutar bola matanya, meski hatinya berbunga-bunga. "Papa pasti ketawa dengar laporannya."

"Beliau hanya bilang, 'Pastikan istrimu hidup, Mayor. Karena kalau terjadi apa-apa padanya, saya yang akan mencabut pangkatmu.'" Ren mengutip ucapan ayahnya dengan nada datar, membuat Cia terkekeh pelan.

Tawa Cia terhenti sejenak. Matanya menatap wajah Ren dengan saksama.

Banyak hal yang telah berubah dalam setahun terakhir. Pria dingin yang dulu menganggap pernikahan sekadar tugas negara, kini rela melintasi lautan dan badai hanya untuk mengoleskan salep di punggungnya. Jarak yang dulu sangat Cia takuti, ternyata tidak pernah benar-benar memisahkan mereka.

"Mas," panggil Cia lembut.

"Hm."

"Waktu aku terima surat internsip ke Merauke, aku pikir ini bakal jadi akhir yang menyiksa buat kita. Aku takut jarak bakal balikin tembok dinginmu yang dulu," ungkap Cia jujur. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Ren. "Tapi sekarang... aku rasa di mana pun kita berada, asalkan langitnya sama, rasanya kayak aku nggak pernah pergi dari rumah dinas nomor 08."

Gerakan pena Ren yang sedang menandatangani dokumen terhenti. Pria itu menutup mapnya, lalu melingkarkan lengannya di bahu Cia, merengkuh gadis itu dengan penuh kehangatan.

"Rumah bukan masalah lokasi atau bangunan fisik, Almeera," bisik Ren, suaranya mengalun tenang menyapu telinga Cia. "Rumah adalah di mana kamu tahu, tidak peduli seburuk apa pun dunia di luar sana menghantammu, ada seseorang yang akan selalu memastikan kamu memiliki tempat untuk kembali dan menyembuhkan lukamu."

Ren mengecup puncak kepala istrinya. "Dan bagi saya, selama saya bisa memastikan kalung di lehermu itu masih berdetak selaras dengan jantungmu, saya sudah berada di rumah."

Siang itu, hujan kembali turun mengguyur tanah Papua. Suara gemuruhnya terdengar menderu dari atap seng rumah transit perwira. Namun di dalam sana, tidak ada lagi rasa dingin, ketakutan, atau kecemasan.

Almeera Cia memejamkan matanya, menikmati aroma suaminya, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam damai. Bulan ketujuh masa internsip-nya tidak lagi terlihat seperti lorong gelap yang panjang. Bersama Mayor Ren Adhyaksa di sisinya selama sebulan ke depan, Cia tahu, ini hanyalah sekadar perpanjangan dari bulan madu mereka yang tertunda... dengan gaya khas militer yang tak terduga.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!