**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Aku Lebih Ganteng
Kamera yang belum benar-benar dimatikan kembali bergerak ke arah mereka.
Keira bisa melihat lampu kecil di sisi kamera masih menyala. Ia juga bisa melihat wajah-wajah di tribune menunggu, sebagian penasaran, sebagian sudah siap menghakimi.
Varian berdiri di tepi lapangan dengan ekspresi prihatin yang terlalu rapi.
"Ikut aku dulu," ulangnya, suara dibuat lembut. "Kamu tidak perlu berdiri di tengah kekacauan seperti ini."
Keira menatapnya.
Dulu, suara seperti itu pernah membuatnya berhenti. Dulu, ia akan bertanya pada dirinya sendiri apakah Varian benar-benar sedang menolong, apakah ia terlalu keras kepala, apakah ia pantas memilih orang yang semua orang anggap berbahaya.
Sekarang ia hanya melihat seorang laki-laki yang selalu datang setelah luka terbuka, membawa perban di satu tangan dan pisau di tangan lain.
"Aku tidak ikut kamu," kata Keira.
Bisik-bisik di tribune berhenti sejenak.
Varian berkedip, seolah jawaban itu tidak termasuk dalam naskah yang ia siapkan.
"Keira, dengarkan aku. Aku tahu kamu sedang emosional. Rayhan sedang diperiksa karena stimulan. Kondisi medisnya juga sudah tersebar. Kamu bisa ikut terseret kalau terus membela dia."
"Yang menyeret namanya ke pengeras suara tanpa hasil lab bukan aku."
Wajah Varian menegang sedikit.
Keira maju setengah langkah. Rayhan masih berdiri di belakangnya, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan Keira, tidak menarik, hanya siap menangkap kalau ia goyah.
"Kalau kamu benar-benar peduli," lanjut Keira, "kamu akan meminta panitia menjalankan prosedur dengan benar. Kamu akan menghentikan kamera. Kamu tidak akan memakai kata 'bermasalah' untuk laki-laki yang sedang difitnah di depan banyak orang."
Varian menatap Rayhan sekilas. "Kamu tidak tahu semua hal tentang dia."
"Aku tahu cukup."
"Dia bisa meledak kapan saja."
"Dia tidak meledak saat semua orang menuduhnya." Suara Keira semakin dingin. "Kamu yang datang membawa korek."
Beberapa orang di sekitar lapangan mulai saling pandang.
Senyum Varian retak.
"Kamu membela dia karena dia kaya?"
Pertanyaan itu jatuh kotor di tengah lapangan.
Daisy mengangkat alis. Arya mengumpat pelan. Tina di tribune langsung berdiri, tetapi Sania menahannya sambil tetap merekam.
Keira justru tersenyum kecil.
"Kalau aku mau memilih karena uang, aku tidak akan pernah memilih kamu juga, Varian."
Ada suara tertahan dari penonton.
Varian seperti tertampar. "Maksudmu apa?"
"Aku sudah pernah salah menilaimu," kata Keira. "Aku tidak akan mengulanginya hanya karena kamu berdiri di depan kamera dan pura-pura jadi penyelamat."
Varian merapatkan rahang. "Pura-pura?"
"Iya."
Kata itu sederhana, tetapi keras.
Rayhan akhirnya bergerak.
Ia melangkah dari belakang Keira, berdiri di sisinya. Bukan di depan, bukan mendorongnya mundur. Hanya berdiri sejajar, cukup dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
"Varian," ucap Rayhan ringan. "Kalau mau merebut pacarku, pilih waktu yang lebih elegan. Jangan saat kau sedang memakai skandal murahan."
Varian tertawa pendek. "Kau masih bisa sombong? Semua orang baru saja mendengar kau dicurigai memakai stimulan."
"Duduga," koreksi Rayhan. "Belum terbukti."
"Publik tidak peduli bedanya."
"Kau peduli sekali pada publik sejak kapan?"
Varian mendekat satu langkah. Petugas keamanan mulai gelisah, tetapi Daisy mengangkat tangan, memberi tanda agar mereka tidak bergerak dulu.
"Keira pantas mendapat orang yang lebih stabil," kata Varian. "Orang yang tidak membawa masalah ke hidupnya."
Rayhan menoleh pada Keira. "Kamu dengar? Dia sedang melamar pekerjaan sebagai pacar cadangan."
Keira hampir tersedak, padahal situasi masih panas.
Varian wajahnya menggelap. "Jangan bercanda."
"Aku serius." Rayhan memasukkan satu tangan ke saku celana trainingnya. "Tapi lamaranmu lemah."
"Rayhan."
"Aku lebih ganteng, lebih tinggi, lebih kaya."
GOR sunyi setengah detik.
Lalu Arya tertawa paling keras.
Darren membungkuk sampai memegangi perut. Sania menjerit tertahan, Tina menutup mulut dengan kedua tangan, dan beberapa pemain lawan yang tadi kaku pun gagal menahan senyum.
Rayhan melanjutkan dengan wajah tanpa dosa, "Aku juga pacarnya. Jadi dari semua aspek, kau kalah."
Varian mengepalkan tangan.
Keira menunduk sebentar, bukan karena malu, tetapi karena kalau ia menatap Rayhan terlalu lama, ia akan tertawa di tengah krisis.
Laki-laki ini benar-benar bisa menghancurkan suasana tegang hanya dengan menjadi dirinya sendiri.
Varian menggertakkan gigi. "Kamu pikir uang dan wajah bisa menutupi skandal doping?"
"Tidak," jawab Rayhan. "Karena aku tidak perlu menutupi sesuatu yang tidak kulakukan."
Daisy maju membawa ponsel. "Panitia senior sudah setuju membuat berita acara. Tes dilakukan sesuai prosedur, tertutup, disaksikan dokter tim dan perwakilan kompetisi. Semua pengumuman sebelum hasil lab akan dicatat sebagai pelanggaran prosedur."
Panitia senior yang berdiri tidak jauh mengangguk kaku. "Kami akan menindaklanjuti."
"Bagus," kata Rayhan. "Ambil sampel sekarang kalau perlu. Aku tidak lari."
Keira menoleh cepat. "Ray..."
Rayhan menunduk sedikit ke arahnya. Suaranya turun, hanya untuk Keira. "Aku tidak minum obat itu."
Jantung Keira seperti berhenti.
Obat itu.
Jadi ada sesuatu.
Ia ingin bertanya, tetapi Rayhan menatapnya dengan tenang, seolah meminta kepercayaan beberapa menit lagi. Keira menelan rasa takutnya dan mengangguk kecil.
"Aku percaya."
Dua kata itu membuat wajah Rayhan melembut.
Varian melihatnya. Melihat anggukan kecil Keira, melihat cara Rayhan tidak perlu berteriak untuk mendapat kepercayaan yang ia kejar bertahun-tahun.
"Kamu akan menyesal," kata Varian pada Keira.
Keira menoleh padanya. "Aku sudah pernah menyesal karena percaya padamu. Itu cukup sekali."
Kalimat itu membuat ruangan kembali diam.
Varian seperti kehilangan warna di wajahnya.
Di layar ponsel beberapa penonton, komentar siaran langsung mulai bergerak cepat.
Pacarnya berani banget.
Belum ada hasil lab kok sudah diumumkan?
Rayhan sombong parah tapi lucu.
Varian siapa? Kenapa ikut campur?
Keira melihat sekilas, lalu memalingkan wajah. Ia tidak butuh komentar orang untuk tahu posisi dirinya.
Ia menggenggam tangan Rayhan.
Kali ini di depan semua orang.
Rayhan menatap tangan mereka yang saling mengunci, lalu tersenyum tipis.
"Coach," panggilnya.
Pelatih yang sejak tadi menahan emosi mengangkat dagu. "Apa?"
"Set ketiga belum selesai."
Panitia senior terkejut. "Dengan situasi seperti ini, pertandingan bisa ditunda."
Rayhan menatap papan skor, lalu lawan di seberang net. "Kalau mereka tidak keberatan, lanjutkan. Setelah menang, aku ikut tes."
Kapten tim lawan menatap Rayhan beberapa detik. Lalu ia mengangguk. "Kami mau menang dari permainan, bukan gosip."
Sorak kecil muncul dari tribune.
Varian berdiri kaku di tepi lapangan, seolah seluruh panggung yang ia siapkan perlahan diambil alih oleh orang yang ingin ia jatuhkan.
Set ketiga dilanjutkan.
Rayhan bermain lebih dingin dari sebelumnya.
Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada provokasi. Setiap servisnya masuk. Setiap bloknya bersih. Setiap spike seperti palu yang memukul ulang satu kalimat di kepala semua orang.
Aku tidak lari.
Skor berakhir 25-12.
GOR meledak.
Keira berdiri di tribune, kedua tangannya gemetar karena lega. Rayhan tidak berlari ke arahnya. Ia mengikuti petugas menuju ruang pemeriksaan, sesuai prosedur yang baru saja dipaksa kembali ke jalurnya.
Sebelum masuk koridor, ia menoleh.
Keira mengangkat tangan mereka yang tadi sempat bergenggaman, seolah mengirim ulang kata yang sama tanpa suara.
Aku percaya.
Rayhan tersenyum.
Di luar GOR, Ricky menunggu dekat mobil hitam dengan ponsel di tangan. Begitu Rayhan keluar dari ruang pemeriksaan awal, Ricky mendekat dan berbisik cepat.
"Bos, video pengumuman sudah viral. Pak Hendrick meminta rapat dewan darurat malam ini. Agenda tidak tertulis, tapi sumber saya bilang mereka akan membahas pencabutan kewenangan Anda di Kurnia Group karena risiko reputasi."
Rayhan mengeringkan rambut dengan handuk bersih. Wajahnya tidak berubah.
"Akhirnya."
Ricky terdiam.
Rayhan menatap pintu GOR yang masih penuh suara penonton, lalu memasukkan handuk ke tasnya.
"Beri tahu Mama. Kalau Hendrick mau memakai panggung, kita kasih panggung yang lebih besar."