NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Rencana Busuk Turi

“Itu suara Juragan Herwanto,” bisik Melati khawatir. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi pelipis, mendengar suara lintah darat yang paling ia takuti.

Satya dengan sigap menggeser posisi tubuhnya, berdiri pasang badan sebagai tameng kokoh di depan Melati untuk menghalangi pandangan lapar sang juragan.

“Kalian mau menikah ya? Selamat.”

Ternyata hal buruk yang ada dalam pikiran Satya tidak terjadi. “Kamu mau apa?” tanyanya, waspada. “Sengaja mengikuti kami ya?" tebaknya, sambil menatap tajam pria gempal di hadapannya. Sementara tangan kanannya tetap menggenggam jemari Melati dengan protektif.

“Hahaha.” Herwanto tergelak. “Siapa yang sengaja mau ngikuti kalian?” Ia menoleh ke para anak buahnya yang berbadan besar.

"Aku datang, buat transaksi bisnis. Menjual emas, orang yang nggak bisa bayar utang.”

“Oh begitu.” Satya berusaha tenang. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan amarahnya demi keselamatan Melati. “Baiklah. Kami permisi.” Ia bersiap beranjak, merangkul pinggang Melati untuk menuntunnya menjauh.

“Tunggu!”

Deg. Jantung Melati berdegup tak karuan saat sang juragan menahan langkahnya dan Satya. Langkah kaki besar Herwanto sengaja mengadang tepat di depan mereka, memicu ketegangan drama di dalam ruko emas tersebut.

“Apa lagi?” Satya mencebik.

“Aku ingin minta bantuan sama gadis buta itu!” Herwanto menunjuk Melati dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan.

“Bantuan apa?” Satya mengetatkan dekapannya pada Melati, meraba punggung gadis itu yang masih menggigil ketakutan.

“Bantu aku ... supaya Mawar mau menikah denganku. Imbalannya, kalau berhasil … aku yang akan menanggung pesta kalian. Bagaimana?” Herwanto menawarkan intrik busuknya dengan senyuman licik.

‘Mawar? Jadi sekarang Juragan jahat itu menargetkan Mawar?’ batin Melati bertanya kaget. Rasa takutnya sedikit teralihkan oleh rasa terkejut mendengarkan nasib sepupunya yang impulsif itu.

“Bagaimana?” ulang Herwanto, “aku akan berhenti mengganggu kalian. Kalau Mawar mau menikah sama aku. Hahahaha.”

“K-kenapa Juragan mau menikah sama Mawar?” Melati bertanya gugup. Ia memberanikan diri bersuara dari balik punggung Satya, meski suaranya bergetar.

“Karena rasanya enak, hahaha. Aku sudah mencicipi gadis itu. Karena nagih, aku mau lanjut ke tingkat yang lebih serius.”

Melati tersentak. Terkejut saat mendengar celetukan tak sopan sang juragan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, merasa mual sekaligus ngeri membayangkan penderitaan Mawar.

“Kami akan pikirkan,” putus Satya, tak mau berurusan lama dengan lintah darat yang moralnya sudah bejad. “Sekarang izinkan kami lewat.” Ia menatap lurus mata Herwanto dengan kilat mengancam, siap beradu fisik jika pria itu berani menyentuh Melati.

“Baik. Tapi tinggalkan nomor yang bisa dihubungi. Baru kalian boleh pergi.” Herwanto menyodorkan gawai miliknya dengan angkuh.

Tak memiliki pilihan. Satya memberi nomor teleponnya dengan cepat ke layar gawai tersebut demi menyudahi drama mencekam.

Setelahnya ia melangkah cepat, sambil menggandeng Melati. Pergi. Bergegas menembus pintu kaca, meninggalkan tawa kemenangan Herwanto yang menggema licik di dalam toko emas tersebut.

---

Mawar melihat Bagas yang limbung di pantry. Ia memastikan keadaan sekitar dengan pandangan waspada. Setelah dirasa aman. Ia mulai mendekat, menyusun cara di dalam kepala. Demi menjalankan siasat busuk dari ibunya.

“Pak Bagas,” sapanya ramah. “Sepertinya Pak Bagas kurang sehat?” Mawar meremas ujung blusnya, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyerang saat berhadapan dengan pria impiannya.

Bagas menoleh. Tersenyum kecil. Wajah tampannya tampak lelah, meski sorot matanya tetap memancarkan sikap hangat bersahabat. “Ah, tidak apa-apa. Saya hanya sedikit pusing.”

“Pak?” ulang Mawar, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. “Jangan menyimpan masalah sendiri. Itu tidak baik.”

“Aku tahu.” Bagas menghela napas panjang. Ia bersandar pada meja, memijat pelipisnya perlahan. “Hanya saja aku bingung mau cerita ke siapa? Beban di kepala rasanya terlalu penuh.”

“Ceritakan saja. Saya siap mendengar.” Mawar tersenyum, menyembunyikan niat jahat di balik raut wajahnya yang dibuat sepeduli mungkin. Jantungnya berdegup kencang, takut rencananya terendus.

“Aku bukan orang yang mudah bercerita. Apalagi dengan … orang baru.” Bagas menatap Mawar lembut, suaranya yang bersahabat membuat pertahanan Mawar perlahan goyah oleh romansa semu.

“Kalau begitu … anggaplah saya orang lama. Supaya Bapak bisa mengeluarkan uneg-uneg. Agar tidak jadi penyakit.” Mawar sedikit merapatkan tubuh, jemarinya yang gemetar pura-pura merapikan letak sendok di dekat cangkir Bagas.

Bagas terkekeh getir. Melirik ke Mawar. “Kamu ini orang yang nggak gampang menyerah, ya,” tuturnya dengan nada bercanda yang bersahabat. “Kamu sendiri kemarin terlihat pucat. Apa kamu sudah periksa ke dokter?”

“Periksa ke dokter?” Mawar nyengir kecil. “Daripada buat ke dokter … mending uangnya buat senang-senang. Menghilangkan penat.”

“Senang-senang ya?” Bagas menaikkan sebelah alisnya, tertarik dengan kepolosan impulsif Mawar.

“Ya. Ke klub, menari. Bahkan kalau beruntung Bapak mungkin bisa ketemu jodoh.” Mawar mengedipkan mata, mencoba menggoda. Meski keringat dingin mulai membasahi punggung akibat gugup yang luar biasa.

Bagas tersenyum simpul. “Aku sudah lama melupakan soal itu. Apalagi orang-tuaku tidak mendesak untuk menikah.”

“Sepertinya Pak Heru orang yang santai ya. Tidak seperti Ibu, yang selalu mendesak saya untuk menikah.” Mawar memancing, membawa drama keluarganya ke dalam obrolan mereka.

“Mungkin karena aku laki-laki dan kamu perempuan.” Bagas memutar cangkirnya. “Apa kamu tidak punya pacar?”

“Jangankan pacar, Pak. Teman laki-laki saja saya tidak punya.” Mawar sengaja memancing. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak rasa. “Kalau teman wanita banyak. Apa … Bapak mau saya kenalkan salah satunya?”

“Kenapa tidak dengan kamu saja?” Bagas mencoba menggoda. Tanpa tahu jantung Mawar berdetak tak karuan.

“Ah mana mungkin.” Mawar mengibaskan tangan. Menutup rasa gugup yang semakin menyiksa batin. Wajahnya merona merah, ia mundur selangkah sambil membuang muka. “Saya hanya customer service di sini. Kita beda kasta, Pak.”

“Ah, kasta. Apa itu? Bagiku sama saja.” Bagas mengibaskan tangan, menepis batasan sosial itu dengan sikapnya yang teramat membumi.

“Benarkah?” Mata Mawar berbinar. Penuh harap. Tak menyangka kalau semudah ini mendekati sang pujaan. 'Tahu begini dari dulu saja aku dekati dulu,' pikirnya, menyesal..

“Ya.” Bagas mengangguk.

“Bagaimana kalau kita berteman?” Mawar memberanikan diri menatap lurus mata Bagas, menanti kepastian.

“Boleh saja.” Bagas bangkit dari kursi. Menepuk pundak Mawar dengan ramah. “Sepertinya idemu boleh juga. Jam pulang kantor, aku ikut. Kita akan bersenang-senang di klub.”

Mawar terhenyak. Tak percaya. Kalau rencana ibunya, berjalan dengan keinginan targetnya sendiri. Ia diam terpaku di sudut pantry sambil meremas kedua tangannya yang basah oleh keringat.

Menatap punggung Bagas yang melangkah keluar ruangan. Ia tersenyum penuh kemenangan. Menyadari bahwa jerat perangkap asmara gelapnya kini telah berhasil mengunci sang buruan.

---

Suara dentuman musik menggelegar. Bagas terdiam sesaat. Melihat pemandangan di depannya. Mengingatkanya ke kenangan di klub, tiga tahun lalu. Bersama sang mantan.

Itu adalah kenangan terakhirnya, dengan sang kekasih. Sebab sepulang dari klub, sang mantan meninggal karena overdosis. Sejak saat itu ia tak lagi menginjakkan kaki ke klub malam, hingga intrik takdir malam ini membawanya kembali ke bawah lampu disko yang remang-remang.

“Pak?” Mawar menarik lengan Bagas. “Jangan tegang.” Ia tersenyum, lalu tanpa sungkan menarik Bagas menuju ruang lebih dalam.

Jemari Mawar terasa dingin, dilingkupi kegugupan yang luar biasa dalam menjalankan niat terselubungnya.

“Aku hanya ingat kenangan buruk,” cicit Bagas. Tatapannya menerawang membelah kepulan asap rokok di ruangan itu.

"Apa?!" Suara musik yang keras membuat Mawar hampir berteriak karena tidak mendengar. Ia memajukan wajahnya, mencoba membaca gerak bibir pria di sampingnya.

“Lupakan saja. Kenangan buruk tak perlu diingat.” Bagas mengibaskan tangan. Ia dan Mawar berjalan beriringan. Menuju bar. “Kamu mau pesan minum apa?”

“Eh, saya … air putih saja,” jawab Mawar gugup. “Bapak minum ….”

“Sebotol vodka!” Bagas mengabaikan Mawar dan memesan minuman keras ke bartender. Pria itu langsung menyambar botol yang disodorkan, lalu menenggaknya dengan cepat.

Satu tenggakan besar, dua tenggakan, hingga setengah botol amblas seketika.

Mawar menelan ludah. Tubuhnya gemetar melihat Bagas yang justru tampak biasa saja setelah meneguk alkohol berkadar tinggi itu tanpa berkedip. Ini di luar rencananya.

"Bagaimana ini?’ batinnya panik. ‘Obat tidur yang kubawa … tidak bisa larut ke minuman keras. Bagaimana aku bisa menjebaknya? Kecuali kalau dia mabuk.’

Mawar memeras otaknya, dilingkupi kebingungan. Saat melihat ketahanan minum Bagas yang begitu kuat.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!