Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan Perasaan
"Entahlah Rio." ucap Jinsin diam melihat Rio. Malam hari, Rio duduk di halaman depan rumah. Dia menikmati api unggun sendirian duduk di rumput. Jinsin berdiri di depan pintu melihat Rio duduk sendirian.
"Rio, kau sendirian. Aku temani ya?" ucap Jinsin duduk di sebelahnya.
"Iya. Kau tidak pakai baju hangat?" tanya Rio melihatnya.
"Tidak." ucap Jinsin melihat Rio.
"Rio selama ini aku telah lama mengikuti kamu sejak pertemuan kita di sebuah kedai. Kamu ingat?" tanya Jinsin menceritakan kepada Rio dengan suara pelan.
"Iya, aku ingat?" jawab Rio melihat Jinsin dengan senyuman. Lalu Jinsin menggeser tubuhnya mendekati Rio. Dia memegang telapak tangan kanan yang di sentuhnya di tanah.
"Aku menyukai kamu, Rio." ucap Jinsin menatap mata Rio tanpa berkedip.
"Jinsin, kau menyukai ku?" ucap Rio menatap mata Jinsin tanpa berkedip.
"Benar, apa aku salah?" tanya Jinsin melepas sentuhan tangan Jinsin dan berbalik badan membelakangi Rio.
"Tidak, kau tidak salah?" ucap Rio memegang tangan Jinsin dan tubuhnya menggeser kembali ke arah Rio.
"Jinsin, aku juga menyukai kamu. Maaf karena aku sering malu saat melihat kamu pada momen tertentu itu." ucap Rio melihat Jinsin dengan memegang tangan kanan tanpa berkedip. Jinsin menunduk malu mendengar ucapan Rio sambil menutup mulutnya dan tertawa kecil dengan tangan kirinya.
"Apa momen yang buat Kamu malu, Rio?" tanya Jinsin.
"Banyak sekali, tapi saat kau tampil cantik dan beda saat melihat kamu." ucap Rio. Lalu api unggun mendadak mengecil apinya. Rio hendak melepas tangan Jinsin untuk menambah kayu api.
"Jangan di lepas, biarkan saja." ucap Jinsin menatap wajah Rio.
Rio diam menuruti perkataan Jinsin, dia menatap matanya tanpa berkedip. Perlahan api unggun itu mati dan keadaan sekitar halaman rumah menjadi gelap dan hanya di terangi sinar bulan. Lalu wajah Jinsin mendekati ke wajah Rio dengan mata tanpa berkedip. Rio tetap diam dan tidak bergerak melihat mata Jinsin hanya napas.
Rio mengecup pipi kanan Jinsin dengan perasaan dan suka. Tangan kanan Rio terus memegang tangan Jinsin. Jinsin melepas kecupan Rio dengan menarik wajahnya menjauh melihat Rio dengan senyuman dan tatapan bahagia.
"Rio." ucap Jinsin bangkit dari duduknya menuju ke dalam rumah.
Rio hanya diam melihat Jinsin sambil duduk dengan wajah senyuman. Perasaan Rio sangat bahagia sekali sambil memegang dadanya yang berdebar. Rio bangkit dan menyusun kayu bakar dan menghidupkan api unggun yang mati dengan duduk sendirian. Saat api sudah menyala kembali, Rio duduk melihat api unggun sambil mengerek kayu itu agar dapat merata terbakarnya. Lalu Jinsin kembali lagi dan hendak duduk bersama Rio di sebelahnya.
"Kamu kenapa masuk ke dalam Jinsin?" tanya Rio melihatnya.
"Buang air." ucap Jinsin tersenyum malu melihat Rio.
Rio tersenyum melihat Jinsin dengan tatapan mata yang mencipit karena lucu dengan jawaban Jinsin.
"Kenapa kamu tertawa begitu. Ada yang lucu?" tanya Jinsin wajahnya mulai berubah.
"Tidak kok." ucap Rio menyembunyikan pemikirannya dari Jinsin.
"Rio, kau tetap menjadi orang yang tampan untuk ku." ucap Jinsin memuji tersenyum.
"Jinsin." ucap Rio melihat wajah Jinsin dengan raut wajah sedih.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, Rio?" tanya Jinsin dengan raut wajah bingung.
"Tidak apa-apa Jinsin." ucap Rio.
Lalu Rio menggeser duduknya ke dekat Jinsin. Lalu memegang tangan kanan, melihat wajahnya dengan senyuman. Lalu Jinsin menidurkan kepalanya ke pundak Rio memakai pakaian tidur dan rambut panjang di ikat ke belakang.
Rio lengan Jinsin dengan perlahan, Dia diam menikmati lengannya dengan pakaian pendek tanpa merasa geli atau risih. Rio begitu menikmati momen itu bersama Jinsin dengan perasaan yang tenang dan terdengar suara api unggun yang terbakar.
"Kau masih mengingat aku saat sedang kau intip, Rio." tanya Jinsin dengan nada santai. Rio melepas elusan dan sandaran kepala Jinsin dan berwajah takut melihat Jinsin. Lalu dia tertawa melihat Rio, karena reaksi hendak di pukul oleh ku lagi.
"Hah, Jinsin jangan pukul aku atau lempar aku ke api unggun itu lagi. Jinsin tolong." ucap Rio panik.
"Tenang Rio, santai saja. Kau tidak akan ku pukul seperti waktu itu. Lagi pula aku hanya bertanya kepada kamu." ucap Jinsin tertawa melihat Rio panik dan menyuruhnya untuk duduk kembali ke posisi tadi.
"Begitu ya. Kau yakin dengan pertanyaan kamu itu?" tanya Rio masih duduk menjauh melihat Jinsin dengan wajah panik. Rio dan Jinsin kembali lagi ke posisi semula dengan saling berdekatan. Lalu Rio hendak menjawab pertanyaan Jinsin tadi soal hal tersebut.
"Kalau soal itu, memang selalu aku ingat momen itu." ucap Rio.
"Kenapa kamu ingat itu sebagai momen yang penting, Rio?" tanya Jinsin.
"Karena itu terjadi secara kebetulan, jadi yang ku ingat saja Jinsin." ucap Rio. Lalu Rio terus menjawab pertanyaan Jinsin sambil mengelus lengan kanan dengan sangat halus dan perlahan.
"Kau tetap menjadi pria yang kuat, Rio." ucap Jinsin memujinya.
"Kau juga menjadi wanita cantik, Jinsin." ucap Rio melihatnya.
"Oh. Rio kau sangat romantis sekali." ucap Jinsin melihat dengan tatapan suka. Lalu Rio memeluk Jinsin saat sedang di sandarkan. Jinsin juga terlihat senang dan ketawa kecil saat Rio bertindak baik terhadap dirinya.
"Kau sudah mengantuk, Jinsin." tanya Rio.
"Belum. Kau mau tidur, Rio?" tanya Jinsin.
"Iya. Yuk." ucap Rio melepas pelukan Jinsin dari samping.
Lalu mereka berdua bangkit bersama dan mematikan api unggun dengan pasir. Yang sudah di sediakan di ember oleh Rio. Lalu dia pergi ke dalam rumah. Walaupun begitu Rio dan Jinsin tetap tidur secara terpisah kamar. Jinsin masuk ke dalam kamar, dan Rio mengunci semua pintu luar rumah. Lalu dia hendak ke dapur untuk minum lalu dia berjalan ke dalam kamar tidur tidak terlalu luas untuk tidur.
Rio menatap langit kamar, mengingat momen itu kepada Jinsin sambil tersenyum sendiri tanpa bersuara. Lalu Jinsin juga tidur dan mengingat perasaan dirinya saat sedang di kecup. Dia merasa bahagia sambil mengelus pipi kanannya dengan tersenyum, berbaring miring ke kanan.
"Dia mengungkapkan perasaan suka kepada ku. Itu sangat romantis. Aku suka dengan momen dan dia bersuara kepada ku." ucap Rio bersuara kecil menatap langit kamar sambil membayangkan wajah Jinsin yang cantik itu. Lalu Rio hendak berbaring ke kiri menghadap dinding dan menutup matanya untuk tidur.
Matahari telah terbit, Rio bangkit melihat jendela dengan sinar masuk ke kamarnya. Lalu Rio membuka pintu kamar melihat sekeliling ruangan sudah bersih. Di meja sudah di sediakan sarapan pagi yang masih hangat. Jinsin menuju pintu samping dan melihat Jinsin dari jendela sedang mencuci baju seperti biasa.
Lalu Rio mencuci muka di wastafel dapur. Lalu dia hendak duduk di meja untuk menikmati sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh Jinsin.