Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
"Aku nggak mau, Oma. Malas. Oma aja yang temuin mereka, aku mau lanjut baca buku."
"Kenapa toh? Kalau Oma sih udah bosan ketemu Adit, barusan juga di bawah udah ketemu," canda Oma Karin, masih berusaha membujuk.
"Aku nggak mau aja, pokoknya nggak mau! Suruh aja mereka pulang sekarang, jangan paksa aku, Oma!" sentak Linzy yang mulai merasa tidak nyaman dan terintimidasi dengan pembahasan dunia luar.
Oma Karin menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia tahu betul jika keras kepala Linzy sudah kumat, dilawan menggunakan buldoser pun tidak akan goyah.
"Ya sudah, Oma tidak akan memaksa kamu lagi hari ini. Oma turun dulu ke bawah ya, jaga kesehatan kamu."
****
Sementara itu, dua puluh menit berlalu dengan sangat lambat di ruang tamu bawah. Keheningan melanda Adit dan Rahsya yang mulai bosan karena tidak ada camilan.
"Si Reno kok lama banget ya? Udah hampir setengah jam. Apa jangan-jangan dia kesasar di dalam toilet? Atau pingsan karena keracunan cabe?" gumam Rahsya mulai cemas, melirik jam dinding berlapis emas di ruang tamu.
"Gue juga nggak tahu. Nggak beres nih anak. Kalau gitu gue susulin dia dulu deh, takutnya dia beneran pingsan terus hanyut di toilet," ujar Adit yang mulai ikut khawatir. Ia bangkit berdiri dan melangkah menuju area belakang mansion demi menyusul Reno.
Saat Adit baru saja menghilang di balik sekat lorong untuk mencari Reno, Oma Karin kembali ke ruang tamu menggunakan lift dan menemui Rahsya yang duduk sendirian.
"Lho, kok sekarang malah Nak Rahsya yang sendirian? Adit sama si Reno ke mana lagi ini?" tanya Oma Karin heran, merasa ruang tamunya seperti Segitiga Bermuda yang hobi menghilangkan orang.
"Adit pergi menyusul Reno, Oma. Soalnya si Reno belum balik-balik juga dari kamar mandi sejak tadi. Takutnya mulesnya stadium akhir," jelas Rahsya sopan.
Di belahan lorong yang lain, Adit berjalan menyusuri lorong panjang yang menuju ke arah ruang makan utama. Ia sudah mengecek kamar mandi tamu yang ada di dekat ruang tamu, namun hasilnya nihil, pintunya terbuka dan kosong melompong.
"Apa mungkin si Reno pakai kamar mandi yang ada di dekat dapur dan ruang makan belakang kali ya? Dasar menyusahkan," pikir Adit sambil mempercepat langkah kakinya.
Namun, langkah kaki Adit mendadak terkunci mati saat matanya menangkap sebuah pemandangan indah di atas meja makan kayu jati yang luas. Di sana, tergeletak sebuah piring porselen kecil dengan satu buah ubi rebus yang tampak masih hangat, montok, dan mengepulkan aroma manis yang sangat menggoda iman kelaparan Adit.
Ubi itu adalah ubi yang ditaruh oleh Bi Susi yang lupa diantarkan ke kamar Linzy karena terdistraksi kedatangan mereka tadi.
"Kebetulan banget, perut gue emang agak keroncongan dari pagi belum sempat sarapan karena buru-buru. Ini ubi punya siapa ya? Ah, paling punya Oma buat camilan pagi. Gue makan dikit gapapa kali ya, nggak bakal bikin Oma miskin ini," gumam Adit pelan dengan mata berbinar-binar penuh dosa kelaparan.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Adit menjumput ubi rebus hangat itu menggunakan jari-jarinya, lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan lahap.
Enak banget, manisnya beda dari ubi biasa, batin Adit tanpa menyadari bahwa ubi yang baru saja ia habiskan adalah ubi magis milik Linzy yang mengandung efek samping "Kentut Mawar" dan transformasi visual tingkat dewa.
Adit sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam bilik kamar mandi yang hanya berjarak lima meter dari tempatnya berdiri, Reno sedang berjuang di antara hidup dan mati.
Pemuda playboy perlente yang biasanya tampil wangi dan necis itu, kini sedang terduduk lemas tak berdaya di atas closet duduk putih. Ia sedang menderita bencana mencret yang luar biasa parah dan brutal murni akibat ledakan cabai seblak kuah level seratus setara lava merapi yang ia makan tadi.
Seluruh tubuh Reno sudah basah kuyup oleh keringat dingin hingga kaos mahalnya menempel di kulit. Wajahnya yang biasa digunakan untuk merayu puluhan wanita kini pucat pasi, matanya cekung, dan lututnya bergetar hebat sampai-sampai ia tidak memiliki energi lagi hanya untuk sekadar berdiri dan meraih tisu toilet.
Perutnya terus berbunyi krucuk-krucuk-dor dengan interval setiap tiga puluh detik.
"Hwaaa... mama... ampun... gue janji nggak bakal makan seblak lagi seumur hidup..." isak Reno meratapi nasib sialnya yang malang di dalam bilik kamar mandi yang sempit. "Teman-teman gue di luar pada tega banget, nggak ada yang nyariin atau ngetuk pintu gue dari tadi. Dasar Adit sama Rahsya teman luknut, tidak setia kawan! Kalau gue mati di atas closet ini, gue bakal hantuin mereka!" rintihnya dramatis dengan suara lemas yang nyaris habis.
Tepat saat Reno sedang menangis meratapi nasib, perut Adit yang berada di ruang makan mendadak bergejolak hebat setelah menelan habis ubi tersebut. Sebuah tekanan gas berkekuatan tornado mendadak mendesak keluar dari perut bagian bawah Adit dengan kekuatan penuh, memaksa Adit untuk berpegangan pada pinggiran meja makan kayu jati karena syok.
Brotiiittt... Brossshhh...
Suara dahsyat itu menggema nyaring di ruang makan kosong, disusul dengan munculnya aroma semerbak bunga mawar perancis yang sangat wangi memenuhi ruangan. Adit melotot horor, wajahnya memerah menahan malu.
"Hah?! Suara apa itu tadi?! Kok gue kentut baunya mawar?! Dan kenapa... kenapa badan gue rasanya aneh banget?!" batin Adit panik saat merasakan sensasi menggelitik yang menjalar cepat dari ujung kaki hingga ke wajahnya. Sesuatu yang gila sedang terjadi pada genetikanya, wajahnya mendadak terasa kencang dan bersinar.
Suara kentut mawar berdurasi tiga detik milik Adit baru saja reda di ruang makan. Adit masih memegangi perutnya yang mendadak terasa kencang seolah habis melakukan sit-up seribu kali. Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi bau estetik mawar perancis yang keluar dari tubuhnya, karena dari arah toilet dekat dapur, suara rintihan ngeri Reno kembali memecah keheningan mansion mewah tersebut.
"Hwaaa... teman-teman gue tega banget... gue ditinggal mati di sini..."
Adit yang sudah mules tingkat dewa akibat reaksi ubi magis segera melangkah kaku menuju pintu kamar mandi tempat Reno berada. Langkah kakinya rapat, menahan beban hidup di perut bagian bawah.
Tok! Tok! Tok!
"Ren, lo ada di dalam nggak? Ini gue, Adit! Buruan keluar, gantian!" seru Adit panik.
"Gue lemas banget, Dit... perut gue sakiiit... gue mencret-mencret dari tadi sampai ambeien gue mau copot. Cepat tolongin gue, Dit! Sebelum gue lemas dan berubah jadi kerupuk letoy!" sahut Reno dari dalam dengan nada merana, serak, dan putus asa.
Karena sudah tidak tahan, Adit langsung memutar kenop pintu yang ternyata untungnya tidak dikunci oleh Reno.
Cklek!
"Buset dah! Lo kenapa, Ren? Muka lo udah kayak zombi kekurangan asupan sembako!"