NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pilihan Antara Keuntungan dan Janji

Dokumen tawaran kerja sama itu tergeletak di meja, angka yang tertera di halaman depan cukup untuk membuat siapa pun tertegun. Nilai investasi mencapai ratusan miliar rupiah, dengan janji keuntungan yang berlipat ganda dalam waktu lima tahun saja. Namun, semakin dalam Aldo dan Naura membaca isinya, semakin jelas terlihat risiko yang tersembunyi di balik kata-kata yang indah.

"Lihat bagian ini," ujar Naura sambil menunjuk salah satu klausul. "Mereka berencana membuka tambang terbuka dan membangun jalur transportasi besar-besaran. Jika dilakukan seperti itu, hutan di sekitarnya akan ditebang, sumber air akan terganggu, dan pemandangan alami yang indah itu akan hilang selamanya. Tempat yang ingin kita jadikan tempat yang damai dan penuh harapan justru akan berubah menjadi kawasan industri yang bising dan tercemar."

Aldo mengangguk tegas, raut wajahnya kembali serius namun mantap. "Mereka menawarkan banyak uang, tapi mereka meminta kita menjual masa depan tempat itu dan merusak tujuan yang sudah ditetapkan orang tuamu serta Bibi Laras. Uang bisa dicari, tapi keindahan alam dan kepercayaan pada janji yang kita ucapkan tidak bisa dibeli kembali."

Beberapa hari kemudian, perwakilan perusahaan asing yang mengajukan tawaran itu datang untuk bertemu langsung. Mereka adalah sekelompok orang yang terbiasa melihat segalanya dari sisi keuntungan, dan merasa yakin bahwa tawaran mereka tidak akan ditolak.

"Selamat pagi, Tuan Aldo, Nyonya Naura," sapa pemimpin rombongan itu dengan senyum percaya diri. "Kami yakin Anda telah mempelajari rincian kerja sama ini. Ini adalah kesempatan emas yang jarang didapatkan. Tanah yang selama ini hanya tergeletak tidak terpakai akan memberikan nilai yang sangat besar bagi Anda dan keluarga."

Aldo menatap mereka dengan tenang, lalu menjawab dengan nada yang jelas dan tegas. "Terima kasih atas tawaran yang diajukan. Kami memang menghargai niat baik Anda, namun kami harus menolaknya."

Wajah perwakilan itu berubah terkejut. "Menolak? Apakah Anda yakin? Nilai yang kami tawarkan jauh di atas harga pasar. Anda bisa menggunakan uang itu untuk membangun apa saja yang Anda inginkan, bahkan proyek sosial yang Anda rencanakan pun bisa berjalan jauh lebih cepat dan besar."

"Memang benar uang itu bisa membantu," jawab Naura dengan sopan namun tegas. "Tapi lokasi tanah itu bukan sekadar aset yang bisa dijual atau diubah sesuka hati. Ia memiliki makna mendalam dan tujuan yang sudah ditetapkan jauh sebelum kita memilikinya. Kami ingin membangun tempat yang memberikan manfaat jangka panjang bagi manusia dan alam, bukan hanya mengambil keuntungan sesaat yang merusak keseimbangan semuanya."

"Kami juga telah mempelajari rencana operasional Anda," lanjut Aldo. "Metode yang akan digunakan tidak sesuai dengan standar lingkungan yang kami pegang. Kami tidak ingin menjadi bagian dari kegiatan yang merusak alam tempat kita tinggal. Prinsip ini tidak bisa ditawar."

Mendengar jawaban yang tegas itu, perwakilan itu akhirnya menyadari bahwa tidak ada jalan untuk membujuk mereka. Mereka berpamitan dengan nada yang sedikit kecewa, namun tetap menghormati keputusan yang diambil.

Setelah kepergian mereka, tim manajemen yang hadir juga menyampaikan pendapatnya. Ada yang mengakui bahwa keputusan itu tidak mudah, namun juga sepakat bahwa itu adalah langkah yang paling tepat.

"Jika kita menerima tawaran itu, mungkin kita akan mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat, tapi kita akan selalu hidup dengan rasa bersalah karena telah mengkhianati keinginan orang tua dan merusak lingkungan," ujar salah satu direktur. "Lebih baik berjalan perlahan namun sesuai dengan hati nurani."

Dengan keputusan yang sudah bulat, mereka segera mempercepat perencanaan pembangunan tempat yang diimpikan. Mereka bekerja sama dengan ahli lingkungan dan arsitek yang berpengalaman dalam membangun fasilitas yang selaras dengan alam. Tidak ada pohon yang ditebang sembarangan, tidak ada saluran air yang dialihkan, dan semua bangunan dirancang agar tetap mempertahankan keaslian lingkungan sekitarnya.

Selama proses pembangunan berlangsung, mereka juga mengajak warga desa di sekitar lokasi untuk ikut serta. Banyak warga yang awalnya khawatir akan datangnya perubahan, namun setelah melihat bagaimana cara kerja Aldo dan Naura—yang selalu mendengarkan kebutuhan mereka, memberikan pekerjaan yang layak, dan menjaga kebersihan lingkungan—mereka mulai mendukung dan bahkan ikut membantu dengan sukarela.

"Kami tidak ingin menjadi pemilik tanah yang hanya mengambil keuntungan saja," jelas Naura dalam pertemuan dengan warga. "Kami ingin kita semua hidup berdampingan, saling membantu, dan menjaga tempat ini agar tetap indah dan bermanfaat untuk anak cucu kita nanti."

Setelah hampir dua tahun pembangunan, akhirnya tempat itu selesai dibangun. Di atas lahan yang luas itu berdiri sebuah kompleks yang asri: ada sekolah dengan ruang kelas yang terang dan nyaman, panti asuhan yang hangat, tempat pelatihan keterampilan untuk remaja, serta kebun dan area pertanian yang dikelola secara alami.

Pada hari peresmian, suasana terasa sangat haru dan penuh sukacita. Banyak anak-anak yang datang dengan wajah berseri-seri, warga desa yang hadir memberikan dukungan, serta para sahabat dan rekan kerja yang telah membantu mewujudkan impian ini.

Aldo dan Naura berdiri di depan gerbang utama, melihat tulisan yang terukir indah di papan nama: "Yayasan Harapan dan Alam". Di samping mereka berdiri Arka yang kini sudah berusia enam tahun, memegang tangan kedua orang tuanya dengan bangga.

"Ini adalah warisan yang sebenarnya," ujar Aldo pelan sambil memandang sekeliling. "Bukan kekayaan yang terukur dengan angka, tapi tempat yang akan terus memberikan manfaat selama bertahun-tahun."

Naura mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia. "Ayah, Ibu, Bibi Laras... lihatlah, apa yang kalian impikan telah terwujud. Kami berjanji akan menjaga tempat ini dengan sepenuh hati."

Namun, kebahagiaan itu belum berakhir. Saat mereka sedang berbincang dengan tamu undangan, kepala tim keamanan datang menghampiri dengan wajah yang sedikit terkejut. Ia menyampaikan bahwa ada sekelompok orang yang datang dari desa terdekat, membawa cerita tentang sebuah sumber air yang selama ini tersembunyi di dalam hutan yang menjadi batas tanah yayasan itu.

Konon, air itu memiliki kandungan mineral yang sangat baik dan selama ini hanya diketahui oleh warga setempat. Mereka khawatir jika suatu saat jatuh ke tangan orang yang salah, sumber itu bisa diambil secara berlebihan hingga habis.

Mendengar kabar itu, Aldo dan Naura menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab baru. Mereka harus mengelola sumber daya alam yang ada dengan bijak, agar bisa memberikan manfaat maksimal tanpa merusak keseimbangan alam. Sebuah tugas baru yang akan menguji lagi kemampuan mereka dalam memimpin dan melindungi apa yang telah dipercayakan kepada mereka.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!