NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 3 Tentang Karang Bolong

Purwasaga sudah merasa lebih bugar, lebih bertenaga, dan lebih nyaman. Kini ia berpakaian ala-ala orang Negeri Elindra. Bajunya berbahan sutera, panjang hingga lutut dengan model leher tanpa kerah dan kancing. Celana bukan sutera, modelnya lebih gombrong dengan ujung bawah tinggi sebetis. Ada sabuk kulit yang dipasang meliliti pinggang baju.

Saat ini, Purwasaga mengenakan baju warna biru terang dan celana warna putih bersih lagi cemerlang. Badan pun sudah wangi karena pakaiannya yang diberi wewangian.

“Kau mau ikut atau melamun di sini sepanjang hari, Purwasaga?” tanya Azhmar yang tampil dengan pakaian baru warna putih dan lebih anggun dengan rok yang lebih mekar.

Ada dua lelaki berbadan besar dan kekar, bertampang tegas yang mengawalnya. Uniknya, rambut keduanya berwarna ungu terang dan potongannya cepak seperti seorang aparat. Tangan kedua pengawal itu juga bercahaya ungu gelap. Pakaiannya sama-sama warna hitam tapi beda model. Mereka bernama Dhodor dan Cukur, pengawal khusus Azhmar.

Purwasaga tidak langsung menjawab. Dia memandang sejenak kepada kedua pengawal yang badannya dua kali lipat dari raganya.

“Mereka pengawal khususku. Mereka tidak akan berani membentakmu,” kata Azhmar.

“Mau ke mana kita?” tanya Purwasaga.

Pertanyaan itu justru membuat Azhmar membuang muka lalu pergi meninggalkan tempat tersebut, tidak mengindahkan Purwasaga lagi.

“Aku ikut!” teriak Purwasaga, lalu segera berlari sebentar mengejar gadis cantik berambut pirang terang itu.

Purwasaga kemudian berjalan di sisi kanan Azhmar. Setiap orang yang bekerja di lingkungan rumah itu akan mengangguk dan sedikit bahunya merendah ketika berpapasan dengan Azhmar.

“Sepertinya keluargamu orang terpandang dan berpangkat, Azhmar,” terka Purwasaga.

“Aku adalah pemimpin pemberontak,” kata Azhmar.

“Hah!” kejut Purwasaga, membuat Azhmar meliriknya.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku dan keluargaku sudah mendapat pengampunan dari Baginda Raja Hahambar. Jadi, meskipun kau sudah memakai Gelang Penanggung, jangan marah jika prajurit keamanan kasar kepadamu,” kata Azhmar, merujuk kepada gelang perak berukir tulisan warna ungu yang kini dipakai oleh si pemuda.

“Aku mau pulang, Azhmar,” ujar Purwasaga.

“Secepat itu?” ucap Azhmar dengan nada bertanya. “Kau sudah datang jauh-jauh ke negeri orang, tetapi sedikit pun kau tidak berniat untuk menikmati keindahan dan keramahan Bangsa Penjaga Biru.”

“Bagaimana jika aku ditangkap dan dipenjarakan? Aku tidak akan bisa pulang lagi,” kilah Purwasaga.

“Kau tidak bisa pulang saat ini karena Gerbang Buana akan terbuka saat purnama sempurna. Kau harus menunggu sebulan lamanya. Jadi, kau bisa menikah dan punya anak di sini sambil menunggu Gerbang Buana terbuka.”

“Oh, jadi karang bolong bersinar itu namanya Gerbang Buana. Lalu di mana Gerbang Buana itu?” tanya Purwasaga.

“Di dalam laut, di dalam air,” jawab Azhmar.

Mereka akhirnya meninggalkan area kediaman Azhmar. Mereka tidak pergi ke pantai lagi, tetapi pergi masuk ke dalam kota yang di kelilingi oleh benteng yang ada gerbang dan pos pemeriksaannya.

Namun, untuk memasuki kota yang bernama Bariah tersebut, mereka menggunakan satu kendaraan yang bernama kuda roda.

Kuda roda hanyalah selembar papan yang memiliki lima roda besi khusus. Di depan duduk dua pengawal khusus dengan salah satunya mengendalikan setir seperti sebuah mobil. Tidak ada pedal gas atau rem, keduanya cukup duduk bersila. Sedangkan di belakang, Azhmar dan Purwasaga berdiri berdampingan dengan tangan berpedangan pada palang kayu yang tersedia di depannya setinggi pinggang.

Kuda roda memiliki kecepatan yang sedang-sedang saja, tidak lebih cepat dari kuda sungguhan. Uniknya, kelima rodanya sangat fleksibel terhadap jalanan. Bahkan berjalan di jalanan tidak rata pun tidak membuat papan yang menjadi badan utama kendaraan berguncang. Itu jelas teknologi super canggih yang terlihat sederhana. Kendaraan yang berkarakter tawadu. Namun, jangan ditanya apa yang membuat kendaraan itu bisa berjalan tanpa terlihat tenaga dorongnya.

Purwasaga tidak banyak bertanya tentang kendaraan aneh itu meski ia penasaran karena baru kali ini dia melihat dan menaikinya. Dia lebih fokus kepada topik pembicaraannya dengan Azhmar.

“Kau tidak mungkin hanya duduk dan tidur di kediamanku selama satu bulan penuh menunggu Gerbang Buana bisa kau lewati. Dan aturan di Negeri Elindra, tamu dari bangsa lain hanya boleh menginap di rumah tuan rumah paling lama tiga hari. Setelah itu, kau boleh pergi ke mana saja di negeri ini untuk mencari penanggung lain. Cara paling aman adalah kau menikahi wanita Bangsa Penjaga Biru. Tidak sedikit wanita Bangsa Penjaga Biru yang suka dengan bangsa manusia. Lagi pula, wanita Bangsa Penjaga Biru cantik-cantik, hanya sedikit berbeda warna,” kata Azhmar.

“Tidak. Aku tidak percaya dengan bangsa asing. Penampilan bangsa lain biasanya menipu mata, tapi ujung-ujungnya hanya ingin memangsa.” Itu kata-kata Purwasaga di dalam hati di saat dia terdiam setelah mendengar kata-kata gadis cantik di sampingnya.

Ternyata, ada beberapa warga negeri itu yang juga menggunakan kendaraan yang sama. Selain kendaraan kuda roda, ada juga yang berkuda sungguhan. Kudanya kekar-kekar dengan rambut ekor yang berbeda-beda bagi setiap kuda.

Penunggang kuda yang posisinya jauh lebih tinggi dari posisi kuda roda segera memelan ketika berpapasan dengan Azhmar. Penunggangnya lalu mengangguk kepada Azhmar tanpa satu kata pun. Azhmar hanya balas mengangguk tanpa senyum.

Melihat hal berulang itu, Purwasaga dapat menyimpulkan kedudukan sosial Azmar.

Keramaian orang-orang Bangsa Penjaga Biru semakin terlihat banyak ketika kendaraan mereka semakin masuk ke pusat Kota Bariah.

Jauh di depan, terlihat ada bangunan raksasa yang memiliki banyak atap berujung lancip memanjang ke atas, lebih panjang dari pucuk kubah masjid.

Bangunan yang adalah Istana Biru Agung tersebut didominasi warna biru keungu-unguan. Atap-atap raksasanya berwarna biru dengan semakin ke bagian bawah maka warnanya menuju kepada ungu. Karena banyak bangunan yang lebih rendah menghalangi, jadi warna biru yang lebih banyak terlihat oleh Purwasaga. Istana itu sangat indah dengan keramaian antena di setiap pucuk atapnya.

“Apakah semua orang Negeri Elindra tahu tentang Gerbang Buana di dalam laut itu?” tanya Purwasaga.

“Tahu. Gerbang Buana ada banyak. Namun untuk di Pantai Pemberontak, yang paling dekat adalah Gerbang Buana di dalam laut, gerbang yang membawamu masuk. Jika kau sengaja masuk, kau tidak akan tenggelam dan didamparkan di Pantai Pemberontak,” jawab Azhmar.

Semakin banyak pertanyaan yang muncul di benak Purwasaga mendengar penjelasan Azhmar.

“Jika Bangsa Penjaga Biru tahu tentang Gerbang Buana, apakah mereka juga ada yang menyeberang alam pergi ke negeriku?” tanya Purwasaga.

“Istana Biru Agung yang kau lihat sekarang ini, sangat melarangnya. Melanggar larangan berarti akan menadapat hukuman. Lagi pula, Bangsa Penjaga Biru tidak akan tertarik pergi ke negeri yang lemah.”

Terkejut Purwasaga mendengar negerinya disebut “lemah”.

“Itu jelas penghinaan terhadap bangsaku, Azhmar,” sergah Purwasaga.

“Itu bukan penghinaan, tetapi kenyataannya demikian. Bangsa manusia sangat lemah dibandingkan Bangsa Penjaga Biru. Bukankah kau seorang pendekar?” tandas Azhmar.

“Benar. Aku seorang pendekar di negeriku,” jawab Purwasaga dengan gestur yang agak meledak-ledak. Sepertinya dia emosi karena rasnya diremehkan.

“Berhenti, Cukur!” perintah Azhmar kepada pengawalnya yang mengendalik setir kuda roda.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kendaraan kayu beroda besi itu melambat lalu berhenti di pinggir jalan yang lebar. Entah bagaimana caranya Cukur melakukan pengereman.

“Jika kau ingin membuktikan penilaian Bangsa Pejaga Biru, masuklah ke tempat itu,” kata Azhmar lalu menunjuk satu bangungan batu besar yang dinding dan atap besarnya berwarna merah.

Di atas gerbangnya yang besar ada plang papan warna putih dan memiliki tulisan kaligrafi warna ungu. Namun, tidak jelas itu kaligrafi tulisan apa. Sangat asing bagi mata Purwasaga. Di sekitar gerbang ada aktivitas keramaian. Yang menonjol adalah keberadaan beberapa lelaki berseragam warna merah terang, lebih terang dari warna merah dinding bangunan.

“Tempat apa itu?” tanya Purwasaga.

“Sebagai seorang pendekar, seharusnya kau tidak gentar. Yang jelas kau tidak akan mati di sana karena itu tempat milik pemerintah Negeri Elindra. Aku memiliki urusan sendiri. Nanti aku akan ke sana juga mencarimu,” jawab Azhmar.

Karena tidak mau menunjukkan sisi lemahnya, terutama karena dia telah mengaku sebagai seorang pendekar, akhirnya Purwasaga turun dari kuda roda.

“Jalan!” perintah Azmar kepada Cukur.

Tanpa kata, Azhmar meninggalkan Purwasaga. Pemuda itu langsung menengok memandang ke arah gerbang bangungan merah. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
Om Rudi: 🤣🤣🤣🤣sing sabar Mbak Ayu
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!