Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trio Detektif Beraksi
"Kita beruntung bisa pulang cepat ini," ucap Sheva saat mereka berada di dalam taksi biru. Ketiganya kepo soal kematian Thomas alias Nimas serta dua banci lainnya.
"Apa kamu yakin, orangtuanya Thomas masih ada di alamat yang kamu dapat?" tanya Zane ke Kenzie.
"Kalau tidak dicari tahu, ya tidak dapat jawaban bukan?" kekeh Kenzie.
Ketiganya berbicara dengan bahasa Italia, karena Shea dan Daisy mewajibkan untuk tidak melupakan bahasa kakek mereka. Zane yang tadinya tidak paham, mau tidak mau ikutan belajar. Jadi saat mereka bertiga berbicara soal kasus, biasanya memakai bahasa Italia atau Belanda.
"Maaf, kalian anak-anak PRC?" tanya sopir taksi itu.
"Iya. Kenapa Pak?" tanya Zane yang duduk di sebelah sopir.
"Apa di PRC diajarkan banyak bahasa asing?" tanya sopir lagi.
"Iya. Kami memang diberikan macam pelajaran bahasa asing tambahan selain bahasa Inggris dan Belanda. Ada bahasa Perancis, Jerman, Jepang, Mandarin dan Korea. Boleh milih mau yang mana," jawab Sheva.
"Itu dikasih dari kelas berapa?"
"Dari TK Pak. Soalnya kalau dari kecil lebih mudah menyerapnya," jawab Kenzie.
"Sekolahnya pasti mahal," gumam sopir itu.
"Bapak punya anak atau cucu yang mau sekolah di sana?" tanya Sheva.
"Ada ... Cucu saya. Baru lima tahun. Kedua orang tuanya, anak saya meninggal kecelakaan dua tahun lalu ... Jadi cucu saya tinggal bersama kami. Sekarang diasuh sama neneknya. Kami mau memasukkan ke sekolah yang bisa beasiswa. Saya melihat mas dan mbaknya terdidik dengan baik ...."
"Soal beasiswa, PRC Group memberikan beasiswa di bawah yayasan pendidikan mereka. Coba saja Pak. Syaratnya bisa ditanyakan ke bagian administrasi sekolah soalnya kami tidak terlalu paham persyaratannya," jawab Sheva. "Tapi memang calon penerimanya ada persyaratan yang harus sesuai."
"Begitu ya. Dari kalangan mana saja boleh?" tanya sopir itu.
"Boleh. Bahkan ada teman kami yang orang tuanya pemilik warung lotek, bisa masuk dan bebas biaya sekolah dari TK sampai SMP sekarang karena memang cerdas. Dicoba saja Pak," senyum Kenzie.
"Baik Mas. Besok saya coba bawa cucu saya kesana. Terima kasih informasinya," jawab sopir itu senang.
"Dicoba dulu Pak. Siapa tahu rejeki," sahut Zane.
"Benar."
***
RS Bhayangkara Jakarta
"Aku sudah mencoba menghubungi Dok Daisy tapi tidak diangkat. Kata Fikri, dia kemari. Jadi aku kemari lah," jawab dokter Adiwilaga dengan gaya polos.
"Jeng Daisy sedang ada urusan dengan dokter Lukman dan dokter Rika. Jadi lebih baik, Anda kembali ke ME dan tunggu saja di sana. Buat apa Anda cari istriku?" dokter Lucky bertanya dengan wajah dingin.
"Ada anggota keluarga korban yang datang dan dokter Daisy yang memegang jenazah itu dan ...."
"Dokter Adiwilaga."
Kedua orang yang sedang berhadapan itu menoleh. Dokter Rahmat tersenyum ke arah mereka.
"Dokter Adiwilaga, Anda lebih baik kembali ke ME. Kami hendak melakukan operasi yang delicate. Jadi jangan membuat mood kami berantakan," ucap dokter Rahmat sambil memakai snellinya.
"Soal orang tua jenazah, Anda pasti bisa menghandlenya," timpal dokter Rifai. "Permisi, kami harus mempersiapkan untuk operasi."
Pria itu meninggalkan ketiga orang disana dan dokter Rahmat menatap dokter Adiwilaga. "Well?"
Dokter Adiwilaga hanya terdiam dan tahu ini bukanlah daerah kekuasaannya. Dia pun mengangguk. "Baiklah. Tolong sampaikan ...."
"Just go!" ucap dokter Lucky judes.
Dokter Adiwilaga menatap datar lalu dia pergi meninggalkan dokter Lucky dan dokter Rahmat.
"Dia mengincar Daisy?" tanya dokter Rahmat.
"Benar."
"Kelakuan dari dulu tidak berubah?" kekeh dokter Rahmat lagi.
"Yup!"
"Steven belum mendapatkan aib lagi?"
"Masih mencari hasil aibnya," jawab dokter Lucky.
Dokter Rahmat tersenyum. "Jaga Daisy. Aku percaya Daisy akan lebih judes dari kamu tapi, kamulah yang harus jadi garda terdepan," ucapnya sambil menepuk bahu dokter Lucky.
Dokter Lucky and Dokter Rahmat.
"Tentu saja. My Istri Gue itu adalah milikku! Dan hanya aku yang bisa melindunginya!" senyum dokter Lucky.
***
Rumah orang tua Thomas alias Nimas
Sheva, Kenzie dan Zane tiba di sebuah rumah sederhana daerah padat penduduk. Beberapa orang melihat ke arah tiga remaja yang berpenampilan layaknya anak SMP swasta terkenal. Apalagi ketiganya tampak terlihat blasterannya.
"Adik cari siapa?" tanya salah seorang ibu-ibu.
"Cari rumahnya Pak Ozie. Katanya tinggal di sini," jawab Kenzie.
"Ada keperluan apa?" tanya ibu-ibu yang lain.
"Oh, ada keperluan sekolah. Kan Pak Ozie pegawai pasukan orange. Kami harus mewawancarai seorang pegawai yang harus bertugas subuh," jawab Sheva manis.
Zane hanya mengangguk dengan wajah cool. Para ibu-ibu tampak tertarik dengan wajah para remaja good looking itu.
"Itu rumahnya Pak Ozie. Orangnya ada di rumah dik." Salah seorang ibu menunjuk ke arah rumah sederhana yang sudah diketahui oleh Kenzie.
"Terima kasih." Ketiga remaja itu menatap rumah itu.
Mereka pun menuju ke pagar. Kenzie mengetuk gembok pagarnya dan tak lama keluar pria paruh baya. Matanya tampak bingung dengan kehadiran ketiga remaja di depan pagarnya.
"Ada apa adik-adik?" tanyanya bingung.
"Saya Sheva Sasono, ini Zane Sihasale dan Kenzie Buwono. Ayah kami bekerja di divisi kasus dingin Polda Metro Jaya ... dan kemarin mereka membuka kasus almarhum Mas Thomas," jawab Sheva.
Mata tua Ozie yang tadinya redup mulai berbinar. "Kalian tahu?" tanyanya.
"Bolehkah kami masuk? Karena kami tidak enak dengan para tetangga bapak," jawab Zane.
Ozie segera membuka pintu pagar dan memberikan kesempatan ketiga remaja itu masuk. Dia segera masuk ke dalam rumah.
"Tadi adik-adik naik apa?" tanya Ozie. "Silakan duduk."
"Naik taksi," jawab Sheva.
"Nunggu?" Ozie segera memberikan tiga gelas air mineral. "Maaf, cuma ada ini."
"Tidak apa-apa Pak. Kami yang merepotkan," senyum Sheva manis.
"Iya taksinya nunggu. Tidak apa-apa Pak. Daripada repot cari taksi," timpal Zane.
"Apa yang adik ketahui soal kematian putra saya?" tanya Ozie sambil duduk.
"Mungkin bukan berita yang baik Pak. Kami bersama Papa kami berusaha menggali karena ada kasus baru. Ada dua ... Maaf ... banci yang dibunuh dengan modus operandi yang sama," jawab Kenzie. "Kebetulan Mama saya adalah dokter forensik yang mengautopsi salah satu korban."
"Salah satu korban? Memang ada berapa korban?" tanya Ozie bingung.
"Dua."
Ozie terkesiap. "Ya Allah ...."
***
Ruang Kerja dokter Lukman
"Ini parah Dok Daisy ...." dokter Lukman melihat hasil Rontgen dua jenazah yang diautopsi Daisy dan dokter Adiwilaga. "Bagaimana bisa ini dirusak per sendi tanpa terlihat dari luar. Ini sangat brutal!"
"Itulah yang membuat saya ngeri Dok. Anda kan Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dan apa yang Anda lihat?" tanya Daisy.
Dokter Rika juga ikut melihat kondisi jenazah. "Apakah ini bisa dibilang mutilasi halus?"
"Dipatahkan dengan paksa hingga putus. Gila! Ini butuh keahlian," gumam dokter Lukman. "Ngeri kali ini!"
***
Yuhuuu up Siang yaaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
wes dibilangi my istri gue sama dok lucky kok jel panggah tetep wae ngeyel e
pancen pengkuh e nemen
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..