NovelToon NovelToon
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arenna Noir

"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
​Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.

​Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.

​"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."

​Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.

​Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."

bukan buku ****-****...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

​Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela-jendela tinggi kediaman Addison tidak terasa hangat. Sebaliknya, cahaya itu seolah hanya mempertegas keangkuhan bangunan yang terletak di kawasan paling elit Jakarta Selatan tersebut. Kediaman ini selalu dikenal sebagai istana yang dingin, sunyi, dan mengintimidasi siapa pun yang berani melangkah masuk. Namun, di balik dinding marmer Italia yang kokoh di ruang makan utama, sebuah badai besar sedang disiapkan di atas meja perjamuan yang dilapisi taplak linen sutra.

​Gaby Fritzyara duduk dengan punggung tegak sempurna. Postur tubuhnya memancarkan aura keanggunan yang belum pernah terlihat selama lima tahun ia menjadi bayang-bayang di hidup Gavin. Ia mengenakan dress sutra berwarna putih tulang yang jatuh dengan indah di lekuk tubuhnya, memberikan kesan murni namun mematikan. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, berkilau sehat di bawah lampu kristal yang harganya bisa membeli sebuah rumah mewah di pinggiran kota.

​Di jari manisnya, sebuah permata berkilau luar biasa. Berlian dengan potongan emerald itu melingkar cantik, memantulkan cahaya ke segala arah. Cincin itu adalah simbol kekuasaan baru, sebuah benda yang secara brutal menggantikan cincin tunangan murah dan bermata kecil yang seminggu lalu ia lemparkan tepat ke wajah Gavin Cavanaugh di tengah keramaian hotel.

​Sambil menatap pantulan dirinya di sendok perak, Gaby masih bisa mendengar gema suara Gavin di malam pengkhianatan itu. Suara yang dulu ia puja, namun kini terdengar seperti suara kaset rusak yang menjijikkan.

​"Gaby, jujur saja, kamu itu membosankan. Hidup bersamamu seperti membaca laporan audit setiap hari. Kaku, dingin, dan tidak ada gairah. Luna jauh lebih hidup, dia membutuhkanku untuk melindunginya, tidak seperti kamu yang terlalu mandiri dan selalu merasa paling pintar."

​Gaby menyunggingkan senyum tipis, sebuah seringai yang hampir tak terlihat namun penuh dengan racun. Mandiri ya? batinnya. Mari kita lihat, Gavin. Seberapa mandiri kamu saat semua kemewahan ini ditarik darimu. Mari kita lihat apakah Luna-mu yang 'hidup' itu masih akan bertahan saat kamu tidak lagi memiliki ketiak Papamu untuk bersembunyi.

​"Kopinya, Sayang?"

​Suara bariton yang dalam dan berat itu seketika memecah lamunan Gaby. Edgar Emiliano Addison. Pria berusia 40 tahun yang namanya sanggup menggetarkan bursa saham hanya dengan satu tanda tangan. Pria yang memegang kendali penuh atas kekaisaran Addison Group itu menggeser cangkir porselen buatan tangan ke arah Gaby.

​Edgar tampak sangat maskulin pagi itu. Ia hanya mengenakan kemeja hitam premium dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit bagian dadanya yang bidang dan aura pria matang yang mapan sekaligus berbahaya. Edgar bukan tipe pria yang banyak bicara, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk mendominasi seluruh ruangan.

​"Terima kasih, Mas," jawab Gaby lembut. Suaranya rendah, terjaga, namun ada nada kemesraan yang disisipkan di sana.

​Panggilan Mas itu sengaja ia pilih setelah perdebatan kecil mereka kemarin. Itu adalah panggilan yang intim, namun tetap menunjukkan kelas dan posisi Gaby sebagai istrinya, bukan sekadar bawahan. Edgar membalasnya dengan sebuah usapan pelan dan ibu jari yang membelai punggung tangan Gaby. Sebuah tindakan posesif yang menegaskan kepemilikan mutlak. Bagi Edgar, Gaby adalah investasi paling menarik yang pernah ia temukan dalam satu dekade terakhir cerdas, berani, memiliki harga diri setinggi langit, dan yang paling penting memiliki api dendam yang berkobar indah di matanya.

​Ketenangan di ruang makan itu pecah saat suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah selasar. Gavin masuk dengan napas tersengal, dasinya masih menggantung tidak rapi, dan rambutnya berantakan. Wajahnya kuyu, dengan kantung mata yang menghitam tanda jelas bahwa ia menghabiskan malam dengan berpesta gila-gilaan, mungkin merayakan kebebasannya dari Gaby bersama Luna di salah satu klub malam milik temannya.

​"Pah, maaf aku terlambat. Aku tadi malam benar-benar tidak bisa tidur, aku harus menemani Luna di studio sampai subuh karena dia sedang stres dengan jadwal pemotretannya dan"

​Kalimat Gavin terhenti kaku di udara. Suara sepatunya yang tadi beradu keras dengan lantai marmer mendadak senyap total. Paru-parunya seolah lupa bagaimana cara menghirup oksigen. Matanya nyaris melompat keluar dari kelopaknya saat menangkap sosok wanita yang duduk dengan sangat tenang di samping ayahnya. Sosok itu duduk di kursi yang selama sepuluh tahun ini selalu dibiarkan kosong semenjak kematian ibu kandung Gavin. Kursi kehormatan bagi Nyonya Addison.

​"Gaby?" suara Gavin nyaris tidak keluar, hanya berupa bisikan hantu yang penuh syok.

​Gaby tidak menoleh sedikit pun. Ia justru mengangkat cangkir porselennya, menyesap kopi hitam tanpa gula itu dengan gerakan yang sangat elegan, seolah-olah ia sedang menikmati pertunjukan komedi paling lucu di dunia. Ia menikmati setiap detik aroma kepanikan yang mulai menguar dari tubuh pria yang pernah ia cintai selama lima tahun itu.

​"Gaby! Apa-apaan ini?! Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kenapa kamu memakai baju seperti itu... tunggu, apa yang kamu lakukan di rumahku?!" Gavin melangkah maju dengan emosi yang meledak. Tangannya menunjuk ke arah Gaby dengan jari yang bergetar hebat antara amarah dan kebingungan.

​KLING!

​Edgar meletakkan sendok peraknya ke atas piring kecil dengan denting nyaring yang bergema di seluruh ruangan. Suara itu begitu tajam hingga membuat Gavin tersentak dan mundur satu langkah secara refleks.

​"Jaga bicaramu, Gavin. Dan turunkan tanganmu," ucap Edgar dengan suara yang sangat rendah namun mengandung ancaman yang nyata. "Dia bukan lagi Gaby yang bisa kau tunjuk-tunjuk sesukamu atau kau bentak seolah dia adalah pelayanmu."

​Gavin tertawa sumbang. Tawanya terdengar hambar dan penuh dengan ketidakpercayaan yang dipaksakan. "Pah, ini pasti lelucon, kan? Pah, dia ini Gaby! Tunanganku yang baru saja aku putuskan seminggu lalu! Dia pasti kemari untuk mengemis padamu agar aku mau menerimanya kembali, kan? Dia sengaja mendekati Papa untuk membalas dendam padaku!"

​Gavin beralih menatap Gaby dengan tatapan meremehkan. "Gaby, dengar! Aku sudah bilang aku mencintai Luna! Berhenti mengejarku sampai ke rumah Papaku! Kamu tidak malu apa, menggunakan cara serendah ini untuk menarik perhatianku?"

​Gaby akhirnya meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Ia menoleh, gerakannya sangat anggun, lalu menatap Gavin dengan tatapan kosong dan dingin tatapan yang biasa ia gunakan saat sedang menghadapi klien yang tidak kompeten di kantor.

​"Mengejarmu? Gavin, aku rasa kemampuan logikamu menurun drastis sejak kau mulai mencampur urusan pekerjaan dengan urusan ranjang bersama adikku," ucap Gaby tenang. "Coba pikirkan dengan otakmu yang masih tersisa itu. Untuk apa aku bersusah payah mengejar kerikil yang sudah aku buang di tempat sampah, jika sekarang aku sudah menggenggam berlian yang jauh lebih berkilau?"

​"Apa maksud ucapan mu?! Jangan bertele-tele, Gaby!" teriak Gavin, urat-urat di lehernya menonjol.

​Gaby tidak menjawab. Ia hanya memberikan lirikan kecil ke arah Edgar, sebuah kode bisu yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Edgar mengerti. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, lalu mengambil sebuah map kulit berwarna hitam yang sejak tadi berada di samping kursinya. Tanpa melihat, ia melemparkannya ke tengah meja makan, meluncur tepat ke arah Gavin.

​"Buka itu, Gavin. Anggap saja itu hadiah sarapan spesial dariku karena kau sudah menjadi putra yang begitu 'berbakti' dan 'pintar' dalam mengelola hubungan selama ini," ucap Edgar dingin, matanya menatap Gavin seperti seorang predator menatap mangsa yang malang.

​Gavin meraih map itu dengan tangan yang berkeringat dingin. Ia membukanya dengan kasar, dalam hatinya ia berharap itu hanyalah dokumen pemecatannya yang mana ia masih bisa merengek pada ayahnya nanti. Namun, saat matanya mendarat pada lembar pertama, seluruh warna di wajahnya seketika lenyap.

​AKTA PERNIKAHAN.

​Di sana, tercetak dengan tinta emas yang mencolok dan stempel resmi negara: Edgar Emiliano Addison dan Gaby Fritzyara. Tanggal pernikahan: Tiga hari yang lalu.

​Dunia Gavin seolah runtuh seketika. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang, membuatnya merasa tercekik di ruangan yang begitu luas. Ia menggelengkan kepala berkali-kali, matanya membaca nama itu berulang-ulang dari atas ke bawah, berharap indra penglihatannya sedang mengalami halusinasi akibat sisa-sisa alkohol semalam.

​"S-sah secara hukum? Pa! Ini gila! Kamu menikahi mantan tunanganku sendiri?! Kamu menikahi wanita yang seharusnya menjadi menantumu?!" Gavin berteriak histeris, suaranya melengking tinggi memenuhi ruang makan. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam karena perpaduan antara murka, malu, dan rasa terhina yang luar biasa.

​"Gaby sudah dewasa, dan aku jauh lebih dewasa untuk tahu mana wanita yang layak menjadi Nyonya Addison, dan mana wanita yang hanya pantas menjadi sampah di pinggir jalan," Edgar berdiri perlahan. Tinggi badannya yang menjulang dan bahunya yang lebar membuat Gavin tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk di depan raksasa. Edgar berjalan mendekati Gavin, meletakkan tangannya di bahu putranya itu dan menekannya dengan tenaga yang cukup untuk membuat Gavin meringis kesakitan.

​"Seminggu yang lalu kamu mencampakkannya dengan alasan dia membosankan. Tapi bagiku, Gaby adalah otak yang selama ini bekerja di balik layar untuk menutupi semua ketololanmu di perusahaan. Tanpa dia, posisimu di Addison Group sudah hancur sejak tahun lalu. Dan sekarang, dia bukan lagi tanggung jawabmu atau urusanmu. Dia adalah istriku. Dia adalah Ibu Sambungmu. Jadi, perbaiki sikapmu jika tidak ingin aku mendepakmu dari rumah ini."

​Gaby ikut berdiri. Ia melangkah mendekati Gavin dengan gerakan pelan yang menghanyutkan. Ia berhenti tepat di depan Gavin, yang kini tampak begitu kecil di bawah bayang-bayang Edgar. Gaby menyentuh lengan Gavin pelan, merapikan sedikit kerah kemejanya yang berantakan. Sentuhan yang dulu sangat Gavin puja sebagai bentuk perhatian, kini terasa seperti sengatan listrik yang menghina harga dirinya.

​"Gavin, jangan terlalu percaya diri. Aku datang ke sini bukan untuk memintamu kembali, apalagi mengemis cintamu yang murahan itu. Aku ke sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku atas waktu yang kubuang percuma bersamamu," bisik Gaby tepat di depan wajah Gavin.

​"Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu menaruh Luna di penthouse mewah milik anak perusahaan Addison Group dan membiayai gaya hidupnya dengan kartu kredit korporat. Aku sudah membekukan semua itu, Gavin. Semua fasilitas, mobil mewah yang kamu pakai, hingga akses kartu kredit untuk memanjakan adikku... semuanya sudah dicabut secara resmi atas perintahku sebagai Nyonya Addison."

​"Kamu tidak bisa melakukan itu! Itu bukan uangmu! Itu uang Papaku!" Gavin berteriak tepat di depan wajah Gaby.

​"Dan Papamu adalah suamiku," potong Gaby dengan nada yang begitu tajam hingga sanggup membelah suasana. "Secara hukum, aku adalah pendampingnya yang memiliki kuasa penuh atas manajemen aset keluarga. Kamu ingin hidup bersama Luna? Silakan. Aku tidak melarang. Tapi hiduplah dengan uang keringatmu sendiri, bukan dengan fasilitas dari pria yang sekarang menjadi suamiku."

​Gavin menatap Edgar dengan tatapan memohon yang menyedihkan. "Pa, ini gila! Papa dimanipulasi olehnya! Gaby hanya ingin balas dendam padaku! Dia menggunakan Papa untuk menghancurkanku!"

​Edgar tersenyum tipis, sebuah senyuman predator yang sangat serasi dengan sorot mata Gaby saat ini. "Aku tahu dia ingin balas dendam, Gavin. Dan aku dengan senang hati menawarkan diriku menjadi senjatanya. Bukankah itu yang dilakukan seorang suami yang mencintai istrinya? Memberikan apa pun yang dia inginkan?"

​Lutut Gavin mendadak lemas. Ia kehilangan kekuatan untuk berdiri dan terduduk di kursi makan dengan pandangan kosong. Bayangan Luna yang merengek meminta tas bermerek baru, bayangan tagihan penthouse yang akan segera jatuh tempo, dan fakta bahwa wanita yang ia campakkan dengan hina kini menjadi pemegang kunci finansialnya, membuat Gavin merasa dunia benar-benar telah kiamat.

​Gaby membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Gavin yang kini mulai berkeringat dingin. Ia membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah namun penuh penekanan.

​"Nikmati peran barumu sebagai putra yang terusir, Gavin. Dan oh, aku hampir lupa... nanti malam ada makan malam keluarga besar untuk merayakan pernikahan kami secara internal. Pastikan Luna datang. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi adikku tercinta saat dia harus membungkuk, mencium tanganku, dan memanggilku... Mama."

​Gaby kembali tegak, ia berbalik dan melingkarkan tangannya di lengan Edgar dengan mesra. "Ayo Mas, kita ke kantor sekarang. Masih banyak laporan keuangan dari divisi Gavin yang harus aku audit ulang hari ini. Aku yakin akan menemukan banyak 'kejutan' lainnya di sana."

​Edgar mengangguk setuju. Ia menunduk, mengecup kening Gaby dengan sangat mesra tepat di depan mata Gavin yang melotot penuh kehancuran dan rasa sakit. Mereka berdua melangkah pergi dengan anggun, meninggalkan Gavin yang kini meraung frustrasi sambil mengacak rambutnya sendiri di ruang makan yang kini terasa seperti penjara bawah tanah baginya.

​Gaby tersenyum dalam hati sambil menatap koridor rumah yang kini menjadi miliknya. Ini baru hari pertama, dan 'kenikmatan' menjadi istri Edgar Addison ternyata jauh lebih manis, jauh lebih kuat, dan jauh lebih memabukkan dari yang pernah ia bayangkan dalam mimpi balas dendamnya yang paling liar sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!