Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Vinda atau Larasati?
"Memang kamu berhak mencintai orang lain, Kenzo... Kamu berhak membenciku, tapi tolong maafkan aku..." Isaknya pelan.
Larasati berjalan gontai menuju sofa di sudut ruangan lounge ink yang agak sepi, sambil mengusap kasar air matanya.
"Andai dulu aku bersabar menunggumu lulus kuliah... andai Ayahku tak jatuh sakit parah lalu meninggal... andai aku tak terdesak butuh uang..." rintihnya pilu. "Kenapa takdir sekejam ini? Aku lebih rela melihatmu hidup sendiri selamanya, daripada membayangkan kamu memeluk wanita lain. Rasanya sakit sekali..."
Dia memukul dadanya sendiri berulang kali. Tak peduli seberapa keras dia menyangkalnya, Kenzo tetaplah pria yang bersemayam di hatinya, pria pertama yang merebut kesuciannya, dan pria yang selalu dia bayangkan ada di pelukannya, meski kini setiap malam harus berbagi kasur dengan Hardi Armanta.
"Dari mana saja sih, pak? ya ampun Kakiku pegal menunggu hampir satu jam!" seru Vinda kesal saat akhirnya melihat Kenzo muncul. Dia berdiri mondar‑mandir tak jauh dari mobil Porsche sport putih milik pria itu, sementara Kenzo berjalan mendekat dengan wajah masam, jasnya sudah sedikit kusut dan dilepas begitu saja dari tubuhnya.
"Ayo cepat masuk, jangan banyak bicara atau kamu kutinggalkan di sini!" Bentak Kenzo.
"Tetap aja hobi merintah orang!" Gerutu Vinda dalam hati sambil membanting pintu mobil pelan tapi kesal. Dia duduk dengan wajah tak kalah cemberutnya, lalu memasang sabuk pengaman sambil terus mengomel.
"Diam! Jangan terus‑terusan mengeluh, atau aku akan menciummu. Mau?!" Seketika Vinda menggeleng cepat dan bibirnya langsung terkunci rapat.
"Tidak..."
Dasar bos aneh, bawaannya seperti harimau lapar yang siap mengamuk.
Kenzo menyalakan mesin mobilnya. Jujur saja hatinya masih bergejolak hebat, terlebih setelah mendengar pengakuan jujur Larasati tadi. Dia teringat masa lalu, andai saja delapan tahun lalu mereka benar‑benar menikah saat Kenzo baru lulus kuliah, mungkin sekarang nama wanita itu tetap sama, dan dia akan menjadi suaminya, bukan ayahnya, apalagi status ibu tirinya.
Selama dalam perjalanan keduanya saling bungkam. Vinda lebih memilih memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Kenzo menyetir sambil melamun, masih terkejut luar biasa dengan ucapan wanita yang jadi ibu tiri sekaligus mantan kekasihnya. Sungguh hal yang penuh ironi.
"Kenapa pak Kenzo tiba‑tiba saja membawa saya ke tempat itu? Maaf, seharusnya tanyakan pendapat saya dulu sebelum melakukan hal aneh begini." Mata Kenzo tetap menatap jalanan di depan, tak menggubris celotehan gadis itu yang kini mendecakkan bibirnya tak puas.
"Pak, saya sedang bicara sama Anda lho."
"Aku dengar. Memangnya di sini ada orang lain selain kita?" Kenzo bersikap santai, bahkan terkesan acuh tak peduli pada omelan sekretaris bawelnya. Reaksi dingin itu justru membuat Vinda makin berulah.
"Saya turun di halte depan saja, berhenti di sini!" Teriak Vinda.
"Ini sudah hampir malam. Aku antar sampai rumahmu saja."
"Tak perlu, saya bisa pulang sendiri!"
"Bisa tidak kamu patuh sekali saja hah?! Sekretaris bawel… dan satu hal lagi, tadi aku membawamu ke sana karena memang bagian dari pekerjaanmu, jadi tak perlu banyak protes."
"Cih, ‘tak perlu protes’? Oh ya? Berarti dipamerkan ke sana‑kemari sebagai—kekasih pun saya tak boleh mengeluh?" Vinda akhirnya tak tahan lagi menahan rasa penasaran dan kekesalannya. Dalam hati ia bertanya, kenapa tak cari wanita lain saja untuk berpura‑pura jadi kekasih? Sungguh bos yang aneh.
"Apa kamu merasa dirugikan? Ckck, seingatku banyak wanita di luar sana yang akan senang dan girang jika kuakui sebagai pacar. Kamu buta ya? Lihat saja betapa banyak pegawai wanita di Tous Les Jours yang bermimpi jadi kekasihku. Mereka seperti antri, dan kamu ini bodoh malah jual mahal!"
"Ckck, saya tak termasuk golongan itu ya. Gila saja mau jadi gadis bodoh semacam mereka."
Kenzo mendengus kesal lalu meminggirkan mobil, menunjuk pintu dengan jari telunjuknya.
"Kalau begitu cepat turun!"
"Suka‑suka bapak aja, kan memang dari tadi saya minta diturunkan, aneh sekali." Vinda melepas sepatu hak tinggi mahal yang tadi dipinjamkan, menggantinya dengan sepatu sendiri, lalu melempar sepatu tadi ke jok belakang dan meraih tasnya.
"Besok gaun ini akan saya kembalikan. Barang semahal ini sama sekali tak pantas dipakai orang miskin dan bodoh seperti saya. Sampai jumpa besok pak!" Saat hendak membuka pintu, Vinda terkejut dan menoleh cepat ke arah Kenzo.
"Lho? Kok kita sudah sampai…?"
"Iya, aku suruh turun karena kita sudah tepat di depan rumahmu. Apa katu kira aku akan mengajakmu pulang ke apartemenku? Padahal tadi kau marah‑marah minta berhenti sembarangan."
"I‑itu… hehehe… tadi saya kira—"
"Kirain apa, Hah?" Kenzo mengangkat alis, menahan tawa melihat wajah Vinda yang merona merah karena salah paham besar. Dasar gadis bodoh, Vinda.
"Terima kasih sudah mengantar pulang, pak bos. Sampai jumpa besok"
"Turun sana. Istirahatlah. Lain kali kalau mau mengomel, lihat dulu sekeliling, jadi tahu di mana posisimu."
"Iya, maaf hehe…" Vinda langsung turun dan membungkuk sedikit sebagai salam perpisahan. Tanpa aba‑aba mobil Porsche itu pun melesat pergi. Vinda memukul pelan dahinya sendiri karena kesal, lalu berjalan langkah berat di trotoar.
*****
Klub paradise, Kemang Jakarta Selatan.
"Tumben sekali loe datang sendiri ke sini? Adek sepupu loe si Kenan gak ikutan?"
Seorang pria tampan berbaju sweter abu‑abu duduk di sebelah Kenzo sambil menyesap whiskey dari gelas kecil.
"Sedang suntuk aja. Lagi pula Kenan pasti sibuk kencan sama pacarnya." Kenzo ikut meneguk isinya, kepalanya terasa pening dan ia menyanggah dagu dengan tangan.
"Ada barang baru gak, Yud?"
Yuda terkekeh lalu melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul delapan malam
"Masih cukup sore, bro, masa loe mau langsung urusan ranjang sore Begini?"
"Aku bosan dan butuh hiburan. Cepat berikan saja kalo ada yang baru."
"Hahaha, baiklah. Ada satu, cantik sekali. Baru dua minggu kerja di sini dan masih muda, baru dua puluh tahun. Mau?"
"Masih gadis segel gak?" Yuda menggeleng pelan. Kenzo mendesah paham, tak mungkin berharap hal semacam itu di tempat begini, nanti malah dikira gila.
"Baru beberapa kali pakai kok. Pelanggan sebelumnya bilang pelayanannya sangat memuaskan. Katanya masih sempit, hahaha… Dia justru mau kerja di sini karena dulu pernah disakiti mantan pacarnya. Tenang saja, di laci kamar sudah tersedia alat pengaman. Malam ini aku kasih harga istimewa buatmu."
"Baiklah. Aku ke atas dulu, ini kartu kredit ku, loe gesek saja biayanya" Kenzo menyerahkan kartu hitam istimewa itu, lalu berdiri dan melepas jas hingga hanya mengenakan kemeja putih. Dia berjalan menuju lift menuju kamar nomor 404, kamar langganannya setiap kali mampir ke klub ini, tentu saja ditemani wanita bayaran.
****
Di kamar nomor 404, Kenzo duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah lelah, menutupinya dengan telapak tangan karena perasaan frustasi. Meski pendingin ruangan menyala, dia tetap saja berkeringat, entah sisa tenaga habis bercinta atau karena kepala yang makin pening memikirkan banyak hal.
"Tuan, kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam," Sapa wanita muda itu yang masih duduk dengan tubuh polos hanya tertutup selimut tipis, tangan halusnya menyentuh bahu Kenzo. Beberapa jam lalu dia mendesah panjang karena sentuhan pria itu yang begitu bergairah. Sekarang dia menggigit bibir sendiri sambil mengusap dada bidang Kenzo yang terbuka, berharap ada kesempatan kedua.
Gadis itu memang menyukai tamu kali ini. Tak heran, sebab semua wanita penghibur di klub elit ini selalu berharap Kenzo lah yang memilih mereka dan mengajak masuk ke kamar 404.
"Pakai pakaianmu dan cepet pergi dari sini!"
Kenzo menyingkirkan tangan mulus itu. Wanita itu berdecak, dia ingin sekali pria tampan ini kembali menyentuhnya, menghabiskan sisa malam mereka dengan kehangatan dan desahan nikmat sampai pagi.
"Kamu tahu kan peraturanku di sini? Atau Yuda belum memberitahumu?"
"Tahu, Tuan. Tadi Pak Yuda sudah bilang semuanya," Jawabnya pelan dengan kesal.
"Bagus kalau gitu. Ini bayaranmu, cepatlah keluar." Kenzo menyodorkan segepok uang senilai sepuluh juta rupiah. Dengan bibir mengerucut, gadis itu terpaksa berdiri menyambar uang tersebut, lalu mengambil gaun yang tergeletak di lantai. Tanpa malu ia mengenakan pakaian dalamnya tepat di depan Kenzo, berharap pria itu tak kuasa menahan diri dan kembali menariknya ke kasur.
Namun harapannya pupus, Kenzo tetap diam, memejamkan mata dan berbaring berbalut selimut. "Jangan lupa tutup pintu saat keluar."
"Baik, Tuan. Selamat beristirahat."
Blam!
Pintu tertutup rapat. Kenzo kembali duduk di atas kasur sambil meremas rambutnya kesal. "Sialan Larasati brengsek! Argh… Vinda…atau Larasati… Semua bikin pusing! Kenapa wajah dua wanita itu terus berputar‑putar di kepalaku?!" Dia menendang bantal dan selimut di sekelilingnya. Kata‑kata Larasati, wanita yang kini berstatus ibu tirinya kembali teriang hingga bayangan masa lalu melintas seperti gulungan film di dinding kamar.