Bagaimana jadinya, hidup kembali sebagai wanita ahli pedang di zaman kuno?
Sudah pastinya begitu tidak menyenangkan, Anya seorang dokter Bedah yang meninggal karena di khianati oleh seorang sahabat nya.
Ia bereinkarnasi menjadi wanita ahli pedang di zaman Kerajaan China kuno. Bagaimana kisah nya?
Baca kisahnya... Di
— Cinta Wanita Pedang —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Malam tahun baru
Suara kembang api memenuhi udara malam hari, seruan beberapa orang di luar gedung apartemen terdengar nyaring mengisi udara malam yang dingin.
Di balik kehangatan malam tahun baru seorang wanita terduduk matanya menatap lekat jendela yang menyajikan keindahan luar sana, yang begitu meriah dan hangat namun kehangatan itu tidak bisa ia genggam
Ia menatap kosong jendela, yang menampilkan keindahan langit di malam tahun baru tangan Mayang bergerak menulis dengan sangat hati-hati di sebuah kertas berwarna merah tua.
Lalu ia menempelkan nya di Notes miliknya, hanya satu kalimat yang ia tulis di malam yang penuh harap itu.
“𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶 ”
Kertas itu menjadi saksi bisu, begitu merindukan nya Mayang dengan kedua orangtua dan kerajaan nya Mayang menghela napas panjang kesunyian menusuk tulangnya. Harusnya dimana ia tertawa merasakan pelukan hangat dan ucapan selamat tahun baru namun kini lenyap,
𝗗𝗿𝗿𝗿𝘁!
Suara ponsel menggema di ruangan tersebut, yang di huni oleh ke sunyian tanpa semangat Mayang mengeser ikon untuk mengangkat telepon tersebut.
" 𝗔𝗻𝘆𝗮, 𝗸𝗲 𝗯𝗮𝗹𝗸𝗼𝗻 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗴𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗹𝘂𝗮𝗿 𝘀𝗮𝗻𝗮 𝗽𝗮𝘀𝘁𝗶 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝘀𝘂𝗸𝗮. " Cakap Wiko di sambungan telepon
" 𝗬𝗮 𝗺𝗮𝘀! "
Dengan langkah gontai tanpa semangat sedikitpun, Mayang berjalan ke arah pintu balkon yang jarang ia sentuh pintu kaca itu tertutup oleh gorden transparan.
𝗖𝗜𝗜𝗧𝗧𝗧!
Decitan terdengar nyaring, memecahkan keheningan di ruangan tersebut angin malam langsung menyapa nya kala dirinya keluar dari pintu balkon yang lama sekali tidak di buka.
Matanya berbinar menatap sebuah cahaya yang di tinggalkan kembang api. Tangannya bergerak mencengkram Riling Balkon hatinya berdesir nyeri, tetesan air mata mengalir dari pelupuk mata indahnya
" Ayahanda, ibunda, panglima Barata aku merindukan kalian semua. Termasuk kau suratan takdirku Putera Mahkota " Ungkap Mayang dengan suara serak ia mencengkram erat dada kirinya.
Seolah kerinduan itu menyiksa nya ia menatap nanar kembang api yang selalu bersinar meninggal percikan cahaya kehidupan, yang membuat orang menjadi bersemangat kembali
Malam yang penuh cinta di rasakan dengan kesunyian dan kerinduan yang membelunggu, bagi seorang Mayang
" Aku ingin kembali! " Gumam Mayang ia memeluk lutut nya air mata mengalir deras bagaikan hujan. Bayangan tentang keluarga dan istana berkeliaran di benaknya
Sementara itu di istana Kaisar Yan Zhouza, kemeriahan tahun baru di lakukan di taman Istana sangatlah meriah sekali.
Namun kemeriahan itu tidak membuat seorang wanita berjubah emas dengan perut membuncit yang menyembul dari balik jubah emas nya, hatinya di kelilingi kabut sendu wajahnya begitu sendu
" Baby, mari makan pelayan membawakan kue bulan untuk mu. " Kata Yan Qian ia menaruh satu cawan emas di meja, lalu menuangkan teh hijau untuk Anya
" Aku letih " Sahut Anya
" Wajar sekali kalau Permaisuri mu, sangat letih makhluk suci yang membuat nya seperti ini. Waktu ibunda mengandung mu juga sama Yan Qian " Kata Sang Ibunda membuat Yan Qian membelai lembut perut Anya yang membuncit.
" Mari tulisan kan harapan. Ayahanda akan menuliskan harapan untuk kerajaan kita dan keluarga kita " Kata Yan Zhouza
" Mari baby! " Yan Qian menyodorkan sebuah pena bulu burung, dengan tinta emas kepada Anya lalu memberikan selembar kertas warna merah tua.
" Kita tulisan permintaan kita lalu akan di pajang di pohon itu " Jelas Yan Qian ia menunjuk ke sebuah pohon yang dimana daun-daun nya adalah kertas merah harapan.
" Aku ingin menulis kan harapan untuk anak-anak kita sayang, bagi aku satu! " Mata Anya berbinar dengan cepat Yan Qian menuruti nya. Melihat Anya bahagia ia begitu senang sekali
" Silakan sayang "
Anya dengan cekatan menulis harapannya, ada rasa sesak kala ia harus merayakan tahun barunya dengan orang-orang yang asing baginya. Ia memejamkan matanya
" 𝘔𝘢, 𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶.. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘈𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘰𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪! " Batin Anya sebuah buliran air mata terjun dari pelupuk matanya
" Baby! " Suara itu membuyarkan lamunan Anya, ia bergegas membuka matanya " Ada apa? " Tanya Anya
" Mari kita gantung harapan kita, di pohon harapan lalu kita terbangkan lampion " Ajak Yan Qian ia menuntun Anya yang berbadan tiga itu untuk ke arah pohon tersebut.
" Silakan yang mulia dan ratu " Kata Seorang peramal Yan Qian dan Anya menyerahkan. Kedua kertas merah muda milik keduanya
" Semoga hal baik selalu mengikuti Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri " Doa Peramal tersebut sembari menggantung kedua kertas harapan itu.
" Mari Baby kita terbangkan lampion! " Ajak Yan Qian ia menerima satu lampion berukuran besar berwarna merah tua.
" Aku berharap bisa kembali! " Gumam Anya sembari menerbangkan lampion istimewa tersebut
1
2
3
Semua Lampion di terbangkan, Anya tersenyum senang melihat itu semua ia menatap wajah Yan Qian yang bersinar penuh kebahagiaan " 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘮𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘶. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘦𝘳𝘯𝘢 " Batin Anya