NovelToon NovelToon
Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Setelah tiga tahun lulus kuliah, Aira merasa hidupnya hanya sebagai beban. Di saat teman-temannya sukses dengan pekerjaannya, Aira harus menerima kenyataan jika hidupnya sangat menyedihkan.

​Di tengah frustrasinya, teman kuliahnya yang paling cuek, tiba-tiba menelepon Aira. Berawal dari obrolan malam dan lamaran yang dikira candaan, teman prianya mendadak muncul di depan rumah Aira bersama keluarga besarnya untuk melamar Aira.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa Aira akan menerima lamaran tersebut? Mengapa pria itu tiba-tiba melamar Aira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Bulan

​"Sama sekali nggak, Bu. Malah masakan seperti ini yang bikin kangen," balas Arsen hangat, sembari meletakkan sendok dan garpunya yang telah bersih.

​Aira yang melihat piring suaminya tandas tanpa sisa hanya bisa tersenyum simpul. Setelah membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring, Aira segera berganti pakaian dengan celana dan kaus, siap untuk menemani Arsen berjalan-jalan menghirup udara pagi desa.

​"Ayo, Mas. Keburu mataharinya makin terik," ajak Aira sembari melangkah ke teras depan.

​Arsen mengangguk, melangkah santai di samping Aira dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Begitu mereka keluar dari pekarangan rumah, udara segar pedesaan langsung menyapa, hamparan ladang jagung dan siluet gagah Gunung Semeru di kejauhan menjadi latar belakang yang memanjakan mata.

​Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Baru berjalan sekitar lima puluh meter, tepatnya melewati rumah tembok bercat hijau terang milik Bu Romlah, langkah mereka terpaksa melambat.

​Kebetulan yang luar biasa, Bu Romlah sedang berada di teras depan rumahnya, sibuk menyiram tanaman kesayangannya. Begitu mendengar suara langkah kaki dan tawa kecil dari arah jalan, kepala wanita paruh baya itu langsung menoleh secepat kilat. Matanya yang sipit seketika melebar begitu mendapati Aira berjalan berdampingan dengan sesosok pria tinggi, tampan dan berwibawa yang kemarin menjadi buah bibir satu kecamatan.

​Mengingat kekalahannya yang memalukan di warung Bu Darmi tadi subuh, raut wajah Bu Romlah langsung berubah kecut. Namun, dasar hobi bergosip sudah mendarat di nadinya, rasa penasaran mengalahkan rasa malunya dan sengaja mematikan selang air lalu berjalan mendekati pagar pembatas rumahnya dengan senyum yang dipaksakan.

​"Eh, Aira! Mau jalan-jalan sama... suaminya ya?" sapa Bu Romlah, nadanya terdengar manis di luar namun matanya menelisik tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki Arsen.

​Aira menghentikan langkahnya sejenak, ia melirik Arsen yang tampak memasang wajah datar tanpa ekspresi dan mode cowok kulkasnya seketika aktif begitu berhadapan dengan orang asing.

​"Inggih, Bu Romlah. Mau jalan-jalan sebentar mumpung udaranya masih segar," jawab Aira formal, berusaha menyembunyikan rasa malasnya.

​Bu Romlah berdehem, matanya beralih sepenuhnya pada Arsen. "Aduh, Mas-nya ganteng banget ya. Beruntung banget Aira yang cuma lulusan kuliahan nganggur bisa dapet modelan kayak begini. Kenalan dong, Mas. Saya Romlah, tetangga paling dekat yang paling tahu Aira dari kecil," ucapnya dengan nada sok akrab yang kentara.

​Arsen tidak mengulurkan tangan. Ia hanya mengangguk sedikit, sangat tipis, hingga hampir tidak terlihat sebagai sebuah penghormatan.

​"Arsen," jawabnya pendek, suaranya terdengar dingin dan berat, sanggup membuat bulu kuduk yang mendengar meremang.

​Bu Romlah sedikit salah tingkah mendapati respons dingin tersebut, namun ia belum menyerah. "Mas Arsen ini kerjanya apa toh di kota? Kok kemarin bawanya mobil mewah, tapi kok nikahnya siri? Apa ndak takut mas kalau nanti administrasi anaknya susah? Ya kalau langgeng, kalau ditinggal di tengah jalan kan kasihan Airanya," cerocos Bu Romlah tanpa saringan, kembali mengarahkan tombak sindirannya.

​Mendengar kalimat lancang itu keluar lagi dari mulut Bu Romlah, tangan Aira yang menggantung di sisi tubuhnya mendadak mengepal erat. Amarahnya kembali tersulut. Namun, sebelum Aira sempat membuka mulut untuk membalas, sebuah kehangatan tiba-tiba membungkus kepalan tangannya.

​Arsen telah meraih tangan Aira, menggenggam jemari istrinya dengan sangat erat dan posesif di hadapan Bu Romlah.

​Arsen maju satu langkah dan menatap Bu Romlah lurus-lurus dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi, senyum sinis yang sangat tipis terukir di wajah tampannya.

​"Urusan administrasi dan masa depan istri saya, sudah diurus oleh tim hukum keluarga saya dan saya tinggal menunggu kabar. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan hal yang bukan kapasitas Anda," ucap Arsen, suaranya tenang namun setiap katanya terdengar seperti hantaman godam.

​Skakmat.

​Wajah Bu Romlah yang semula kemerahan akibat bedak tebal, seketika berubah pucat pasi laksana mayat. Mulutnya menganga, namun tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa suaminya Aira tidak hanya kaya dan tampan, tapi juga memiliki lidah yang setajam silet dan mengetahui aib keluarganya.

​"Ayo, Ra. Udara di sini tiba-tiba jadi kurang sehat," ajak Arsen santai, tanpa memedulikan Bu Romlah yang sudah mati kutu menahan malu di balik pagarnya.

​Aira menahan tawa yang hampir meledak di dadanya dan mengangguk patuh, "Inggih, Mas," jawabnya.

​Mereka berdua kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang santai, meninggalkan Bu Romlah yang kini meremas selang airnya dengan dongkol dan wajah yang terbakar malu.

​Sepanjang jalan setapak menuju area persawahan, Aira tidak bisa berhenti menatap profil samping wajah suaminya. Genggaman tangan Arsen di jemarinya masih terasa begitu hangat dan protektif, Aira benar-benar beruntung memiliki suami seperti Arsen.

"Aku tahu kalau aku ganteng, tapi ya jangan dilihatin terus, Ra. Aku nggak kuat kalau kamu lihatin terus," ucap Arsen.

Aira seketika membuang muka, berusaha menyembunyikan senyum lebar yang terbit di bibirnya, langkah kaki mereka kini membawa keduanya sampai di area pematang sawah yang hijau membentang. Angin pagi berembus cukup kencang, menggoyangkan daun-daun padi yang mulai merunduk dan membawa kesegaran yang mutlak.

​"Siapa juga yang melihatin Mas Arsen! Geer banget," elak Aira, walau jemarinya sama sekali tidak berniat lepas dari genggaman hangat sang suami.

​Arsen terkekeh pelan, ia menghentikan langkahnya tepat di bawah sebuah pohon talok yang rindang di tepi sawah lalu membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap Aira sepenuhnya.

"Aku dapat kabar dari pengacara, mungkin butuh satu satu bulan sampai pendaftaran selesai. Jadi, kamu bisa menunggu kan?" tanya Arsen.

Aira tertegun sejenak, menatap manik mata Arsen yang berkilat serius namun penuh dengan jaminan perlindungan. Angin sawah berembus memainkan beberapa helai rambutnya yang lolos dari kunciran, memberikan rasa sejuk yang menenangkan.

​Satu bulan. Bagi Aira yang sudah melewati tiga tahun penuh makian dan keputusasaan, menunggu tiga puluh hari lagi bukanlah hal yang berat. Apalagi kini, statusnya sudah sah sebagai istri Arsen di mata agama dan status negaranya sedang diperjuangkan oleh orang-orang paling kompeten.

​"Satu bulan nggak lama kok, Mas. Lagipula, itu memberi waktu buat aku dan Ibu untuk mencicil mengemas barang-barang," jawab Aira dengan senyum tulus yang mengembang di bibirnya.

​Arsen mengangguk paham, tangannya yang bebas bergerak mengusap lembut lengan Aira dan menyalurkan kehangatan. "Baguslah kalau begitu. Aku ingin saat kita pindah nanti, semua urusan di sini benar-benar sudah selesai," ucap Arsen.

​Arsen kemudian mengalihkan pandangannya ke hamparan sawah yang hijau membentang luas di hadapan mereka, siluet Gunung Semeru berdiri dengan anggun di latar belakang dan diselimuti sisa-sisa kabut pagi yang perlahan memudar disengat sang surya.

.

.

.

Bersambung.....

1
erviana erastus
giliran mau minta uang baru ngakuin ank kandung hilman2 sakit jiwakau
Allfa Rizky
kok bisa ya Arsen sampe secinta itu sama Aira,, apa Arsen sudah jatuh cinta sama Aira pas masih kuliah ya
Allfa Rizky
sampai sekarang belum ada cerita bagaimana Arsen bisa langsung memilih Aira jadi istrinya
Aidil Kenzie Zie
ada-ada aja caranya Arsen agar bisa belah duren 🤣🤣🤣🤣gas lah Ra kasihan suamimu dianggurin 1bln lebih lo🤭🤭🥰🥰
Felycia Fernandez
ya kali blom malam pertama..
baru nikah di atas kertas donk namanya..
jangan di tunda lagi,mank malam pertama harus wow gtu keadaan dan tempatnya..
walaupun nikah dadakan tapi kan sudah saling Nerima...
salut aja udah sebulan 😆😆😆
Felycia Fernandez
bapak gila😡😡😡😡
mati aja sana...
udah nggak ada membantu anak,anak dapat suami kaya malah mau morotin...
Felycia Fernandez
good 👍
Felycia Fernandez
bawa gih Aira shopping ke mall Arsen
Felycia Fernandez
semoga nggak perselingkuhan ya kk Thor
Allfa Rizky
masih part gula-gula ya thor,, diabet aku🤭
Felycia Fernandez
dulu di buang suami,sekarang di muliakan menantu...💗
Aidil Kenzie Zie
penasaran Aira udah di unboxing belum ya🤔🤔🤔🤔
erviana erastus: jiwa kepoo meronta-ronta ya ka 🤭
total 1 replies
Allfa Rizky
manisnya Arsen kebangetan 🤭
Allfa Rizky
kisahnya bagus,, pahit d awal terus manis banget malah,, entah d tengah dan akhir cerita,, konfliknya jangan berat2,, apalagi d awal cerita siapa arsenio bagaimana masa lalunya belum ada cerita
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Allfa Rizky
manis banget🤭
Felycia Fernandez
gantian Bu,aku Yaang malah gugup ini,takut Aira tersakiti di jakarta...😞
Felycia Fernandez
Ntar jangan lupa renovasi rumah di kampung ini ya Arsen..
biar tambah panas hati para ibuk2 julidin🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
udah unboxing blom nih Aira 🤣🤣🤭
partini
orang kamu udah out ganti orang kota behhhh Lebih serem 10000x lipat
hati" buanykkkkkk ular kadut menggatal
erviana erastus
semoga didepan nnt nggak ada aral melintang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!