Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Satu
Aruna sedang menyalin catatan milik Ganesha ketika Bel istirahat berbunyi, kelas yang tadinya sunyi berubah menjadi sedikit gaduh saat anak-anak mulai berlomba untuk merapikan buku-buku mereka. Aruna sendiri tidak begitu perduli ketika beberapa anak perempuan datang ke mejanya.
"Umm, Aruna," panggilnya.
Anak itu mendongak malas, "Apa?"
"Mau ke kantin bersama?"
Hah?
Apa ia tak salah dengar?
Bahkan Ganesha yang mengabaikan mereka jadi ikut menatap bingung. Memang setelah insiden Marina dan Paula, Aruna merasakan beberapa perbedaan yang signifikan salah satunya perubahan sikap teman-teman sekolahnya bahkan guru-guru juga. Mereka mulai memperlakukannya dengan baik, bahkan terlalu baik hingga Aruna bisa membaca maksud mereka. Terlalu nampak sekali untuk mencari perhatiannya dengan cara menjilat ludah sendiri.
Tidak malu, heh?
"Wow, ini pertama kalinya kalian berani mengajaknya begini. Bukankah biasanya kalian mengabaikan Aruna?" sindir Ganesha tajam. Tidak bisa dibilang sindiran juga karena Ganesha langsung mengatakan perilaku mereka yang sebenarnya.
Salah satu dari anak perempuan itu tersenyum kaku, "Apa maksudku, Ganesha? Kami tidak begitu, kok."
Ganesha tertawa sarkas sembari menggeleng dramatis, "Katakan saja kalian takut berakhir seperti Marina dan Paula. Tidak perlu seperti itu, sih. Asal kalian tidak mengusik Aruna saja," jelasnya.
"Kami hanya ingin mengajak Aruna makan saja, Ganesha. Bukankah itu wajar? Kenapa kau yang tak terima? Kau bisa bergabung dengan kami jika mau juga," ucap salah satu dari anak-anak perempuan itu dengan nada kesal.
"Setelah kalian membully bahkan menggosipinya bertahun-tahun dan kalian ingin mengajaknya makan siang bersama. Itu bukan hal yang wajar," ucap Ganesha langsung tanpa mengalihkan pandangannya. Sementara anak perempuan itu hanya bisa berdiri terdiam dengan wajah kesal karena tak bisa membalas perkataan Ganesha karena apa yang di katakan itu benar.
"Una! Ganesh!" panggil sebuah suara dari pintu kelas. Mereka sama-sama menoleh dan mendapati Abas disana. Tak lama anak itu masuk dan mendekati mereka dengan raut wajah heran.
"Ada apa?" tanya Abas.
"Bukan apa-apa kok, Baskara. Kami hanya ingin mengajak Aruna makan tapi sepertinya ia masih sibuk menulis," jawab anak perempuan itu cepat sebelum Ganesha dapat menjawabnya, "Kalau begitu kami duluan, Aruna," ucapnya lagi lalu pergi diikuti teman-temannya yang lain. Setelah itu Baskara menatap kedua gadis kecil itu dengan tatapan penuh selidik.
"Apa terjadi sesuatu?"
Ganesha menghela nafas malas, "Mereka anak-anak yang dulu ikut mengata-ngatai Una. Tiba-tiba saja datang dan mengajak makan bersama. Apa dia gila?" dengus Ganesha.
Mendengar hal itu membuat Baskara tertawa terbahak-bahak," Mereka tidak gila hanya masih mencoba menyelamatkan diri setelah melihat apa yang di lakukan Tuan Adijaya saat itu," jelasnya.
"Kau benar."
Sementara Aruna sendiri melihat mereka berdua dengan alis naik, "Aku lapar," ucapnya tiba-tiba.
Ganesha menoleh begitu pun Baskara.
"Ayo kekantin sebelum pelajaran selanjutnya di mulai," ajak Ganesha dan diangguki oleh Aruna cepat.
Ia tak bohong soal lapar. Tidak tahu mengapa akhir-akhir ini nafsu makannya begitu besar hingga ia bisa menghabiskan dua potong daging steak berukuran besar sendirian waktu itu ketika sedang bersama dengan Elvio. Bagusnya, Elvio malah senang melihat anak itu makan dengan lahap.
Mereka berdiri dan berjalan menuju kantin bersama. Aruna sudah tidak perduli dengan kehadiran Baskara sekarang yang akan selalu merecoki dirinya juga Ganesha. Berapa kali pun ia mencoba mengusir anak itu, Baskara takkan pergi dengan alasan yang tidak masuk akal. Jadinya ia membiarkannya saja, toh tidak merugikan juga sebenarnya.
Justru kehadiran Baskara membuat posisi Aruna semakin kuat, anak-anak di sekolah jadi berfikir bahwa Aruna memiliki backingan kuat selain Adijaya yaitu Allaric.
Ketika tiba di kantin, seperti biasa mereka akan menjadi pusat perhatian. Sekali lagi Aruna tidak perduli dan memesan makanan yang ada lalu membawanya ketempat duduk yang kosong. Sementara Ganesha dan Baskara hanya mengikuti saja tanpa mengatakan apapun.
"Kau benar-benar lapar, ya?" tegur Ganesha saat melihat porsi makan Aruna yang tidak seperti biasanya itu.
Aruna mengangguk saja, "Ya. Aku tak tahu kenapa akhir-akhir ini aku selalu ingin makan banyak hal, sudah seperti orang ngidam saja."
Baskara terbahak lagi, "Kau hanya lapar, Aruna. Perumpamaanmu lucu sekali."
"Aku tahu. Sudah lah kalian juga makan saja, jangan menggangguku," desis Aruna pelan dan kembali melanjutkan makannya.
Tak lama seorang anak lelaki bergabung di meja mereka begitu saja tanpa mengatakan apapun. Aruna sampai hampir tersedak karena kaget melihat Mahesa tiba-tiba saja duduk dihadapannya. Bahkan Ganesha tak sempat bereaksi apa pun saking kagetnya.
"Hai, Una," sapa Mahesa lembut dengan senyuman tipis kemudian memakan makanannya sendiri pelan.
Mendengar panggilan itu bukan hanya membuat Aruna melotot kaget tapi juga Ganesha dan Baskara. Mereka menatap Aruna meminta penjelasan sementara anak itu malah memelototi Mahesa tanpa ada rasa takut.
"Mahesa, hentikan itu!" desis Aruna.
Anak itu mendongak lalu mengangkat sebelah alisnya, "Hentikan apa, Una?"
"Hentikan memanggilku begitu!"
"Kenapa? Ganesha dan Abas boleh melakukannya, kenapa aku tidak?"
Pertanyaan yang sama yang dilontarkan Baskara ketika Aruna menolak panggilan itu darinya. Apa mereka semacam anak kembar yang terpisah? Kenapa bisa melakukan hal yang sama bahkan beberapa kali.
"Aku bahkan tidak mengijinkan Abas! Anak itu yang seenaknya sendiri!"
"Loh, bukankah kita sudah menjadi teman, Una? Wah, kejam sekali~" lirih Baskara dengan nada sedih sementara Aruna melihatnya dengan tatapan tajam.
"Tunggu...tunggu... Mahesa, Una, kenapa rasanya kalian tampak lebih akrab? Apa yang kulewatkan?" tanya Ganesha penasaran menginterupsi pembicaraan mereka.
Aruna mendesis sebal menyadari ketajaman Ganesha soal ini. Ia tahu Ganesha pasti sadar tapi kenapa harus secepat ini?
"Apa Una tidak cerita?" ucap Mahesa dengan nada yang membuat penasaran. Ganesha dan Baskara menggeleng pelan.
"Kami bertemu akhir pekan kemarin dan bermain ice skating bersama, bahkan Tuan Adijaya nampak tidak keberatan dengan itu," jawab Mahesa setengah berbohong. Aruna melihat ke arahnya dengan tatapan yang seolah-olah bertanya kenapa ia harus mengatakannya begitu?
"Kalian tidak berkencan, kan?" Baskara bertanya dengan nada berbeda. Bahkan tidak ada nada bercanda yang selalu ia selipkan. Anak itu tampak berbeda dan menatap Mahesa dingin meski faktanya mereka berteman akrab.
Aruna sampai melotot sangar ke arah Baskara cepat, "Apa maksudmu? Kita baru 10 tahun, Abas!" Atau mungkin lebih tepatnya hanya mereka karena usia Aruna yang sebenarnya sudah lebih dari kata cukup bukan hanya untuk berkencan tapi juga menikah dan memiliki rumah tangganya sendiri.
Wajah Abaskara yang tadi tampak begitu datar dan tidak bersahabat langsung berubah menjadi seperti biasanya. Selalu ada cengiran bodoh di sana tanpa pernah terlewat.
"Kau benar!" jawabnya semangat. Lalu duduk di sebelah Mahesa dan merangkul anak itu, "Seharusnya kau cerita padaku, temanku."
Mahesa mendengus dan melepaskan rangkulan Abas, "Untuk apa? Aku tidak harus melapor semua yang ku lakukan padamu."
Abas mendesis, ingin sekali memukul wajah datar Mahesa tapi ia hanya tersenyum sebagai balasan.
"Lagipula, kami bertemu tanpa sengaja asal kau tahu. Aku sedang bersama dengan Ayahku di sana dan bertemu dengan Mahesa tidak di rencanakan," jawab Aruna. Ia malas menceritakan kegiatan mereka di sana karena hanya akan semakin membuatnya sakit kepala dengan semua kegilaan Elvio.
Soal itu, Aruna tidak mengerti dengan perubahan Elvio yang terlampau tak masuk akal. Pria itu sekarang senang sekali menggendongnya atau bahkan mendudukkan dirinya di pangkuannya. Bahkan Elvio sudah dengan terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya di publik dengan bangga.
Sebenarnya bukan hanya Elvio tapi juga saudara-saudaranya termasuk Alvaro juga. Pria itu dulu selalu mengabaikannya bahkan ucapannya selalu terkesan dingin dan menusuk. Namun, akhir-akhir ini Alvaro juga ikut berubah meskipun tidak separah kedua adiknya.
Pria itu masih mempertahankan raut wajah dinginnya yang khas dengan suara datar. Tapi ucapannya sudah tidak setajam biasanya. Sebenarnya cukup membuat Aruna terkaget-kaget karena pria itu lah yang selalu menyakitinya dengan ucapan kasarnya.
"Lain kali ajak aku juga, Una!" ucap Abas.
Aruna mendengus malas, "Aku lebih memilih mengajak Ganesha ketimbang kalian berdua."
Mendengar ucapan itu membuat Ganesha tersenyum bangga sembari melirik Mahesa juga Baskara. Seolah mengatakan pada mereka berdua bahwa apapun yang mereka lakukan, Aruna akan tetap memilihnya. Hal itu membuat kedua anak lelaki itu mendesis kesal bersamaan.
"Woah, mendesis saja bisa bersamaan. Kalian berdua pasti jodoh!" pekik Ganesha ngawur dan membuat Aruna terbahak. Sementara Baskara dan Mahesa saling melirik satu sama lain dengan ekspresi aneh.