Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Batas Provinsi
Pesan singkat dari Teguh di layar ponsel Rana berkedip, memecah keheningan yang mencekam di dalam kamarnya.
Teguh: Aku ada libur 3 hari besok. Apa kamu mau pergi ke Cepu untuk mencari Paklek Tarmuji?
Rana menatap baris teks itu dengan sepasang mata yang menyala oleh tekad yang baru. Rasa nyeri yg tersisa di pipi kirinya akibat tamparan Bu Retno sore tadi seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis seluruh sisa keraguannya.
Rana: Ya, Mas. Kita berangkat besok pagi sekali. Tolong bantu aku.
Teguh: Ok. Besok jam 7 pagi aku akan menjemputmu ke rumah.
Rana meremas ponsel di tangannya erat-erat. Selesai sudah. Tidak ada lagi yang bisa ia harapkan atau gantungkan di dalam rumah ini. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang berlindung, kini tak ubahnya neraka kecil yang siap mengorbankan masa depannya demi tumpukan materi. Mungkin, dengan melangkah nekat mencari keberadaan bapak kandungnya, ia masih memiliki satu persentase harapan untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Rana juga sudah mempersiapkan skenario terburuk. Jika memang kenyamanan dan penerimaan seorang ayah itu tidak ada dalam garis takdir hidupnya, ia berjanji pada dirinya sendiri akan ikhlas menerimanya. Mungkin saja, Allah tidak memberinya jalan keluar lewat orang tua, melainkan sudah menyiapkan skenario jalan lain yang jauh lebih indah dan luar biasa suatu saat nanti.
"Ya Allah, ridhoi setiap pilihan hamba. Kuatkan hati hamba untuk menerima apa pun yang terjadi ke depannya," lirih Rana dalam bisikan doa yang teramat khusyuk.
Gadis itu kemudian beralih membalikkan tubuhnya, mengambil tas ransel hitam besar yang biasa ia bawa. Dengan gerakan taktis, ia mulai mengemas pakaiannya potong demi potong. Cuti tahunan yang sebenarnya sangat ia inginkan dan impikan sejak berbulan-bulan lalu untuk melepas rindu pada kampung halaman, ternyata sama sekali tidak berjalan sesuai dengan harapan. Cutinya kali ini hanyalah sebuah malapetaka yang mendorong tubuh dan mentalnya masuk ke dalam jurang kehancuran.
Setelah selesai merapikan seluruh isi tas ransel dan memastikan dokumen pentingnya aman, Rana menarik napas panjang untuk mengumpulkan ketenangan wajahnya. Ia memutar kunci, keluar dari kamar, dan berjalan melangkah menemui Bu Retno yang saat ini sedang duduk santai di atas kursi panjang sembari menonton acara televisi.
"Bu, aku akan kembali ke tempat kerja besok pagi," kata Rana berbohong, memecah suara bising dari speaker televisi.
Kalimat itu seketika membuat Bu Retno menolehkan kepalanya dengan dahi berkerut tajam.
"Lho, apa maksudmu kembali besok? Bukannya sisa jatah cuti tahunanmu dari kantor masih ada seminggu lebih di sini?"
"Rekanku di bagian administrasi gudang mengajukan cuti darurat karena istrinya mendadak melahirkan. Aku harus kembali ke site besok untuk menggantikan posisinya agar operasional tetap berjalan," dusta Rana tanpa mengedipkan matanya sedikit pun.
Ia menatap langsung ke dalam manik mata ibunya dengan raut wajah yang teramat meyakinkan. Ia sudah bertekad untuk pergi, maka ia harus melakukannya dengan totalitas tanpa cacat. Meski di dalam hati kecilnya, Rana terus-menerus merapalkan kalimat istighfar, memohon ampunan yang sebesar-besarnya kepada Allah atas kebohongan yang terpaksa ia lakukan malam ini.
Rana tahu betul tidak ada satu pun kebohongan yang dinilai baik di dunia ini, tetapi demi menyelamatkan dirinya sendiri dari malapetaka yang lebih besar, ia harus melakoninya. Jika ia jujur mengatakan hendak mencari keberadaan sang ayah, Bu Retno dipastikan tidak akan pernah mengizinkannya melangkah keluar dari pintu rumah.
Bu Retno terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. Bukannya menanyakan bagaimana akomodasi anaknya atau menunjukkan rasa berat hati karena anak sulungnya harus kembali bekerja lebih cepat, wanita itu justru langsung mengulurkan telapak tangan kanannya ke depan dada Rana.
"Ya sudah kalau harus kembali bekerja. Sini, kasih Ibu uang belanja tambahan dulu untuk pegangan sebulan ke depan," pinta Bu Retno dengan wajah tanpa dosa.
Rana sudah menduga tabiat ini sejak awal. Sebelum keluar dari kamar tadi, ia memang sudah sengaja memisahkan lima lembar uang pecahan seratus ribu rupiah dari dompetnya. Dengan gerakan pelan, ia meletakkan lembaran uang merah itu di atas telapak tangan ibunya.
Bu Retno menerima uang itu, menghitung jumlahnya sekilas, lalu cemberut.
"Segini saja? Apa cukup untuk kebutuhan rumah sampai bulan depan? Gajian kemarin saja kamu cuma mengirim satu juta ke rekening Ibu."
Rana memaksakan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan.
"Kalau Ibu meminta lebih dari ini, lalu bagaimana caraku bisa kembali ke pulau seberang, Bu? Aku masih harus memesan tiket pesawat yang harganya sedang naik, membayar penginapan, dan ongkos travel keesokan harinya."
"Ya sudah, ya sudah," ketus Bu Retno, buru-buru memasukkan uang itu ke dalam saku daster batiknya.
Setelah itu, ia kembali memalingkan wajahnya sepenuhnya menatap layar televisi, mengabaikan eksistensi Rana yang masih berdiri tegak menatapnya lekat-lekat dari samping.
Dalam sudut hatinya yang terdalam, Rana sebenarnya masih teramat mengharapkan secuil perhatian atau belaian kasih sayang dari sang ibu. Ia ingin ibunya bertanya apakah ia lelah, atau sekadar memeluknya hangat dan mengucapkan "kamu sudah melakukannya dengan baik". Namun, berkali-kali pula ia harus menelan kepahitan yang sama. Rana berbalik badan dengan perlahan, melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sisa hari dan malam itu dihabiskan Rana untuk melakukan tugas terakhirnya sebagai seorang anak yang berbakti. Ia membersihkan seluruh sudut rumah hingga mengkilap, mencuci piring-piring kotor, dan memasak hidangan porsi besar untuk stok makan ibu dan adiknya besok, sebelum fajar menyingsing.
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, deru motor Teguh terdengar berhenti. Rana yang sudah siap dengan ransel besar di punggungnya segera melangkah keluar dari kamar.
"Ibu, Rana berangkat," pamit Rana lirih.
"Ya," sahut Bu Retno pendek dari arah meja makan, bahkan tanpa menolehkan wajahnya.
Rana mendekat, lalu meraih dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. Bersamaan dengan sentuhan kulit itu, di dalam hatinya yang paling dalam, Rana merapalkan doa, meminta restu kepada sang ibu untuk keberangkatannya mencari bapak kandung.
Begitu naik ke atas boncengan motor, Teguh tidak langsung membawa Rana melesat menuju arah Cepu, melainkan mengarahkan kendaraannya berbelok menuju ke rumah kediamannya sendiri terlebih dahulu. Di sana, di teras rumah yang asri, kedatangan Rana langsung disambut hangat oleh Budhe Sarti dan suaminya, Pakdhe Dikin.
"Semoga... semoga pencarian dan niat baikmu hari ini membuahkan hasil yang manis ya, Nak," kata Budhe Sarti dengan mata berkaca-kaca, langsung merengkuh tubuh kurus Rana ke dalam sebuah pelukan keibuan yang teramat hangat; kehangatan yang tidak pernah Rana dapatkan dari ibu kandungnya sendiri.
"Iya, Budhe. Terima kasih banyak. Mohon doakan yang terbaik untuk Rana di sana nanti," bisik Rana tulus di ceruk leher budhenya.
Pakdhe Dikin yang berdiri di samping istrinya ikut melangkah mendekat, menatap keponakannya dengan pandangan teduh penuh kebapakan.
"Apa ibumu di rumah tahu kalau kamu pergi mencari bapakmu, Na?"
Rana melepaskan pelukannya perlahan, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Pakdhe. Rana terpaksa beralasan kepada Ibu kalau Rana harus kembali ke Kalimantan hari ini karena urusan yang mendesak."
Pakdhe Dikin menganggukkan kepalanya pelan, mengembuskan napas berat.
"Ya... mungkin itu memang pilihan terbaik untuk kondisi sekarang ini, daripada memicu keributan besar di rumahmu."
Sebenarnya, baik Budhe Sarti maupun Pakdhe Dikin sudah sejak bertahun-tahun lalu memendam rasa iba yang teramat besar dan ingin memberitahukan seluruh kebenaran serta detail konflik masa lalu terkait keberadaan Pak Tarmuji kepada Rana.
Hanya saja, janji dan sumpah keluarga di depan mendiang orang tua mereka untuk tidak ikut campur dalam urusan pasca-perceraian Bu Retno, membuat bibir mereka berdua terpaksa tetap bungkam rapat hingga hari ini. Secara langsung mengatakan kepada Rana, mereka tentu tidak akan berani karena takut melanggar janji. Namun, memberikan petunjuk itu secara terselubung lewat perantara Mutia, mereka merasa tidak melanggar esensi janji tersebut demi masa depan keponakan mereka yang kian terpojok.
Setelah menyelesaikan sesi pamitan dan menerima beberapa wejangan keselamatan, Teguh dan Rana akhirnya resmi berangkat memulai perjalanan menuju Cepu.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam perjalanan membelah jalan raya yang relatif lancar, roda sepeda motor Teguh akhirnya tampak melewati sebuah gapura beton megah yang menjadi penanda batas wilayah antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah.
Dengan bantuan aplikasi peta digital di ponsel pintar yang terpasang di stang motor, Teguh melajukan kendaraannya membelah pusat keramaian Kota Cepu, mengarah ke kawasan Terminal Bus Lama yang terkenal sebagai salah satu urat nadi transportasi dan perdagangan di sana.
Suasana di sekitar Terminal Lama Cepu tampak lengang. Teguh memarkirkan sepeda motornya di bawah rindang pohon kersen, tidak jauh dari deretan warung kopi dan kios-kios kelontong yang berjejer rapi di sepanjang pagar pembatas terminal.
"Kita sudah sampai di kawasan Terminal Lama, Rana," kata Teguh sambil melepaskan helmnya.
"Sekarang, bagaimana rencana kita selanjutnya? Area ini cukup luas, dan kita hanya punya modal nama Paklek Tarmuji tanpa tahu spesifik pekerjaan atau bentuk fisiknya sekarang."
Rana turun dari motor, membetulkan letak tali ranselnya yang terasa berat. Sepasang matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling area terminal yang kini terlihat seperti pasar. Lidahnya kembali terasa kelu. Ketakutan akan penolakan dari sang ayah yang sempat mereda selama di perjalanan, kini kembali menyeruak naik ke permukaan, membuat dadanya terasa sesak.
"Rana? Kok malah melamun?" tegur Teguh lembut, menyadari perubahan ekspresi wajah sepupunya yang mendadak memucat.
"Kalau kamu merasa belum siap atau takut, kita bisa duduk beristirahat dulu di warung es cendol itu untuk menenangkan pikiran."
Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kabut ketakutan di kepalanya.
"Tidak apa-apa, Mas. Kita sudah melangkah sejauh ini. Aku tidak boleh mundur hanya karena rasa takut. Ayo kita mulai bertanya dari toko buah yang paling pojok itu."
Teguh tersenyum bangga melihat ketegaran adiknya, lalu menganggukkan kepala. Ia juga salah satu saksi hidup Rana, tentu ia juga menginginkan kebahagiaan untuk adik sepupunya tersebut.
"Semoga saja perjalanan kali ini tidak mengecewakanmu." harap Teguh dalam hati.