【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Keheningan yang sempat merayap setelah suara pecahan gelas itu mendadak pecah oleh kepanikan kecil. Bu Aminah langsung berdiri dari duduknya karena terkejut, matanya membelalak menatap pecahan kaca dan air yang menggenang di lantai papan.
"Ya Allah, Tina! Kamu tidak apa-apa, Nak? Ada yang terluka?" tanya Bu Aminah dengan nada panik, hendak melangkah mendekati anak perempuannya.
"Tina... Tina tidak apa-apa, Ma. Maaf, Tina kurang hati-hati," sahut Tina lirih, suaranya masih bergetar. Ia berdiri mematung dengan jemari yang saling bertautan, mencoba meredakan debaran jantungnya yang berpacu gila-gilaan.
Sebelum suasana semakin canggung, Fandi yang sejak tadi mengintip dari balik pintu luar dengan wajah melongo, langsung melangkah masuk dengan sigap. Setelah para bawahan atau rombongan pembawa bingkisan tadi pergi atas perintah Andry, Fandi merasa bertanggung jawab untuk memastikan keadaan di dalam rumah tetap aman. Dengan membawa sapu lidi pendek dan pengki plastik dari dapur, Fandi berlutut di dekat kaki Tina, dengan telaten membersihkan setiap serpihan kaca tajam yang berserakan.
"Biar aku saja yang bersihkan, Kak. Kakak duduk saja dulu," bisik Fandi pelan, sebuah sikap santun yang membuat Pak Rahman dan Bu Aminah sempat saling pandang penuh rasa haru. Cobaan kemarin benar-benar telah mengubah tabiat pemuda itu menjadi pria yang tahu diri.
Setelah lantai kembali bersih dari bahaya serpihan kaca, Bu Aminah menuntun Tina untuk ikut duduk di atas tikar pandan, bergabung dalam lingkaran pembicaraan yang mendadak terasa begitu krusial. Tina mengambil posisi di sebelah ibunya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Ia bisa merasakan sepasang mata elang milik Andry terus menatapnya tanpa berkedip, seakan-akan jika pria itu memalingkan wajah sedetik saja, Tina akan hilang secara tiba-tiba dari hadapannya.
Ibu Yuna berdeham pelan, mencoba mencairkan ketegangan fana yang mengikat ruangan itu. Ia menatap Tina dengan pandangan penuh rasa sayang yang mendalam.
"Tina... Tante minta maaf yang sebesar-besarnya karena bertindak buru-buru seperti ini tanpa memberi tahu kamu terlebih dahulu," ucap Ibu Yuna lembut, memecah keheningan. "Tapi, menurut Tante, lebih cepat memang lebih baik, Nak. Tante sengaja membawa Andry kemari sekarang agar keponakan Tante ini tidak merencanakan sesuatu yang tidak benar lagi di belakang kita."
Sembari mengucapkan kalimat terakhirnya, Ibu Yuna sengaja melototi Andry yang duduk di sebelahnya. Ditatap tajam oleh tantenya, pria kota yang biasanya angkuh dan berkuasa itu hanya bisa menunduk takzim, mengusap tengkuknya dengan salah tingkah seperti seorang murid yang tertangkap basah membuat kesalahan oleh gurunya.
Tina menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh ketenangannya yang sempat kocar-kacir. Ia mengangkat kepalanya, menatap Ibu Yuna dan Andry secara bergantian dengan tatapan mata jernihnya yang sarat akan prinsip hidup yang kuat.
"Saya... saya sangat menghargai dan menganggap niat Tante Yuna dan Pak Andry ini adalah niat yang sangat baik," tutur Tina, suaranya terdengar lembut namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah. "Tapi, Pak, Tan... seharusnya kan hal seperti ini kita bicarakan dulu baik-baik dari hati ke hati, tidak langsung datang melamar secara mendadak seperti ini. Pernikahan itu bukan perkara kecil. Jujur, saya belum siap dan saya tidak dapat mengambil keputusan secara cepat dalam hitungan menit."
Andry yang mendengar jawaban jujur Tina tampak menarik napas dalam, ada gurat kecemasan yang sempat melintas di wajah tampannya, namun ia tetap mencoba untuk maklum dan menghormati batasan yang dipasang oleh gadis desa itu.
Ibu Yuna tersenyum hangat, mengusap lengan Tina dengan lembut. "Ah, kamu tidak perlu khawatir atau merasa terbebani, Nak Tina. Kami datang hari ini murni hanya untuk menyampaikan niat baik dan keseriusan Andry terlebih dahulu. Kami tidak meminta jawabanmu detik ini juga. Nanti, kalau Nak Tina memang sudah merasa siap dan bersedia membuka hati, kami tentu saja akan datang lagi secara resmi bersama dengan kedua orang tua Andry yang berada di kota."
"Kalau begitu... barang-barang ini semua bagaimana, Bu Yuna?" sahut Pak Rahman ikut angkat bicara, tangannya menunjuk ke arah tumpukan kotak hantaran mewah yang berjejer rapi di sudut ruang tamu.
Andry segera condong ke depan, menyela dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat sopan. "Ini semua hanya hadiah kecil atas kunjungan kami hari ini, Pak, Bu. Tolong diterima sebagai tanda silaturahmi biasa dari saya, tidak ada sangkut pautnya dengan paksaan apa pun lagi. Saya tulus memberikannya."
Tina yang sepenuhnya masih merasa tidak percaya dengan pemandangan di depannya hanya bisa diam. Ia menatap Andry dengan sepasang alis yang berkerut penuh tanda tanya. Pria di hadapannya ini benar-benar tampak seperti orang yang berbeda; tidak ada lagi ancaman koperasi, tidak ada lagi manipulasi sertifikat rumah. Yang ada hanya seorang pria yang sedang berjuang keras mengemis restu.
Sementara itu, di luar pekarangan rumah, suasana damai pagi hari mendadak berubah riuh. Lisa dan Rika yang baru saja selesai berjalan-jalan pagi sembari mengasuh Ali, dikejutkan oleh pemandangan aneh di depan pagar rumah mereka. Para tetangga kampung—mulai dari Ibu-ibu rumpi hingga pemuda setempat—tampak sedang berkerumun dan berbisik-bisik heboh sembari menjulurkan leher mereka ke arah rumah Pak Rahman.
Lisa dan Rika yang melihat kerumunan massal itu seketika dihinggapi rasa panik yang luar biasa. Pikiran mereka langsung melayang pada hal-hal negatif. Mereka khawatir jika penyakit Bu Aminah kambuh lagi, atau lebih buruk, jika Fandi kembali membuat ulah dan memicu masalah baru di desa.
Tanpa membuang waktu, Rika setengah berlari menggendong Ali, sementara Lisa mengekor di belakangnya dengan napas terengah-engah mendekati kerumunan.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa semuanya berkumpul di depan rumah saya?" tanya Rika dengan nada suara yang bergetar panik kepada salah satu ibu tetangga yang berdiri paling depan.
Wanita paruh baya yang ditanya itu menoleh dengan mata berbinar heboh. "Ah, Rika! Kami saja tidak tahu pasti dan justru mau bertanya kepadamu. Tadi itu ada banyak sekali orang berpakaian rapi yang datang dari arah rumah Bu Yuna. Rombongan itu membawa banyak sekali kotak-kotak bingkisan mewah. Jalannya tegap-tegap, seolah-olah mereka sedang ingin melamar seseorang di rumahmu!"
Mendengar kata 'melamar', Lisa dan Rika seketika melongo. Otak mereka mendadak mengalami arus pendek akibat rasa heran yang teramat sangat.
"Melamar?! Melamar siapa?!" teriak mereka berdua secara serentak, suara mereka begitu melengking hingga membuat beberapa tetangga tersentak kaget.
Tanpa memedulikan sopan santun lagi, rasa penasaran yang membakar dada membuat Lisa dan Rika langsung berlari menerobos kerumunan tetangga, memasuki rumah dengan tergesa-gesa.
"Mama! Mama! Siapa yang dilamar?!" teriak Lisa dengan suara cemprengnya yang khas begitu kakinya menginjak lantai ruang tamu.
Dan akibat aksi serobot Lisa dan Rika, para tetangga kampung yang kepo-nya sudah mencapai ubun-ubun merasa mendapat lampu hijau. Mereka ikut bergerak maju, berbondong-bondong masuk ke teras rumah dan mengintip dari balik sela-sela pintu dan jendela yang terbuka lebar.
Suasana ruang tamu Pak Rahman yang semula khidmat kini mendadak berubah menjadi panggung tontonan gratis bagi separuh warga Desa Sukamaju, membuat Andry, Tina, dan kedua orang tuanya seketika menoleh ke arah pintu dengan ekspresi wajah yang campur aduk.