NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

‎Zeffrano melangkahkan kakinya mendekat, lalu berhenti tepat di samping Aruna. Di hadapan semua orang, tanpa ragu sedikit pun, tangan kekarnya bergerak dan melingkar erat di pinggang ramping wanita itu, menarik tubuh Aruna mendekat menyentuh sisi tubuhnya.

‎‎"Ini Aruna," ucap Zeffrano perlahan, suaranya rendah namun bergema jelas memenuhi ruangan, matanya menatap tajam tepat ke manik mata Rafael yang menyala-nyala karena marah. "Sekarang dia adalah sekretaris pribadi saya."

‎‎Darah Rafael seakan mendidih mendengarnya. Bagaimana mungkin Aruna bisa menjadi sekretaris Zeffrano? Dia hanya meminta kekasihnya itu untuk membantunya bicara pada Zeffrano, bukan malah berkerja padanya.

‎‎"Ti-tidak mungkin, Tuan. Aruna ini masih kuliah, dia tidak mungkin...."

‎"Duduklah, Rafael! Jangan buat masalah sekarang! " bisik Tuan Hendrawan dengan suara mendesis rendah namun penuh ancaman, menarik paksa lengan pemuda itu kembali ke arah kursi. "Urusan lain kita bicarakan nanti saja diluar, sekarang kita tidak boleh membuat kesan buruk didepan Tuan Zeffrano. Paham?"

‎‎Rafael menggertakkan gigi kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan amarah yang meluap hingga ke ubun-ubun. Dia duduk kembali dengan kasar, matanya tak lepas menatap Aruna, pandangannya tajam, penuh tanya, sekaligus penuh tuduhan.

‎‎"Kenapa Aruna tidak pernah cerita? Kenapa dia menyembunyikan ini semua? Dan sejak kapan kedekatan mereka menjadi sedekat ini sampai berani bersentuhan seperti itu di depan umum?" batin Rafael bertanya-tanya.

‎‎Sementara itu, Aruna sama sekali tidak bergeming, wajahnya tenang, dingin, dan sama sekali tidak menoleh sedikit pun ke arah Rafael. Sikapnya seolah membenarkan sepenuhnya apa yang baru saja dikatakan oleh Zeffrano, bahwa posisinya disana sah, kuat, dan tak tergoyahkan.

‎‎Zeffrano tersenyum tipis melihat pertunjukan kecil itu, lalu dia berjalan tenang ke kursi utama di ujung meja panjang itu, duduk dengan santai namun tetap memancarkan wibawa mutlak. Aruna mengikuti di belakangnya dengan langkah anggun, lalu duduk di kursi tepat di sebelah kanan Zeffrano.

‎‎Alvin yang sejak tadi berdiri diam kini berjalan maju membawa berkas-berkas dokumen tebal dan meletakkannya di depan Zeffrano dan Aruna, lalu kembali mundur dan berdiri tegak di belakang mereka berdua, mengawasi segala gerak-gerik tamu-tamu itu dengan pandangan tajam dan waspada.

‎‎"Baiklah. Saya sudah membaca sekilas usulan tertulis yang kalian kirimkan. Konsepnya cukup menarik, tapi saya butuh penjelasan mendalam, rinci, dan meyakinkan langsung dari mulut kalian. Sekarang... silakan. Tunjukkan apa yang kalian punya. Presentasikan rencana, strategi, proyeksi keuntungan, dan yang paling penting... jelaskan apa kontribusi nyata yang bisa kalian berikan selain sekedar mengandalkan nama besar Mahesa Group."

‎‎Rafael yang sejak tadi menahan emosi hingga dadanya terasa sesak seolah mendapatkan sinyal untuk melampiaskan sesuatu. Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar, dia bangkit berdiri dari kursinya. Dia merapikan jasnya dengan gesit, lalu menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kacau.

‎‎Dia mulai berbicara, suaranya lantang dan jelas, namun nadanya ada getaran emosi yang tertahan, campuran antara ambisi besar dan rasa tidak percaya yang menyiksa.

‎‎"Terimakasih, Tuan Zeffrano. Izinkan saya yang menjelaskan secara rinci," ucap Rafael, namun pandangannya terkunci pada wajah Aruna.

‎‎"Seperti yang tertuang dalam usulan kami, konsep kerjasama yang kami tawarkan adalah integrasi penuh antara jaringan distribusi kami yang sudah menjangkau hingga ke pelosok daerah, dengan kekuatan modal, teknologi, dan nama besar Mahesa Group."

‎‎Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti penjelasan bisnis, namun sorot matanya berbicara hal lain. Matanya seolah berteriak pada Aruna, kenapa wanita itu duduk disana dan seolah-olah tidak mengenalnya. Apa yang sebenarnya Aruna rencanakan? Apakah wanita itu sudah mulai menyadari jika selama ini dia hanya dimanfaatkan olehnya?

‎‎"Keuntungan yang kami proyeksikan sangat menjanjikan, Tuan," lanjut Rafael, suaranya sedikit meninggi, berusaha menembus tembok dingin yang dibangun Aruna. "Dalam kurun waktu dua tahun saja, kami yakin nilai omzet bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Risiko kerugian hampir tidak ada, karena kami sudah memiliki kontrak pasokan yang mengikat dan jaminan pemasaran yang jelas. Kami hanya butuh satu hal... sentuhan tangan dingin Mahesa Group, dan tentu saja... dukungan dari orang-orang yang kami percaya, orang-orang yang kami anggap bagian dari diri kami sendiri."

‎‎Kalimat terakhir itu diucapkannya perlahan, tegas, dan matanya menatap Aruna lebih tajam dari sebelumnya, berharap ada sedikit reaksi dari wanita itu. Namun harapan itu kembali dipatahkan.

‎‎Aruna perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu tepat dengan tatapan Rafael. Tidak ada kilatan cinta, tidak ada kilatan rindu. Yang ada hanyalah sorot mata dingin dan tajam.

‎‎"Data mengenai jaringan dan proyeksi omzet yang Tuan Rafael sampaikan memang terlihat bagus," ucap Aruna, matanya masih bertatapan dengan Rafael tanpa berkedip sedikit pun. "Saya telah melakukan pengecekan ulang dan verifikasi lapangan atas semua klaim itu. Memang ada beberapa poin yang perlu disesuaikan dan diperbaiki agar sesuai dengan standar Mahesa Group, namun secara garis besar, konsep ini memiliki dasar yang kuat dan potensi yang nyata untuk dikembangkan."

‎‎Kalimat itu membuat napas Tuan Hendrawan dan Tania seketika lega. Senyum lebar kembali mengembang di wajah mereka. Rafael sendiri sedikit tertegun, merasa heran karena Aruna sekarang sudah mulai memahami tentang bisnis.

‎‎Zeffrano yang sedari tadi diam mengamati interaksi itu, dia tersenyum miring dan bersandar malas di kursinya.

‎‎"Bagus. Penilaian Aruna sejalan dengan apa yang saya pikirkan. Kalian punya gagasan dan akses pasar yang belum kami raih, dan kalian punya keberanian untuk menawarkan kerjasama ini. Dan yang paling penting... kalian diperkenalkan dan didukung penuh oleh orang yang paling saya percayai saat ini, yaitu Aruna sendiri."

‎‎Dia menjeda sejenak, lalu menatap ketiga orang itu bergantian dengan pandangan yang serius namun ramah.

‎‎"Karena penilaian Aruna positif, dan dia juga meyakinkan saya bahwa kerjasama ini layak dijalankan dan menguntungkan kedua belah pihak... maka saya putuskan."

‎‎Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Jantung Tuan Hendrawan berpacu kencang, keringat dingin menetes lagi di pelipisnya. Rafael menahan napas, matanya semakin membesar menatap Zeffrano, lalu kembali beralih ke Aruna.

‎‎"Mahesa Group menyetujui usulan kerjasama ini," ucap Zeffrano perlahan namun tegas, kalimatnya terdengar seperti musik paling indah yang pernah mereka dengar seumur hidup. "Kita akan bekerjasama."

‎‎Wajah Tuan Hendrawan bersinar terang, matanya berkaca-kaca karena bahagia yang meluap. Dia hampir saja melompat dari kursinya. "Terimakasih! Terimakasih banyak, Tuan Zeffrano! Anda tidak akan menyesal, kami berjanji akan bekerja sekeras mungkin!"

‎‎Tania tersenyum lebar, tangannya saling menekan di dada, merasa kemenangan dan kekayaan sudah ada di depan mata.

‎‎Zeffrano mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi isyarat agar mereka tenang.

‎‎"Namun ingat baik-baik syarat utamanya," sambungnya dengan nada yang kembali serius dan mengancam. "Segala perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan penuh proyek ini akan dikoordinasikan langsung oleh Aruna. Dia akan menjadi perwakilan penuh saya, pemegang kendali mutlak atas keputusan apapun yang berkaitan dengan kerjasama ini. Apapun arahan dan aturan yang dia buat... itu adalah hukum, dan kalian wajib mematuhinya tanpa bantahan sedikitpun."

‎‎Rafael terdiam sejenak. Ada rasa getir yang menjalar di hatinya mendengar syarat itu. Mendengar bahwa wanita yang dulu dia anggap remeh, wanita yang dia jadikan alat, kini akan menjadi atasan mereka. Namun, saat dia menatap wajah Aruna yang begitu berwibawa dan cantik dalam posisi kekuasaan itu, rasa cemburu, kagum, dan rasa bangga bergolak hebat di dadanya.

‎‎"Mengapa aku baru sadar, kalau Aruna sangat cantik dan lebih segala-galanya dari Tania. Aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya kan?" batin Rafael penuh kebimbangan.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
niatnya lain kyknya
〈⎳ FT. Zira
masih punya stok drama ternyata/Sweat/
〈⎳ FT. Zira
pingsan aja.. gak ada yg larang kok
〈⎳ FT. Zira
eaaa... rayuannya bang... meleleh hatiku
〈⎳ FT. Zira
zekarang minta maaf , yg kemarin percaya diri mana wajahnya/Drowsy/
〈⎳ FT. Zira
otak mereka mana nyampe.. tau nya kan cuma ngambil yg bukan hak nya doang🤧
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
〈⎳ FT. Zira: giliran di suruh nuduh "kamu tega!" hwakkk/Sob/🤣🤣🤣
total 2 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!