JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Jamuan makan malam yang menegangkan itu akhirnya usai, meninggalkan sisa-sisa atmosfer kaku yang masih menggelantung di udara. Di dalam ruang tengah yang hangat, Andi Permana dan Elang Widjaja masih duduk berhadapan, menyesap cerutu dan melanjutkan obrolan bisnis mereka yang bernilai miliaran rupiah. Di sudut lain, Anggun dan Silviana sibuk memamerkan koleksi tas terbaru mereka, sementara Chelsea asyik berswafoto di dekat perapian palsu.
Haura merasa sesak. Berada di dalam ruangan itu membuatnya merasa seperti pajangan yang harus terus tersenyum manis demi menjaga citra keluarga. Ia melangkah pelan memisahkan diri dari kerumunan, berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman depan.
Begitu pintu terbuka, embusan angin malam Jakarta yang dingin langsung menerpa wajahnya. Di dekat pilar teras, di bawah temaram lampu taman, Haura menangkap siluet tubuh tinggi menjulang. Marco sedang berdiri di sana. Setelan jas hitamnya masih terpasang rapi, namun kancing kemeja putihnya kini sudah terbuka dua, mengekspos leher jenjangnya. Tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang menyala, mengirimkan asap tipis yang langsung pudar tersapu angin.
Haura sempat ragu sejenak, meremas jemarinya yang mendadak dingin. Rasa bersalah dan tidak enak hati atas interogasi papanya di meja makan tadi terus mengusik pikirannya. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara ketukan heels yang terlalu keras, ia mendekat.
"Marco..." panggil Haura lirih.
Marco tidak tersentak. Ia perlahan menurunkan rokok dari bibirnya, lalu menoleh. Sepasang mata tajam itu menatap Haura dari ujung kepala sampai ujung kaki, sebelum akhirnya ia membuang asap rokoknya ke arah berlawanan agar tidak mengenai wanita itu.
"Kenapa, Tan? Kangen?" goda Marco, ketengilannya kembali dalam sekejap, seolah ketegangan di meja makan tadi tidak pernah memengaruhi mentalnya sama sekali.
Haura menghela napas panjang, mengabaikan godaan tersebut. Ia berdiri di samping Marco, menatap lurus ke arah gerbang mansion yang tertutup rapat. "Maaf soal Papa tadi di meja makan. Dia... dia emang orangnya agak blak-blakan. Suka menghakimi orang lain tanpa tahu cerita sebenarnya."
Marco terkekeh pelan, suara kekehannya terdengar berat di malam yang sepi. Ia mengisap kembali rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab, "Gue udah tahu. Sama kayak Papa gue. Orangnya penuh aturan, ngerasa paling benar, dan selalu nganggap semua hal yang nggak sesuai sama standarnya itu sebagai kesalahan."
"Orang kayak mereka emang gitu," sahut Haura, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecut yang penuh kepedihan. "Dan sebagai anak, mereka selalu nyuruh kita buat patuh. Nggak boleh ada bantahan, nggak boleh ada celah buat salah."
Marco mematikan ujung rokoknya pada aspal, lalu membuang puntungnya ke tempat sampah kecil di sudut teras. Ia membalikkan tubuhnya, bersandar pada pagar pembatas besi dan melipat tangannya di depan dada, menatap profil samping wajah Haura dengan intens.
"Lo nggak capek, Tan?" tanya Marco tiba-tiba, suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen bercandanya.
Haura menoleh, alisnya bertaut. "Capek apa?"
"Jadi boneka Papa lo. Dituntut ini-itu, dijodohin sama cowok-cowok borjuis pilihan dia, harus kelihatan sempurna tiap detik seolah-olah lo nggak punya hak buat sakit atau gagal. Lo nggak capek hidup kayak gitu?"
Pertanyaan Marco menghantam bagian paling dalam dari pertahanan diri Haura. Wanita berusia 38 tahun itu terdiam cukup lama, membiarkan keheningan malam menjembatani jeda di antara mereka.
"Capek?" Haura mengulang kata itu dengan suara yang perlahan melemah. "Bohong kalau aku bilang nggak, Marco. Nyatanya, hidup penuh aturan itu emang ribet. Setengah mati rasanya harus terus pasang topeng 'Ratu Jastip yang sukses dan mandiri' di depan semua orang, sementara di dalam rumah ini, aku cuma anak bungsu yang dianggap belum lengkap karena belum nikah."
Haura mengembuskan napasnya yang terasa berat, menciptakan uap tipis di udara malam. "Tapi... aku nggak pernah benci sama Papa. Gimanapun juga, mereka itu orang tua kita. Mereka yang ngebesarin kita, ngasih fasilitas, ngasih nama besar. Mungkin, kalau bukan Papa orang tua aku... aku bukan Haura yang mandiri dan sekeras kepala kayak sekarang. Didikan keras dia yang bikin aku punya mental baja buat bangun bisnis sendiri."
Haura menatap Marco dengan pandangan menyelidiki, membalikkan arah pembicaraan. "Kalau kamu sendiri? Gimana rasanya punya orang tua kayak Andi Permana? Dari cara bapak kamu nuntut kamu di meja makan tadi, kayaknya hidup kamu nggak lebih longgar dari aku."
Marco mendengus sinis, matanya menatap kosong ke arah langit malam yang tanpa bintang. "Papa gue beda sama Papa lo, Tan. Papa lo nuntut lo karena dia pengen lo sempurna. Kalau Papa gue? Dia nuntut gue karena di mata dia, gue ini produk gagal. Sampah yang cuma bisa bikin malu nama keluarga."
Haura tertegun mendengarnya. Ada rasa sesak yang menjalar di dadanya saat melihat kilatan luka yang tersembunyi di balik mata egois pemuda itu.
"Sejak nyokap kandung gue meninggal dan dia nikah lagi sama wanita itu," Marco menunjuk ke arah dalam rumah dengan dagunya, "gue nggak pernah ngerasa punya rumah lagi. Rumah itu cuma tempat singgah yang hawanya lebih dingin dari kulkas ruko lo. Apapun yang gue lakuin selalu salah. Kuliah DKV dibilang nggak punya masa depan, main motor dibilang berandalan. Makanya, pas gue liat lo dibentak semalam, gue langsung refleks gerak. Karena gue tahu persis rasanya disudutkan sendirian tanpa ada satu orang pun yang berdiri di pihak kita."
Haura menatap Marco dengan tatapan yang kini sepenuhnya melunak. Keangkuhannya sebagai seorang wanita dewasa runtuh digantikan oleh rasa empati yang mendalam. Ternyata di balik sifat brat-nya yang menyebalkan, pemuda ini membawa beban yang sangat berat di pundaknya.
"Alasan aku buat nggak deket sama cowok selama ini sebenarnya cuman satu, Marco," ujar Haura tiba-tiba, membuat Marco menoleh kembali menatapnya. Suara Haura terdengar begitu tulus dan pasrah. "Aku nggak mau punya suami kayak Papa."
Marco terdiam, mendengarkan dengan saksama.
"Banyak aturan, gak bisa bebas mengekspresikan diri, selalu mendominasi segala hal," lanjut Haura, matanya berkaca-kaca menahan emosi yang sudah bertahun-tahun ia pendam sendiri. "Di hidup yang cuma satu kali ini... rasanya nggak adil banget kalau kita harus hidup di bawah bayang-bayang ego orang lain terus-terusan sampai tua. Aku mending sendiri, ngurus ruko, ngurus barang jastip, daripada harus menyerahkan sisa hidup aku ke tangan cowok yang bakal ngebatasin ruang gerak aku kayak Papa."
Marco menatap Haura yang kini tampak begitu rapuh namun luar biasa cantik di bawah cahaya lampu taman. Air mata yang menggenang di sudut mata wanita itu membuat naluri berburu dan melindungi di dalam diri Marco bergejolak hebat.
Marco melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan heels marun Haura. Ia menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Haura yang bergerak gelisah karena kedekatan mereka yang mendadak.
"Gue faham, Haura," bisik Marco, suaranya begitu rendah dan dalam, mengirimkan getaran aneh yang langsung merayap ke tengkuk Haura. "Tapi lo harus tahu satu hal. Nggak semua cowok itu kayak bokap lo. Dan gue... gue nggak punya niat sedikit pun buat bikin aturan di hidup lo."
"Marco, kamu—"
"Gue bilang kan semalam, anggap gue sebagai pengecualian," potong Marco, tangan kanannya perlahan bergerak naik, dengan berani menyelipkan sehelai rambut Haura yang berantakan ke belakang daun telinganya. Sentuhan kulitnya yang hangat membuat tubuh Haura membeku seketika. "Lo boleh tetap jadi Ratu Jastip yang tangguh di luar sana. Lo boleh bebas ngekespresiin diri lo sekasar atau segalak apapun yang lo mau. Tapi kalau lo capek... lo cuma perlu balik badan, karena gue bakal ada di sana buat jadi tempat lo bersandar tanpa banyak aturan."
Haura terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Marco bisa mendengarnya. Di bawah dinginnya malam Mansion Widjaja, di antara kepulan asap rokok yang telah sirna, dua jiwa yang sama-sama terpenjara oleh ego sang ayah itu kini perlahan mulai menemukan kunci kebebasan mereka pada diri satu sama lain.
***
Minal aidzin walfaidzin gaes🙏
semangattt