NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Singgah di Kota Kadipaten.

Matahari pagi menyemburatkan warna jingga keemasan saat Erlang dan Sekar Arum melangkah keluar dari jalur perbukitan kapur selatan. Setelah menempuh perjalanan semalaman menembus lorong-lorong rahasia Goa Langse yang ternyata terhubung dengan jalur tikus perbatasan timur, mereka akhirnya tiba di pinggiran wilayah subur yang menandai batas luar Kota Kadipaten. Hutan di wilayah ini jauh lebih rimbun dan hijau, didominasi oleh deretan pohon mahoni tua yang menjulang tinggi, menaungi jalanan tanah lebar yang biasa dilalui oleh kereta-kereta kuda pengangkut upeti kerajaan.

Sekar Arum berjalan di samping Erlang dengan penampilan yang sudah kembali tertutup rapi. Atas permintaannya sendiri sebelum matahari terbit tadi, ia kembali mengoleskan sisa bedak kusamnya demi menjaga keamanannya, meskipun di mata Erlang yang telah melihat, bayangan kecantikan asli Sekar yang luar biasa semalam tetap melekat kuat dan tidak bisa hilang dari ingatan.

"Waduh, Nimas Sekar," ujar Erlang santai sembari membetulkan letak pikulan bambunya. "Udara di Kota Kadipaten ini rasanya beda dengan Parangtritis kemarin. Lebih adem, tapi bau-bau hawa orang sakti di sekitar sini rasanya makin ramai dan berseliweran toh?"

Sekar Arum melirik Erlang dari balik caping bambunya, berjalan dengan keanggunan seorang putri bangsawan yang kembali kaku namun sarat akan kehangatan rahasia setelah janji mereka semalam. "Itu karena Kota Kadipaten adalah pusat berkumpulnya para pejabat tinggi, saudagar kaya, dan para pendekar bayaran dari berbagai penjuru trah kerajaan, Erlang. Kamu harus lebih hati-hati, jangan sampai ketahuan menyembunyikan kitab itu di balik bajumu."

"Nggih, Nimas. Tenang saja, kitab ini aman kok di tempatnya," sahut Erlang polos sembari menepuk dadanya sendiri.

Belum sempat Erlang melanjutkan kalimatnya tentang keinginannya makan tahu bacem hangat di pasar Kadipaten, sebuah suara gemuruh yang sangat dahsyat mendadak memecah keheningan hutan mahoni di depan mereka.

Groaaarrr!!!

Suara raungan itu sangat mengerikan, bukan suara harimau hutan biasa, melainkan deru suara yang bergetar bersama gelombang energi hitam yang sangat pekat, membuat daun-daun mahoni berjatuhan rontok secara bersamaan. Tak lama setelah itu, terdengar suara jeritan histeris beberapa kusir dan derap kaki kuda yang berlari panik tak beraturan, disusul suara benturan keras kayu kereta yang menghantam batang pohon.

Brakrr! Istaa! Tolong!

"Erlang! Ada serangan di depan!" seru Sekar Arum, matanya membelalak tajam saat mengetahui adanya getaran hawa membunuh yang sangat liar di balik tikungan jalan setapak hutan mahoni.

"Ayo, Nimas! Kita lihat ke sana!" sahut Erlang, kepolosannya langsung berganti dengan kesigapan seorang pelindung.

Dengan menggunakan kombinasi gerak cepat Tapak Angin Sepoi, Erlang dan Sekar melesat maju bagai dua bayangan angin yang membelah rimbunnya semak. Hanya dalam tiga kali hitungan jantung, mereka telah tiba di sebuah jalanan tanah yang luas dan langsung disuguhi oleh pemandangan yang sangat menegangkan.

Sebuah kereta kuda mewah bercat hijau tua dengan ukiran emas khas keluarga bangsawan tinggi tampak terguling miring di tengah jalan setelah menabrak pohon mahoni besar. Dua ekor kuda penariknya telah tewas mengenaskan dengan luka cakar yang menghitam di bagian leher. Di depan pintu kereta yang jebol, tiga orang pengawal berpakaian perisai perak tampak terkapar mandi darah dengan kondisi lemas.

Tepat di atas atap kereta yang terguling, sesosok makhluk mengerikan sedang berdiri dengan angkuh. Makhluk itu berwujud seekor harimau loreng raksasa setinggi rumah panggung, namun sepasang matanya menyala merah darah memancarkan aura hitam, dan kaki-kakinya diselimuti oleh kabut asap magis yang membuktikan bahwa ia adalah sesosok harimau siluman peliharaan dukun sakti beraliran sesat.

Di bawah kolong kereta yang ringsek, seorang wanita bangsawan muda berusia sekitar sembilan belasan tahun tampak meringkuk ketakutan. Wanita muda itu memakai kemben sutra ungu mewah dengan hiasan tusuk konde emas berbentuk bunga kenanga di rambutnya. Wajahnya yang cantik jelita tampak pucat pasi, air matanya meleleh membasahi pipi saat harimau siluman itu mulai menundukkan kepalanya yang besar, memamerkan taring-taring panjang berlumur air liur hitam tepat ke arah ceruk persembunyiannya.

"T-tolong... siapapun... Gusti Allah, tolong saya..." rintih wanita bangsawan muda itu dengan suara yang kian melemah karena syok.

"Heh! Kucing Besar Amis! Jangan berani-berani menyentuh Gusti Ayu itu toh!" teriak Erlang lantang, melompat maju ke tengah jalan tanah dengan pikulan bambu tuanya yang digenggam menggunakan tangan kanan.

Harimau siluman itu menoleh secara mendadak, mengeluarkan geraman rendah yang membuat tanah berpasir di sekitarnya bergetar halus. Sorot mata merahnya menatap tajam ke arah Erlang yang penampilannya lusuh seperti anak gembala sapi. Merasa terganggu oleh kedatangan manusia kere, makhluk mistis itu langsung melompat dari atas atap kereta, menerjang lurus ke arah dada Erlang dengan kedua cakar depannya yang mengeluarkan pisau angin hitam sepanjang satu jengkal.

Wusss!

Serangan cakar itu membawa bobot tenaga setingkat pendekar kelas atas. Namun, Erlang berdiri dengan sangat tenang. Di dalam dadanya, pusaran energi hangat sedang berputar selaras. Ia menggeser kaki kirinya membentuk sudut melingkar dasar Langkah Bambu Gurun, lalu mengayunkan bambu tuanya dengan gerakan menyamping yang sangat santai seperti orang yang sedang mengusir ayam liar di pekarangan rumah.

Plakkk!

Ujung bambu tua Erlang yang telah dialiri sebersit kecil energi murni tak terbatas tepat mengenai pergelangan kaki depan harimau siluman tersebut. Sentuhan ringan itu berakibat fatal bagi sang makhluk mistis, seluruh bobot terjangannya mendadak berbalik arah memukul dirinya sendiri, membuat tubuh raksasanya terpental ke samping dan menghantam jajaran semak mahoni hingga tumbang berhamburan.

Brakrr!

Harimau siluman itu melolong kesakitan, berusaha bangkit berdiri namun kaki kanannya tampak gemetar hebat karena urat penggeraknya telah terkena oleh ketukan bambu Erlang. Menyadari bahwa manusia lusuh di depannya ini memiliki ilmu pelindung tingkat dewa yang tidak bisa ia lawan, makhluk cerdik itu mengeluarkan kepulan asap hitam pekat untuk membutakan pandangan mata, lalu melompat melarikan diri melintasi pucuk-pucuk pohon mahoni menuju hutan dalam, dengan hanya hitungan detik.

"Waduh, kucingnya cepat sekali ya larinya kalau ketakutan," komentar Erlang santai sembari menyampirkan kembali bambu tuanya ke atas pundak, seolah baru saja mengusir kucing dapur biasa.

Sekar Arum yang sejak tadi bersiap dengan kuda-kuda tarian sutra birunya langsung mengendurkan ketegangan batinnya. Ia melirik Erlang dengan senyuman kecil di balik capingnya, lalu buru-buru melangkah mendekati kolong kereta kuda yang ringsek.

"Gusti Ayu, bangunlah. Bahayanya sudah pergi jauh," panggil Sekar Arum dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan, mengulurkan tangannya yang putih bersih untuk membantu wanita bangsawan muda itu keluar dari himpitan kayu kereta.

Wanita bangsawan muda dengan hiasan konde kenanga itu mengerjapkan sepasang matanya yang indah dengan ragu sejenak. Begitu melihat harimau siluman telah lenyap dan sekarang di depannya berdiri seorang gadis berbaju biru yang memancarkan aura tenang, ia perlahan menerima uluran tangan Sekar dan merangkak keluar dari kolong kereta dengan tubuh yang masih gemetar halus.

"Terima... terima kasih banyak, Nimas... Kangmas..." gagap wanita muda itu sembari merapikan kain sutra ungunya yang agak robek terkena serpihan kayu. Ia membungkuk dalam-dalam di hadapan Sekar dan Erlang. "Perkenalkan... nama saya Kenanga, putri bungsu dari Ki Tumenggung Haryo Subroto, penguasa wilayah barat Kadipaten ini. Jika... jika bukan karena pertolongan sakti dari panjenengan berdua tadi, nyawa saya pasti sudah melayang di dalam perut siluman utusan dukun hitam itu."

Erlang melangkah mendekat, tersenyum polos sembari menggaruk rambut belakangnya dengan gaya cueknya. "Oalah, Gusti Ayu Kenanga toh namanya... Nama yang beneran harum seperti bunga di pekarangan rumah Paman Suro. Kenalkan juga, nama saya Erlang, dan ini teman perjalanan saya, Nimas Sekar. Kami ini cuma musafir mlarat yang kebetulan lewat mau mencari warung makan di Kota Kadipaten, Gusti Ayu."

Kenanga menatap Erlang dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum dan takjub yang amat sangat. Di matanya, penampilan Erlang beneran sangat bertolak belakang dengan kejeniusan ilmu silatnya yang ditunjukkan saat menepis cakar siluman raksasa tadi yang hanya menggunakan sebatang bambu tua lapuk.

"Kangmas Erlang jangan memanggil saya Gusti Ayu toh, panggil saja Kenanga," ujar Kenanga dengan senyuman manisnya yang anggun, rona merah mulai kembali ke wajah cantiknya yang mulai tenang. "Keluhuran budi panjenengan berdua beneran tidak ternilai harganya bagi keluarga kami. Pengawal-pengawal saya saat ini sedang terluka parah dan kereta saya sudah hancur. Jika panjenengan berdua tidak keberatan, sudilah kiranya menemani saya berjalan masuk ke pusat Kota Kadipaten. Di sana, ayah saya pasti akan menyambut panjenengan sebagai tamu kehormatan tertinggi di istana kadipaten."

Sekar Arum melirik Erlang, memberikan kode lewat kedipan mata yang tajam, seolah memperingatkan janji mereka semalam untuk saling menjaga dari kelicikan intrik luar. Sekar kemudian kembali menatap Kenanga dengan anggukan berwibawa. "Sebuah kehormatan bagi kami bisa menemanimu berjalan aman sampai ke gerbang kota, Kenanga. Kebetulan kami memang butuh tempat singgah yang aman untuk mencari informasi penting di dalam kota."

"Nggih, beneran itu Gusti... eh, Kenanga," timpal Erlang gembira, matanya berbinar memikirkan prospek tumpangan makan gratis yang berkelas di rumah pejabat tinggi. "Mari kita jalan sekarang sebelum hari kian siang. Biar pengawal-pengawalnya saya bantu papah juga sekalian agar tidak tertinggal di hutan mahoni ini."

Dengan penuh keramahan dan keseganan yang mendalam, Kenanga berjalan beriringan bersama Erlang dan Sekar Arum meninggalkan area sisa pertempuran, menapak jalur tanah lebar menuju kemegahan tembok tinggi Kota Kadipaten. Pertemuan tak terduga dengan putri tumenggung lokal ini tanpa disadari telah membuka sebuah pintu gerbang takdir baru yang kian lebar, menuntun langkah kedua pengembara muda itu masuk ke dalam pusat pusaran kekuasaan yang sarat akan misteri dan rahasia besar di tanah selatan.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!