Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: SINGULARITAS
08:15:00
Cahaya biru itu tidak hanya menyilaukan mata, tapi juga "menyilaukan" kulit. Vero merasakan sensasi menggelitik di seluruh permukaan tubuhnya saat melangkah masuk, seolah-olah udara di ruangan itu bermuatan listrik statis ribuan volt.
Ruangan itu—Temporal Core—adalah sebuah dome (kubah) raksasa setinggi tiga lantai. Dindingnya dilapisi panel heksagonal hitam yang menyerap suara. Tidak ada gema. Hening yang absolut dan tidak wajar.
Di tengah ruangan, melayang di udara tanpa penyangga, terdapat sebuah bola energi berdiameter tiga meter. Benda itu berputar pelan, membiaskan cahaya menjadi spektrum warna yang tidak pernah dilihat mata manusia sebelumnya. Itu adalah Singularitas Buatan. Mesin waktu itu sendiri.
Di sekeliling bola energi itu, cincin-cincin logam raksasa berputar pada poros yang berbeda (gyroscope), mendengung rendah seperti suara lebah raksasa. Kabel-kabel setebal paha manusia menjuntai dari langit-langit, terhubung ke sebuah Terminal Induk di ujung ruangan.
"Itu..." bisik Sarah, matanya terpaku pada bola energi itu. "Indah sekali."
"Itu kanker," koreksi Vero. "Maya, lari ke Terminal itu. Masukkan Drive-nya."
Maya mengangguk, memeluk tas pendinginnya, dan mulai berlari melintasi jembatan kaca yang menghubungkan pintu masuk dengan Terminal Induk.
Vero dan Sarah mengikutinya, senjata terarah ke segala penjuru.
Ruangan ini tampak kosong. Terlalu kosong.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Bukan dari depan, tapi dari atas.
Seseorang mendarat di jembatan kaca, sepuluh meter di depan mereka, menghalangi jalan menuju Terminal.
Pendaratannya begitu berat hingga kaca di bawah kakinya retak, tapi dia bangkit berdiri tanpa goyah.
Pria itu mengenakan Exoskeleton Suit (rangka luar robotik) minimalis yang menempel di lengan dan kakinya. Wajahnya tertutup masker taktis separuh muka. Matanya... satu matanya adalah implan bionik merah menyala.
"Komandan Silas," bisik Maya, berhenti mendadak. Wajahnya memucat. "Kepala Keamanan Triad. Dia... dia bukan manusia biasa."
Silas berdiri tegak, merentangkan tangannya yang dilapisi logam hidrolik.
"Dr. Maya," suaranya terdengar teramplifikasi secara elektronik. "Dan dua tikus kecil yang lolos dari selokan."
Vero melangkah maju, menutupi Maya dan Sarah.
"Kau yang terakhir?" tanya Vero.
Silas tertawa. "Aku yang pertama, dan yang terakhir. Selamat datang di Ground Zero. Kalian terlambat. Stasiun sudah runtuh. Energi kematian ribuan orang itu..." Silas menunjuk bola energi di belakangnya, "...sedang dihisap oleh mesin ini untuk menstabilkan Loop berikutnya."
Vero mengerutkan kening. "Dihisap? Loop ini bukan kecelakaan?"
"Kecelakaan?" Silas mendengus. "Ini adalah Panen. Setiap kali stasiun meledak, setiap kali kepanikan massal terjadi, gelombang entropi itu memberi makan mesin ini. Kami sedang membangun masa depan abadi, Nak. Dan kalian hanyalah baterai."
Vero merasa mual.
Adrian bilang dia ingin menyelamatkan dunia dari virus.
Silas bilang mereka memanen energi kematian.
Triad Industries benar-benar pabrik iblis.
"Sarah, Maya... saat aku bergerak, kalian lari," bisik Vero tanpa menoleh.
"Kau tidak bisa melawannya sendirian, Vero," Sarah memperingatkan. "Lihat tangannya. Itu hidrolik industri."
"Aku tidak perlu menang," kata Vero. "Aku cuma perlu bertahan 30 detik agar Maya bisa memasukkan kodenya."
Vero membuang pistol Glock-nya yang pelurunya tinggal sedikit. Dia mengambil senapan serbu HK416 yang dia curi dari tentara di tangga darurat tadi.
"LARI!" teriak Vero.
Vero memberondongkan peluru ke arah Silas.
TATATATATA!
Silas tidak menghindar. Dia mengangkat lengan kirinya menutupi wajah.
Peluru 5.56mm menghantam pelat baja di lengan exoskeleton-nya, memercikkan api tapi tidak menembus.
Maya dan Sarah berlari menyamping, mencoba memutari Silas menuju Terminal.
Silas melihat gerakan itu. "Tidak semudah itu."
Dia bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar—dibantu oleh servo motor di kakinya. Dia melompat menerjang.
Bukan ke arah Vero. Ke arah Maya.
"MAYA AWAS!"
Vero membuang senapannya yang habis peluru dan menerjang (tackle) Silas di udara.
Mereka berdua jatuh berguling di jembatan kaca.
Berat tubuh Silas ditambah baju besinya seperti ditabrak motor. Tulang rusuk Vero yang sudah retak, kini patah sepenuhnya.
"Uhuk!" Vero meludah darah.
Silas bangkit lebih dulu. Dia mencengkeram leher Vero dengan tangan mekaniknya, lalu mengangkat tubuh Vero ke udara seolah Vero seringan boneka kain.
"Kau punya semangat," kata Silas, cengkeramannya mengerat. Vero merasa tenggorokannya remuk. "Tapi semangat tidak bisa mengalahkan baja."
Silas melemparkan Vero.
Vero melayang, menghantam panel kontrol kaca di pinggir jembatan. Panel itu pecah. Tubuh Vero jatuh terkapar, kejang-kejang menahan sakit.
Maya dan Sarah sampai di Terminal Induk.
"Maya! Cepat!" jerit Sarah, mengarahkan pistolnya ke Silas.
Silas berbalik, berjalan santai menuju dua wanita itu.
"Kalian tidak akan sempat."
Sarah menembak. Dor! Dor!
Satu peluru mengenai bahu Silas yang tidak terlindungi baja. Darah keluar.
Tapi Silas tidak berhenti. Rasa sakit sepertinya sudah dimatikan dari sistem sarafnya.
Dia menepis pistol Sarah dengan satu pukulan punggung tangan. Sarah terpental jatuh.
Silas kini berdiri di depan Maya yang gemetar memegang Drive Omega.
"Berikan padaku, Dokter," perintah Silas.
Maya mundur, punggungnya menabrak meja terminal. "Tidak..."
Silas mengangkat tinju hidroliknya, siap menghancurkan tengkorak Maya.
"HEI! RONGSOKAN!"
Silas menoleh.
Vero berdiri lagi.
Wajahnya hancur. Salah satu tangannya terkulai lemas (bahu lepas). Kakinya menyeret.
Tapi di tangan kanannya yang masih utuh, dia memegang sesuatu.
Bukan senjata.
Dia memegang Kabel Pendingin Utama yang dia cabut paksa dari dinding panel yang pecah tadi.
Gas nitrogen cair (Liquid Nitrogen) menyembur deras dari pipa yang putus itu, membekukan lantai di sekitar Vero.
"Kau suka baja?" seringai Vero dengan mulut penuh darah. "Baja jadi rapuh kalau kedinginan."
Silas menyadari bahayanya. "JANGAN!"
Vero tidak menunggu. Dia menyemprotkan gas nitrogen cair itu langsung ke arah Silas.
Jarak mereka 5 meter. Semburan gas putih itu menelan tubuh Silas.
Suhu anjlok drastis hingga minus 190 derajat Celcius.
Logam exoskeleton Silas berderit dan menyusut cepat. Oli hidroliknya membeku. Sendi-sendi robotiknya terkunci.
"Sistem... Malfungsi..." suara Silas terputus-putus, melambat seperti kaset rusak.
Vero menjatuhkan pipa itu, lalu berlari—atau lebih tepatnya menyeret tubuhnya—menuju Silas yang membeku di tempat seperti patung es.
Vero mengumpulkan sisa tenaga terakhirnya. Dia melompat dan menendang dada Silas dengan kedua kakinya.
PRANG!
Logam yang sudah rapuh karena suhu ekstrem itu pecah.
Silas terhuyung mundur, kehilangan keseimbangan karena kakinya yang beku tidak bisa merespons.
Dia jatuh terjengkang... melewati pinggiran jembatan kaca.
Silas jatuh ke dalam jurang energi di bawah bola Singularitas.
Tubuhnya tersedot masuk ke dalam medan gravitasi mesin waktu.
Tidak ada teriakan.
Tubuh Silas dan baju besinya terurai menjadi atom, lalu lenyap ditelan cahaya biru.
Vero jatuh berlutut, napasnya tinggal satu-satu.
"Giliranmu... Maya..."
Maya berbalik menghadap Terminal Induk.
Dia memasukkan Drive Omega ke dalam slot.
Jari-jarinya mengetik dengan kecepatan putus asa.
AUTHENTICATING OMEGA DRIVE...
ACCESS GRANTED.
Suara alarm memenuhi ruangan. Bola energi di tengah ruangan mulai bergetar hebat. Warnanya berubah dari biru tenang menjadi merah marun yang marah.
"Sandi Suara!" teriak Maya.
Dia mendekatkan mulutnya ke mikrofon panel.
"CHRONOS DEVOURER."
Mesin itu merespons.
Suara dengung berubah menjadi jeritan frekuensi tinggi.
INITIATING SYSTEM PURGE.
COLLAPSING TEMPORAL FIELD IN 10... 9...
Lantai berguncang hebat. Bukan gempa bumi. Tapi realitas yang sedang runtuh.
Dinding-dinding heksagonal mulai melengkung.
"Vero! Sarah!" Maya berteriak. "Pegang sesuatu! Ini akan kasar!"
Vero merangkak mendekati Sarah. Mereka berpegangan tangan di lantai jembatan yang retak.
5... 4... 3...
Cahaya putih mulai menyebar dari pusat bola energi, menelan segalanya.
Menelan Silas. Menelan Terminal. Menelan Menara Obsidian.
Vero menatap cahaya itu.
Dia tidak takut lagi.
Dia sudah menyelesaikan tugasnya.
2... 1...
0.
Dunia menjadi putih.
Suara hilang.
Rasa sakit hilang.
Ingatan hilang.
Loop berakhir.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔