Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Sesampainya di Bali, udara hangat tropis dan pemandangan alam yang memesona langsung menyambut kedatangan mereka.
Pantai berpasir putih, deburan ombak yang ritmis, dan sinar matahari yang cerah seolah menjadi latar sempurna yang disediakan alam untuk memulai babak baru kehidupan mereka.
Alex mengajak istrinya untuk menuju ke villa yang sudah ia pesan.
"Ayo sayang, kita masuk ke kamar," ajak Alex sambil menggenggam tangan Lani.
Lani terpukau saat melihat kamar yang begitu indah.
"Mas, ini indah sekali. Apa, Mas tidak salah?" tanya Lani.
Alex menggelengkan kepalanya sambil memeluk tubuh istrinya.
"Ayo sayang, kita lakukan sekarang. Aku tidak sabar untuk mempunyai anak,"
Luna menganggukkan kepalanya dan menuju ke atas tempat tidur.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Lani baru saja merapikan helai rambutnya yang sedikit basah.
Di luar jendela vila mereka, langit Bali telah berubah menjadi kanvas keunguan yang magis, menyisakan siluet pohon-pohon kelapa yang melambai ditiup angin laut.
Suasana kamar yang tenang terisi oleh aroma terapi lavender yang menenangkan, menciptakan kehangatan yang sudah sangat lama tidak Lani rasakan.
Alex, yang baru saja menyelesaikan panggilan telepon singkat mengenai konfirmasi reservasi restoran mereka, berjalan mendekat.
Wajahnya tampak jauh lebih rileks dibandingkan hari-hari biasanya di Jakarta.
Tidak ada kerutan penuh beban di dahinya, dan sorot matanya kembali memancarkan kehangatan pria yang dulu Lani cintai tanpa syarat.
“Sayang, ayo kita mandi setelah itu kita makan malam,” ucap Alex lembut sembari menatap Lani yang masih duduk di tepi ranjang.
Lani mendongak, menatap sepasang mata suaminya.
Sentuhan kata 'sayang' yang sempat absen berminggu-minggu itu malam ini terdengar begitu indah, seolah menjadi penawar bagi setiap luka tersembunyi di ulu hatinya.
Ada rasa haru yang membuncah di dada Lani, menyadari bahwa perjuangannya untuk bertahan sejauh ini tidak sia-sia.
Lani menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis yang tertata rapi.
“Iya, Mas. Aku siapkan baju ganti untuk kamu dulu, ya.”
“Tidak perlu, biar aku ambil sendiri nanti. Kamu mandi duluan saja, wajahmu kelihatan capai setelah perjalanan tadi,” ucap Alex sambil tersenyum tipis.
Perlakuan manis itu membuat pertahanan Lani melunak.
Ia berdiri, mengambil handuk bersih, dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi mewah yang dilengkapi dengan bathtup bertabur kelopak bunga mawar—sebuah kejutan kecil yang rupanya telah dipersiapkan Alex sejak awal.
Di bawah guyuran air hangat, Lani memejamkan mata, merapatkan doa dalam hati agar suasana indah ini tidak pernah berakhir, dan berharap mukjizat yang mereka nantikan benar-benar hadir setelah malam ini.
Setengah jam kemudian, mereka berdua telah siap dengan pakaian santai namun elegan.
Lani mengenakan gaun terusan putih longgar bermotif bunga kecil, sementara Alex memakai kemeja linen tipis berwarna biru muda yang senada dengan suasana pantai.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju restoran privat yang terletak di tepi tebing, menghadap langsung ke arah Samudra Hindia.
Meja makan mereka telah dihiasi oleh beberapa lilin kecil yang menyala temaram, menciptakan atmosfer romantis diiringi suara deburan ombak di bawah sana.
“Mas, memesan tempat ini khusus untuk kita?” tanya Lani.
“Tentu saja. Aku ingin malam ini menjadi momen yang tidak terlupakan untuk kita, Lan,” jawab Alex sembari menarikkan kursi untuk istrinya duduk.
“Kita lupakan semua beban di Jakarta. Di sini, cuma ada aku dan kamu.”
Pelayan mulai mengantarkan hidangan laut segar, sup hangat, dan jus buah segar pilihan mereka.
Malam itu berlalu dengan obrolan yang mengalir tanpa sekat canggung.
Mereka kembali mengenang masa-mana awal berpacaran, hal-hal konyol yang membuat mereka tertawa, hingga impian-impian sederhana yang sempat terkubur oleh tuntutan waktu.
Alex benar-benar mencurahkan seluruh perhatiannya pada Lani, seolah ingin menebus setiap ketukan dingin yang ia tunjukkan beberapa hari lalu.
Namun, di sela-sela tawa manis itu, getar ponsel di dalam saku celana Alex tiba-tiba terasa.
Sebuah getaran panjang pertanda sebuah panggilan masuk.
Alex meraba sakunya, mengeluarkan ponsel tersebut, dan melirik layarnya.
Nama yang tertera di sana seketika membuat detak jantungnya berdesir aneh.
Lani yang sedang menyuap makanannya menyadari perubahan raut wajah suaminya.
“Ada apa, Mas? Telepon dari kantor?” tanya
Alex menatap Lani, lalu dengan cepat membalikkan ponselnya agar layarnya tidak terlihat.
Rasa bersalah yang sempat padam kini kembali memercik di sudut hatinya.
“Ah, iya, rekan kerja di kantor. Mungkin ada dokumen yang mendesak untuk libur hari Senin nanti. Aku matikan saja, tidak usah dihiraukan.”
Alex menekan tombol senyap dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, berusaha melempar senyum terbaik demi menenangkan Lani.
Di hadapan ketulusan Lani yang begitu nyata malam ini, Alex bertekad untuk menutup rapat-rapat pintu godaan itu. Namun, ia tidak pernah tahu bahwa di tempat lain, ego seorang wanita yang terluka tidak akan pernah membiarkan rencana bulan madu ini berjalan dengan tenang.
Sementara itu di dalam kamar apartemennya yang remang, Mira duduk di tepi jendela dengan segelas air di tangannya.
Tatapannya kosong menatap kerlip lampu jalanan ibu kota yang tak pernah tidur.
Panggilan teleponnya yang baru saja dialihkan secara sepihak oleh Alex menyisakan rasa sesak yang membakar dada.
Untuk pertama kalinya, Mira merasa terabaikan. Selama ini, sebagai sahabat Lani, ia selalu menjadi tempat pelarian yang menyenangkan bagi Alex ketika pria itu jengah dengan urusan rumah tangganya. Namun sekarang, mendengar Alex lebih memilih membawa Lani ke Bali demi sebuah kesempatan kedua, membuat rasa kepemilikan yang salah arah di dalam diri Mira bergejolak hebat.
“Kamu pikir kamu bisa kembali begitu saja pada Lani, Lex?” gumam Mira.
Jemarinya mencengkeram ponsel dengan erat. Mengingat kecupan di pipi dan obrolan intim mereka malam itu, Mira yakin hatinya tidak bertepuk sebelah tangan.
Ia tahu betul titik lemah Alex: tekanan dari keluarganya dan ambisinya untuk segera memiliki keturunan.
Malam kian larut di Bali, namun kehangatan di restoran tepi tebing itu seolah enggan beranjak.
Setelah menyelesaikan makan malam yang intim, Alex dan Lani memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri bibir pantai privat di dekat vila mereka.
Udara malam yang berembus pelan membawa aroma garam laut yang segar, menerpa wajah mereka yang kini dipenuhi senyuman.
Lani melepas alas kakinya, membiarkan pasir pantai yang halus dan air laut yang dingin sesekali menyapu jemari kakinya.
Ia menengadah, menatap hamparan bintang yang bertaburan di langit malam Pulau Dewata.
"Mas, terima kasih ya," ucap Lani pelan, memecah keheningan romantis di antara mereka.
Ia menoleh ke arah Alex, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru.
"Malam ini, aku merasa seperti kembali ke masa-masa awal kita menikah. Aku merasa utuh lagi."
Alex tertegun sejenak. Menatap wajah istrinya yang diterangi cahaya bulan, rasa bersalah kembali mencubit hatinya. Namun, kali ini rasa bersalah itu justru menguatkan tekadnya untuk memperbaiki semuanya.
Ia merengkuh pinggang Lani, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dalam pelukannya.
"Aku yang harusnya minta maaf, Lan," bisik Alex tulus, menenggelamkan wajahnya di antara rambut Lani yang sewangi aroma terapi.
"Belakangan ini aku terlalu egois. Aku membiarkan omongan orang lain dan tekanan luar merusak apa yang sudah kita bangun. Mulai malam ini, aku janji akan fokus pada kita. Cuma kita."
Lani menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup ritmis.
Di tempat ini, jauh dari sindiran Ibu Narti, kejengkelan Dimas, dan tatapan menghakimi Sisil.
Lani merasa memiliki ruang untuk bernapas. Ia percaya, cinta mereka belum mati; cinta itu hanya sempat tertimbun oleh badai yang kini perlahan mulai mereda.
Mereka berdiri cukup lama dalam posisi itu, menikmati deburan ombak yang menjadi musik latar alami bagi rekonsiliasi hati mereka.
Kemudian Alex melepaskan pelukannya perlahan, menangkup wajah Lani dengan kedua tangannya, dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening istrinya.
"Ayo kita kembali ke kamar," ajak Alex dengan suara yang melembut, menyiratkan kerinduan yang mendalam.
"Malam masih panjang, dan kita punya banyak waktu untuk memulai awal yang baru."
Lani mengangguk dengan pipi yang merona merah.
Mereka berjalan kembali menuju vila dengan tangan yang saling bertautan erat, seolah tak ingin ada lagi celah bagi masa lalu untuk menyusup di antara mereka.