Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Keputusan telah diambil, dan seperti dugaan Kirana, roda rencana Sofia Baskara berputar secepat jet supersonik. Begitu Radit mengabarkan bahwa Kirana menerima tantangan pertunangan itu, sebuah paket raksasa kembali mendarat di apartemen Kirana pada hari Sabtu pagi.
Kali ini, isinya bukan barang bayi atau buku kehamilan, melainkan sebuah kotak beludru hitam berisi gaun malam adibusana berwarna hijau emerald yang berkilau mewah, lengkap dengan memo pendek dari Sofia.
“Ibu tahu warna ini akan sangat cocok dengan kulitmu yang bersih. Sampai jumpa di malam perjamuan, Calon Menantuku.”
Kirana hanya bisa menghela napas panjang sambil mengelus kain sutra gaun tersebut.
"Kamu sudah masuk perangkap sepenuhnya, Kirana" gumamnya pada diri sendiri.
Namun, rintangan terbesar menjelang malam perjamuan ternyata bukan sekadar masalah pakaian. Pada Senin malam, ruangan CEO Baskara Group mendadak diubah fungsinya. Meja kursi digeser ke tepi wall, menyisakan area lantai marmer yang luas di tengah ruangan. Lagu instrumental klasik berirama 'waltz' mengalun lembut dari pengeras suara pintar milik Radit.
"Radit, Anda bercanda, kan? Saya ini sekretaris, bukan penari latar" protes Kirana, dia berdiri kaku dengan sepatu hak tingginya sambil menatap Radit yang sudah melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.
"Kirana, ini perjamuan formal keluarga Baskara. Ibu pasti akan meminta kita berdansa sebagai pembuka pasangan tunangan baru," ujar Radit sambil berjalan mendekat. Wajahnya tampak sangat bersemangat, binar usil yang sempat hilang beberapa hari lalu kini telah kembali sepenuhnya. "Ayolah, Pihak Kedua. Anggap saja ini bagian dari koordinasi proyek. Sini, letakkan tangan kirimu di pundakku."
Dengan ragu dan canggung, Kirana melangkah maju. Dia meletakkan tangan kirinya di pundak tegap Radit, sementara Radit dengan lembut namun pasti melingkarkan tangan kanannya di pinggang Kirana. Tangan mereka yang bebas saling bertautan di udara.
Jarak mereka seketika mengikis hingga menyisakan beberapa senti saja. Kirana bisa mencium aroma parfum maskulin campuran kayu cedar dan mint dari tubuh Radit, aroma yang belakangan ini diam-diam mulai menjadi favoritnya.
"Satu, dua, tiga... ikuti langkahku. Mundur dengan kaki kananmu, Kirana" instruksi Radit lembut.
Tak!
"Aww! Kirana, itu kakiku, bukan lantai!" pekik Radit saat ujung high heels Kirana mendarat telak di atas sepatu pantofelnya.
"Maaf! Sudah saya katakan saya tidak bisa berdansa!" wajah Kirana memerah karena malu. Dia mencoba menarik diri, namun dekapan Radit di pinggangnya justru mengencang, menahannya agar tetap berdiri di tempat.
"Hei, tenang saja. Jangan melihat ke bawah, lihat aku," bisik Radit, suaranya mendadak melunak, mengunci pandangan mata Kirana. "Percaya padaku. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh."
Kirana menatap sepasang mata cokelat tua di depannya. Di sana, tidak ada binar mengada-ada atau kepura-puraan. Perlahan, ketegangan di tubuh Kirana mencair. Dia mulai membiarkan tubuhnya mengikuti irama langkah kaki Radit yang menuntunnya berputar pelan di tengah ruangan kantor yang sepi. Untuk beberapa menit, mereka seolah lupa pada kontrak, lupa pada gosip kantor, dan lupa pada dunia di luar sana. Mereka hanya dua orang yang sedang menikmati detak jantung yang bergerak dengan ritme yang sama.
Hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba. Grand Ballroom Hotel Baskara Grup dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari kalangan elit Jakarta, pejabat, hingga kolega bisnis internasional. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang mewah, berpadu dengan dekorasi bunga-bunga segar yang aromanya memenuhi ruangan.
Kirana kini tengah berdiri di ruang tunggu privat, menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun hijau emerald pilihan Sofia melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan siluet anggun yang selama ini tersembunyi di balik setelan kerja formalnya. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang dipoles riasan natural namun tegas.
Pintu ruangan terbuka, dan muncullah Radit yang melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam klasik yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih berwibawa dari biasanya. Pria itu mendadak menghentikan langkahnya di dekat pintu saat matanya terpaku pada Kirana tanpa berkedip.
"Wow..." gumam Radit pelan, jakunnya naik turun saat dia menelan ludah. "Kirana... kamu benar-benar membuatku lupa cara bernapas."
Kirana merasakan pipinya menghangat, namun dia berusaha tetap tenang.
"Terima kasih, Pak Bos. Anda juga terlihat... tidak sekonyol biasanya malam ini."
Radit tertawa renyah lau berjalan mendekat dan mengulurkan lengannya.
"Sudah siap menyongsong badai, Tunanganku?"
Kirana menyelipkan tangannya di lengan Radit, dia merasakan kehangatan yang memberinya suntikan keberanian.
"Siap, Pihak Pertama."
Acara berjalan dengan sangat lancar pada awalnya. Sofia Baskara menyambut mereka dengan pelukan hangat di atas panggung utama, memamerkan Kirana pada semua rekan bisnisnya dengan rasa bangga yang luar biasa. Saat pengumuman pertunangan disampaikan oleh pembawa acara, gemuruh tepuk tangan memenuhi ballroom, diikuti oleh momen dansa romantis yang berhasil mereka eksekusi dengan sempurna tanpa ada insiden injak kaki lagi.
Namun, di tengah-tengah perjamuan saat Radit sedang ditarik oleh beberapa komisaris utama untuk membicarakan bisnis, Kirana izin pamit sebentar ke toilet untuk merapikan riasannya.
Langkah Kirana terhenti di lorong sepi dekat ruang VIP ketika dia mendengar suara yang sangat familisr dari balik pintu yang sedikit terbuka. Itu adalah suara Sofia Baskara yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
"Iya, Jendral... acaranya sangat sukses," terdengar suara Sofia yang terdengar penuh kemenangan. "Radit benar-benar mengumumkan pertunangannya malam ini dengan sekretarisnya, Kirana."
Kirana berniat berbalik pergi karena tidak mau menguping, namun kalimat Sofia berikutnya membuat seluruh tubuh Kirana mendadak kaku dan darahnya terasa membeku.
"Tentu saja aku tahu hubungan mereka itu awalnya cuma kontrak palsu untuk membohongiku," Sofia terkekeh pelan di seberang telepon. "Aku ini mantan detektif, Jendral. Aku sudah tahu soal draf kontrak itu sejak hari pertama mereka menyimpannya di laci meja kerja. Tapi aku sengaja pura-pura tidak tahu dan menekan mereka dengan stroller bayi dan pertunangan ini. Kenapa? Karena aku tahu anak bodohku itu sebenarnya sudah jatuh cinta pada Kirana, tapi dia terlalu gengsi dan pengecut untuk mengakuinya. Jadi, aku hanya memberi mereka sedikit 'dorongan' agar kebohongan ini menjadi kenyataan."
Kirana membekap mulutnya sendiri dengan tangan yang bergetar. Kepalanya mendadak pusing seolah seluruh dunia sedang berputar menjungkirbalikkannya.
Jadi... selama ini Ibu Sofia sudah tahu? Semua kepura-puraan mereka, semua ketakutan mereka, dan semua strategi mereka... ternyata hanyalah bagian dari skenario besar yang dimainkan oleh sang Ibu Negara Baskara?
Kirana melangkah mundur perlahan dengan jantung yang berdegup kencang, tidak menyadari bahwa di ujung lorong, Radit sedang berjalan ke arahnya dengan senyuman lebar sambil membawa segelas minuman untuknya.