NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kemunculan Tamu Misterius

Lampu kristal di ruang rapat utama memantulkan cahaya benderang ke atas meja mahoni panjang yang kini dikelilingi oleh wajah-wajah baru yang lebih segar dan profesional. Rapat pemulihan aset berjalan dengan sangat lancar. Arahan tegas dari Adrian yang dikombinasikan dengan pemaparan taktis dari data finansial Renata membuat seluruh dewan komisaris tak berkutik selain mengangguk patuh. Era baru Dirgantara Group di bawah kendali mutlak Adrian resmi dimulai hari ini.

​Setelah rapat besar itu ditutup, Adrian dan Renata kembali ke ruang kerja CEO di lantai 50 untuk mempersiapkan materi konferensi pers siang nanti.

​"Kerja yang bagus, Istriku," puji Adrian sembari melonggarkan sedikit dasinya, lalu berjalan mendekati meja kerja Renata yang kini diletakkan berdampingan dengan mejanya. Ia meletakkan secangkir teh kamomil hangat untuk meredakan ketegangan Renata.

​Renata mendongak, memberikan senyuman manisnya. "Ini baru awal, Adrian. Mengembalikan kepercayaan pasar setelah skandal korupsi keluarga bukanlah perkara mudah. Kita harus memastikan konferensi pers jam satu nanti berjalan tanpa celah."

​Tepat ketika Adrian hendak mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala Renata, pintu ruang kerja mereka diketuk dengan tergesa-gesa. Baskara masuk dengan ekspresi wajah yang tidak biasa—ada perpaduan antara kebingungan dan ketegangan di rahang asisten kepercayaan itu.

​"Maaf mengganggu momen Anda, Tuan Adrian, Nona Renata," ujar Baskara, suaranya agak tertahan. "Ada seorang tamu di lobi lantai dasar yang memaksa untuk menemui Nona Renata secara pribadi. Dia menolak berbicara dengan staf humas atau divisi hukum."

​Adrian langsung mengerutkan keningnya, insting protektifnya kembali siaga. "Siapa? Bukankah keamanan lobi sudah diperketat setelah insiden Victor?"

​"Dia seorang wanita paruh baya, Tuan. Mengaku bernama Elena," jawab Baskara, matanya melirik sekilas ke arah Renata. "Dia tidak membawa senjata atau menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Namun, dia membawa sebuah barang yang dia katakan akan membuat Nona Renata bersedia menemuinya."

​Baskara melangkah maju dan meletakkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah tua di atas meja kerja Renata.

​Dengan tangan yang sedikit ragu, Renata membuka kotak tersebut. Begitu tutup kotak terbuka, napas Renata seketika tercekat di tenggorokan. Di dalam kotak itu terbaring sebuah liontin emas berbentuk bunga anggrek putih yang patah di bagian kelopaknya.

​Tubuh Renata bergetar hebat. Di dunia ini, hanya ada dua orang yang memiliki liontin seperti itu. Satu terpasang di leher kakaknya, Maya, saat pemakaman, dan satu lagi... seharusnya dibawa pergi oleh ibu kandung mereka yang telah menghilang tanpa kabar sejak mereka masih kecil di panti asuhan.

​"Di... di mana wanita itu sekarang, Baskara?!" tanya Renata dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi yang mendadak membuncah.

​"Saya sudah meminta tim keamanan untuk membawanya ke ruang tunggu VIP lantai 49 agar tidak menarik perhatian media di lobi, Nona," jawab Baskara sigap.

​Adrian segera menggenggam tangan Renata yang terasa sedingin es. Ia menatap dalam-dalam ke sepasang mata istrinya yang kini mulai berkaca-kaca. "Aku akan menemanimu, Renata. Mari kita lihat siapa sebenarnya tamu misterius ini."

​Ruang tunggu VIP di lantai 49 didesain dengan interior yang sangat mewah dan tertutup, memberikan privasi mutlak bagi tamu-tamu penting. Di dalam ruangan itu, duduk seorang wanita paruh baya yang mengenakan gaun terusan hitam yang elegan, dengan syal sutra yang menutupi lehernya. Meskipun gurat usia terlihat di wajahnya, wanita itu memancarkan aura keanggunan kelas atas yang sangat kuat—tipe aura yang hanya dimiliki oleh mereka yang tumbuh di lingkungan konglomerat.

​Begitu pintu ruangan terbuka, wanita bernama Elena itu langsung berdiri. Matanya yang jernih dan tajam seketika terkunci pada wajah Renata. Air mata tampak menggenang di pelupuk mata tua itu.

​"Maya... tidak, kamu pasti Renata," bisik wanita itu dengan suara yang serak karena emosi yang tertahan. "Kamu tumbuh dengan sangat cantik, persis seperti yang selalu kubayangkan dalam mimpi-mimpiku."

​Renata menghentikan langkahnya beberapa meter dari wanita itu, sementara Adrian tetap setia berdiri di sampingnya dengan tangan yang merengkuh pinggang Renata secara protektif.

​"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Renata, mencoba mengeraskan suaranya meskipun hatinya bergejolak hebat. "Dari mana Anda mendapatkan liontin ini? Mengapa Anda baru muncul sekarang setelah kakakku... setelah Kak Maya tiada?!"

​Wanita itu, Elena, meletakkan tangannya di dada, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. "Maafkan Ibu, Renata... Maafkan Ibu yang tidak berguna ini. Selama belasan tahun ini, Ibu tidak berniat membuang kalian di panti asuhan. Ibu terpaksa melarikan diri ke luar negeri karena nyawa kalian terancam oleh kekejaman bisnis keluarga Dirgantara di masa lalu."

​Mendengar nama 'Dirgantara' disebut dalam sejarah masa lalu ibu kandung Renata, Adrian langsung menajamkan tatapannya. "Apa maksudmu, Nyonya Elena? Apa hubungan masa lalu Anda dengan keluarga saya?"

​Elena menatap Adrian, lalu tersenyum getir. "Adrian Dirgantara... kamu adalah cucu dari Albert Dirgantara. Ketahuilah, sebelum perusahaan raksasa ini berdiri kokoh di atas puncak bisnis Asia, kakekmu, Albert, menghancurkan satu-satunya saingan terbesarnya sepuluh tahun lalu, yaitu Mahardika Group—perusahaan milik mendiang ayahku."

​Elena kembali menatap Renata dengan tatapan penuh penyesalan dan cinta yang mendalam. "Aku adalah putri tunggal keluarga Mahardika, Renata. Dan kamu... kamu bukan sekadar anak yatim piatu dari jalanan. Kamu adalah ahli waris tunggal dari sisa kekayaan Mahardika Group yang sah. Dan Ibu kembali... untuk membantumu mengambil kembali apa yang telah direbut oleh keluarga Dirgantara!"

​Ruangan VIP itu seketika dilanda keheningan yang luar biasa mengerikan. Kebenaran baru yang terungkap ini seperti petir di siang bolong, menghantam tepat di tengah-tengah aliansi pernikahan cinta yang baru saja Adrian dan Renata bangun di atas puing-puing kemenangan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!