Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Baru dan Janji yang Tak Terucap
Mobil mewah itu melaju cukup lama, menjauhi keramaian kota, melewati jalanan berliku yang diapit pepohonan rimbun dan sawah yang menghijau. Aini menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk. Rasa takut perlahan berganti menjadi rasa heran dan syukur yang mendalam. Laki-laki di balik kemudi ini, yang baru saja ia temui, ternyata begitu baik dan penuh perhatian....sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan dari siapa pun, kecuali Bu Lilis.
Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah bangunan sederhana tapi terawat dengan baik. Lokasinya berada di perkampungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk, udaranya sejuk dan bersih.
Bangunan itu berukuran sedang, berdinding tembok yang dicat putih bersih, berlantai keramik, dan memiliki halaman kecil yang ditanami bunga-bunga. Jauh berbeda dengan gubuk reyot tempat mereka tinggal sebelumnya.
"Kita sudah sampai, Bu,"
ucap Komandan Sejiwa sambil mematikan mesin mobil. Ia turun lebih dulu, lalu bergegas membukakan pintu bagi Aini dan anak-anaknya.
Aini turun perlahan, menggendong Satria yang terbangun dan mulai bergerak-gerak aktif. Ia menatap rumah itu dengan mata berbinar penuh tanya.
"Ini... rumah siapa , Pak?"
Sejiwa tersenyum ramah, memberi isyarat agar Aini masuk mengikutinya.
"Masuklah, Bu. Silakan dilihat dulu."
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruangan di dalamnya bersih, luas, dan tertata rapi. Ada ruang tamu kecil, dua kamar tidur, dapur sederhana yang lengkap peralatannya, serta kamar mandi yang bersih. Semuanya sudah siap pakai. Tidak ada perabotan mewah, tapi semua kebutuhan dasar tersedia lengkap. Lantai keramiknya dingin dan bersih, jendela-jendela besar membiarkan udara segar dan cahaya masuk dengan bebas. Rasanya hangat dan damai.
Aini terpaku di ambang pintu, tangannya menutup mulutnya tak percaya. Air mata bahagia kembali menggenang di matanya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan tempat seindah ini, tempat yang jauh dari bahaya, tempat yang aman bagi anak-anaknya.
Komandan Sejiwa berdiri di dekat pintu, menatap wanita itu dengan lega. Ia mengingat pesan terakhir istrinya, Laras.
" Mas Jiwa harus mencari dan melindungi ibu dan anak yang aku lihat di halte itu. Aku yakin dia adalah perempuan yang anaknya mau dibeli Mama."
Ia ingat betul betapa sedih dan bersalahnya Laras saat mengetahui rencana jual beli itu.
"Kini....takdir mempertemukan mereka tanpa sengaja. Selama ini dia sudah mengerahkan anak buahnya mencari Aini, tapi wanita ini hilang bagai ditelan bumi."
Komandan Sejiwa melangkah pelan.
"Bu Aini..." panggil Sejiwa lembut, memecah keheningan. Ia menunjuk ke sekeliling ruangan.
"Ini hanya rumah kontrakan. Saya sudah mengurus semuanya, dan pembayaran untuk satu tahun ke depan sudah saya lunasi sepenuhnya. Ibu tidak perlu khawatir soal sewa atau tagihan apa pun untuk saat ini."
Aini menoleh cepat, matanya membelalak kaget.
"Satu tahun...? Pak, ini terlalu banyak... Ini terlalu mahal. Saya tidak mampu membalas kebaikan Bapak. Saya tidak punya apa-apa..."
Sejiwa mengangkat tangan sedikit, memotong ucapan Aini dengan senyum menenangkan.
"Tidak perlu membalas apa pun, Bu. Anggap ini bantuan tulus dari saya, dan juga dari seseorang yang sudah tiada yang sangat menginginkan kebahagiaan kalian. Ibu sudah berjuang sangat keras, sudah berani mengambil risiko besar demi menyelamatkan anak-anak Ibu dari nasib buruk. Itu saja sudah lebih dari cukup. Sekarang, tugas Ibu hanya satu, tinggal di sini dengan tenang, besarkan anak-anak Ibu dengan baik, dan jadilah ibu yang bahagia bersama mereka."
Ia melangkah mendekat sedikit, suaranya menjadi lebih serius namun penuh perlindungan.
"Di sini aman, Bu. Lokasinya tersembunyi, jauh dari tempat-tempat biasa, dan tidak ada siapa pun yang tahu keberadaan kalian di sini. Saya juga sudah berpesan pada tetangga sekitar bahwa Ibu adalah saudara jauh saya yang datang merantau. Tidak ada yang akan mengganggu, dan orang yang Ibu takutkan... tidak akan pernah bisa sampai ke sini. Saya jamin itu dengan jabatan dan nyawa saya."
Kata-kata itu memberikan ketenangan mutlak di hati Aini. Beban berat yang selama ini memikul pundaknya seolah terangkat seluruhnya. Ia bisa bernapas lega sekarang. Anak-anaknya aman. Mereka punya atap yang layak di atas kepala.
Sementara Ibunya dan Komandan Sejiwa berbicara, Syafa berlarian kecil mengelilingi ruangan, memeriksa setiap sudut rumah baru mereka dengan gembira. Ia senang sekali melihat tempat yang bersih dan luas ini. Namun, di balik kegembiraan anak kecil itu, harapannya akan sosok ayah belum pernah hilang.
Syafa berlari kembali menghampiri Komandan Sejiwa yang berdiri di dekat pintu. Ia menarik ujung lengan seragam laki-laki gagah itu. Wajahnya yang polos menatap penuh harap, kembali mengulang pesan yang selalu ia simpan di hatinya.
"Pak Polisi..." panggil Syafa lantang. "Kalau nanti Bapak bertemu sama Ayah saya... atau kalau Bapak lihat Ayah di mana saja... tolong bilang sama Ayah ya? Bilang kalau kami sudah punya rumah baru yang bagus. Bilang kalau kami sudah menunggu lama sekali. Bilang... Ayah secepatnya menjemput kami di sini?"
Aini menundukkan wajahnya, hatinya terasa perih mendengar pesan itu. Ia takut Sejiwa akan berkata jujur, atau berkata hal yang menyakitkan.
Namun, Sejiwa kembali berjongkok menyamakan tingginya dengan Syafa. Matanya yang tajam dan tegas itu melembut seketika, penuh kasih sayang yang tulus. Ia mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut sekali, lalu tersenyum hangat....senyum yang meneduhkan, senyum yang menyembunyikan kebenaran pahit demi menjaga hati polos anak itu.
"Baiklah, Nak... Bapak janji. Kalau Bapak bertemu Ayahmu, Bapak akan sampaikan pesan itu persis seperti yang kamu bilang. Bapak akan bilang kamu dan Ibu serta Dedek sudah menunggu dengan sabar," jawab Sejiwa pelan, suaranya begitu lembut dan meyakinkan.
Syafa tersenyum lebar, puas sekali dengan jawaban itu. Ia mengangguk riang.
"Terima kasih, Pak Polisi ! Bapak baik sekali, sama baiknya sama Nenek Lilis!"
Sejiwa berdiri kembali, menatap Aini yang masih tampak terharu dan bingung. Ia mengangguk hormat pada wanita itu.
"Baiklah, Bu... saya permisi dulu. Malam sudah makin larut. Istirahatlah! Mulai sekarang, hidup kalian baru saja dimulai. Jangan ragu, jangan takut. Kalau ada apa-apa, warga sekitar akan membantu, dan kalian aman di sini."
Sebelum Aini sempat mengucapkan ribuan terima kasih yang tersangkut di kerongkongannya, Sejiwa sudah berbalik badan. Ia melangkah keluar pintu, berjalan menuju mobilnya, dan tak lama kemudian suara mesin terdengar menjauh, hilang ditelan keheningan malam yang damai.
Aini berdiri di ambang pintu, memeluk Satria yang sudah mulai tertidur lagi, menatap jalanan kosong di depan rumah. Air matanya mengalir deras, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terhingga.
Di dalam hatinya, ia berbisik lirih.
"Terima kasih, Tuhan... Terima kasih telah mengirimkan Bu Lilis, dan sekarang Bapak Komandan ini... Terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami hancur. Kami akan bahagia di sini. Kami akan hidup layak, jujur, dan aman selamanya."
Syafa sudah berlari masuk ke kamar tidur, melompat-lompat di atas kasur yang empuk, membayangkan suatu hari nanti ayahnya akan datang dan tinggal di rumah baru mereka.
*******