Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tingkah Menggemaskan Jeviza
Jeviza bergerak gelisah, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak setiap kali mengingat kejedian beberapa saat lalu. Dimana setelah Kean bertanya. Jevi, bukannya menjawab justru langsung menutup pintu kamarnya, mencoba menenangkan dari hati yang mulai berdebar. Tetapi persis seperti pengecut ya kabur begitu saja.
Suara Kean sangat lembut, sangat berbeda ketika siang tadi. Entah kenapa sikap Kean terkadang berubah-ubah. Jevi tidak bisa menebaknya, apa mungkin karena masa lalu mereka? Mau bagaimanapun mereka pernah bersama selama kurang lebih satu tahun. Bertemu sebagai orang asing yang baru mengenal juga akan susah untuk dilakukan, tetapi mencoba untuk mengenal lebih jauh juga tidak mungkin.
"Apaan sih? Otak gue kenapa dia mulu sih?" Jevi geram sendiri, ia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Berharap pikiran tentang Kean enyah dari otaknya.
Menggigit bibir bagian bawahnya. Jeviza putuskan untuk mengambil ponselnya. Biasanya ia akan ketiduran setelah menggulir layar di ponselnya, salah satu cara tercepat selain menonton drama korea, melihat-lihat di media sosialnya juga bisa membuatnya mengantuk. Namun, seakan semua sedang tidak berjalan sesuai harapannya. Mata Jevi justru melotot dengan sempurna. Jevi tidak mengikuti akun gosip di kampusnya, tetapi berita itu muncul dengan sendirinya di beranda.
Berita dengan judul "Ketua BEM kita kepergok bonceng seorang cewek, siapa kah dia? Satu universitas kah? Atau pacar rahasia?"
Ratusan komentar sudah memenuhi postingan tersebut, ada yang penasaran, tetapi tidak sedikit juga yang menghujat karena iri.
Jevi dengan bodohnya membaca komentar-komentar hujatan yang ditujukan untuk gadis dalam foto tersebut, tentu saja dirinya, dadanya kembang kempis menahan amarah dengan ketikan yang sangat tidak pantas rasanya untuk ditujukan pada seseorang yang bahkan tidak mereka kenal. Tetapi detik berikutnya amarah itu mereda saat membaca komenan beberapa akun yang pensaran dengan sosok gadis beruntung itu.
Mata Jevi semakin jeli melihat kalimat-kalimat yang dituliskan oleh netizen kampusnya. Terlebih saat satu akun berkomentar yang membuat dada Jeviza berdesir dengan sendirinya.
First, Kean boncengi cewek selama 2 tahun ngampus di sini
First?
Sudut bibir Jeviza tidak bisa ditahan lagi, ia mengembangkan senyumnya dan berguling di ranjang miliknya, lalu detik berikutnya ia tersadar akan sesuatu, jika sampai telan-temannya tahu siapa gadis itu, maka habis sudah Jeviza besok. Akan banyak pertanyaan dan Jeviza tidak tahu akan beralasan apa.
Buru-buru Jevi membuka room chat bersama dengan ketiga temannya, napasnya melega saat melihat tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pada akhirnya, Jeviza tersenyum dengan memeluk guling untuk mengantarkan tidur.
Berita yang tidak disangka-sangka akan membantunya terlelap tidur malam ini. Tanpa memikirkan bagaimana keadaan Kean saat ini setelah apa yang dilalui cowok itu akhir-akhir ini, apa lagi setelah akun gosip kampus mengangkat berita tentangnya.
Ponsel milik Kean terus bergetar, selain dari Gio dan Januar, Vio juga mencoba mengirim pesan dan menghubunginya, tetapi sengaja Kean abaikan begitu saja. Kean lebih khawatir dengan reaksi papanya di sana jika berita gosip itu sudah sampai ke telinga papanya. Selama ini, Kean bukan tidak tahu jika Papanya memiliki mata-mata yang tidak bisa Kean lihat, bengkel kecil miliknya saja hampir dibuat jatuh apa lagi tentang percintaan.
Memejamkan matanya dengan pandangan lurus ke luar jendela, Kean menyadari satu hal di dalam dunia yang membuatnya kesulitan, yakni papanya yang tidak akan membiarkan Kean pergi dari tanggung jawabnya. Musuh dalam hidupnya ialah posisinya saat ini, menjadi pewaris keluarga kaya yang sebenarnya tidak begitu Kean inginkan.
Hidupnya seakan sudah direncanakan sedari kecil, kebebasan yang Kean inginkan, entah akan ia dapatkan atau tidak nantinya.
...****************...
"Jepi, tolong panggil Kean ya?" titah Puspa membuat Jeviza yang baru saja akan mendaratkan bok*ngnya di kursi seketika mendelik. Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Gue? Kok?" herannya.
Puspa memutar bola matanya, menunjuk dengan dagunya jika wanita itu sedang sibuk.
Jevi mendengus kesal, ia mendekati Puspa berniat untuk bernegoisasi. "Kak Pus aja. Gue yang lanjuti ini deh." Jeviza berusaha mengambil alih pekerjaan Puspa yang sedang mencuci tempat kotor bekas masak tadi.
"Minggir deh, lo udah ganti baju ya Je, nggak usah ngadi-ngadi lu," tolak Puspa kembali dengan kegiatannya.
"Lagian, tadi udah bangun kok anaknya, pintunya udah nggak di kunci lagi, kalau masih susah bangun, lo boleh kok kalau mau gebuk dia pakai bantal," cerocos Puspa semakin membuat Jeviza enggan untuk menurutinya.
Yang benar saja ia disuruh membangunkan Kean, membayangkan masuk ke kamarnya saja sudah membuat Jeviza merinding. Apa lagi sampai membangunkan dengan cara yang Puspa perintahkan, bagaimana kalau Kean sedang memakai baju? Atau kalau Kean baru saja selesai mandi dan tidak memakai bajunya? Membayangkan itu membuat Jeviza menggeleng keras, kembali menolak perintah Puspa.
"Enggak, pokoknya gue nggak mau, capek tahu kak, naik turun tangga," tolaknya dengan alasan yang sebenarnya sangat masuk akal.
Tetapi, yang namanya Puspa tidak jauh berbeda dengan dirinya, tidak mau kalah apa lagi dengan Jeviza.
"Buruan, Je. Keburu telat kalian, Ke ada kelas pagi juga sekarang."
Jeviza kembali mendengus, ia pergi dengan menghentakan kakinya. Membuat Puspa yang melirik kr arah Jeviza menggeleng dengan tingkah kesal gadis itu. Sementara Arlo terkekeh baru datang sudah disuguhi perang kecil antar saudara.
"Jangan terlalu nekan dia yang, entar ngadu sama maminya."
"Biar aja mas, lagian tante juga pasti bela aku, dia tau banget kaya gimana si Jepi," jelas Puspa membuat Arlo tertawa renyah.
Sejak kedatangan Jeviza rumah mereka memang semakin hangat dan ramai, ada saja yang diperdebatkan.
Berdiam diri di depan pintu kamar Keandra. Jeviza menelan ludahnya susah saat akan mengetukan pintu kamar cowok itu. Semalam saja ia kabur setelah Kean menyapanya, bagaimana bisa ia yang sekarang berdiri di depan pintu kamar Kean?
"Je, udah bangun kan anaknya?" teriakan Puspa yang terdengar samar dari atas membuat Jeviza membuang napas dengan sangat panjang.
Lalu tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar Kean.
Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Jeviza kembali melakukan hal yang sama, mengetuk pintu kamar Kean lagi, namun diketukan terakhir, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, tangan Jeviza yang masih mengepal mendarat dengan sempurna pada dada bidang di depannya.
Tubuh Jeviza membeku, aroma maskulin Kean menguar di indera penciumnya, membuat bagian tubuh Jeviza di dalam sana mulai menggila.
Jeviza mengumpati dirinya sendiri yang malah diam kaku di tempatnya, tidak bisa melakukan apa-apa untuk sekedar mengingatkan Kean untuk ke bawah.
Apa lagi tangannya yang dengan setia tidak bergeser berang sedikit pun, masih berada di tempatnya semula, di dada bidang Kean yang masih dibalut kaos putih tanpa almamater.
"Umm?" Kean sedikit memiringkan wajahnya agar bisa melihat dengan jelas wajah Jeviza yang terlihat memerah sekarang.
Rasanya gemas sekali melihat tingkah Jeviza yang mati kutu di depannya. Kean bukannya tidak tahu dengan reaksi tubuh Jeviza yang tiba-tiba terdiam, tetapi Kean sengaja membiarkan, menikmati setiap momen menggemaskan ini bersama dengan Jeviza dan segudang gengsi pada gadis itu. Sekali lagi, Kean sangat menikmatinya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!