"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Distorsi Di Tengah Kabut
Layar laptop Dedik yang tadinya hitam penuh baris kode mendadak berubah jadi merah menyala.
Suara ping yang pendek tapi tajam bergema di dalam kabin yang sunyi. Gua yang tadi lagi asik meluk bantal di kursi kayu langsung tegak.
"Ded? Itu suara apa?" tanya gua, suara gua gemeteran.
Dedik nggak jawab. Jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang nggak masuk akal. Matanya yang tajam menatap grafik radar yang menunjukkan titik kuning berkedip di koordinat 500 meter sebelah selatan.
"Protokol distorsi," gumam Dedik pelan. Dia berdiri, menyambar jaket tebalnya dan langsung mematikan semua lampu di dalam kabin.
Seketika, ruangan jadi gelap gulita. Cuma ada cahaya redup dari layar laptop Dedik yang kecerahannya udah dia turunin sampe minimal.
"Rey, ke sini. Duduk di lantai, di bawah meja dapur. Jangan deket jendela," perintahnya. Suaranya rendah, dingin, dan penuh otoritas. Nggak ada ruang buat bantah.
Gua nurut. Gua ngerangkak ke bawah meja dapur, meluk lutut gua sendiri. "Siapa, Ded? Orang-orang jaket kulit itu lagi?"
"Logikanya, kalau mereka profesional, mereka nggak bakal masuk lewat jalur selatan yang penuh tebing. Jalur itu cuma bisa dilewati sama orang yang tahu medan,"
Dedik jalan mendekat ke arah gua, dia berlutut di samping meja. "Gua udah aktifkan jammer sinyal di sekitar sini. Siapa pun mereka, mereka nggak bisa pake GPS atau komunikasi radio dalam radius seratus meter."
Gua bisa denger suara napas Dedik yang teratur di deket gua. Baunya masih sama, bau sandalwood yang sekarang bercampur sama bau logam dari alat-alat elektroniknya.
Gua ngerasa tangan Dedik ngeraih tangan gua di kegelapan. Dia nggak menggenggamnya secara romantis, tapi lebih kayak mastiin kalau gua masih di sana, masih nyata.
"Tetap di sini. Gua mau cek kamera termal di perimeter luar," bisiknya.
"Jangan tinggalin gua, Ded," suara gua mencicit.
"Cuma tiga meter dari sini, Rey. Gua nggak bakal ke mana-mana."
Dedik bergerak ke arah jendela depan, tapi dia nggak ngebuka gorden. Dia ngeliat lewat celah kecil sambil megang sebuah tablet kecil. Gua liat mukanya mengeras.
"Satu orang," kata Dedik. "Dia sendirian. Dan dia nggak bawa senjata... sepertinya."
"Siapa?"
"Tunggu." Dedik ngetik sesuatu di tabletnya. Tiba-tiba, suara gesekan daun di luar kabin kedengeran makin jelas. Gua nahan napas. Suara langkah kaki yang berat menginjak ranting kering. Krek.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kabin.
Tok... tok... tok...
Ketukan pintunya pelan, tapi di tengah kesunyian hutan, suaranya kayak ledakan meriam. Gua makin ngeringkuk di bawah meja.
"Dedik... Reyna... gue tau kalian di dalem," sebuah suara parau terdengar dari balik pintu.
Gua kenal suara itu. Gua kenal banget.
Dedik berdiri, dia naruh tabletnya, terus jalan ke arah pintu. Dia nggak langsung buka, tapi dia nanya dengan nada dingin. "Sebutkan variabel ketiga dalam rumus algoritma akustik kita di Bab 4."
Hening sebentar di luar.
"Kompensasi suhu lingkungan untuk serat bambu kuning tipe B... pangkat dua," jawab suara di luar.
Dedik langsung ngebuka kunci pintu. Pintu terbuka, dan cahaya bulan yang pucat masuk ke dalam kabin, memperlihatkan sosok cowok yang berdiri dengan kondisi mengenaskan.
"Arlan?!" gua langsung keluar dari bawah meja dapur.
Arlan berdiri di sana dengan kemeja yang robek di bagian bahu. Mukanya penuh goresan ranting, dan sepatunya berlumpur hebat. Dia kelihatan hancur, bukan cuma secara fisik, tapi matanya... matanya penuh rasa takut.
"Gue... gue lari dari mereka," kata Arlan sambil terengah-engah. Dia hampir ambruk kalau Dedik nggak nangkep pundaknya dan nuntun dia duduk di kursi kayu.
"Siapa yang lo maksud 'mereka'?" tanya Dedik sambil menutup pintu dan menguncinya kembali, tapi dia tetep nggak nyalain lampu.
"Orang-orang sponsor. Mereka bukan cuma mau riset kalian, Ded. Mereka mau ngilangin jejak sabotase polimer itu. Rendy... Rendy udah ditangkep sama mereka karena dia ketahuan kasih flashdisk itu ke kalian,"
Arlan nutup mukanya pake tangan yang gemeteran. "Gue liat mereka di kampus tadi siang. Mereka nyari kalian, dan pas mereka tau gue sepupu Reyna, mereka maksa gue buat kasih tau lokasi kabin ini."
"Terus kenapa lo ada di sini?" tanya gua, antara kasihan dan curiga.
"Gue kasih tau jalan yang salah! Gue arahin mereka ke sisi utara bukit yang jalannya buntu dan penuh rawa. Gue lari lewat jalur tikus di selatan buat peringatin kalian."
"Mereka bakal sadar sebentar lagi, Ded. Mereka punya pelacak panas!"
Dedik diem. Dia balik ke laptopnya, jarinya kembali menari. "Logikanya, kalau Arlan bisa sampe sini dalam dua jam lewat jalur selatan, mereka bakal butuh waktu satu jam lagi buat muter balik dan nemuin jalur ini."
Dedik nengok ke gua, terus ke Arlan. "Kita nggak punya banyak waktu. Kita harus selesaikan pengambilan data puncak malam ini juga."
"Malam ini?! Lo gila, Ded? Di luar gelap dan ada orang yang ngejar kita!" protes gua.
"Justru karena gelap, Rey. Frekuensi malam hari punya tingkat distorsi paling rendah karena aktivitas elektromagnetik manusia di kota berkurang."
"Ini kesempatan terakhir kita buat dapet data murni sebelum sistem kita dihancurukan secara fisik," Dedik mulai masukin gitar dan alat rekamnya ke dalam tas kedap air.
"Arlan, lo bisa jalan?" tanya Dedik.
Arlan ngangguk lemah. "Gue bakal bantu bawa kabel. Gue mau nebus kesalahan gue, Rey. Sumpah."
Gua natap Arlan, terus natap Dedik. Gua ngerasa atmosfer di kabin ini berubah. Dari isolasi yang tenang, jadi misi pelarian yang berbahaya.
"Rey," Dedik manggil gua. Dia berdiri di depan gua, benerin kerah jaket flanel yang gua pake. "Gua butuh lo fokus. Jangan pikirin mereka. Pikirin aja suara lo. Bisa?"
Gua narik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung gua. "Bisa, Partner Sialan. Selama lo yang mainin gitarnya."
Dedik senyum tipis, tipe senyum yang cuma ditunjukin pas keadaan lagi bener-bener genting. "Ayo. Protokol pemindahan dimulai."
Kita keluar lewat pintu belakang kabin. Hutan bambu di malam hari bener-bener beda. Pohon-pohon bambu kuning itu kelihatan kayak raksasa yang lagi bisik-bisik kena angin.
Dedik jalan paling depan dengan senter kecil yang cahayanya difokuskan ke tanah biar nggak kelihatan dari jauh. Arlan di tengah, dan gua paling belakang.
Perjalanan ke puncak bukit itu berat. Tanjakannya miring banget, dan tanahnya licin karena embun. Beberapa kali gua nyaris kepleset, tapi tangan Dedik selalu sigap narik gua.
"Sepuluh menit lagi sampe titik elevasi tertinggi," bisik Dedik.
Tapi tiba-tiba, dari arah lembah di bawah kita, muncul pendaran cahaya senter yang kuat. Bukan satu, tapi tiga. Mereka bergerak cepet.
"Mereka udah di jalur selatan," desis Arlan panik. "Mereka nemuin jejak gue!"
"Jangan lari. Gerakan cepat bakal ningkatin tanda panas tubuh kalian di sensor mereka," perintah Dedik. "Jalan pelan, manfaatkan rimbun bambu."
Kita nyampe di sebuah tanah lapang kecil di puncak bukit. Di tengahnya ada satu pohon bambu kuning paling besar yang jadi pusat riset kita. Angin di sini kenceng banget, suaranya kayak siulan ribuan orang.
Dedik langsung nyiapin alatnya. Dia nyolok kabel ke batang bambu, masang mic sensitivitas tinggi, dan ngeluarin gitarnya.
"Rey, berdiri di sana. Tepat di depan batang utama. Arlan, pegang antena penguat ini, arahkan ke langit," perintah Dedik.
"Ded, mereka makin deket! Cahayanya udah kelihatan di bawah sana!" gua bisik dengan nada histeris.
"Fokus ke gua, Reyna!" suara Dedik meninggi, memotong kepanikan gua. Dia duduk di atas batu datar, memangku gitarnya.
"Logikanya, kalau kita lari sekarang, data kita nggak lengkap dan mereka menang. Kalau kita selesaikan ini sekarang, data ini bakal langsung terkirim ke server cadangan Pak Dekan lewat satelit."
"Mereka nggak bakal bisa hapus apa pun lagi."
Dedik mulai memetik gitarnya. Melodi yang sama dengan yang kita latih, tapi kali ini terasa lebih megah karena dibarengi suara angin puncak bukit.
"Nyanyi, Rey. Sekarang."
Gua buka mulut. Awalnya suara gua gemetar karena dingin dan takut. Tapi begitu mata gua ketemu sama mata Dedik di bawah sinar bulan, gua ngerasa sebuah kekuatan aneh muncul.
Gua nggak liat cahaya senter di bawah sana. Gua nggak liat Arlan yang lagi ketakutan. Gua cuma liat Dedik.
Gua mulai nyanyi. Suara gua membelah kesunyian malam, beradu sama gesekan bambu dan petikan gitar Dedik. Gua ngerasa seolah-olah seluruh hutan ini ikut bernyanyi bareng gua. Resonansinya sempurna.
Di layar laptop Dedik, baris-baris data berwarna hijau bergerak naik.
"Sedikit lagi... 80%... 90%..." gumam Dedik sambil terus metik gitarnya dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari pinggir lapangan.
"ITU MEREKA! DI PUNCAK!"
Cahaya senter menyambar muka gua, bikin gua silau. Tiga orang pria berjaket kulit muncul dari balik semak-semak. Salah satu dari mereka megang sesuatu yang kelihatan kayak alat pemutus sinyal portable.
"BERHENTI! MATIKAN ALATNYA!" teriak salah satu dari mereka.
Arlan tiba-tiba maju, dia ngerentangkan tangannya di depan kita. "JANGAN GANGGU MEREKA! INI RISET UNIVERSITAS!"
"Minggir, bocah!" Salah satu orang itu mendorong Arlan sampai jatuh.
Gua berhenti nyanyi karena kaget, tapi Dedik tetep metik gitarnya. Dia nggak berhenti. Matanya tetep fokus ke laptop.
"Jangan berhenti, Rey! Sedikit lagi! 97%!" teriak Dedik.
Gua narik napas terakhir, gua keluarin nada paling tinggi yang pernah gua capai, nada yang bener-bener bikin telinga berdenging. Tepat saat itu, di layar laptop Dedik muncul tulisan besar: UPLOAD COMPLETE. DATA SECURED.
Dedik langsung menutup laptopnya dengan keras. Dia berdiri, narik gua ke belakangnya.
"Selesai," kata Dedik tenang ke arah orang-orang itu. "Data ini sudah ada di server pusat Universitas dan tembusannya sudah sampai ke pihak Kepolisian Daerah."
"Kalian mau ambil laptop ini? Silakan. Tapi isinya cuma sampah sekarang."
Orang-orang itu terhenti. Mereka saling pandang. Di kejauhan, terdengar suara helikopter, bukan helikopter sponsor, tapi helikopter dengan lambang Kepolisian yang dikirim Pak Dekan setelah menerima sinyal darurat dari sistem Dedik.
"Sialan! Cabut! Kita dijebak!"
Mereka lari turun ke arah lain, menghilang di kegelapan hutan sebelum helikopter itu mendarat.
Gua lemes, gua jatoh duduk di rumput puncak bukit. Arlan merangkak nyamperin kita, mukanya bonyok tapi dia senyum. "Kita... kita berhasil, kan?"
Dedik nggak jawab. Dia naruh gitarnya pelan, terus dia nyamperin gua. Dia duduk di depan gua, natap gua dalem banget. Napasnya masih menderu.
"Rey... lo hebat banget tadi," bisiknya.
Gua cuma bisa nangis sesenggukan karena lega. Dedik pelan-pelan narik gua ke pelukannya. Dia nggak ngomong apa-apa, dia cuma meluk gua erat banget di bawah sinar bulan puncak bukit.
"Maaf ya, udah bikin lo dalam bahaya begini," gumamnya di telinga gua.
Gua geleng-geleng di dadanya. "Enggak, Ded. Ini... ini pengalaman paling logis yang pernah gua punya."
Dedik ketawa kecil. Dia ngelepas pelukannya, terus benerin rambut gua yang berantakan. Dia ngeraih sesuatu dari sakunya, sebuah kertas kecil yang udah lusuh. Gua tau itu kertas yang dia tulis kemarin malam.
"Gua tadinya mau nyanyiin sesuatu buat lo di sini," katanya sambil liat kertas itu. "Tapi kayaknya suasananya lagi nggak tepat buat konser pribadi."
"Nyanyiin aja, Ded. Gua mau denger," pinta gua.
Dedik geleng-geleng, dia masukin lagi kertas itu ke sakunya. "Nanti. Pas semuanya bener-bener tenang. Pas nggak ada helikopter atau penjahat yang ngejar kita. Logikanya, momen penting harus ada di lingkungan yang stabil."
Gua senyum lebar. Gua tau, momen itu bakal dateng sebentar lagi. Dan gua siap nunggu.
Malam itu, di atas puncak Desa Pinus, kami dievakuasi. Arlan dimaafkan secara informal oleh Dedik karena aksi beraninya, meskipun proses hukum di kampus tetep jalan. Riset "Harmoni Nada" resmi jadi penemuan paling besar tahun itu.
Tapi bagi gua, penemuan paling besar bukan soal bambu kuning. Tapi soal cowok kaku di sebelah gua ini, yang rela ngebajak dunia cuma buat mastiin gua tetep aman bernyanyi.
***
Badai fisik sudah lewat, tapi badai perasaan baru dimulai. Kembali ke kampus dengan status "Pahlawan Riset", Dedik dan Reyna sekarang jadi pusat perhatian.
Arlan mencoba memperbaiki hidupnya. Dan Dedik sekarang punya satu tugas terakhir, menyanyikan lirik lagu di kertas lusuhnya itu untuk Reyna.
Kapan dan di mana Dedik akan menyatakan frekuensi hatinya?