Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14.BERTEMU LAWAN.
Qai sengaja menyewa apartemen jauh di Kintamani, ia ingin tenang dan tidak mau tinggal dengan Dewi di apartemen milik XpostOne. Senjata, GSM, kaca mata dan yang lainnya sudah di amankan, tidak perlu semua itu.
Disini cukup nyaman, ia sengaja merogoh kantongnya lebih dalam supaya dapat tinggal di lantai dua.
Kintamani nama desa ini, udaranya sangat dingin dan bersih, seperti di puncak saat musim dingin. Tempat ini cocok untuk menyepi menyembuhkan hati yang luka.
Inilah Indomaret Kintamani yang selalu diburu kalau berada di Bali. Jam lima pagi turis domestik dan luar negeri, sudah memenuhi kursi yang disiapkan oleh Indomaret.
Mereka semua menunggu matahari terbit, saat itu pemandangan akan terlihat sangat indah. Matahari muncul dari balik gunung kembar yang ada di depan sana. Embun tebal yang menutupi danau seolah diusir oleh sinar pagi yang berkilau.Tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
"Hemm...indahnya." ucap pria itu lalu duduk di samping Qai, matanya tidak pernah lepas menatap wajah Qai dari samping.
"Cantik, gunungnya terlihat nyata." sahut Qai tanpa menoleh.
"Ingin merem*snya, tapi jauh di mata dekat di hati."
"Seolah dekat padahal jauh, lihat saja danaunya, jauh banget." ucap Qai menoleh ke samping.
Tatapan mata mereka bertemu, Qai kaget melihat siapa laki-laki di sampingnya.
"Kauu...kenapa berada dusini?" desisnya dengan bibir gemetar.
"Tidak boleh, ini tempat umum yang layak di kunjungi. Simpan rasa kagetmu, kalau kau berulah atau berusaha kabur dari sini, aku akan membuang mu ke lembah." bisik Berlin sambil menunjuk jurang yang jauh di bawah.
"Orion...b*jingan kau!"
"Kau masih ingat nama panggilan ku, baguslah. Disini ramai bagaimana kalau kita mencari pemandangan yang lebih spesifik, misalnya di atas kasur?" ucap Berlin meremas jemari Qai dengan lembut.
Qai cepat menarik tangannya dengan kasar, tapi laki-laki itu menahannya.
"Tenang, jangan melawan. Aku malas mengeluarkan vidio syur kita yang dua puluh menit...tapi kalau kau melawan apa boleh buat..."
"Apa maksudmu?"
"Apa aku harus berteriak mengatakan kepada mereka?"
Qai terpaksa turun dari kursi bar dengan gemetar. Dadanya berdebar kencang saat Berlin memeluk pinggangnya dengan erat ia menyesal tidak membawa senjata rahasia untuk melindungi dirinya.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Qai setelah mereka keluar dari Indomaret.
"Ke apartemen ku.."
"Untuk apa? lepaskan, aku akan berteriak minta tolong..."
"Lakukanlah, aku tidak akan segan-segan melobangi dada indahmu dengan peluru yang tersisa waktu kita berada di asram."
Deggg!!
Qai kaget, tamatlah riwayatnya. Ternyata bodyguard itu Orion namanya, sekarang mau balas dendam karena menembaknya waktu di asram?
"Apa kau mau balas dendam, bagaimana kalau sepuluh miliar sebagai kompensasi dan biarkan aku pergi. Aku janji tak akan muncul di depanmu lagi."
"Simpan sepuluh miliarmu aku tidak tertarik, cepat jalan."
Apartemen kalau pagi sangat sepi karena penghuninya mencari pemandangan sunrise di luar. Berlin membuka pintu dan mendorong tubuh Qai masuk kamar.
"Br*ngsek lepaskan aku!" teriaknya marah. Ia memukul Berlin sekuat tenaga, lelaki itu dengan mudah meringkus tubuh Qai dan melemparnya ke ranjang.
"Kamar ini kedap suara, kau rugi berteriak simpan tenagamu untuk melayaniku."
"Berani kau menyentuhku kau akan menyesal."
"Begitukah? Aku sudah hafal lekuk tubuh mu dan letak tahi lalat mu..."
"STOP!! Apa maumu?"
"Aku mau balas dendam. Kau menembak dada ku, membuat aku opname dengan tiga puluh dua jahitan. Aku di pecat dari perusahan dan di buang dari circle ku. Orang tua Edoardo juga minta uangnya dikembalikan."
"Kegagalan kerja itu biasa, aku juga kena tembak tapi tidak lebay seperti mu. Aku akan mengembalikan kerugianmu asal kau lepaskan aku."
"Aku tidak akan melepaskan mu." ucap Berlin mem*luk dan menc*umnya.
"Jangan sentuh aku, aku akan membunuh mu Orion.." Qai berontak dan tangannya melayang ke pipi Berlin.
"PLOOKK.."
"Black Rose...beraninya kau memukul ku."
Deggg!
"Kau tahu siapa aku?" tatap Qai dengan wajah pucat.
"Asal kau menurut aku tidak sebarkan vidio mu saat memb*nuh Edoardo. Atau kau ingin menyiarkan di televisi ke sayanganmu?"
Qai merasa roh nya lepas dari raganya, air mata perlahan membasahi pipinya. Berlin mendekap tubuh Qai dan menghapus air mata itu dengan lembut.
"Kau milik ku, asal kau menurut aku tidak akan berbuat macam-macam."
"Berapa harga yang kau mau, aku akan membelinya. Atau kau m*ti ditangan ku!"
"Aku tidak butuh uang, aku hanya ingin balas dendam ku terlampiaskan."
"Kau ingin tubuh ku? Oke...berikan rekaman itu aku akan menurut."
"Rekaman itu aku simpan di Bank, setelah tiga bulan akan aku berikan pada mu. Tapi kau harus menanda tangani kontrak ini.
****