Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI BERHASIL
Setelah urusan administrasi Ratih selesai diurus, Kino kembali ke bilik perawatan.
"Kata dokter 15 menit lagi saya bisa keluar dari rumah sakit, Pak" ucap Ratih.
"Ya santai saja. Ini tadi saya dihubungi oleh asisten saya bahwa rekan anda, Bu Gina, perjalanan kesini" sahut Kino.
Ratih mengangguk paham.
Kino duduk dikursi yang tersedia.
"Kalau boleh tau Bu Ratih asli Batam atau daerah lain?" tanya CEO Sulawesi Bersama itu.
"Saya asli Jawa, Pak. Tapi ada tugas di perusahaan Gelindo Batam" jawab Ratih jujur.
"Oh begitu, makanya wajah Bu Ratih terlihat berbeda dalam arti positif" ujar Kino.
Blush!
Lagi lagi Kino mengatakan pujian yang membuat Ratih malu.
"Mbak Ratih" tiba tiba ada seseorang masuk ke bilik dan memanggil pasien.
Siapa lagi kalau bukan Gina.
Kino berdiri dan memberikan tempat untuk wanita itu.
"Terima kasih banyak Pak Kino sudah mengantarkan rekan saya. Saya sangat berterima kasih" ucap Gina.
"Sama sama Bu Gina, sudah tugas saya memastikan partner kerjasama perusahaan dari luar wilayah tetap nyaman disini" sahut Kino.
"Baiklah, karena Bu Gina sudah datang dan urusan perusahaan sudah selesai, saya izin pamit. Semoga kerja sama kita lancar kedepannya" lanjutnya.
Gina pun bersalaman dengan Kino sebelum pria itu keluar.
Setelah berduaan, Gina langsung duduk di kursi yang tadi duduki oleh Kino.
"Mbak kamu gapapa? Apa yang kamu rasakan? Sakit bagian mana?" tanya Gina beruntun.
Ratih tersenyum tipis sebelum menjawab.
"Aku hamil, tapi aku mohon jangan beri tau siapapun termasuk Mas Guntur" jawabnya.
Gina terkejut dengan menutup mulut menggunakan tangannya.
"Mbak Ratih serius? Mbak beneran hamil?" tanyanya tak percaya.
Ratih mengangguk.
"Wah kalau Mas Guntur tau Mbak Ratih hamil, dia pasti akan terbang kesini" ujar Gina.
"Mangkanya jangan sampai tau. Nanti saja kalau MOU dengan Perusahaan Pak Kino selesai dan aku benar benar resmi menjual 100ribu panel surya malah lebih. Aku akan mengatakannya saat menghadap keluarga Abimanyu" ucap Ratih.
"Mbak Ratih serius mau langsung ungkapin kehamilan ini depan keluarga Abimanyu? Gak lebih baik ke Mas Guntur dulu?" tanya Gina memberi saran.
"Ya ke Mas Guntur dulu setelah laporan misi selesai. Mana berani aku langsung bilang hamil ke tuan besar Rustam dan orang tua Mas Guntur, apalagi Bu Ela itu sangat membenciku" jawab Ratih.
"Astaga, benar juga. Nyonya Ela sangat menakutkan sebagai calon mertua" celetuk Gina.
Suster datang dan langsung membantu Ratih melepas infus lalu pasien dipersilahkan untuk pulang.
Gina membantu Ratih untuk masuk ke dalam mobil.
"Mbak, kita nginep aja di sini semalam gimana? Sampai kondisi mbak Ratih membaik dan enakan?" tawar Gina.
"Hmm gak usah deh. Sayang banget tiket balik ke Batam kalau gak dipakai. Aku udah enakan kok" sahut Ratih.
Gina pun menurut saja.
Keduanya langsung pergi ke bandara karena jadwal pesawat sudah dekat.
Di Jakarta, Rustam dan Guntur datang ke pernikahan Yulanda dan Faris.
Mau tidak mau pernikahan ini diadakan meriah mengingat, Yulanda adalah putri pertama keluarga Argomuro, pewaris perusahaan tekstil milik keluarga.
Tidak mungkin diam diam nanti langsung lahir anak dimana tidak terlihat pernikahan mewah.
"Selamat Ris, akhirnya nikah juga sama Yulanda" ucap Guntur.
"Makasih, Mas. Berkat bantuanmu juga, aku bisa menunjukkan rencana bisnisku dalam 2 minggu ini pada keluarga Argomuro dan menjadi CEO baru ya meskipun masih harus berjuang membuktikan diri" sahut Faris.
"Benar kata suamiku, aku juga sangat berterima kasih kamu sudah membantu kami, Mas" ucap Yulanda.
"Sama sama. Aku sangat senang kalian bisa bersama dan semoga sehat sehat yaa" ujar Guntur melirik sesuatu kearah sang pengantin wanita.
Yulanda dan Faris tersenyum mendapatkan kode itu.
"Semoga anak anak kita bisa jadi bestie, bro" bisik Guntur pada Faris.
"Haha, Amiin" sahut suami Yulanda itu.
Rustam pun memberikan ucapan kepada orang tua serta pasangan pengantin.
Setelah kondangan singkat, sang kakek dan cucu tersebut pulang ke rumah.
Di dalam perjalanan, Martin menelepon Rustam.
"Halo, Tuan Besar" sapa Martin.
"Halo, Martin, ada apa? Semuanya baik baik saja kan diperusahaan Batam?" tanya Rustam.
"Baik, Tuan. Sangat baik. Ratih dan Gina berhasil menjual 100 ribu panel surya sebelum 1 bulan. Di minggu ketiga mereka sudah berhasil melakukannya malah lebih sedikit" jawab Martin antusias karena Gina akan mendapatkan kesempatan berkarir di Jakarta.
"Wah keren sekali kedua wanita itu. Oke deh, terima kasih infonya. Aku akan menginformasikan pada cucuku, dia pasti senang" sahut Rustam.
"Baik, Tuan" balas Martin lalu panggilan selesai.
"Ada apa kek? Kok menyebutku?" tanya Guntur yang duduk disamping Rustam sambil mengecek pekerjaan di ponselnya.
"Kamu akan senang mendengar info ini" jawab Rustam.
"Hmm..apa yang membuatku senang?" tanya Guntur polos karena jika terkait Ratih, waktunya masih kurang seminggu untuk mendapatkan kabar baik itu.
"Ratih berhasil menjual 100ribu panel surya dalam minggu. Calon mu itu luar biasa" jawab Rustam ikut senang.
"WOOWW!! KAKEK SERIUS!! RATIH BERHASIL!!" seru Guntur bahagia.
"Yah, selamat. Misi ujian dari kakek berhasil wanita itu taklukan" ujar Rustam.
Grep.
Guntur memeluk Rustam erat.
"Makasih kakek, makasih sudah menerima Ratih dan melihat kemampuannya. Dia adalah wanita hebat. Kakek akan memiliki cucu menantu yang keren" sahut Guntur.
Puk!
"Harus! Cucu menantu kakek harus keren memiliki kemampuan bisnis" balas Rustam.
Guntur tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia melepas pelukan dan menatap sang kakek dengan mata berbinar.
"Jadi mulai hari ini aku bisa bertemu dengan Ratih dong kek? Gak perlu nunggu seminggu lagi kan karena tugas udah selesai sekarang?" tanya Guntur penuh harap.
Rustam mengangguk.
"Ya mulai hari ini kalian bisa bertemu. Setelah bertemu, bawa Ratih kerumah dan kita bicarakan pernikahan kalian segera" jawabnya.
"YES!!! AKU BAKAL NIKAH!!" seru Guntur bahagia namun beberapa detik ekspresi nya berubah sendu.
"Bagaimana dengan mami? Apakah dia akan menerima Ratih dengan baik?" tanyanya gundah.
"Ela pasti akan menerima Ratih, tapi ya harus sabar. Lama lama pilihanmu akan diterima oleh ibumu. Pokoknya jangan sampai kamu melawan ibumu dengan kekerasan. Dia tidak bisa dikerasi" jawab Rustam memberi saran.
"Hmm..baiklah..semoga aja Ratih bisa bertahan dengan ujian yang akan diberikan oleh mami nantinya" ucap Guntur.
Tak terasa percakapan diantara mereka membuat perjalanan jadi cepat, tiba tiba mobil sudah berhenti di depan rumah.
"Kek, aku izin langsung ke bandara dan akan aku bawa Ratih kerumah segera. Pamitkan kepada papi dan mami ya. Jika aku turun sekaran, ada aja nanti yang mami katakan kepadaku dan membuat moodmu berantakan" pamit Guntur.
Rustam menghela nafas panjang.
"Ya, hati hati. Jangan bikin masalah ataupun melakukan hal itu lagi sebelum menikah" ingat kakek kakek itu.
"Beres! Aku akan menahan nafsuku sampai kita sah menikah!" sahut Guntur.
Lalu driver diberi isyarat untuk pergi ke bandara. Di perjalanan, Guntur mencari tiket pesawat menuju Batam dan dapat. Tepat sekali satu jam kedepan ada keberangkatan Jakarta menuju Batam, sehingga pria ini tidak terlalu lama menunggu di bandara untuk keberangkatan.