Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian yang Terancam
Semburat jingga di ufuk barat mulai memudar, menandakan sang surya hampir kembali ke peraduannya. Halaman Pesantren Al-Fatih yang biasanya ramai dengan langkah santri menuju masjid, terasa sedikit lebih tenang sore itu. Sebuah mobil travel memasuki halaman rumah utama, membawa Najwa, Ibu mertuanya, dan Arkan yang nampak kelelahan setelah hari yang panjang.
Najwa turun dari mobil dengan bantuan pengasuh, lalu duduk di kursi rodanya. Wajahnya nampak sedikit lebih cerah setelah mengikuti pengajian akbar di pusat kota, sebuah pelarian spiritual yang sangat ia butuhkan.
"Sepi sekali ya, Bu," gumam Najwa saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak ada suara televisi, tidak ada harum masakan, hanya suara detak jam dinding yang bergema di ruang tengah.
Arkan langsung berlari menuju kamarnya untuk meletakkan tas sekolah, sementara Najwa memanggil Mbak pengasuh yang sedang merapikan mainan Arkan di sudut ruangan.
"Mbak, Mas Malik dan Lea ke mana? Kok rumah sepi banget?" tanya Najwa.
Mbak pengasuh tampak ragu sejenak. "Anu, Ning... tadi waktu saya jemput Dek Arkan sekolah sampai sekarang pulang, saya tidak melihat Gus Malik maupun Non Lea di lantai bawah. Mobil Gus Malik ada di depan, tapi rumah benar-benar sunyi sejak tadi siang."
Najwa mengerutkan kening. Perasaan tidak enak mulai menyelimuti hatinya, namun ia mencoba menepisnya dengan pikiran positif. Mungkin suaminya sedang istirahat, atau Lea sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.
"Ya sudah, Mbak. Tolong siapkan air minum untuk Ibu, ya," pinta Najwa.
Didorong oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menyapa adiknya, Najwa memutar kursi rodanya menuju koridor kamar. Ia berhenti di depan pintu kayu jati kamar Lea.
*Tok... Tok... Tok...*
"Lea? Kamu di dalam, Sayang? Ini Kakak sudah pulang," panggil Najwa dengan suara lembut.
Di dalam kamar yang temaram, suara ketukan itu terdengar seperti ledakan meriam di telinga Gus Malik. Ia tersentak, kelopak matanya terbuka lebar, dan kesadarannya kembali sepenuhnya dalam hitungan detik.
Hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menempel di dadanya. Ia melirik ke bawah dan mendapati Lea masih terlelap dengan sangat nyenyak. Rambut pirangnya tersebar di atas bantal, dan wajahnya nampak sangat damai setelah badai gairah yang dipicu oleh obat biadab itu mereda. Lea memeluk lengan Malik dengan sangat erat, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki di dunia ini.
Jantung Malik berdegup kencang, kali ini karena rasa panik yang luar biasa. Ia menyadari keadaan mereka berdua yang masih polos di bawah selimut tebal. Kejadian beberapa jam yang lalu berputar di kepalanya seperti film; bagaimana ia menyerah pada godaan, bagaimana ia akhirnya memenuhi haknya sebagai suami dalam suasana yang begitu intens.
*Tok... Tok... Tok...*
"Mas Malik? Apa kamu di dalam bersama Lea?" suara Najwa kembali terdengar, kali ini dengan nada sedikit cemas.
Malik segera bertindak. Dengan sangat hati-hati, ia mencoba melepaskan pelukan Lea. Ia harus bergerak selembut mungkin agar tidak membangunkan gadis itu yang nampaknya sangat kelelahan. Setelah berhasil membebaskan lengannya, Malik turun dari ranjang dengan gerakan tanpa suara.
Hawa dingin menyentuh kulitnya yang tak berbusana. Ia melirik ke lantai, melihat pakaian kokonya yang tercecer berantakan di dekat ranjang saksi bisu betapa terburu-burunya mereka tadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Malik menyambar pakaiannya. Ia mengenakan celana kain dan baju kokonya dengan kecepatan yang luar biasa, sambil sesekali melirik ke arah pintu dan ke arah Lea secara bergantian.
Ia mengancingkan baju kokonya dengan jemari yang terasa kaku. Setelah merasa penampilannya cukup rapi, meskipun rambutnya masih sedikit berantakan, Malik menarik napas panjang untuk menetralkan debaran jantungnya yang gila.
Ia melirik Lea sekali lagi. Gadis itu bergerak sedikit, menarik selimut untuk menutupi bahunya yang terbuka, namun tidak terbangun. Malik merasa ada rasa hangat yang aneh muncul di dadanya saat melihat istrinya itu, namun ia harus segera menghadapi Najwa di luar.
Malik melangkah menuju pintu, membukanya sedikit saja agar Najwa tidak bisa melihat ke dalam kamar yang masih berantakan.
"Najwa... kamu sudah pulang?" tanya Malik dengan suara yang ia usahakan setenang mungkin, meski sedikit serak.
Najwa mendongak, menatap suaminya dengan tatapan menyelidik. Ia melihat wajah Malik yang sedikit memerah dan rambutnya yang tidak serapi biasanya. "Mas? Kamu di dalam kamar Lea? Ada apa?"
Malik berdehem, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Tadi... Lea pulang dalam keadaan kurang sehat. Dia pusing berat, sepertinya kelelahan karena tugas kuliah. Saya hanya memastikan dia sudah tidur dan memberikan obat."
Najwa tampak sedikit lega, namun matanya tetap menatap Malik dengan penuh kasih. "Oh, kasihan dia. Apa dia sudah makan? Tadi aku membawa oleh-oleh makanan dari pengajian."
"Dia sudah tidur pulas, Najwa. Sebaiknya jangan diganggu dulu," Malik melangkah keluar dari kamar Lea dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. "Ayo ke ruang tengah, saya akan menemani kamu dan Ibu."
Malik berjalan di belakang kursi roda Najwa, namun pikirannya masih tertinggal di dalam kamar itu. Ada rasa bersalah yang menusuk saat ia menatap punggung Najwa, namun di sisi lain, ia tahu bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Lea adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Rahasia ini kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, seperti sebuah bom waktu yang siap meledak di tengah-tengah kebahagiaan semu yang coba mereka pertahankan.
Di dalam kamar yang tertutup, Lea menghela napas panjang dalam tidurnya, tidak menyadari bahwa garis takdir hidupnya telah bergeser selamanya sejak sore itu.