NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Siang itu matahari bersinar cukup terik, namun suasana di halaman rumah terasa hangat dan hidup. Kirana sudah sejak tadi berdiri di dekat kolam renang dengan wajah penuh semangat. Mengenakan baju renang kecil berwarna cerah dengan pelampung di kedua lengannya, ia tampak tidak sabar menunggu sesuatu yang sudah ia nantikan sejak pagi.

“Ayah, ayo!” serunya dengan suara nyaring, menggerakkan kakinya di tepi kolam hingga menimbulkan cipratan kecil.

Erlan yang baru saja keluar dari dalam rumah menatap putrinya dengan campuran perasaan. Ia sudah berjanji akan menemani Kirana berenang, namun tetap saja ada keraguan di hatinya. Kolam itu cukup dalam untuk ukuran anak seusia Kirana yang bahkan tingginya belum mencapai satu meter.

“Kirana, pelan dulu,” katanya sambil mendekat. “Ayah lihat dulu.”

Kirana menggeleng cepat. “Kirana mau sekarang. Ayah janji.”

Erlan terdiam sejenak. Ia tahu benar bagaimana anak kecil memegang janji. Sekali diucapkan, tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Ia menghela napas pelan, lalu melangkah turun ke dalam kolam lebih dulu.

Air menyentuh tubuhnya, dingin namun menyegarkan. Setelah memastikan posisinya stabil, ia menoleh ke arah Kirana dan mengulurkan tangan.

“Ayo, sini,” ujarnya.

Kirana tersenyum lebar. Ia menuruni tangga dengan hati-hati, satu langkah demi satu langkah. Begitu kakinya mulai kehilangan pijakan, Erlan langsung meraih dan mengangkat tubuh kecil itu, memastikan kepalanya tetap berada di atas permukaan air.

“Pegang Ayah,” kata Erlan dengan suara tegas namun lembut.

Kirana memeluk leher ayahnya. “Aku tidak takut.”

“Bagus,” balas Erlan. “Tapi tetap harus hati-hati.”

Dengan penuh kesabaran, Erlan mulai mengajarkan gerakan dasar berenang. Ia menahan tubuh Kirana agar tetap mengapung, sementara tangan kecil itu mulai mencoba mengayuh air.

“Gerakkan kaki pelan-pelan,” instruksi Erlan.

Kirana mencoba menirukan. Gerakannya belum teratur, bahkan terkadang justru membuat air terciprat ke wajahnya sendiri. Namun tawa kecilnya terdengar riang.

“Seperti ini, Yah?” tanyanya penuh semangat.

Erlan mengangguk. “Sudah bagus. Ulangi lagi.”

Di tepi kolam, Linda duduk sambil memperhatikan mereka berdua. Senyum hangat menghiasi wajahnya. Ia menikmati setiap detik pemandangan itu. Erlan yang dulu dikenal dingin dan terlalu sibuk kini terlihat begitu sabar menghadapi putri mereka.

“Pelan saja, Kirana,” ujar Linda sesekali.

Kirana menoleh sekilas. “Iya, Mama!”

Suasana terasa damai. Hanya ada suara air, tawa anak kecil, dan arahan lembut seorang ayah.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ting tong.

Suara bel pintu terdengar dari dalam rumah.

Linda sedikit terkejut. “Siapa ya?”

Ia segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Sementara itu, di kolam, Erlan mengernyitkan dahi.

“Kenapa sekarang…” gumamnya pelan.

Linda membuka pintu dan mendapati dua pria berdiri di sana sambil membawa map.

“Selamat siang, Bu,” sapa Adi sopan.

“Selamat siang. Ada keperluan apa?” tanya Linda.

“Kami ingin bertemu Pak Erlan, Bu. Ada berkas yang harus segera ditandatangani,” jawab Rama.

Linda mengangguk. “Silakan masuk.”

Ia mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumah, lalu berjalan kembali ke arah kolam.

“Erlan, ada Adi dan Rama,” panggil Linda.

Erlan menutup mata sejenak, jelas merasa terganggu. Ia kemudian mengangkat Kirana dari dalam air.

“Kirana, Ayah harus menemui teman ayah sebentar,” katanya.

Kirana langsung cemberut. “Cepat ya, Yah. Kirana mau berenang lagi.”

“Iya,” jawab Erlan sambil mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Kirana. “Jangan masuk kolam sendiri.”

Kirana mengangguk patuh, meskipun wajahnya masih menunjukkan ketidaksabaran.

Erlan kemudian menoleh ke arah Adi dan Rama yang sudah mendekat ke area kolam.

“Kalian tidak bisa menunggu sampai hari kerja?” tanyanya dengan nada dingin.

Adi terlihat sedikit gugup, sementara Rama mencoba tetap tenang.

“Maaf, Pak. Ini cukup mendesak,” ujar Rama.

Erlan menghela napas kasar. “Hari ini akhir pekan.”

Rama tersenyum tipis. “Dulu Bapak tidak pernah peduli dengan akhir pekan.”

Kalimat itu membuat suasana hening sejenak.

Erlan tidak langsung menjawab. Ia tahu itu benar. Dulu, pekerjaan adalah segalanya. Tidak ada istilah hari libur, tidak ada ruang untuk santai.

Namun sekarang berbeda.

Ia menoleh ke arah Kirana yang duduk di tepi kolam, memainkan kakinya di air sambil menunggu.

“Ayah, lama…” keluh Kirana.

Erlan menarik napas dalam. “Sekarang berbeda,” katanya pelan.

Ia mengulurkan tangan. “Berkasnya.”

Adi segera menyerahkan map. Erlan membukanya dan membaca sekilas sebelum langsung menandatangani.

“Mulai sekarang,” ujar Erlan tanpa mengangkat kepala, “akhir pekan adalah waktu libur.”

Adi dan Rama saling pandang.

“Termasuk kalian,” lanjut Erlan.

Adi tampak terkejut. “Benarkah, Pak?”

Erlan menutup map dan mengembalikannya. “Gunakan waktu kalian dengan keluarga.”

Wajah keduanya langsung berubah cerah.

“Terima kasih, Pak!” ucap mereka bersamaan.

Di sisi lain, Kirana kembali berseru, “Ayah! Ayo!”

Erlan menoleh, lalu tersenyum tipis. “Sebentar.”

Namun sebelum kembali ke kolam, ia berkata pada Adi, “Cari orang untuk merenovasi kolam ini.”

Adi mengangguk. “Seperti apa, Pak?”

“Buatkan kolam khusus dengan kedalaman lima puluh sentimeter,” jawab Erlan. “Untuk anak.”

Adi mencatat cepat. “Baik, Pak.”

Linda datang membawa nampan berisi minuman.

“Silakan diminum dulu,” katanya ramah.

Adi dan Rama tampak agak canggung.

“Terima kasih, Bu,” ujar Adi.

Rama tersenyum. “Biasanya kami tidak pernah dapat perlakuan seperti ini.”

Linda tertawa kecil. “Erlan memang seperti itu dari dulu.”

“Justru itu, Bu,” sahut Rama. “Kami bersyukur sekarang ada Ibu. Kalau tidak, mungkin kami masih bekerja tanpa henti.”

Linda tersenyum, matanya sekilas melirik Erlan.

“Kalian terlalu berlebihan,” kata Erlan singkat, meskipun ia tidak benar-benar menyangkal.

Setelah urusan selesai, Erlan kembali ke kolam.

Begitu melihat ayahnya kembali, Kirana langsung berseri-seri.

“Ayah!”

Erlan masuk ke dalam air dan mengangkatnya kembali.

“Ayo lanjut,” katanya.

Kirana tertawa riang, kembali mencoba menggerakkan kaki seperti yang diajarkan sebelumnya.

Linda berdiri di tepi kolam, memperhatikan dengan perasaan hangat. Ia tidak bisa menahan pikirannya untuk kembali ke masa lalu.

Dulu, Erlan hampir tidak pernah punya waktu. Bahkan untuk dirinya sendiri, waktu terasa terbatas, apalagi untuk orang lain.

Ia ingat bagaimana dulu Erlan hanya bisa menemaninya dua atau tiga jam dalam sehari. Itu pun sering kali sambil menerima telepon atau membahas pekerjaan.

Namun sejak Kirana hadir, semuanya berubah.

Erlan mulai pulang lebih awal.

Mulai mengurangi pekerjaan di akhir pekan.

Dan sekarang, ia bahkan rela meninggalkan urusan kantor demi menemani putrinya belajar berenang.

Linda tersenyum pelan.

“Terima kasih,” gumamnya lirih, entah pada siapa.

Di kolam, tawa Kirana kembali terdengar.

“Yah, lihat! Kirana bisa!”

Erlan menatap putrinya dengan bangga. “Bagus. Ulangi lagi.”

Air kembali terciprat, tawa kembali memenuhi udara.

Dan di bawah sinar matahari siang itu, sebuah keluarga kecil menikmati kebahagiaan sederhana yang dulu terasa begitu jauh.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!